Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Cintai Aku Hingga Menua Bersama


__ADS_3

Rahang Nyimas terbuka lebar, matanya melebar terkejut mendengar kabar yang disampaikan oleh Rayyan. Tidak menduga jika harapannya selama ini agar anak kesayangannya segera mendapatkan momongan akhirnya dikabulkan. Seketika wanita paruh baya itu merubah posisi duduk menghadap Arumi. Dia menatap dokter cantik itu dengan rasa tidak percaya sekaligus bahagia di waktu hampir bersamaan.


"Sayang, apakah yang dikatakan oleh suamimu benar? Kalau kamu sedang hamil?"


Arumi tersenyum lebar, wanita muda itu meraih tangan Nyimas kemudian menempelkannya ke atas perutnya yang masih datar. "Benar, Ma. Di dalam sini ada tiga calon cucu Mama."


Sumpah demi apa pun, Nyimas sudah tak lagi mampu berkata apa-apa. Tubuh wanita itu terasa lemas dan rasanya dunia ini berhenti berputar.


Dia merasa telah tumbuh bunga bermekaran di dalam ruangan itu, ribuan kupu-kupu terbang dan hinggap di kuncup bunga yang tengah merekah. Seketika ruang keluarga berubah menjadi hamparan taman bunga yang begitu hijau dengan semilir angin sejuk yang menerpa wajah. Terasa begitu menyenangkan.


Telah banyak air mata, perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan anak tercintanya itu agar diberikan momongan, dan ternyata Tuhan mengabulkan keinginan Nyimas supaya Arumi bisa menjadi wanita seutuhnya yang dapat memberikan keturunan kepada Rayyan.


"Ma, sebentar lagi Mama akan menjadi nenek dari ketiga anak kami," tutur Rayyan. "Mama ... bahagia 'kan dengan kabar ini?"


Air mata Nyimas tak sanggup tertahan mendengar pertanyaan Rayyan. Bagaimana mungkin menantunya itu menanyakan sebuah pertanyaan yang dia sendiri sudah tahu jawabannya. Sebagai seorang ibu tentu saja Nyimas bahagia mendengar kabar kehamilan sang putri. Bagi wanita paruh baya itu, kehamilan Arumi merupakan sebuah anugerah dari Tuhan yang patut disyukuri.


"Nak Rayyan, tentu saja Mama bahagia. Momen ini sudah Mama nantikan selama lima tahun belakangan. Namun, Tuhan baru mewujudkannya setelah Arumi menemukan pria yang memang pantas menjadi pendamping hidup dari putri Mama yang tidak sempurna ini," jawab Nyimas disela isak tangis bahagia. Bulir air mata terus mengalir membasahi pipi.


Arumi yang berada di samping Nyimas pun ikut menangis haru. Dia melingkatkan kedua tangan di pinggang dengan kepala menyender di dada sang mama. Kedua wanita beda usia itu menangis, meluapkan kebahagiaan yang tak mampu diucapkan oleh kata-kata.


"Terima kasih, Nak Rayyan, karena kamu telah bersedia menerima segala kekurangan yang ada pada diri Arumi. Mama, bahagia sekali, Nak." Tangan halus dan lembut Nyimas mengusap puncak kepala Arumi dengan penuh cinta. Dalam hati mengucapkan syukur karena Tuhan telah memberikan kebahagiaan kepada keluarganya.


Cukup lama Nyimas dan Arumi berpelukan hingga keduanya lelah menangis. Pelukan terurai, baik Arumi maupun Nyimas sama-sama mengusap sisa air mata yang membasahi pipi.

__ADS_1


"Ma ... tapi ada satu hal yang ingin aku sampaikan pada Mama perihal kehamilan Arumi. Aku berencana menyembunyikan kabar baik ini dari semua orang. Hanya segelintir orang terdekat saja yang mengetahui bahwa saat ini istriku sedang berbadan dua," ucap Rayyan setelah Arumi dan Nyimas dapat mengendalikan diri masing-masing.


"Oleh karena itu, maukah Mama turut merahasiakan kabar baik ini dari orang-orang di luaran sana?" pinta Rayyan. "Aku hanya ingin melindungi Arumi beserta ketiga calon anak-anakku dari niatan jahat orang yang berniat mencelakai mereka. Kita semua 'kan tidak tahu bagaimana isi hati orang-orang itu setelah tahu bahwa Arumi kini tengah mengandung."


"Bisa saja mereka terlihat bahagia, tapi ternyata dalam hati menyimpan dendam, iri dan dengki. Apalagi aku pernah mendengar ada namanya penyakit ain yang merupakan penyakit non medis yang muncul karena pandangan yang disertai rasa iri atau dengki terhadap orang lain. Dan aku khawatir malah akan berdampak buruk terhadap ketiga calon anakku, Ma."


Tampak Nyimas mendengarkan penjelasan Rayyan dengan seksama. Dia pun setuju bila Arumi dan suaminya menyembunyikan kabar bahagia ini, demi kebaikan bersama. Apalagi usia kehamilan trimester pertama masih terlalu dini dan rentan terjadi keguguran.


"Baiklah, Mama bersedia membungkam mulut ini dan menyembunyikan kabar kehamilan Arumi dari semua orang. Oh ya, selain Mama, siapa lagi yang tahu kabar ini?"


"Mbak Tini, suster senior di bangsal Bougenville, Dokter Renata yang merupakan dokter obgyn Arumi serta perawat yang saat itu berjaga. Aku sudah meminta mereka semua menutup rapat kabar bahagia ini hingga saatnya tiba," jawab Rayyan.


"Em ... apakah Pak Firdaus dan Bu Lena tidak mengetahui kabar ini?" tanya Nyimas dengan sangat hati-hati seraya menatap wajah Rayyan. Nyimas sedikit tahu bagaimana hubungan antara Rayyan dengan sang papa beserta ibu sambung menantunya sehingga hal ini sangat sensitif bila dibicarakan di hadapan dokter tampan itu.


Nyimas hanya mengangguk. "Ya sudah, tidak apa-apa. Yang penting kamu dan ketiga calon cucu Mama sehat dan semuanya berjalan lancar hingga proses melahirkan nanti."


***


Setelah puas melepas rindu dan menyampaikan kabar bahagia kepada Nyimas, Arumi mengajak Rayyan beristirahat di kamarnya yang ada di lantai dua. Kamar Arumi berada di pintu paling ujung dekat pintu kecil yang menghubungkan dengan balkon. Pemandangan dari lantai dua cukup indah sebab dapat melihat betapa hijaunya padang rumput serta danau buatan yang dibuat khusus oleh pihak developer (pengembang).


Kini dua insan manusia itu tengah berdiri di atas balkon di kamar Arumi. Sebuah kamar yang cukup luas dengan warna cat yang didominasi warna ungu dan putih.


"Pemandangan di sini cukup indah ya?" ujar Rayyan seraya memeluk tubuh sang istri dari belakang, meletakkan ujung dagu di pundak wanita itu.

__ADS_1


"Benar. Ini adalah spot yang paling kusukai setiap kali berada di kamar. Bisa ber-jam-jam lamanya memandangi keindahan pemandangan di depan sana hingga tanpa sadar waktu sudah mulai sore." Sebelah tangan Arumi terangkat ke atas, mengusap lembut rahang sang suami. Sementara tangan yang lain, menyentuh tangan kekar Rayyan yang menempel di perut.


"Kamu tahu, Mas. Saat Papa Zidan masih ada, aku dan beliau terbiasa duduk bersama di kursi seraya menikmati teh hangat dengan memandangi senja yang mulai terbenam di ufuk barat. Berbincang hangat sambil disertai kekehan ringan bersumber dari kami berdua."


"Saat itu aku begitu bahagia karena merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga yang utuh. Rumah yang hangat karena penuh cinta dan kasih sayang di dalamnya. Mama dan Papa begitu baik padaku, aku merasa berhutang budi kepada mereka."


"Entah apa yang akan terjadi padaku bila dulu mereka tak mengadopsiku menjadi bagian dari keluarga ini. Mungkin masa depanku suram dan saat ini kehidupanku tidak akan sebahagia ini, bertemu dengan pria yang begitu mencintaiku. Aku beruntung bisa bersanding denganmu, Mas."


Rayyan refleks menggeleng, tidak setuju dengan ucapan Arumi. "No, Babe. Yang seharusnya berkata begitu adalah aku. Aku yang beruntung karena bisa mempersuntingmu menjadi istriku meski awal pertemuan kita tidak berkesan, tapi setidaknya kini kebahagiaan datang menghampiri."


Arumi terkekeh mendengar pengakuan Rayyan. Wanita itu mengurai pelukan, lalu membalikan badan hingga pasangan suami istri itu saling berhadapan.


Senyuman di wajah wanita itu terlukis. Dia menangkup kedua pipi Rayyan, memberanikan diri mengecup dan melumaat lembut bibir kenyal milik sang suami.


"Tetaplah menjadi sosok suami yang baik, perhatian dan selalu mencintai serta menyayangiku. Walaupun kelak aku sudah tak muda lagi, rambut keperakan mulai tumbuh dan keriput mulai bermunculan di tubuhku. Tolong cintai aku dengan setulus hatimu, Mas. Jangan pernah pergi tinggalkan aku," pinta Arumi disertai bola mata yang mulai berkaca-kaca.


Rayyan mendekatkan bibirnya ke bibir Arumi, lalu membalas ciuman itu dengan penuh cinta. Perlahan, ciuman itu semakin dalam hingga keduanya merasakan seluruh tubuhnya terasa panas meski di laur sana udara semilir menerpa wajah mereka. Bibir mereka saling memangut, meluapkan rasa cinta yang begitu dalam.


"Kita akan terus bersama dan menua bersama hingga maut memisahkan," ucap Rayyan setelah keduanya hampir kehabisan oksigen. "Hari ini, esok dan seterusnya, hanya Arumi Salsabila yang ada di dalam hatiku."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2