Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Insiden


__ADS_3

Saat Kayla sudah masuk ke dalam mobil, Mahesa pun masuk ke dalam mobil. Tak berselang lama, pria berusia dua puluh delapan tahun itu menginjak pedal gas. Mobil mewah milik pria itu meninggalkan halaman parkir mall dengan kecepatan di atas rata-rata.


"Mas, pelan-pelan. Kamu bisa membunuhku kalau terus melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi," ujar Kayla kala mobil mewah itu memecah jalanan ibu kota. Jalanan siang hari itu cukup sepi sehingga Mahesa bisa memutar stir ke arah mana pun sesuka hati.


Mahesa tak mengindahkan ucapan Kayla. Ia semakin menginjak pedal gas saat melewati bangunan sebuah universitas tempat dirinya dan Arumi dulu menimba ilmu. Bayangan masa lalu kembali terekam jelas di memori ingatannya, saat ia dan Arumi masih menjadi sepasang kekasih.


'Sialan!' maki Mahesa dalam hati. Pria itu seperti orang kehilangan akal, terus melajukan kendaraan dengan kecepatan di atas rata-rata.


"Jika kamu tak peduli terhadap nyawamu sendiri, terserah. Namun, setidaknya pedulilah terhadap nyawa bayi dalam kandunganku ini. Kalau terjadi sesuatu, kamu sendiri yang akan menyesal, Mas," ujar Kayla dengan bibir gemetar. Andai saja ia tak mengenakan sabuk pengaman, mungkin tubuh wanita itu sudah terlepar lalu membentur dashboard.


Sejujurnya, ini bukan kali pertama Kayla berada dalam mobil dengan laju kendaraan di atas rata-rata. Dulu, ketika ia masih single, Kayla sering mengendarai mobil kesayangannya dengan kecepatan 80 hingga 90KM/jam. Akan tetapi, sejak menikah dan mengandung buah cintanya bersama Mahesa, adrenalin wanita itu sirna, hilang tak tersisa.


Ia berubah menjadi wanita penakut, sebab kini di dalam rahimnya tumbuh janin yang sangat dinanti oleh banyak orang dan wanita itu tak mau hal buruk menimpa dirinya dan juga bayi dalam kandungannya.


Seketika Mahesa mengurangi kecepatan laju kendaraan kala mendengar Kayla menyebut janin yang tengah tumbuh di dalam rahim wanita itu. Walaupun emosinya telah berada di ubun-ubun tetapi ia tak mau bertindak bodoh dengan mengorbankan nyawa buah cintanya bersama Kayla.


"Aku tak habis pikir dengan isi kepalamu, Kay. Bisa-bisanya kamu menyerang seseorang tanpa bertanya terlebih dulu padaku, siapa wanita itu!" sembur Mahesa. "Seharusnya kamu jangan bertindak sembarangan."


"Kamu tahu, wanita itu adalah putri dari calon customer-ku. Dia menggantikan Pak Ilham karena pria itu berhalangan hadir sehingga tak dapat menemuiku di restoran. Aku dan wanita itu bertemu, untuk membahas pekerjaan, tidak lebih!"


"Tinggal selangkah lagi aku dapat membujuk wanita itu membeli beberapa unit perumahan di agen perusahaan properti milik Papaku. Namun, kamu malah datang di waktu yang tidak tepat. Kamu menyiram wanita itu di depan umum!" Tampak jelas raut kemarahan terlukis di wajah. Tangan pria itu mencengkram stir mobil dengan erat. Rahang Mahesa mengeras menyiratkan kemarahan yang telah mencapai batas maksimal.


Seolah merasa tidak terjadi sesuatu, Kayla berkata dengan santai, "Ya ... aku kan tidak tahu kalau wanita itu adalah klien pentingmu." Wanita itu menaikan kedua pundak ke atas sambil melipat tangan ke dada. "Lagi pula, suruh siapa dia duduk bermesraan dengan suami orang."


"Dari cara dia memandangimu, berkata di hadapanmu, aku sangat yakin jika wanita itu ada niat terselubung di balik tujuannya datang menemuimu. Aku dan dia sama-sama wanita, Mas. Jadi, aku tahu gelagat aneh saat seorang wanita berniat merampas seseorang dari sisi orang lain."


Pria yang duduk di balik kemudi menggelengkan kepala, lalu detik berikutnya tersenyum kecut. "Tentu saja kamu tahu. Bukankah kamu sudah berpengalaman ketika merebutku dari istriku," sindir Mahesa.

__ADS_1


Seketika Kayla mendelik ke arah Mahesa. Tak terima dengan sindiran yang diucapkan oleh suami sirinya itu. "Mas!" serunya dengan mata berapi-api. "Maksudmu berkata seperti itu apa? Kamu ingin mengatakan kalau aku adalah seorang pelakor, gitu?"


"Kalau iya, memangnya kenapa? Kamu tidak terima aku sebut seorang pelakor?" sinis Mahesa, menatap tajam ke arah Kayla. "Sebutan apa yang pantas bagi seorang wanita yang tega merebut suami orang apalagi pria itu adalah suami dari sahabatnya sendiri."


"Cukup, Mas!" bentak Kayla. Emosi wanita itu tersulut kala Mahesa menyeret mantan sahabatnya dalam masalah ini. "Jangan pernah kamu menyebut si Mandul itu sebagai sahabatku, aku tidak sudi mendengar nama ******* itu!"


"Hati-hati kamu kalau bicara!" seru Mahesa meninggikan suara. "Arumi bukanlah wanita mandul. Dia wanita normal sama sepertimu."


Mendengar perkataan Mahesa, membuat wanita yang berprofesi sebagai seorang model terkenal di tanah air menyemburkan tawa. Tubuh Kayla bergetar, perutnya seperti digelitiki oleh tangan tak kasat mata.


"Mas ... Mas ... kamu bilang Arumi tidak mandul. Kalau memang dia wanita sehat, lalu kenapa Tante Naila memaksa kamu untuk mendekati aku? Meminta kamu menjalani hubungan gelap di belakang Arumi."


"Lima tahun kalian menikah tetapi hingga detik di mana kamu menghentakkan bagian inti tubuhmu di bagian inti tubuhku, wanita itu tak juga hamil. Bukankah itu membuktikan bahwa dia mandul."


"Kayla!" pekik Mahesa. Suara pria itu menggelegar bagai gemuruh di siang hari, memekikan gendang telinga bagi siapa saja yang mendengar. "Aku peringatkan padamu, jangan pernah menjelek-jelekan Arumi di hadapanku!"


"Karena aku tidak terima jika wanita yang kucintai dihina orang lain!" Sebuah kalimat meluncur tanpa disadari oleh Mahesa.


"Apa?" Mata Kayla membulat sempurna mendengar ucapan Mahesa. Detik berikutnya ia tersadar dengan kalimat yang baru saja didengar olehnya. "Jadi, kamu masih mencintai mantan istrimu itu?"


"Jawab aku, Mas. Apa benar kamu masih menyimpan rasa cinta untuk wanita itu? Katakan padaku, Mas." Kayla memukul lengan sang suami yang saat itu tengah mengendarai mobil.


"Kayla, hentikan!" seru Mahesa saat ia mulai kehilangan kendali. Akibat mendapat pukulan di bagian lengan membuat Mahesa tak dapat melajukan kendaraannya dengan baik. Mobil itu melaju tak beraturan di jalanan ibu kota. Berada dibahu jalan yang tak semestinya.


Melewati sebuah tikungan tajam, Mahesa membanting stir ke lajur sebelah kiri tanpa memberikan kode pada pengendara di belakang. Naasnya, dari arah belakang ada sebuah mobil muncul tiba-tiba dengan kecepatan tinggi menyalip kendaraan milik Mahesa. Mobil yang dikendarai Mahesa pun oleng hingga ia menabrak sebuah tiang listrik.


Di dalam mobil, tubuh sepasang suami istri itu terkulai tak sadarkan. Akibat insiden itu, kepala Mahesa membentur stir mobil dengan keras. Darah segar berbau amis mengalir dari kening dan pelipis. Sementara Kayla mengalami benturan di bagian perut saat mobil itu menabrak tiang.

__ADS_1


***


Arumi baru saja hendak meninggalkan bangunan rumah sakit kala beberapa perawat IGD berhambur sambil mendorong dua brankar yang tersedia di bagian depan ruangan. Suasana rumah sakit yang semula sepi, mendadak ramai akibat kedatangan pasien korban kecelakaan lalu lintas.


Berjalan perlahan seraya mengedarkan pandangan ke sekitar. Ketika dua orang perawat mendorong brankar masuk ke dalam ruangan IGD. Wajah kedua korban dipenuhi darah sehingga Arumi tak dapat mengenali siapa mereka.


"Mas, itu korban kecelakaan tunggal?" tanya Arumi pada salah satu perawat ambulans yang baru saja menyelesaikan tugas.


Perawat itu menjawab, "Benar, Dokter Arumi." Pria berseragam putih itu begitu familiar dengan wajah Arumi, sebab mereka pernah beberapa kali bertemu dalam acara seminar yang diadakan oleh pihak rumah sakit.


"Lokasi kecelakaan di tikungan tajam di ujung jalan sana. Dua korban itu tampaknya sepasang suami istri. Dan sepertinya korban wanita itu tengah berbadan dua, sebab di bagian intim mengeluarkan banyak darah," tutur perawat itu.


Entah mengapa, tiba-tiba saja perasaan Arumi tak tenang. Mendengar semua informasi yang disampaikan oleh perawat itu membuat ia teringat akan sosok mantan sahabat yang begitu disayangi olehnya.


Dengan secepat kilat ia menepis perasaan itu. 'Memang apa peduliku terhadap wanita itu? Bukankah dia sudah menghancurkan hidupku?' batin Arumi.


Tak mau terlalu lama berada di tempat itu, Arumi berniat meninggalkan bangunan megah bak sebuah hotel bintang lima.


"Yasudah, Mas. Terima kasih atas informasinya." Arumi tersenyum ramah pada perawat laki-laki itu. "Kalau begitu, saya duluan. Mari, Mas."


TBC


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2