Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Demi Kebaikan Bersama


__ADS_3

"Maafkan aku, Ma. Aku ... tidak sengaja menamparmu," ucap Firdaus lirih. Sungguh, ia sama sekali tak berniat menampar istrinya itu. Karena terlalu emosi hingga tanpa sengaja melakukan tindakan kekerasan kepada istrinya.


Lena menatap iris coklat lelaki yang begitu dicintainya. Bola mata wanita itu mulai berkaca-kaca. Sudah jatuh ditimpa tangga. Itulah pribahasa yang mewakili perasaan ibu kandung dari Raihan. Melihat suami tercinta bersama wanita lain dalam posisi intim ditambah menerima tamparan keras di wajah sudah cukup membuat hatinya hancur berkeping-keping.


Kini, ia bisa merasakan perasaan Mei Ling saat ibu kandung Rayyan tengah memergoki dirinya tengah bercumbu bersama dengan mantan direktur rumah sakit. Sakit. Benar-benar sakit hingga ia merasa seisi dunia ini menimpa tubuhnya.


Menatap sendu dengan bibir gemetar disertai seringai di wajah, Lena berkata. "Dulu, jangankan menamparku, memarahiku saja kamu tidak pernah. Tapi kini, demi wanita itu kamu tega menamparku. Jahat kamu, Pa!"


Firdaus menggelengkan kepala cepat. "Tidak, Ma. Demi Tuhan, aku tidak bermaksud untuk menamparmu. Sungguh!" Pria itu menyentuh kedua tangan Lena, dan menangkupnya. "Kumohon, maafkan aku."


Akan tetapi, Lena menepis kedua tangan Firdaus dengan kasar. "Aku tidak sudi disentuh oleh tangan kotormu itu!" Wanita itu mulai meninggikan suaranya.


"Mama!" bentak Firdaus.


"Kenapa? Kamu tidak terima aku hina begitu? Bukankah tanganmu itu memang kotor, Pa? Kotor karena telah banyak menyentuh wanita lain selain istri sahmu!" cecar Lena dengan sorot mata berapi-api. Dada wanita itu kembali kembang kempis merasakan seluruh tubuh memanas akibat emosi yang terus menyelusup masuk ke dalam diri.


"Saat kamu berstatuskan sebagai suami dari Mbak Mei Ling, tanganmu itu menyentuhku dengan tatapan memuja. Lalu, setelah aku resmi menjadi istri sirimu, kamu malah menyentuh wanita lain dengan alasan ingin menolongnya. Dasar tua keladi! Sudah tua, bukannya insyaf malah menjadi-jadi!" hardik Lena tanpa mengalihkan pandangan dari sosok lelaki paruh baya di depannya.


"Lena! Stop it! Sudah kukatakan, aku hanya berniat menolong Nesa." Firdaus kembali emosi. Menatap dengan mata terbuka lebar kepada istrinya.


Bukannya berhenti, Lena semakin emosi. Ia merentangkan tangan ke samping kiri, lalu mengambil buku dari deretan buku yang tertata rapi di dalam rak. Beberapa buku dilempar ke hadapan Firdaus sambil berteriak histeris. "Pembohong! Dasar pembohong kamu, Pa! Aku tidak percaya padamu!"


"Hentikan, Ma! Sudah hentikan!" Firdaus segera menarik kedua tangan Lena. Ia peluk tubuh tak berdaya itu dalam dekapan. Memeluk erat seolah tak ingin wanita itu pergi dari sisinya. "Maafkan aku," bisiknya di telinga sang istri.


"Lepaskan! Aku tidak sudi kamu peluk! Aku tidak mau dipeluk oleh lelaki hidung belang sepertimu!" tolak Lena meronta. Memukuli dada bidang Firdaus. "Kamu jahat, Pa! Aku benci kamu!" Terus meronta, berusaha melepaskan diri dari pelukan sang suami.


Setelah mengerahkan semua kemampuan yang ada, akhirnya Lena berhasil terlepas dari pelukan Firdaus. Akibat terlalu memaksakan diri, kursi roda yang diduduki oleh wanita itu terdorong tanpa bisa dikendalikan. Roda kursi berbentuk bulat terbuat dari karet bergerak mundur secepat kilat, karena sebelumnya tidak dikunci terlebih dulu oleh sang empunya. Hingga sesuatu yang tak terduga terjadi.


"Aargh!" teriak Lena sebelum kursi roda yang diduduki olehnya membentur dinding dan tubuh wanita itu tersungkur ke depan dengan posisi wajah terlebih dulu menyentuh lantai.

__ADS_1


"Mama!" pekik Firdaus histeris kala melihat tubuh Lena tersungkur dari kursinya.


Pria itu hendak berhambur menyelematkan sang istri, tetapi tiba-tiba saja ia merasakan kakinya terasa mati rasa. Kepala terasa sakit sekali dan disertai kesulitan dalam berbicara. Wajahnya pun terlihat melorot dan tidak simetris lagi.


Brugh!


Tiba-tiba saja, tubuh ayah dari dua orang pria tampan yang sukses dalam dunia karir terkulai tak berdaya di atas lantai.


***


"Babe, Ghani lapar nih. Sejak tadi dia gelisah terus dan tangisnya tidak mau berhenti!" seru Rayyan dari dalam kamar bayi. Suara berat pria itu terdengar hingga ke ruang tamu. Arumi yang saat itu sedang memerah ASI ke dalam botol plastik BPA free segera menghentikan sejenak aktivitasnya. Beruntungnya ia telah menyelesaikan botol kelima yang siap dimasukan ke dalam freezer.


"Bu Rumi, biar saya saja yang merapikan." Mbak Tini segera mengambil alih sisa pekerjaanku setelah mendengar seruan dari dalam kamar si kembar.


Tanpa banyak berkata, Arumi mengayunkan kaki menuju kamar bayi yang terhubung langsung dengan kamar utama. Bibir wanita itu tertarik ke atas ketika melihat Rayyan menggendong anak pertama mereka dengan penuh cinta.


Rayyan duduk di sebelah Arumi sambil memperhatikan istri memberikan ASI untuk buah hatinya.


"Dua hari sebelum acara, kita akan ke rumah Mama Nyimas. Aku juga meminta Pak Burhan tinggal sementara waktu di sana. Ya ... siapa tahu kehadirannya dapat membantu dan sedikit meringankan pekerjaan para pekerja EO," ucap Rayyan di sela kegiatannya memperhatikan sang buah hati yang sedang asyik meny*su.


Arumi menatap suaminya, kemudian kembali memandangi wajah Ghani dengan tatapan penuh cinta. Ia menikmati setiap moment kebersamaannya bersama anak-anaknya, terutama saat berduaan seperti ini. Dengan memberikan ASI kepada si kecil, diharapkan dapat membangun ikatan emosional antara ibu dan anak.


"Iya, Mas. Kamu atur saja bagaimana baiknya. Yang penting pas hari H, kamu undang Rini beserta keluarganya. Jangan seperti kejadian beberapa bulan lalu. Di tengah acara sahabatku itu datang dan nangis gara-gara kita tidak mengundangnya." Ibunda Triplet terkekeh pelan saat mengingat kejadian tengah berlangsungnya acara empat bulanan di kediaman Nyimas. "Walaupun pada akhirnya hanya Rio saja yang hadir, setidaknya kita sudah memberitahu dia. Aku yakin, dia tak 'kan marah-marah lagi seperti dulu."


"Iya ... iya .... Aku sudah menyiapkan undangan khusus bagi sahabatmu itu. Sudah kutitipkan juga kepada Rio tadi," sahut Rayyan. "Undangan untuk rekan sejawat kita di rumah sakit pun sudah kupisahkan tinggal disebar saja."


Mendengar ucapan Rayyan, Arumi jadi teringat pada Firdaus, papa mertuanya yang beberapa hari lalu datang menjenguk di rumah sakit. Memberikan ucapan selamat serta do'a tulus bagi ketiga cucunya.


"Mas, apakah kamu juga mengundang Papa Firdaus dan Tante Lena saat acara digelar?" tanya Arumi hati-hati. Tidak ingin mengacaukan suasana hati sang suami.

__ADS_1


Rayyan terdiam, dia menatap Arumi dengan tatapan yang sulit diartikan. Kembali teringat akan semua perkataan Rio ketika pria itu masih bertamu di apartemen miliknya.


"Aku tahu, kamu tidak suka apabila Papa Firdaus dan Tante Lena hadir di tengah kebahagiaan kita. Namun, apa tidak sebaiknya kita memberitahu mereka tentang berita ini, Mas? Bagaimanapun, dalam darah ketiga bayi kita mengalir darah Papa Firdaus."


Tubuh Rayyan memanas disusul rahang mengeras yang menonjol ke luar. Ia tak memungkiri kenyataan bahwa di dalam tubuh anak-anaknya mengalir darah seorang pria yang telah menjadi penyebab kematian mama tercinta. Kalau sudah begini, tidak ada lagi cara selain memberitahu kenyataan yang selama belasan tahun ia pendam seorang diri.


Menarik napas dalam, lalu mengembuskan secara perlahan sambil memejamkan mata sejenak. Ia mengumpulkan keberanian dalam diri untuk memberitahu Arumi tentang keadaan Lena termasuk alasan pria itu mengapa sangat membenci Firdaus dan istri siri sang papa meski ibu sambungnya itu begitu baik dan menjalankan perannya sebagai orang tua pada umumnya.


"Rumi, ada hal penting yang kusembunyikan kepadamu tentang istri kedua Papa-ku." Pria itu menjeda kalimatnya sejenak. Ia kembali menarik napas dalam sebelum akhirnya membuka suara lagi. "Selepas membesukmu di rumah sakit, rupanya wanita itu dilarikan ke rumah sakit. Dia terjatuh dari tangga dan mengalami pendarahan. Nyawanya bisa diselamatkan, tetapi akibat kejadian itu, anggota tubuh bagian bawah mengalami kelumpuhan. Kata Dokter, dia tidak dapat berjalan lagi seperti sedia kala."


Seulas senyuman manis terlukis di wajah cantik meredup, tergantikan oleh air muka murung berbalut kesedihan.


Sedih? Kenapa Arumi harus bersedih mendengar berita buruk yang menimpa Lena, ibu tiri dari suaminya? Bukankah istri kedua Firdaus adalah seorang pelakor yang telah bersikap jahat terhadap Mei Ling, lantas mengapa dokter cantik itu bersedih karena mendengar musibah yang menimpa Lena? Jawabannya adalah, karena Lena satu-satunya wanita yang mau membela Arumi di saat semua orang menghina dirinya.


Di saat teman geng sosialita Naila sibuk bergosip tentang Arumi, hanya wanita paruh baya itulah yang menutup mulut rapat dan lebih memilih menyibukkan diri melihat-lihat koleksi tas, sepatu dan pakaian branded daripada harus menghabiskan energi untuk menggunjingkan wanita tak bersalah. Meskipun ia tak membeli semua barang itu, namun itu lebih baik ketimbang membicarakan keburukan orang lain. Oleh karena itu, Arumi merasa berhutang budi kepada Lena karena selalu dibela di depan orang lain terkhusus di hadapan mantan ibu mertuanya.


Arumi menyipitkan mata. Terlihat jelas sorot mata kekecewaan terpancar di bola matanya yang indah.


Sebelum istrinya salah paham, Rayyan bersuara. "Maafkan aku karena tidak memberitahumu sebelumnya. Aku melakukan ini semua demi kebaikan kita bersama."


"Kondisimu pasca operasi masih sangat lemah, ditambah repotnya mengurus ketiga bayi kembar membuat aku berpikir mengapa aku harus memberitahu keadaan Wanita itu? Toh dia bukan siapa-siapa aku. Dia cuma ibu tiri yang telah merusak rumah tangga Mama-ku. Dan ... dia jugalah penyebab meninggalnya Mama Mei Ling dalam insiden kecelakaan belasan tahun lalu."


"Apa?" tanya Arumi dengan bola mata melebar sempurna.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2