
Jarak antara hotel dengan kantor firma hukum tempat Rio bekerja tidak terlalu jauh berkisar 10 kilometer. Kantor itu berada di daerah Jakarta Barat, sementara hotel yang dijadikan tempat maksiat oleh mantan suami dan mantan sahabatnya berada di Jakarta Pusat.
Ia melajukan kendaraan dengan kecepatan 60 km/jam. Suasana siang hari semakin ramai sebab bertepatan dengan jam istirahat yang sudah usai. Suara klakson bersahut-sahutan, beberapa pengguna jalan menyalip kendaraan yang ditumpangi oleh Arumi. Namun, ia tak bergeming. Wanita itu tetap fokus ke depan tanpa memedulikan kebisingan di luar sana.
Ketika memasuki area perkantoran, wanita itu mengurangi kecepatan laju kendaraan. Di depan pintu masuk sudah berdiri dua orang petugas yang berjaga. Ia turun dari dalam mobil, berjalan masuk ke dalam bangunan megah berlantai sepuluh.
"Halo, selamat siang. Apakah saya bisa bertemu dengan Pak Rio Mahardika?" tanya Arumi pada salah satu resepsionis yang bekerja di balik meja.
Wanita berseragam abu-abu itu tersenyum ramah, menyambut kedatangan tamu istimewa yang sudah ditunggu sejak beberapa menit lalu. "Ibu bernama Arumi Salsabila Adiguna?" tanya resepsionis itu untuk memastikan.
Mendengar nama Adiguna tersemat di nama lengkap Arumi, ia memutar bola mata dengan malas. Setiap kali nama itu terucap maka mengingatkan wanita itu pada kejadian beberapa menit yang lalu.
Ia menghela napas kasar. Meremas ujung pakaian yang dikenakan untuk mengurai amarah yang bisa saja meledakan setiap saat. "Benar. Apakah saya bisa bertemu Pak Rio sekarang?" Arumi sudah tak tahan jika harus berlama-lama berdiri. Ia khawatir emosinya akan pecah bila terlalu lama berdiri di hadapan dua wanita itu.
"Silakan, Nyonya. Tuan Rio sudah menunggu Anda sejak tadi." Salah satu dari mereka bergegas mengantarkan Arumi ke depan pintu lift. "Anda tinggal menekan tombol delapan. Ruangan Pak Rio tak jauh dari pintu lift di atas sana."
__ADS_1
Saat pintu lift tertutup dan membawa tubuh Arumi naik ke lantai atas. Ia mengipaskan telapak tangan ke depan sambil berkata, "Sabar Arumi. Kamu tidak boleh marah. Mereka tidak tahu jika sebentar lagi statusmu sebagai Nyonya Adiguna akan berakhir."
Tak berselang lama, pintu lift terbuka. Wanita itu keluar lalu berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruangan Rio.
"Rumi! seru Rio kala melihat sahabat dari istrinya sekaligus kakak iparnya berdiri di ambang pintu. Pria itu sedikit terkejut dengan kedatangan Arumi sebab ini pertama kalinya wanita itu datang menemuinya secara pribadi.
Arumi tak membalas seruan itu. Ia lebih memilih duduk di sofa daripada duduk di kursi empuk di hadapan adik iparnya itu.
Rio mengerutkan kening sambil menatap heran ke arah Arumi sebab penampilan wanita itu terlihat sedikit berantakan. Mata sembab, pakaian kusut dan rambutnya yang biasa tertata rapi kini sedikit berantakan.
Ia berjalan perlahan mendekati Arumi. "Ada apa denganmu? Kenapa matamu sembab dan penampilanmu berantakan."
Rio semakin tak mengerti arah pembicaraan wanita itu. Beberapa saat lalu, Arumi tiba-tiba saja menghubunginya disela suara isak dan tangis yang menyayat kalbu. Wanita itu memaksa ingin bertemu dengan Rio karena ada hal penting yang ingin disampaikan. Padahal, pria itu ada janji dengan sahabatnya. Tak ingin terjadi hal buruk menimpa Arumi, akhirnya Rio mengalah dan memilih menemui kakak iparnya itu.
"Come on, Rumi. Katakan padaku, apa yang terjadi padamu. Kenapa tadi saat meneleponku kamu menangis?" desak Rio. "Apakah telah terjadi sesuatu pada Mahesa?"
__ADS_1
"Atau, Mahesa sudah melakukan tindak kekerasan padamu sama seperti yang dilakukan mendiang Ayah kandungmu terhadapan mendiang Ibumu?" cecar Rio.
Wanita di hadapannya itu bergeming. Tak ingin beradu pandang dengan Rio, ia membuang muka ke sisi lain. Menyembunyikan tirai bening yang sudah menutupi pelupuk mata.
"Kalau kamu diam saja, aku tidak akan tahu tujuanmu datang ke sini. Please, Rumi. Jangan diam saja. Katakan padaku, apa yang sudah dilakukan Mahesa padamu." Berada dalam situasi ini membuat Rio frustasi. Bukannya ia tidak suka menemui Arumi tetapi pria itu merasa pertemuannya dengan sang ipar akan sia-sia jika wanita itu tak bersedia membuka mulut.
Dipandanginya wanita itu. Ia menatap Arumi tanpa berkedip sedikit pun. Jengah dengan situasi ini, akhirnya Rio bangkit lalu berjalan menuju kursi kebanggaannya.
"Kalau kamu tidak mau berbicara, sebaiknya aku pergi dan menemui sahabatku." Ia mengeluarkan telepon genggam dari dalam laci. Tangan kekar itu menyentuh layar dan bersiap melakukan panggilan telepon. Namun, suara lembut Arumi menghentikan kegiatannya.
"Rio, tolong bantu aku menggugat cerai Mas Mahes. Aku tidak ingin hidup bersama suami yang tukang selingkuh," ucap Arumi mantap.
TBC
.
__ADS_1
.
.