Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Round Two


__ADS_3

Rayyan tersenyum simpul. Mengangguk dan mengurai pelukan. Ia membantu Arumi dengan sangat hati-hati agar dapat duduk di pinggiran bathtub.


"Malam ini, kamu cantik sekali Rumi." Membisikan pujian di telinga sang istri. "Semakin hari, aura kecantikanmu semakin terpancar. Entah mantra apa yang dibacakan olehmu hingga membuatku semakin memujamu." Kemudian mencium daun telinga sang istri, lalu bergeser ke pipi dan turun ke leher.


Leher jenjang putih nan mulus itu menjadi tempat favorit Rayyan saat memberikan rangsang*n untuk istri cantiknya. Dengan sangat buas, ia mencium dan menghidu aroma harum tubuh Arumi serta tidak lupa memberikan tanda kepemilikan di sana.


"Ehm ... Ray," desahaan Arumi tertahan kala jari telunjuk Rayyan masuk ke dalam mulutnya. Layaknya seorang bayi, wanita itu menghisap jemari suaminya dengan penuh napsu.


Sementara Rayyan sibuk menjelajahi leher jenjang Arumi, wanita cantik yang tengah duduk di tepian bathtub membuka satu persatu kancing kemeja milik suaminya hingga tanpa disadari oleh keduanya kain penghalang bagian atas tubuh pria itu terjatuh di lantai kamar mandi. Kini, posisi sepasang suami istri itu tidak tertutupi oleh sehelai kain pun.


Dada bidang yang ditumbuhi bulu-bulu halus serta otot liat di bagian bawah perut membentuk enam kotak membuat pria itu terlihat begitu macho. Otot-otot di sekitarnya pun terbentuk dengan sempurna.


Rayyan tipe pria yang gemar berolahraga. Hampir setiap hari meluangkan waktu untuk jogging, keliling taman komplek di dekat rumahnya. Setiap sabtu-minggu, sebelum berkencan dengan Arumi, pria bermata sipit itu pergi ke sasanan kebugaran untuk berolahraga. Setelah itu, barulah ia bersiap pergi ke rumah mantan kekasih yang kini menjadi istrinya. Oleh karena itu, tidak heran jika otot liatnya terbentuk sempurna.


Setelah puas menjelajah leher Arumi, kini Rayyan berpindah pada bibir ranum milik wanita itu. Sebelah tangan menekan tengkuk istrinya agar ciuman itu semakin dalam, sedangkan sebelah lagi sibuk bergrilya ke mana-mana. Menyentuh setiap bagian inci tubuh sang istri.


Merasakan dada hampir meledak karena kehabisan oksigen, Rayyan melepaskan ciuman. Diam sesaat seraya menatap wanita itu, seolah sedang mengatakan betapa ia sangat mencintai sang pujaan hati.


Tangan kekar yang biasa digunakan untuk menolong pasien, ia gunakan untuk menangkup pipi wanita itu. Mengusapnya dengan lembut dan penuh cinta. "Tetaplah berada di sisiku selamanya, Babe, hingga maut memisahkan kita."


Mengangguk, memberikan senyuman manis. "Bahkan, di surga-Nya nanti, aku ingin menjadi satu-satunya Bidadari yang melayanimu, Ray. Cuma aku yang menjadi wanitamu."


Kembali mendaratkan sebuah ciuman. Melahap bibir mungil itu dengan rakus. Lidah Rayyan bermain indah di mulut Arumi, mengait bibir dengan ujung giginya.


Semakin lama, Rayyan semakin kehilangan kendali. Pria itu mencium Arumi dengan sangat buas hingga wanita itu kewalahan mengimbangi permainan lidah suami tercinta.


"Ah ... Ray ... jangan keras-keras meremaasnya. Itu ... sakit sekali," rintih Arumi kala merasakan tangan suaminya bermain di bemper depan milik wanita itu dengan sekuat tenaga. Akhir-akhir ini, bagian bemper milik wanita itu memang lebih sensitif sehingga terasa sakit saat disentuh.


Akan tetapi, Rayyan tidak memedulikan rintihan kesakitan Arumi. Ia terus bermain di benda kenyal layaknya bayi yang kelaparan hingga membuat wanita itu mendesaah nyeri sekaligus nikmat di waktu bersamaan.


"Ray ... aduh ... please, pelan-pelan. Sungguh, sakit sekali!" racau Arumi tak karuan.


Sumpah demi apa pun, ingin sekali wanita itu menjerit dan memarahi suaminya karena tak menghiraukan protes yang dilayangkan olehnya. Namun, tubuh wanita itu tidak mampu menolak. Ia semakin terbuai dan terlena oleh permainan suaminya.


Rayyan semakin intens mencumbu Arumi sampai pada tiba waktunya wanita itu merasakan ada dorongan hebat yang akan keluar dari inti tubuhnya.


"Rayyan!" teriak Arumi kala pelepasan kedua ia dapatkan. Tubuhnya benar-benar lemas karena Rayyan telah membawanya terbang ke nirwana untuk kesekian kali.

__ADS_1


Dokter tampan itu menyeringai puas karena berhasil mempersembahkan surga dunia untuk istri tercinta. Tubuh polos Arumi ada dalam pelukan pria itu. Deru napas wanita itu tak beraturan.


Merasakan detak jantung Arumi kembali normal dan napas sudah tak lagi memburu, Rayyan membelai pipi istrinya. "Kita masuk ke permainan inti. Jadi, persiapkan tenaganmu karena malam ini akan terasa sangat panjang."


Lantas, Rayyan bangkit berdiri kemudian menggendong Arumi dan menaruh di dalam bathtub berbentuk persegi panjang. Wanita itu sama sekali tidak protes, sebab ia masih mengumpulkan energi yang sempat terkuras habis akibat permainan pria itu.


Setelah memastikan Arumi berada dalam posisi nyaman, barulah Rayyan masuk ke dalam bathtub tersebut. Ia duduk di belakang istrinya. Kaki diselonjorkan di samping kanan dan kiri wanita itu, kemudian tangan pria itu menarik pinggang sang istri.


"Ray!" Arumi memekik histeris ketika Rayyan menghentakan tubuhnya dari belakang. Ia terkejut karena pria itu sama sekali tidak memberikan aba-aba jika hendak melakukan penyatuan.


"Come on, Babe. Jangan marah. Aku sudah tidak tahan melihat bemper belakangmu yang terlihat begitu menggoda. Maka dari itu, aku segera menyatukan tubuh kita tanpa meminta izin padamu dulu," kekeh Rayyan setengah berkelakar.


Meskipun kesal karena Rayyan tidak memberitahu jikalau hendak melakukan penyatuan, namun nyatanya Arumi begitu menikmati kegiatan mereka di dalam bathtub. Bahkan, ia mulai meracau tak jelas seraya menyebut nama Rayyan berulang kali. Seakan di dunia ini hanya ada nama lelaki itu saja dalam hidupnya.


"Kamu jahat, Ray!" ujar Arumi disela napasnya yang tersengal. "Aku 'kan belum siap, tapi kamu malah melakukan penyatuan tanpa aba-aba." Terus protes sambil meliukkan badan di atas tubuh suaminya.


Tawa Rayyan pecah. Melebur menjadi satu bersama Arumi dalam bathtub rupanya membuat suasana hati pria itu membaik. Ditambah posisi Arumi yang membelakanginya dan mempertontonkan bemper indah milik wanita itu membuat Rayyan kembali bersemangat.


"Walaupun aku jahat, tapi kamu tetap mencintaiku 'kan?" tanya Rayyan seraya membantu Arumi memimpin permainan.


Riak air bergelombang ringan ketika tubuh Arumi bergerak. Menimbulkan sedikit air keluar dari tempatnya. Jatuh membasahi lantai kamar mandi.


"Tanpa aku jawab pun, kamu sudah tahu jawabannya. Aku, Arumi Salsabila akan selalu mencintaimu, Muhammad Rayyan Firdaus. Hari ini, esok dan seterusnya cuma kamu yang kucintai di dunia ini."


Sang pemilik mata sipit tersenyum puas mendengar penuturan langsung dari istri tercinta. Hatinya berbunga-bunga mendengar bahwa di dalam hati Arumi hanya ada dia seorang.


Semakin bersemangat membantu Arumi memimpin permainan di malam syahdu ini sambil tertawa terbahak karena hatinya merasa bahagia.


"Ya ... ya ... aku pun sangat mencintaimu, Arumi. Kamulah belahan jiwaku. Tidak akan ada wanita lain di dunia ini yang bisa merampas posisimu di hatiku. Selamanya cuma kamu yang menjadi Ratu di istanaku."


Tatkala pinggul Arumi turun ke bawah, di saat itu pula-lah Rayyan menyambutnya. Pria itu menghujami istrinya dengan tempo cepat hingga suara riak air bersahutan dengan suara erangan dan desahaan yang keluar dari bibir pasangan suami istri itu.


"Damn! Inti tubuhmu semakin membuatku ketagihan. Rasanya, aku tidak akan pernah puas jika melakukannya hanya satu atau dua kali. Aku ingin terus melakukan penyatuan denganmu setiap hari."


"Ah ... Ray." Suara desahaan Arumi terdengar merdu kala merasakan inti tubuh suaminya mengenai tepat bagian terdalam inti tubuh miliknya.


"Teriakkan lagi namaku, Rumi!" pinta Rayyan dengan hasr*t semakin membara.

__ADS_1


"Ray ... oh ... Rayyan!" sahut Arumi.


Rayyan kembali melukiskan senyuman mendengar ucapan Arumi. Merasa bangga karena bibir mungil itu terus menyebut namanya disela kegiatan panas yang tengah mereka lakukan.


Merasa lelah berada dalam posisi yang sama, Arumi menghentikan sejenak kegiatannya. Perlahan, ia menoleh ke belakang menatap sendu ke arah suaminya.


"Aku lelah. Bisakah kamu yang mengambil alih permainan?"


Rayyan tersenyum samar. Tanpa membuang waktu ia bangkit dari duduk, lalu mengulurkan tangan ke depan. Membantu istrinya bangkit.


Setelah Arumi dapat berdiri dengan tegak, Rayyan mulai mendaratkan bibirnya di bibir ranum wanita itu. Membawa tubuh sang istri mendekati shower.


"Berbaliklah! Aku akan melakukan penyatuan dari belakang."


Arumi menganggukan kepala sebagai jawaban. Lantas, pria itu memposisikan tubuh dan membenamkan inti tubuhnya ke dalam inti tubuh wanita itu.


Kini, Rayyan mengambil alih permainan. Membiarkan istrinya beristirahat. Ia terus menghentakan pinggang dengan tempo cepat dan begitu keras.


Mendapat serangan bertubi-tubi, Arumi hanya bisa pasrah sambil berpegangan pada dinding kamar mandi. Suara desahaan kembali terdengar bersamaan dengan suara erangan yang meluncur dari bibir Rayyan.


"Babe, seperti aku sudah tidak tahan lagi. Bolehkah aku menuntaskannya sekarang?" Rayyan meminta izin terlebih dulu karena khawatir Arumi masih menginginkan permainan ini.


Merasa tubuhnya pun telah capek karena berkali-kali mendapatkan pelepasan, Arumi mengizinkan suaminya untuk mengakhiri permainan malam ini.


"Tuntaskan sekarang, Ray. Aku sudah lelah dan ingin beristirahat."


Maka, detik berikutnya Rayyan kian menghujam keras Arumi. Dan akhirnya gelombang dahsyat itu datang menghampiri pria itu.


"Rumi!" Rayyan kembali menyebut nama Arumi kala dirinya mengalami pelepasan. Napas masih memburu dan pundak turun-naik.


Di saat deru napas kembali normal, Rayyan membalikan tubuh Arumi. Memandangi kecantikan wajah istrinya dari dekat, lalu menempelkan keningnya di kening wanita itu. Menyapukan kedua hidung hingga embusan napas panas saling menerpa satu sama lain.


"Terima kasih karena sudah melayaniku dengan baik. I love you, Babe."


Tersenyum manis sambil menangkup pipi Rayyan. "I love you too, Honey."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2