
Pagi ini, apartemen milik Arumi tampak begitu ramai. Suara tangisan di kecil mulai terdengar nyaring di indera pendengaran seluruh penghuni kediaman tersebut. Nyimas dan mbak Tini membantu nyonya Rayyan mengurusi Triplet. Mereka bertanggung jawab atas masing-masing si kecil.
"Nak, jam berapa kamu pergi ke rumah sakit?" tanya Nyimas pada Arumi yang tengah sibuk memakaikan pakaian untuk Ghani. Bayi montok bermata sipit itu menjadi personel terakhir yang didandani oleh sang bunda, sedangkan kedua adiknya telah rapi dan kinu sedang bermain bersama dengan sang nenek.
"Jam delapan pagi, Ma, setelah sarapan." Arumi memasangkan sepatu khusus bayi berusia tiga bulan kepada anak tercinta agar penampilan kakak tertua semakin kece, tak kalah dari ayah dan bundanya.
Nyimas melirik ke arah jam dinding, waktu sudah menunjukan pukul tujuh lebih lima belas menit. "Kalau begitu, sebaiknya kamu lekas sarapan agar tidak terjebak macet. Mama dan Mbak Tini sudah gantian sarapan, tinggal giliranmu."
"Baik, Ma," ucap Arumi. Ibu dari tiga bayi kembar memberikan wewangian ke romper (baju terusan, atasan dan bawahan dengan bukaan di bagian kaki) agar keharuman tubuh bayi montok itu selalu tercium meski berkali-kali diendus oleh orang dewasa.
Ehm ... tunggu. Bukankah aroma tubuh bayi memang selalu harum meski dia baru terbangun dari tidurnya yang panjang? Walaupun dia belum mandi tetap menguarkan aroma khas bayi yang membuat orang dewasa semakin jatuh cinta? Jika memang begitu, lantas untuk apa Arumi memberikan wewangian pada pakaian anak pertamanya? Ah ... sudahlah, biarkan saja wanita itu mengekspresikan diri saat sedang mengurusi buah cintanya.
Waktu sudah menunjukan pukul delapan kurang lima menit. Arumi telah selesai menyantap hidangan yang disediakan oleh mbak Tini. Ia dibantu Nyimas membawa stroller bayi ke depan pintu masuk lobi apartemen.
"Nanti Mama jangan lupa menyusul kami ya! Aku sudah memesankan taxi online untuk Mama. Sebentar lagi sampai," ucap Arumi sambil menyembulkan kepalanya di jendela mobil.
Ukuran mobil milik Rayyan hanya cukup menampung empat orang saja membuat Arumi terpaksa memesankan taxi online untuk Nyimas, sedangkan kendaraan roda empat milik mantan dokter cantik itu sedang di bengkel sehingga ia mau tidak mau mencari alternatif lain agar sang mama dan asisten pribadinya ikut serta pergi ke rumah sakit.
"Iya, Nak. Sudah sana berangkat. Kehadiranmu dan si kembar pasti sudah dinanti oleh Pak Firdaus," jawab Nyimas.
"Mama dan Mbak Tini hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa hubungi aku," ucap Arumi kembali sebelum meninggalkan pekarangan unit apartemen.
__ADS_1
Tampak Nyimas hanya menganggukan kepala sebagai jawaban. Jika dirinya terus membuka suara maka Arumi akan menghabiskan waktu terlalu lama di sana. Ia tidak mau membuat Rayyan ataupun Firdaus terlalu lama menunggu, sebab kita tak pernah tahu kapan malaikat maut benar-benar mencabut nyawa besannya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Arumi terus memperhatikan ketiga buah hatinya yang duduk di kursi belakang. Menggunakan tiga buah baby car seat, tampak ketiga bayi kembar itu anteng tanpa mengeluarkan suara rengekan sedikit pun membuat sang bunda merasa bersyukur karena mereka seolah paham bahwa saat ini suasana sedang genting.
Setibanya di rumah sakit, Arumi bergegas turun dari mobil. Dia dibantu pak Burhan mendorong stroller bayi menuju lantai tiga. Sebenarnya dia bisa saja meminta Rayyan turun dan membantunya, tetapi wanita itu tidak mau mengganggu waktu kebersamaan antara ayah dan anak. Biarlah kedua pria dewasa tersebut memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.
"Selamat pagi, Dokter Arumi," sapa Puspa. Wanita itu masih setia menunggu Firdaus dan Lena di rumah sakit meski sudah ada Rayyan serta Raihan mendampingi kedua pasien tersebut namun dia tetap berada di sana. Siapa tahu kedua putra Firdaus membutuhkan sesuatu sehingga dia dapat membantu mereka.
"Pagi, Mbak Puspa. Mas Rayyan ada di dalam?" Arumi memastikan terlebih dulu jikalau sang suami ada di dalam ruangan.
"Ada, Dokter. Di dalam juga sudah ada Pak Raihan. Dokter Firdaus meminta kedua anaknya berkumpul," jawab Puspa memberitahu.
"Raihan juga ada di dalam? Lalu, apakah tadi terjadi perang mulut antara kedua pria itu!" Arumi sedikit terkejut mendengar ucapan sang perawat. Pasalnya, hubungan di antara mereka tidak pernah akur. Bahkan saat dirinya dan sang suami terakhir kali bertemu Raihan tadi malam di lobi, Rayyan tampak begitu geram karena bertemu kembali dengan anak dari wanita yang telah menyebabkan Mei Ling meninggal dunia.
"Ah ... bisa jadi." Arumi tampak mengangguk-anggukan kepala. "Ya sudah, aku masuk dulu ke dalam. Kalau ada Mama dan asisten rumah tanggaku, minta mereka menunggu di sini." Usai mengucapkan kalimat terakhir, Arumi mendorong stroller si kembar mendekati pintu ruangan.
Mengulurkan tangan ke depan, lalu mengetuk daun pintu hingga terdengar suara nyaring di sepanjang lorong rumah sakit.
Sementara itu, di dalam ruangan, dua orang pria tampan sedang duduk berhadapan dengan Firdaus yang terbaring di atas pembaringan memisahkan mereka. Tak banyak kata yang terucap di bibir Rayyan ataupun Raihan. Hanya berbincang seadanya.
"Sepertinya itu Arumi. Aku akan membantunya dulu membawa Triplet ke sini," ujar Rayyan kala mendengar suara ketukan pintu dari seberang sana.
__ADS_1
"Selamat pagi, Papa," sapa Arumi ketika kaki jenjangnya melangkah masuk ke depan. Satu buah stroller dia dorong mendekati ranjang rumah sakit, sementara satu stroller khusus dua bayi kembar didorong oleh Rayyan.
Tampak raut wajah berseri dengan pendar bahagia terlukis di sorot mata Firdaus saat melihat Arumi beserta ketiga cucu kesayangan telah berada di hadapannya. Hati berbunga-bunga, merasakan jutaan kupu-kupu terbang dari dalam tubuhnya kala menyaksikan pemandangan indah di depan mata.
"Akhirnya kalian datang. Papa sudah menunggumu sejak tadi, Nak," seru Firdaus masih dengan logat pelo.
Arumi mengulurkan tangan ke depan, mencium punggung tangan sang mertua yang tidak terkena luka bakar. "Maaf ya, Pa, sudah menunggu terlalu lama."
Seulas senyum terlukis di wajah Firdaus. "Jangan meminta maaf. Kamu datang tepat waktu. Hanya saja Papa yang tidak sabar ingin bertemu dengan Triplet." Ia edarkan pandangan kepada sosok bayi montok bermata sipit yang terbaring di dalam stroller. Pipi gembul bagaikan bakpao membuat Firdaus gemas sendiri ingin mencubit mereka satu per satu.
"Halo cucu-cucu Kakek. Apa kabar kalian semua?" sambung Firdaus. Ia hanya dapat memandangi ketiga wajah tampan dan cantik si Triplet tanpa bisa menyentuh mereka.
Rayyan mendorong stroller milik kedua jagoannya mendekati ranjang sang papa. Kini, posisi dua stroller bayi si kembar telah berada di samping. Tanpa diduga, dia menggendong tubuh Ghani dan menyentuh jemari tangannya ke punggung tangan Firdaus seakan bayi montok itu tengah mencium punggung tangan pria itu.
"Ini Kakek Firdaus, Kakekmu, Nak. Papa sudah memaafkan beliau. Jadi, kamu pun harus bisa bersikap baik kepadanya." Rayyan membisikan kalimat itu di telinga anak pertamanya.
Rayyan melakukan itu semua karena dia tahu jikalau anak pertamanya pun ikut membenci Firdaus, Lena serta orang-orang yang terlibat dalam masa lalunya dulu. Oleh sebab itu, setelah dirinya memaafkan Firdaus maka dia pun ingin Ghani mencoba memaafkan kakeknya.
Kakak pertama Zahira mendongakan kepala menatap iris coklat ayah tercinta dengan lekat seakan dia mengerti maksud perkataan pria yang sedang menggendongnya. Lantas, dia tersenyum lebar dan bahkan terkekeh-kekeh bahkan mata sipitnya semakin tidak terlihat. Kedua adik kembarnya sampai ikut menghentakkan kaki dan tangan hampir bersamaan dan terdengar suara ocehan berasal dari bibir Zavier dan Zahira.
.
__ADS_1
.
.