
"Kang Arman, aku mohon lepaskan. Sungguh, ini sakit sekali." Lena memasang wajah memelas di hadapan mantan suaminya. Benar-benar merasakan bagian kepalanya terasa sakit sekali, seolah helaian rambut yang mulai berubah menjadi warna keperakan terlepas dari kulit kepala. Wajah memerah menahan rasa sakit yang teramat luar biasa.
Arman menyeringai, merasa puas karena membalas sedikit rasa sakit dalam diri akibat ditinggal pergi oleh Lena. "Apa yang kulakukan kepadamu, tidak sebanding dengan apa yang telah kamu dan si Berengsek itu lakukan. Ini cuma sepersekian persen saja dari rasa sakit hatiku, Lena."
"Rasa sakit apa, Kang? Bukankah seharusnya aku yang sakit hati atas perbuatanmu dulu kepadaku? Kamu tidak pernah sekalipun memperlakukanku layaknya seorang istri. Kamu menjadikanku mesin ATM, penghasil pundi-pundi uang untuk modalmu judi dan mabuk-mabukan. Selama menikah, selalu aku yang mencari uang. Membanting tulang demi mencukupi kebutuhan rumah tangga, sedangkan kamu bisanya cuma berfoya-foya bersama teman-temanmu itu." Lena tampak meluapkan kekesalan yang dipendam selama menikah dengan Arman. Sorot mata kesakitan bercampur kesedihan terlukis jelas di bola matanya yang mulai memerah.
"Itu sudah menjadi konsekuensimu saat memutuskan menerima lamaranku. Jadi, terima saja nasibmu. Jangan malah kamu kabur dariku dan memutuskan tinggal bersama suamimu yang baru. Hidup enak, tentram, damai sementara aku hidup susah semenjak kepergianmu dan tak lagi dapat berkumpul bersama teman-temanku."
"Kalau kamu mau hidup enak, kerja dong, Kang, bukan malah mengandalkan orang lain terus," ucap Lena lirih bagai suara desauan angin di musim gugur.
"Diam! Aku tidak butuh nasihat dari J*l*ng sepertimu!" hardik Arman. Pria itu menatap lekat wajah Lena dengan tatapan tajam. Ia perhatikan bibir tipis wanita itu yang dipoles lipstick merah, salah satu tempat paling manis dari anggota tubuh mantan istrinya itu.
Bibir Lena terlihat begitu menggoda, hingga membuat Arman ingin sekali mencicipinya setelah puluhan tahun tak lagi mengecap bagaimana rasanya manis madu dari bibir sang mantan. Lantas, ia mendekatkan wajahnya mendekati wajah Lena. Bersiap ******* bibir itu sama seperti saat mereka masih menjadi sepasang suami istri. Hanya tersisa jarak satu jengkal, ia dapat mencicipi bibir itu lagi namun sebuah kejadian tak terduga terjadi.
"Cuih! Aku tidak sudi memberikan bibirku untuk pria berengsek sepertimu, Kang!" Lena meludahi wajah mantan suaminya itu. Kemudian memalingkan wajah ke arah lain. Ia tidak sudi memberikan bibirnya untuk dikecup oleh pria manapun selain Firdaus. Walaupun saat ini suaminya lumpuh, tetapi ia berusaha setia, memegang janji suci pernikahan meski awal hubungan mereka merupakan sebuah kesalahan.
Plak!
"Wanita sialan! Kurang ajar!" Arman tak dapat mengendalikan diri, ia kehilangan kontrol. Pria itu melakukan kebiasaan yang dilakukannya dulu saat menjadi suami Lena. "Berani-beraninya kamu meludahiku! Sudah bosan hidup kamu ya!" semburnya dengan kilatan emosi terpancar di mata. Lantas, tangan pria itu menarik tangan Lena hingga istri kedua Firdaus terjatuh di lantai.
Setelah tubuh Lena berada di lantai, Arman melepaskan ikat pinggang yang melilit di pinggang. Seperti orang kesetanan, pria itu menyabetkan ikat pinggang terbuat dari besi ke tubuh bagian atas mantan istrinya dengan keras hingga bunyi lolongan keras menggema memenuhi penjuru ruangan.
"Tampaknya kamu memang lupa siapa aku, Lena, sehingga berani memancing emosiku!" kesal Arman. Jiwa bergejolak bagai air panas di atas kompor. Dada kembang kempis dengan rahang menonjol ke luar. Kembali menyagunkan ikat pinggang lebih kencang ke bagian lengan Lena. Bunyi lolongan serta teriakan kembali terdengar.
"Aduh! Ampun, Kang! Jangan siksa aku lagi! Ampun!" pekik Lena kesakitan. Wajahnya meringis menahan sakit. Menatap sendu ke arah pria itu. Bulir air mata menetes di antara dua pipi.
"Ini balasan bagi perempuan hina sepertimu, Lena! Kamu memang pantas mendapatkannya! Kalau pergi, aku habisi nyawamu agar bisa menyusul anak kita yang sudah lama meninggal!" Pria itu terus mencambuk Lena tanpa ampun.
Lena hanya bisa pasrah saat benda terbuat dari besi semakin gencar menyentuh permukaan kulit. Tubuh wanita itu mulai kemerahan dan terdapat luka di beberapa area permukaan tangan, paha dan kaki.
__ADS_1
'Ya Tuhan, kenapa kejadian ini harus terulang lagi? Kenapa diriku dipertemukan lagi dengan pria ini!' batin Lena saat Arman semakin menggila.
Setelah puas melampiaskan kemarahannya kepada Lena, ia melempar begitu saja ikat pinggang miliknya ke sembarang tempat lalu menatap tajam ke arah ibu kandung Raihan. "Bagaimana, kamu suka dengan hadiah yang kuberikan? Kamu pasti merindukannya, 'kan?" Mengusap lembut wajah itu, kemudian ia dorong hingga tubuh Lena kembali membentur lantai.
Lena sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya bisa menerima perlakukan Arman yang terkenal memiliki sifat ringan tangan. Air mata semakin deras mengalir hingga membuat wajah wanita itu sembab.
Arman bangkit dari posisinya saat ini. Ia rapikan penampilannya yang berantakan sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. "Aku penasaran, di mana suami barumu itu, Lena. Kenapa dia tidak datang menyelamatkanmu? Bukankah dulu dia begitu bersemangat saat memberikan kepalan tangan di wajahku, lalu kenapa sekarang dia tidak muncul."
Seketika bola mata Lena membulat kala Arman menyebut nama Firdaus. 'Gawat, Kang Arman pasti menghajar Mas Firdaus kalau tahu suamiku sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi,' batinnya.
Tak ingin Firdaus mengalami hal serupa seperti dirinya, ia mencoba mengelabui Arman. "Suamiku tidak ada di sini, dia sedang pergi dinas ke luar kota."
Dengan mudahnya Arman mudah dikelabui. Pria itu menganggukan kepala dan seulas senyuman puas terlukis di wajah. "Baguslah kalau begitu, kesempatan ini dapat kumanfaatkan untuk mengeruk semua harta kekayaan suamimu itu."
"Gila! Kamu gila, Kang! Apa otakmu sudah tak berfungsi lagi. Kamu itu baru keluar penjara tapi kenapa ada niatan untuk mencuri lagi. Tidakkah kamu insyaf atas semua kesalahanmu di masa lalu,' tegur Lena.
"Jika kamu beranggap begitu, maka kamu salah besar. Aku ... tidak takut untuk melaporkanmu ke polisi jika berniat merampas barang berharga di apartemen ini!"
Tertawa terbahak hingga suara lengkingan itu memekikkan gendang telinga. "Ya ... ya ... kita lihat saja nanti." Tanpa membuang waktu, Arman melancarkan aksinya. Ia memasuki satu per satu ruangan di kediaman Firdaus.
"Hentikan, Kang! Kamu tidak boleh menggeledah apartemenku!" cegah Lena, berharap pria itu menghentikan aksinya. Namun, suara teriakan wanita itu laksana desau angin lalu. Tak diindahkan sama sekali oleh sang pria.
Tersenyum smirk kala melihat Firdaus terbaring lemah di atas tempat tidur. Kelopak mata terbuka disertai butiran kristal menggenang di sudut mata. Rupanya sedari tadi ayah kandung Rayyan mendengar jelas suara teriakan dan lolongan kesakitan istrinya kala Arman mendaratkan pecutan demi pecutan di tubuh Lena. Ingin rasanya berhambur, menolong wanita itu tetapi ia tak sanggup menyelamatkan istrinya dari kejahatan Arman.
"Wah ... wah ... akhirnya kita berjumpa lagi, Firdaus. Sudah lama sekali tidak bertemu." Melangkah perlahan mendekati pembaringan. Ia tatap lekat pria di seberang sana, mulai dari atas kepala hingga ke ujung kaki.
Tubuh lemah tak berdaya ditambah wajah yang tidak simetris serta penampilan kuyu, membuat Arman yakin kalau rivalnya itu dalam keadaan sakit. "Sepertinya Tuhan sedang memberikan karma kepadamu, ya? Ck ... ck ... ck! Kamu dan Lena memang pantas mendapatkan karma atas kejahatan kalian di masa lalu."
"Kamu dan dia sama-sama lumpuh. Sungguh pasangan serasi," ejeknya sambil menghunuskan tatapan tajam ke arah Firdaus.
__ADS_1
"Dasar Berengsek! Pergi kamu dari kediamanku!" ucap Firdaus dengan logat pelo. Mengumpat pada pria itu.
Alih-alih merasa takut, Arman malah tertawa terpingkal-pingkal hingga dirinya harus memegangi perutnya yang terasa sakit akibat terlalu banyak tertawa. Penyaksikan mantan istri dan rivalnya dalam keadaan lemah, membuat pria itu merasa terhibur seolah sedang menyaksikan drama yang disiarkan secara live.
"Firdaus ... Firdaus ... kamu itu bicara apa? Mencoba mengancamku, begitu? Jangan pikir aku takut akan gertakanmu!" Pria itu semakin mendekati Firdaus, lalu menarik tubuh rivalnya hingga dia pun ikut terjatuh ke lantai.
Deru napas memburu disertai kedua tangan yang mengepal sempurna di samping tubuh. Tubuhnya terasa panas kala melihat sebuah foto keluarga yang memperlihatkan sepasang suami istri dan satu orang anak tersenyum. Gejolak amarah dalam diri merambat hingga ke seluruh tubuh.
Perasaan marah, iri dan dendam mengumpul menjadi satu membuat Arman menjadi gelap mata. Lalu, ia menendang tubuh Firdaus yang lemah tak berdaya dengan sangat keras. "Rasakan pembalasanku!" Mengarahkan kaki sebelah kanan ke arah pria di bawah sana. "Ini balasan karena dulu sudah berani menghajarku! Dasar Berengsek, sialan!"
Firdaus hanya bergeming saat tubuhnya yang lemah dijadikan sasaran kemarahan Arman. Bulir air mata menetes membasahi pipi. Hatinya terasa sakit karena ia tak mampu melawan saat seseorang berbuat k*s*r kepadanya dan juga Lena.
Lena yang masih tergeletak di lantai ruang tamu menjerit kala mendengar suara bernada tinggi meluncur dari bibir Arman. "Hentikan, Kang! Jangan kamu sakiti Mas Firdaus!"
Wanita itu berusaha merangkak, membawa tubuhnya bergerak mendekati pintu kamar utama yang terbuka lebar. "Kang Arman, lebih kamu pergi dari sini sebelum aku panggilkan security!" ancamnya.
Akan tetapi, Arman tak memedulikan ancaman Lena. Pria itu masih asyik bermain-main dengan Firdaus sambil sesekali tertawa ketika melihat penderitaan rivalnya.
Di saat Arman tengah fokus membalaskan dendam pada Firdaus, dan Lena mencoba menolong suaminya tercium aroma gosong dari arah dapur. Kepulan asap menggumpal memenuhi ruangan tersebut.
"Bau apa ini? Kenapa baunya tercium dari arah dapur?" Lantas, Lena menoleh ke belakang. Kepulan asap tebal mulai menguar ke udara.
"Kebakaran!"
.
.
.
__ADS_1