Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Surat Cerai Part 1


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Rio datang ke rumah Naila dengan membawa map coklat berisi surat gugatan cerai. Ia sengaja mengantarkan surat itu sebab ada banyak hal yang ingin disampaikan pada pria bodoh yang naasnya itu adalah sepupunya sendiri.


Menuruni mobil mewah dengan harga fantastik, yang dibeli dari hasil jerih payahnya sebagai seorang pengacara, Rio menatap rumah dua lantai di kawasan perumahan elite. Rumah berwarna cat putih dipadukan dengan warna keemasan dengan pintu pagar menjulang ke atas membuat siapa saja yang melihat akan merasa takjub.


"Apakah Mahesa ada di dalam?" tanya Rio pada salah satu ART yang sedang menyapu halaman.


"Ada. Den Mahesa sedang duduk di tepi kolam berenang bersama Mbak Kayla," sahut wanita paruh baya itu. "Mau saya antarkan?"


"Tidak perlu, Bi. Aku masih hafal dengan seluk beluk bangunan ini. Meskipun jarang datang ke rumah ini tetapi memori ingatanku masih berfungsi dengan baik." Pria itu melangkah masuk ke dalam ruangan lalu menuju sebuah lorong kecil penghubung antara ruang santai dengan kolam renang.


"Tampaknya kamu semakin bahagia semenjak pindah ke rumah ini!" sindir Rio. Tanpa menunggu sepupunya berbicara, ia segera duduk di kursi santai peacock.


Kursi peacock adalah sebuah kursi yang memiliki sandaran berbentuk seperti burung merak. Bentuknya melebar dan ada bagian yang berlubang. Terbuat dari rotan sehingga terlihat lebih natural dan elegan.


Mahesa yang sedang memainkan telepon genggam sambil menyenderkan kepala di sandaran langsung terlonjak mendengar suara berat sepupunya. Matanya melotot dan mulut terbuka lebar. Ia benar-benar syok, tak menyangka Rio akan datang ke rumah utama tanpa memberitahu terlebih dulu.


"Sedang apa kamu di sini?" seru Mahesa tanpa sadar.


Rio mencebik lalu berkata, "Memangnya aku tidak boleh bertemu dengan sepupuku tersayang?" Kemudian ia menyenderkan kepala di sandaran kursi sambil sesekali melirik ke arah Mahesa.


"Bukan begitu maksudku. Aku hanya terkejut melihatmu datang ke rumah ini tanpa memberitahuku dulu. Kamu 'kan biasanya mengirimkan pesan sebelum datang ke sini," jelas Mahesa. Ia menyampaikan apa isi hatinya sebab tak ingin dianggap jelek oleh saudaranya sendiri.


Rio menghela napas panjang dan berkata, " Ya, memang aku biasanya menghubungimu sebelum datang ke sini untuk memastikan apakah kamu ada di rumah utama atau tidak. Namun, semenjak kamu bertengkar dengan Arumi beberapa hari lalu, aku tahu kamu pasti tinggal di sini. Oleh karena itu, aku langsung datang tanpa menghubungimu terlebih dulu."


Tubuh Mahesa menegang mendengar nama Arumi diucapkan. Kenangan akan kejadian beberapa hari lalu membuat hatinya sakit sebab untuk kesekian kali ia menyakiti sang istri. Padahal dulu, Mahesa begitu menjaga perasaan wanita itu layaknya sebuah porselen yang berharga ratusan milyar. Namun, kini ia malah melukai hatinya yang terbuat dari sutera.


"Kenapa kamu diam saja. Merasa risih karena aku melibatkan nama Arumi dalam perbincangan kita kali ini?" cecar Rio. Melihat sepiring buah-buahan segar berada di atas meja, ia tergiur untuk mencicipi. Tanpa meminta izin pada sang empunya, pria itu segera meraih garpu kecil lalu memasukan potongan buah pepaya ke dalam mulut.

__ADS_1


"Buah ini segar sekali!" tuturnya. Mulut Rio terasa penuh karena ia terus memasukan potongan buah ke dalam mulut. Pria itu sengaja menjaili Mahesa sebab geram akan tingkahnya yang semena-mena pada Arumi.


Perlahan, buah-buahan di atas meja itu habis tanpa ada sisa.


Melihat ada segelas jus mangga dingin di atas meja, ia segera meraih gelas itu. Kemudian meneguknya menggunakan sedotan.


"Rasanya cukup enak. Tidak terlalu manis dan mangganya pun manis," puji Rio.


Mahesa memperhatikan setiap gerak gerik sepupunya itu. Sungguh mencurigakan. Pria itu berpikir mungkin dirinya melakukan sebuah kesalahan sehingga membuat Rio menegurnya secara tidak tersirat. "Mungkinkah Rio tahu kejadian di hotel beberapa waktu lalu?"


"Apakah ada hal penting yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya Mahesa memberanikan diri.


Rio menautkan kedua alis. Menatap Mahesa dengan tatapan yang sulit diartikan.


Tangan kokoh yang ditumbuhi bulu-bulu halus, meraih tas kerja yang tergeletak di samping kursi. Tatapan mata fokus pada kertas berukuran A4 yang ada di dalam tas. Meski begitu, Rio tetep terlihat tampan.


"Ini." Pria itu meletakkan map coklat di atas meja. Kemudian menggesernya ke hadapan Mahesa. "Bukalah! Di dalam map itu ada surat penting yang harus kamu baca dan pelajari dengan sungguh-sungguh."


"Seberapa penting surat ini bagiku hingga kamu rela datang ke sini hanya untuk mengantar surat yang aku sendiri tidak tahu isinya apa," pungkas Mahesa. Ia mengangkat map coklat itu ke udara.


"Sangat penting sekali. Aku pastikan setelah membaca surat itu, perasaanmu akan campur aduk dan mampu memporakporandakan hatimu dalam sekejap," balas Rio sambil menyenderkan kepala di sandaran kursi. Ia bersiul sambil menghirup udara segar di pagi hari. Tak memedulikan tatapan aneh dari sorot mata Mahesa.


"Sikapmu hari ini sangat aneh. Apakah kamu mengalami gangguan kejiwaan karena menikahi seorang psikiater?" Mahesa terus mengeluh dengan sikap yang tunjukan oleh Rio. Namun, lawan bicaranya itu bergeming. Ia tetap bersiul hingga kertas putih bertinta hitam itu menyembul dari permukaan.


Rio tersenyum smirk ketika melihat raut wajah Mahesa yang berubah pucat. "Akhirnya mulutmu bungkam setelah melihat isi surat itu," batin Rio.


Tangan Mahesa gemetar. Kedua mata melotot saat membaca isi surat yang diberikan khusus oleh Rio kepadanya.

__ADS_1


"Rio, ini ... surat gugatan cerai?" tanya Mahesa memastikan jika kertas putih itu memang berisikan pernyataan bahwa Arumi telah menggugat cerai Mahesa. Bahkan, pengadilan agama sudah menentukan tanggal persidangan mereka.


Sang pengacara tampan berdarah Timur Tengah itu tertawa pelan dan menjawab, "Kamu benar. Itu surat gugatan yang dilayangkan oleh sahabat dari istriku. Yang tak lain adalah istrimu sendiri, Arumi Salsabila."


Pria itu tersenyum puas kala wajah Mahesa berubah jadi pucat. "Setelah kalian bercerai maka hidup Arumi bisa tenang tanpa harus didesak oleh orang tuamu untuk segera memiliki keturunan."


"Ssbentar lagi, Arumi akan terbebas dari orang-orang jahat seperti kalian!" sindir Rio. "Kamu pikir, Arumi akan diam saja ketika kamu berselingkuh dengan Kayla?"


Jari telunjuk pria itu terangkat ke atas. Ia menggerakannya ke kanan dan ke kiri. "No! Kamu salah besar, Mahesa!" Rio duduk dengan tegak lalu menatap manik coklat Mahesa. "Meskipun dia sering menangis tetapi untuk urusan ini, Arumi tegas dalam bertindak."


"Dia tidak mau selamanya hidup di bawah bayangan wanita lain. Selalu tertekan dan merasa sakit hati setiap kali teringat bagaimana brengseknya kamu saat bercinta dengan Ja*ang itu!" bentak Rio.


Napasnya terengah-engah. Tangannya terkepal hingga memperlihatkan urat-urat yang menonjol. Sorot matanya memancarkan kebencian.


"Kamu telah menyakiti hati Arumi. Di depan mata dan kepalanya sendiri, kamu bercinta dengan Kayla. Memanggil nama gadis itu dengan mesra, mencumbunya sama seperti dulu kamu mencumbu Arumi."


"Cih! Sungguh menjijikan!" cibir Rio. "Untung saja Arumi tidak tertular penyakit kelamin karena memiliki pasangan yang tidak setia!"


TBC


.


.


.


Halo semua, mohon maaf ya otor blm bisa double update soalnya lagi di kampung suami. Mesti curi-curi waktu untuk ngetik. Hehe ... Namun, akan otor usahan bila sudah pulang dari kampung.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kak. Terima kasih. 🙏


__ADS_2