Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Sah


__ADS_3

Selepas menuntaskan hasrat yang tertunda, dua insan manusia itu membersihkan diri dari sisa-sisa percintaan yang melekat di tubuh. Dengan telaten Mahesa membantu Kayla merebahkan kembali tubuhnya di atas ranjang rumah sakit.


"Mahesa!" terdengar suara wanita yang diikuti ketukan pintu di luar sana.


Mengetahui Naila yang datang, Mahesa berjalan ke arah pintu. Ia memang sengaja mengunci pintu itu sebelum melakukan pergumulan panas bersama kekasihnya karena tak mau ambil resiko jika sewaktu-waktu ada orang lain masuk ke dalam ruang di saat mereka tengah memadu kasih.


"Loh, kok Mama kembali lagi ke rumah sakit. Kenapa tidak tidur di rumah saja? Kasihan Papa kalau ditinggal sendirian," ucap pria itu seraya membuka pintu lebar.


"Mama memang sengaja datang ke sini sebab ada hal penting yang harus dikerjakan." Wanita itu masih berdiri di ambang pintu. Sesekali menoleh ke belakang seorang sedang menunggu seseorang.


Mahesa mengerutkan kening. Menatap Naila penasaran. "Hal penting apa, Ma?"


"Sebentar lagi kamu akan tahu," jawab Naila singkat.


Tak lama berselang, dari arah barat empat orang pria dewasa dan dua orang melangkahkan kaki menuju ruangan rawat Kayla. Keempat pria dewasa itu adalah Putra, Aldo, dokter yang bertanggung jawab terhadap Kayla dan seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun.


"Ma, ada apa ini? Kenapa Aldo dan Dokter Hans datang ke sini? Lalu, Bapak ini siapa?" tanya Mahesa. Ia melirik sekilas ke arah pria asing itu.


Naila menarik lengan Mahesa agar menjauhi pintu. "Kalian berdua, segera dandani Kayla," titahnya pada asisten pribadi Kayla dan MUA yang biasa merias wajah sang model terkenal.


Mahesa semakin bingung dengan sikap Naila. Ia berontak dan berniat masuk ke dalam ruangan. Namun, tangan pria itu dicekal oleh Putra.


"Diam! Kami tidak akan menyakiti Kayla. Papa dan Mama malah ingin membuatnya bahagia malam ini." Putra mencoba menenangkan Mahesa agar anaknya itu tidak membuat keributan yang malah akan memancing orang untuk mendatangi ruangan VVIP itu.


"Tapi, Pa. Aku ...." Mahesa masih berusaha melepaskan diri dari cekalan Putra.


"Cerewet sekali, kamu!" bentak Naila tak sabaran. Ia kesal karena Mahesa tidak mau membungkam mulutnya.


Mendengar suasa menggelegar Naila, Mahesa seketika bungkam. Ia tak lagi banyak bicara. Pria itu lebih memilih duduk di kursi yang disediakan khusus bagi pengunjung.

__ADS_1


Sementara itu, di dalam ruang rawat inap, seorang MUA (Makeup Artist) sedang sibuk merias wajah Kayla. Mona, yang berprofesi sebagai asisten wanita itu menyiapkan pakaian yang hendak dikenakan oleh bosnya.


"Mona, bagaimana kamu tahu jika aku dirawat di rumah sakit ini?" tanya Kayla. Gadis itu masih belum mengerti akan ada moment bersejarah apa yang terjadi malam ini.


Saat dua orang wanita itu masuk ke dalam ruangan, Kayla hanya pasrah ketika jemari lentik mereka menari-nari indah di wajahnya. Ia tidak memiliki tenaga untuk menolak. Seluruh tenaganya terkuras habis akibat permainan panas yang baru beberapa menit berlalu.


Mona menggantung kebaya warna broken white di dalam lemari. Ia sengaja menyembunyikan pakaian itu sesuai permintaan Naila. Rencananya mereka ingin memberikan sebuah kejutan untuk Kayla dan juga Mahesa.


Wanita itu perlahan berjalan menghampiri Kayla yang sedang duduk di kursi. Punggung tangan sebelah kiri masih tertancap jarum infus, sedangkan sebelah kanan ia gunakan untuk memainkan telepon genggam miliknya.


"Calon mertuamu datang ke apartemenku dan memberitahu bahwa kamu dirawat di rumah sakit."


Mona menghela napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. "Sepertinya aku harus membawamu menemui psikiater agar isi kepalamu ini tidak dipenuhi oleh hal-hal yang berbau Mahesa."


"Kamu tahu, akibat kebodohanmu itu, nyaris saja nyawamu hilang. Andai Nyonya Naila telat membawamu ke rumah sakit mungkin saat ini para fansmu hanya bisa mengenang namamu saja!" sungut Mona.


Wanita cantik dalam balutan blouse dan celana bahan warna abu-abu tampak geram atas tindakan yang dilakukan oleh Kayla. Meskipun status mereka hanya sebatas bos dan asisten tetapi hubungan keduanya cukup dekat sebab sudah hampir enam tahun Mona dan Kayla terjalin kerjasama sehingga tak segan-segan ia menegur ataupun memarahi bosnya itu.


Kayla memutar bola matanya dengan malas. "Kamu sih terlalu lama menjomblo jadi tak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta," sindirnya.


Hampir tiga puluh menit menunggu, akhirnya Kayla sudah selesai dirias. Aura kecantikan gadis itu semakin terpancar ketika tangan sang MUA ikut andil dalam memoleskan alat make up di wajah. Wajah pucat pasi bagaikan mayat kini berubah menjadi wajah seorang bidadari.


"Kenakan pakaian ini!" pinta Mona seraya menyerahkan kebaya warna broken white. "Malam ini, kamu dan Mahesa akan melangsungkan pernikahan. Meskipun siri tetapi setidaknya cukup untuk memberikan status bagi janin yang kamu kandung."


Bola mata Kayla berbinar bahagia. Mimpinya untuk bisa bersanding dengan kekasih tercinta akhirnya terwujud. Meskipun ia harus menggunakan trik licik tetapi semuanya berjalan baik sesuai rencana.


"Mona ... a-aku sedang tidak bermimpi 'kan?" tanya Kayla. Gadis itu masih belum percaya bahwa malam ini ia akan melangsung pernikahan dengan Mahesa.


"Tidak. Ini nyata. Sebentar lagi kamu akan menjadi istri Mahesa dan bayimu itu akan segera memiliki ayah. Dia tidak akan dianggap sebagai anak haram karena hadir akibat hubungan di luar nikah."

__ADS_1


Dengan tangan gemetar, Kayla menerima kebaya itu kemudian memakainya.


Saat ini, Kayla duduk di sisi Mahesa. Di depan sana ada seorang pria paruh baya berpakaian rapi lengkap dengan kopiah.


"Bagaimana, apakah kedua calon mempelai sudah siap?" tanya Penghulu sebelum memulai akad nikah.


"Sudah, Pak," jawab Mahesa.


"Baiklah. Kalau begitu, Mas Mahesa ikuti semua perkataan saya." Tangan pria itu terulur ke depan yang sambut oleh Mahesa. Kedua pria itu saling menjabat tangan satu sama lain.


Dengan suara lantang, Mahesa mengucap ikrar suci pernikahan untuk kedua kalinya. Di hadapan penghulu, Putra dan para saksi dari kedua belah pihak.


TBC


.


.


.


Halo semua, lagi-lagi otor remahan mau promosiin karya temen otor nich. Ceritanya dijamin seru loh. Kuy dikepoin.


Blurb : Hubungan jarak jauh tidaklah mudah. Apalagi jika keadaan yang sangat memaksa membuat mereka terpaksa menjalaninya.


Walaupun Lily lebih muda tujuh tahun dari Zack Alexander. Lily dapat membuktikan bahwa dia dapat bertahan dengan ketulusan cintanya.


Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat dalam menjalani hubungan jarak jauh. Pada tahun kelima, Zack menghilang. Lily kehilangan kontak dan semua akses terhadap Zack.


Dua tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Namun, Zack telah memiliki keluarga kecil.

__ADS_1


Akankah Lily menyerah tanpa menuntut penjelasan Zack?



__ADS_2