
Hari ini Arumi bisa bersantai sejenak, menikmati hari libur yang diberikan oleh pihak rumah sakit. Kesempatan itu digunakan oleh Arumi dengan sebaik-baiknya. Ia duduk di sebuah ayunan di teras belakang sambil membuka salah satu platform aplikasi toko online yang sedang booming di negari ini.
"Ini ... tidak cocok. Ini ... apalagi." Sudah hampir tiga puluh menit wanita kelahiran dua puluh tujuh tahun silam sibuk memilih mainan serta pakaian khusus anak-anak usia lima tahun. Ia sedang mencari kado tepat untuk kedua keponakannya, Indah dan Bagus.
Besok adalah hari istimewa bagi dua anak kembar itu. Sebagai seorang tante yang baik dan sangat mencintai mereka, tentu saja Arumi ingin memberikan hadiah terbaik bagi dua keponakan tersayang.
Wanita itu masih sibuk dengan gawai langsing miliknya sambil merebahkan punggung di sandaran ayunan.
"Ih ... kok belum juga menemukan hadiah yang cocok sih untuk Indah dan Bagus!" dengus Arumi kesal. Ia menghentakan kaki yang menjuntai di lantai sehingga ayunan itu bergoyang.
"Kamu sedang apa?"
"Hah?" Arumi kaget ketika suara lembut Nyimas terdengar disamping telinganya.
Ternyata, Nyimas sudah ada di teras belakang rumah sejak tadi. Namun, Arumi baru menyadarinya. Mungkin karena terlalu fokus hingga tidak mendengar derap langkah sang mama.
"Mama tanya, kamu sedang apa?" Wanita paruh baya itu menepuk Arumi agar menggeser duduknya.
"Ini loh, Ma. Aku sedang mencari kado istimewa untuk diberikan pada Indah dan Bagus. Hingga detik ini aku belum juga menemukan hadiah untuk mereka." Arumi kembali memainkan telepon genggam miliknya. "Mana besok Rini minta kita datang dalam acara syukuran kecil-kecilan. Jika tidak membawa kado, aku 'kan malu, Ma."
"Tunggu!" Nyimas mengerutkan kening bingung. "Besok ulang tahun Indah dan Bagus?"
Sadar telah melakukan kesalahan. Arumi menutup wajah menggunakan telapak tangan. Ia memasang wajah sok imut di hadapan Nyimas.
"Ma ... maaf. Aku lupa memberitahu Mama kalau besok kita diminta datang dalam acara tasyakuran yang diadakan oleh Rio dan Rini. Sungguh, aku benar-benar lupa." Wanita itu memasang puppy eyes yang biasa digunakan untuk meluluhkan hati Nyimas agar orang tua angkatnya itu tidak jadi memarahinya.
__ADS_1
Tangan Nyimas terulur ke depan. Mencubit hidung runcing milik anak tercinta. "Dasar nakal! Hal sepenting ini kamu lupa menyampaikan pada Mama. Kamu sudah tahu, Mama itu sudah sepuh jadi tidak ingat kalau besok adalah ulang tahun kedua cucu kembarku."
Bola mata Nyimas berbinar bahagia ketika mengucapkan kata cucu. Setiap kali mengucapkan kata-kata itu, terselip sebuah harapan dan do'a. Berharap suatu hari nanti anak tercinta akan diberikan keturunan dan ia bisa bermain bersama anak-anak Arumi.
"Iya ... aku minta maaf ya, Ma. Sungguh, aku benar-benar lupa. Sebenarnya tadi malam sudah berniat memberitahu Mama. Akan tetapi karena terlalu fokus menonton sinetron kesayangan Mama, ingatanku jadi buyar," kilah Arumi.
Sejujurnya, bukan karena sinetron yang ditonton oleh Arumi menyebabkan ia lupa memberitahu hal penting ini pada Nyimas, melainkan pertanyaan sang mama yang terkesan mengintrogasi.
"Mumpung hari ini kamu libur, bagaimana kalau kita pergi ke mall. Mencari kado untuk Indah dan Bagus. Siapa tahu, kamu menemukan hadiah yang tepat untuk mereka," saran Nyimas. "Sekalian kita belanja bulanan."
Mengedipkan sebelah mata sambil mengacungkan ibu jari ke udara. "Oke, Ma! Kita minta Pak Burhan dan Mbak Tini ikut ya. Biar mereka membantu kita."
Maka, berangkatlah mereka berdua menuju sebuah mall terbesar dan terlengkap yang ada di Jakarta.
"Rumi, tumben sekali Rini dan Rio tidak mengadakan pesta ulang tahun untuk si kembar. Biasanya mereka akan menyewa jasa EO untuk mengatur jalannya acara tersebut," imbuh Nyimas.
Wanita yang sedang menatap keluar jendela menoleh. Ia menaikan bahu ke atas sambil menjawab, "Aku tidak tahu, Ma. Kemarin tidak sempat bertanya lebih detail pada Rini."
"Mungkin Rini dan Rio sedang menghemat pengeluaran untuk biaya sekolah si kembar. Dua tahun ke depan, Indah dan Bagus memerlukan biaya besar untuk dapat masuk sekolah. Mama tahu sendiri, sahabatku itu ingin kedua anaknya bersekolah di sekolah luar negeri."
Nyimas mengerutkan kening bingung. "Memangnya mereka mau sekolah di mana? Singapura? Amerika? Atau London?"
Bola mata Arumi membulat. Mulut wanita itu terbuka sempurna. "Hah? Kata siapa Indah dan Bagus akan sekolah di negara-negara yang Mama sebutkan barusan?"
Nyimas menatap keheranan pada wanita yang duduk di sisinya. "Dari kamu! Tadi 'kan kamu bilang, Rini ingin menyekolahkan mereka di luar negeri. Lalu, Mama menyebutkan nama-nama negera yang biasa dituju untuk menimba ilmu. Apa Mama salah?"
__ADS_1
"Oh astaga!" Arumi menepuk kening dengan telapak tangan. "Jadi, Mama pikir, Indah dan Bagus akan sekolah ke luar negeri, gitu?"
"Iya," jawab Nyimas singkat.
Pecahlah sudah tawa yang sedari ditahan oleh Arumi. Ia terbahak hingga bahunya bergetar hebat.
"Mamaku sayang. Maksudku adalah, Rini ingin agar kedua anaknya melanjutkan sekolah ke sekolah international school bukan negera tetangga," ujar wanita itu disela gelak tawa yang menggema memenuhi mobil.
Merasa dipermainkan oleh Arumi, Nyimas beringsut menjauhi putri tercinta. Memberikan jarak di antara mereka. Ia melempar pandangan ke luar jendela.
Arumi menghentikan tawanya. Ia menghela napas panjang kemudian mendekati sang mama.
Dengan lembut ia berucap, "Ma ... sudah. Jangan merajuk. Tadi itu hanya salah paham saja. Sudah ya, jangan ngambek lagi." Arumi mencoba membujuk Nyimas agar tak merajuk seperti anak kecil. Kemudian ia memeluk tubuh renta itu dengan erat. "Maafkan, Rumi karena sudah membuat marah."
Nyimas mengangguk dan berkata, "Kamu tidak salah. Hanya Mama yang tidak mengerti arah pembicaraanmu," kekeh wanita paruh baya.
Hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit, akhirnya mobil yang dikendarai Burhan telah tiba di sebuah mall terbesar di kota Jakarta. Arumi turun dengan menggandeng wanita yang amat dicintainya.
"Pak Burhan, kamu tunggu saja di mobil. Jika saya butuh bantuan Bapak untuk membawa troli belanja, segera masuk ke dalam pusat perbelanjaang yang ada di lantai dasar," ucap Arumi sebelum meninggalkan parkiran VIP yang ada di depan pintu masuk mall.
Pria berambut cepak itu mengangguk. "Baik, Bu. Saya akan standby di sini sambil menunggu pesan dari Ibu."
Dua wanita beda usia berjalan perlahan masuk ke dalam mall. Tangan Arumi begitu sigap membantu Nyimas ketika menaiki eskalator.
...Bersambung...
__ADS_1