Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Pelakor Teriak Pelakor


__ADS_3

"Halo, selamat siang. Maaf, sudah lama menunggu." Seorang wanita masuk ke dalam ruangan.


Wanita cantik berusai sekitar tiga puluh tahun berjalan mendekat, lalu mengulurkan tangan. "Perkenalkan, saya Rania, putri Pak Ilham. Saya diminta oleh Papa untuk mewakili beliau, sebab tiba-tiba saja Papa ada urusan mendesak dan tidak bisa datang ke sini," tutur Rania.


Mahesa yang saat itu tengah termenung sedikit terperanjat kala melihat Rania melangkah mendekat dan langsung mengulurkan tangan.


"Oh ... halo, Bu Rania. Perkenalkan, saya Mahesa Putra Adiguna." Kali ini Mahesa memperkenalkan di hadapan wanita itu. Meski kesadarannya belum penuh 100% tetapi otak dan mulutnya dapat diajak bekerjasama.


"Tidak masalah, Bu. Siapa pun yang datang, bagi saya tidaklah penting," ucap Mahesa setelah memanggil lagi kesadarannya yang sempat melayang ke dimensi masa lalu. "Selama tujuan Ibu dan Pak Ilham sama dan dapat menguntungkan usaha saya, kenapa tidak."


Seketika suara gelak tawa terdengar menggema memenuhi ruangan. Kedua pundak wanita itu bergetar hebat. Perkataan Mahesa barusan sukses membuat perutnya terasa digelitik oleh tangan tak kasat mata.


"Wow! Ucapan Pak Mahesa terlalu lugas untuk seorang Pemimpin Perusahaan." Rania meletakkan sling bag di sisi kosong. Memposisikan tubuh se-nyaman mungkin, kemudian menopang dagu di atas tangan. "Namun, saya menyukai tipe pria seperti Bapak. Sekali berkata langsung ke pokok bahasan."


"Terima kasih atas pujian, Bu Rania."


Tak lama berselang, seorang pelayan masuk ke dalam ruangan. Pelayan pria itu menyerahkan dua buah buku menu sekaligus minuman ke atas meja.


"Bapak dan Ibu bisa memilih hidangan yang ingin disantap siang ini. Silakan."


Rania membuka buku menu tersebut sambil membaca setiap hidangan yang disediakan oleh restoran itu.


"Saya pesan prime sirloin original, salad dan french fries. Untuk minumnya, es lemon tea saja."


"Kalau saya, prime tenderloin steak, sweet corn soup dan jus jeruk," ujar Mahesa.


Dengan gerakan cepat, pelayan pria itu mencatat semua pesanan. "Baik, kalau begitu. Mohon ditunggu."


Sesuai rencana, siang itu Mahesa melakukan follow up terhadap calon customer yang tak lain adalah pak Ilham. Akan tetapi, karena pria paruh baya itu mendadak tidak dapat sehingga sang putri yang mewakilkan.


"Begini, Bu Rania. Beberapa waktu lalu, Pak Ilham datang ke salah satu kantor pemasaran kami yang ada di kawasan Tangerang. Di sana sudah ada pegawai saya memberikan penjelasan secara detail tentang rencana pembangunan perumahan di kawasan tersebut. Namun, tampaknya Pak Ilham tidak begitu puas dengan penjelasan bawahan saya."


"Oleh sebab itu, saya sengaja meminta waktu Pak Ilham untuk bertemu kembali secara pribadi. Saya berharap setelah ini Bu Rania maupun Pak Ilham tidak lagi ragu untuk membeli unit perumahan di properti kami."


Rania begitu serius mendengarkan penjelasan Mahesa. Pria berusia dua puluh delapan tahun itu begitu detail ketika menjelaskan pada calon pembeli. Mulai dari segi keuntungan yang didapat, lokasi yang begitu stategis sebab berdekatan dengan ibu kota Jakarta dan masih banyak lagi.


Perbincangan siang hari itu berjalan mulus. Rania tampak tertarik dengan penawaran yang ditawarkan oleh Mahesa. Namun, saat kedua insan manusia itu sedang asyik berbincang, tiba-tiba saja seorang wanita lain masuk ke dalam ruangan tanpa permisi terlebih dulu. Ia masuk ke dalam ruangan bersamaan dengan seorang pelayan yang membawa troli makanan.


Tangan wanita itu meraih gelas berisi es lemon tea dari atas troli, lalu menuangkannya ke atas kepala Rania.

__ADS_1


Byur!


Sontak, mendapatkan serangan mendadak membuat Rania terlonjak dari kursi apalagi cairan minuman es yang dingin membasahi kepala hingga turun ke bawah pakaian.


"Apa-apaan ini!" pekik Rania. Tangan wanita itu membasuh wajahnya yang terkena siraman air.


Belum selesai Rania mengumpat, wanita misterius yang tak lain adalah Kayla langsung menyambar dengan cepat.


"Dasar pelakor! Tidak tahu diri! Berani-beraninya kamu mendekati suami orang. Memangnya di dunia ini tidak ada lagi pria lain yang dapat kamu pacari heh!" hardik Kayla dengan penuh emosi.


"Siang bolong begini mengajak suami saya pergi berkencan di tempat tertutup dan tersembunyi. Kamu pikir dengan memesan ruangan VIP ini dapat menutupi kebusukanmu!" Kayla berkacak pinggang. Wanita itu menatap Rania dengan sorot mata penuh kemarahan.


Deru napas menderu, kedua tangan mengepal di samping. Kemarahan Kayla sudah berada di puncak tertinggi dan bersiap untuk meluluhlantakan semua yang ada.


Setelah mendapatkan tas yang diinginkan, Kayla berencana pulang ke rumah. Ia berjalan secara perlahan menikmati pemandangan mall tersebut. Saat netranya tak sengaja menangkap sosok pria yang begitu dicintai, ia bergegas masuk ke dalam restoran.


Kebetulan saat itu tidak ada pelayan yang berjaga, mereka semua sibuk karena bertepatan dengan waktu makan siang. Kesempatan itu dimanfaatkan dengan sebaik mungkin oleh Kayla. Ia berjalan masuk sambil menatap penuh kemarahan ke arah ruangan VIP.


Melihat Mahesa tengah berbincang dengan seorang wanita tanpa mengalihkan pandangan dari makhluk yang tercipta dari tulang rusuk kaum Adam, Kayla semakin terbakar api cemburu. Tanpa memedulikan tatapan aneh semua pengunjung restoran, ia terus melangkah hingga tiba di ruangan VIP dan langsung mengguyur Rania dengan gelas minuman.


Aldo baru saja keluar dari toilet, mendengar keributan dari ruangan VIP, pria itu segera berlari mendekati sumber keributan.


Aldo memilih menjauh dari ruangan. Ia bersembunyi di dekat pot bunga yang menjulang tinggi ke atas sambil sesekali terkekeh melihat sikap Kayla.


"Tampaknya wanita itu tidak pernah bercermin. Dia memaki orang lain padahal dia sendiri sama seperti yang diucapkan olehnya." Pria itu tersenyum geli sambil menggelengkan kepala.


"Kamu tahu tidak, pria yang duduk di hadapanmu ini adalah suami saya. Saya istri Mas Mahesa," bentak Kayla membuat beberapa orang melintas langsung menoleh ke sumber suara. "Dan saat ini saya sedang mengandung anaknya. Jadi, kamu jangan mimpi ingin merebut dia dari saya!"


"Hei! Kamu sudah gila ya, menuduh orang lain tanpa bukti yang jelas!" bentak Rania. "Sebelum menuduh orang lain seharusnya kamu selidiki dulu siapa wanita yang duduk bersama suami kamu."


"Enak saja kamu menuduh saya pelakor. Saya itu wanita baik-baik tidak memiliki keinginan untuk merebut suami orang." Rania tampak tak terima jika dituduh sebagai seorang pelakor. Sebutan bagi seorang wanita yang tega merebut suami orang dengan berbagai alasan.


Selama ini Rania dididik dan dibesarkan oleh kedua orang tuanya untuk menjadi wanita baik-baik. Namun, kini tiba-tiba saja ada orang lain menyebut dirinya seorang pelakor tentu saja ia tidak terima.


"Kamu ... berani-beraninya membentak saya." Kayla sudah memasang ancang-ancang untuk melakukan tindakan kekerasan pada Rania.


"Cukup, Kayla!" bentak Mahesa sambil bangkit dari kursi.


Ia menarik lengan Kayla menjauhi Rania. "Kamu itu apa-apaa sih. Datang ke sini dan langsung menyerang orang lain. Bikim malu saja."

__ADS_1


Beberapa petugas keamanan datang, mencoba melerai keributan yang terjadi di restoran itu. Akibat keributan itu membuat semua pengunjung merasa tak tenang. Oleh karena itu, manager restoran bergegas mencari bantuan untuk melerai keributan.


"Maaf, Bapak dan Ibu, ini tempat umum. Kalian tidak bisa bertengkar di sini. Kaliam berdua telah mengganggu kenyamanan semua pengunjung. Jika memiliki masalah, sebaiknya diselesaikan saja di rumah. Jangan di sini," ucap salah satu petugas berseragam navy.


"Maafkan kami, Pak," ucap Mahesa.


Tidak ingin membuat suasana semakin runyam, Mahesa melangkah mendekati Rania di sudut ruangan.


"Bu Rania, mohon maaf atas kejadian tadi. Sungguh, saya benar-benar tidak menyangka jika akhirnya pertemuan kita akan berakhir seperti ini," tutur Mahesa. Kepala pria itu menunduk. Ia menahan malu akibat perbuatan yang dilakukan oleh sang istri siri.


"Tidak masalah, Pak. Mungkin memang waktunya saja yang tidak tepat untuk membahas soal pekerjaan."


"Baiklah, kalau begitu. Saya permisi pulang duluan."


Setelah meminta maaf pada Rania dan berpamitan pada calon customernya, Mahesa menarik lengan Kayla keluar dari restoran. Ia terus menyeret istrinya itu tanpa memedulikan rintihan kesakitan akibat lengannya yang terasa nyeri dicengkram oleh pria itu.


"Aw, Mas! Sakit!" keluh Kayla. Wanita itu kesulitan mengimbangi langkah Mahesa. Berkali-kali keserimpet karena tidak memperhatikan jalanan di depan sana. Beruntungnya Mahesa mencengkram erat lengan wanita itu sehingga ia tidak terjeremban ke belakang.


"Mas, lepaskan aku!" teriak Kayla tetapi pria itu semakin mencengkram erat lengan wanita itu.


"Masuk!" Mahesa mendorong tubuh Kayla ke dalam mobil.


Aldo yang mengekori di belakang segera menyodorkan kunci mobil pada atasannya.


"Kamu kembali saja ke kantor! Saya akan langsung pulang," titah Mahesa sebelum meninggalkan parkiran mall.


"Baik, Pak Mahesa," jawab Aldo sopan.


Tanpa membuang waktu, Mahesa menyalakan mesin mobil. Melajukan kendaraan mewah itu memecah jalanan ibu kota menuju rumah utama.


"Lumayan, dapat tontonan gratis," ucap Aldo lirih. Raut wajah pria itu begitu bahagia. Ia berjalan menuju pintu masuk mall sambil bersiul.


"Pelakor kok teriak pelakor. Disitu waras, Mbak?" Aldo bermonolog. Perutnya terasa geli saat membayangkan Kayla meneriaki Rania dengan sebutan pelakor.


TBC


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2