Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Pasca Perceraian


__ADS_3

"Baby, kamu dan Mama masuk dulu ke dalam mobil. Aku ingin berbicara sebentar dengan Arumi," pinta Mahesa pasa istri mudanya.


Alih-alih memberikan kesempatan pada Mahesa, Kayla malah mencekal lengan pria itu. "Tampaknya kamu lupa dengan ancamanku tadi, Mas. Aku sudah bilang padamu, jangan lagi temui Arumi. Dia sudah menjadi mantan istrimu."


"Tapi, Kayla. Aku cuma mau--"


"Mau apa, Mas? Kamu mau membujuk wanita itu agar rujuk kembali denganmu?" tanya Kayla penuh selidik. Menatap lekat manik coklat milik sang suami. "Sudahlah, Mas. Lupakan Arumi biarkan kehidupan kita tenang tanpa kehadiran wanita itu."


Kayla menarik tangan Mahesa lalu menyentuh perutnya dengan tangan kekar itu. "Di dalam sini ada buah cinta kita yang lebih membutuhkan perhatian orang tuanya. Apa kamu tidak mau melihat perkembangan calon anakmu di dalam rahimku?"


Mahesa terkesiap beberapa saat. Suara cempreng Kayla mampu menghipnotis pria itu. Tanpa sadar, ia menganggukan kepala lalu melangkah ke luar ruangan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Arumi.


Arumi yang masih duduk di kursi tampak berkaca-kaca. Cairan bening itu bergelayut manja di kelopak mata sang wanita.


"Jangan menangis. Bukankah ini yang kamu inginkan, berpisah dari suami tukang selingkuh dan pezina seperti mantanmu itu." Rini mengusap pundak Arumi dengan lembut. Memberikan kekuatan pada sahabatnya agar tidak berlarut dalam kesedihan.


Namun, Arumi tak sanggup lagi membendung air matanya. Butiran kristal meleleh di pipi. Ia menutup wajah dengan kedua tangan. Meskipun mencoba untuk tegar, tetapi hatinya tetap saja rapuh. Bagaimanapun juga, ia dan Mahesa pernah saling mencintai, saling berbagi dalam suka dan duka. Kenangan selama tujuh tahun memberikan kenangan yang sukar dilupakan.


"Aku gagal menjaga keharmonisan rumah tanggaku, Rin sehingga krang ketiga hadir dan menghancurkan rumah tangga yang kubina dengan susah payah," ucap Arumi disela isak tangis.


"Dua tahun menjalani penjajakan bukanlah perkara yang mudah. Pasang surut sebuah hubungan telah kami lalui bersama tetapi tak menjamin suamiku akan setia. Dia menduakanku hanya karena aku belum juga memberikan keturunan padanya."


"Suamimu itu pada dasarnya memang bukan lelaki yang baik. Andaikan memiliki keimanan yang kuat, ia tak kan mungkin tergoda oleh bujuk rayu Mak Lampir dalam wujud seorang ibu. Ia akan menolak secara halus tanpa menyakiti perasaan mantan mertuamu itu."


"Sudahlah. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kamu mengobati luka di hatimu akibat luka yang ditorehkan oleh Mahesa," timpal Rini.

__ADS_1


"Yang dikatakan oleh istriku, benar. Sudah saatnya kamu mengubur semua kenangan saat bersama dengan Mahesa. Melakukan semua yang ingin dikerjakan tanpa takut mencoreng nama baik keluarga Adiguna," ujar Rio. "Gunakan harta gono gini yang kamu dapatkan untuk membuka usaha, misalnya. Atau berlibur ke suatu tempat yang sangat kamu inginkan.


"Jangan terus terpuruk dan selalu menyalahkan diri atas perceraianmu ini sebab di sini kamu adalah korban dari keegoisan suami dan mantan mertuamu."


Arumi mengangguk lalu memeluk Rini dengan erat. Wanita itu bersyukur, di saat kesusahan, Rini dan Rio selalu mengulurkan tangan untuk membantu tanpa meminta imbalan atas semua jasa yang diberi.


"Terima kasih karena kamu dan Rio selalu ada di saat aku membutuhkan kalian."


Rini mengusap punggung wanita itu dengan lembut. "Itulah gunanya sahabat. Tidak hanya ada di saat bahagia melainkan di saat terpuruk pun harus setia menemani."


***


Arumi berada di dalam kamar. Sejak tadi siang hingga malam menjelang, ia memilih mengurung diri di dalam kamar. Entah sudah berapa ember air mata yang meluncur dari pipi wanita itu. Masih sulit baginya untuk menerima kenyataan bahwa saat ini ia dan Mahesa sudah tak lagi ada ikatan pernikahan.


Melirik cincin kawin yang masih terpasang di jari manis, membuatnya semakin bersedih. Cincin itu dibeli Mahesa menggunakan gaji pertamanya sebagai seorang marketing di perusahaan sang papa.


"Dulu, kamu berjanji akan setia mendampingiku di saat suka maupun duka. Namun, rupanya itu hanya bualanmu saja. Kamu mengingkari janji setia yang pernah terucap di bibirmu itu."


"Kamu tahu kan, Mas, betapa aku sangat mencintaimu bahkan rela mengorbankan semua fasilitas yang diberikan oleh orang tua angkatku agar terus bersamamu. Kamu bersikeras untuk tidak merepotkan kedua orang tua kita dan aku menghargai prinsipmu itu. Namun, semua bakti yang dilakukan malah dibalas dengan sebuah pengkhianatan. Kamu, benar-benar jahat, Mas!" Arumi melepas cincin kawin itu dari jari manisnya. Kemudian memasukannya ke dalam laci.


Terdengar ketukan pintu yang diiringi suara merdu sang mama. "Rumi, apakah Mama boleh masuk?"


"Masuk saja, Ma! Pintu tidak aku kunci."


Nyimas masuk ke dalam kamar lalu duduk di tepi ranjang. "Mama tahu, kalau saat ini kamu sedang bersedih. Namun, jangan terlalu larut dalam kesedihan itu, Nak. Kamu tidak pantas membuang air mata ini demi pria jahat seperti Mahesa."

__ADS_1


"Coba-lah untuk melupakan masa lalu. Jangan pernah diingat lagi. Yang ada, hatimu semakin terluka karena teringat akan pengkhianatan mantan suami dan mantan sahabatmu itu. Mereka tidak layak mendapatkan air mata dari seorang wanita berhati baik seperti kamu," ucap Nyimas lembut. Tangan wanita itu terulur ke depan, mengusut sisa genangan air mata yang tersisa di sudut mata.


"Memang sulit melupakan semua kenangan bersama orang tercinta. Mama pun pernah berada di posisimu akan tetapi seiring berjalannya waktu, kamu pasti bisa membuang jauh kenangan itu."


Nyimas merentangkan tangan ke samping. Tanpa diminta pun, Arumi langsung berhambur dalam pelukan.


"Akan tiba waktunya, di mana kamu bahagia, Nak. Menemukan pria yang benar-benar tulus menyayangi, mencintai dan mau menerima semua kekuranganmu. Bila suatu hari bertemu dengan orang itu, jangan pernah ragu untuk membuka hatimu."


Wanita itu menganggukan kepala. "Apakah mungkin pria itu mau menerima Arumi setelah tahu jika aku mandul, Ma." Bibir wanita itu gemetar ketika mengucapkan kata kramat yang selalu diucapkan oleh mantan mertua serta orang di luaran sana.


Masih memeluk putri tercinta. Nyimas mencium puncak kepala Arumi. "Selama kamu berikhtiar serta berdo'a pada Allah, Mama yakin suatu saat nanti akan ada malaikat kecil di dalam rahimmu. Berasal asal dari benih pria baik, setia dan tulus mencintaimu."


"Toh, lagipula dokter kan bilang kalau organ reproduksimu sehat semua. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kamu cukup menikmati hidup, tingkatkan kadar kebahagiaanmu dan jangan lupa selalu ucapkan syukur atas nikmat yang Allah berikan. Insha Allah, bila sudah waktunya tiba, cucu Mama akan hadir di sini." Nyimas mengusap lembut perut Arumi yang masih rata.


Arumi meresapi setiap perkataan Nyimas. Semua yang dikatakan oleh mamanya itu ada benarnya. Mungkin selama ini ia kurang bersyukur hingga Tuhan belum mau mengabulkan impian yang selama ini diharapkan olehnya.


"Terima kasih, Ma. Rumi beruntung bisa memiliki Mama di kehidupan ini." Arumi semakin mengeratkan pelukan, seolah ia takut Nyimas akan pergi meninggalkan dirinya.


TBC


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2