
|| Beberapa saat setelah Arumi meninggalkan kantor Rio ||
"Kenapa mukamu ditekuk, Ray?" tanya Rio ketika sahabatnya itu masuk ke dalam ruangan.
Sore itu, Rayyan memang sengaja datang ke kantor Rio untuk bertemu sahabatnya itu. Rencananya ia akan bertamu ke rumah Rio sebab Nita, mamanya Rio secara khusus mengundang pria itu untuk menghadiri jamuan makan malam yang sengaja digelar untuk menyambut kedatangan pria berwajah oriental itu kembali ke tanah air. Bertahun-tahun tinggal di negeri sakura, membuat ia sedikit lupa arah jalan ke rumah sahabatnya.
Rayyan tidak langsung memberikan jawaban, ia malah menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang beberapa saat lalu di duduki oleh Arumi.
"Hufh!"
Terdengar embusan napas kasar dari bibir pria itu.
Kening Rio berkerut, kedua mata memincing. "Aku tahu, kamu pasti kesal pada seseorang 'kan!" Rio menebak isi hati pria itu.
Rio tersenyum, tetapi senyumannya itu seolah sedang mengejek Rayyan. Dia tahu persis bagaimana sikap sahabatnya itu ketika diganggu oleh sosok makhluk berjenis kelamin perempuan. Jadi, tak salah bila ia menduga bahwa Rayyan sedang diganggu oleh gadis super agresif yang ingin mendekati pria tampan berusia dua puluh delapan tahun itu.
"Kalau kamu sudah tahu aku sedang kesal kenapa masih bertanya!" keluh Rayyan sambil melempar bantal yang sengaja di letakan di atas sofa.
Bantal itu melesak menuju kepalanya. Untung saja Rio sigap menggerakan kepala ke kanan sehingga benda empuk yang terbuat dari dakron tak mengenai wajah tampan bagai pesinetron Ali Syakieb.
Rio mengulurkan tangan, meraih bantal yang terjatuh di lantai. "Bertahun-tahun tak bertemu, sikapmu masih sama seperti dulu. Selalu bersikap siaga jika ada gadis yang bersiap-siap mendekatimu."
"Kali ini, kamu bertemu gadis itu di mana? Rumah sakit, cafe, mall, restoran atau parkiran mobil?" timpal Rio.
"Di kantormu!" sungut Rayyan. Membayangkan wajah Arumi ketika memarahinya membuat hati pria itu panas. Rasanya ia ingin sekali melampiaskan kekesalannya pada seseorang. Namun, sayang di hadapannya hanya ada Rio seorang.
Rio melotot dan hampir tersedak salivanya sendiri. Memangnya siapa karyawan wanita yang berniat mendekati Rayyan. Setahu pria itu, hampir seluruh pekerja di kantornya sudah melepas masa lajang. Hanya beberapa persen saja yang masih single dan itu pun sikap mereka tidak agresif seperti gadis yang selama ini mendekati sahabatnya.
"What?" pekik Rio. Suara pria itu menggelegar bagaikan suara petir yang memekikan gendang telinga.
"Pelankan suaramu! Aku masih dapat mendengar dengan normal. Jangan berteriak seperti itu!" keluh Rayyan sambil menutup telingga menggunakan tangan.
Rio mengusap lehernya sambil berucap, "Maaf, aku hanya terkejut dengan ucapanmu. Setahuku di kantor ini seluruh pegawai wanita menjaga tingkah laku mereka apalagi jika tahu kamu adalah tamu istimewa pasti orang-orang itu tak kan berani mengangkat wajahnya di hadapanmu."
"Memangnya aku bilang jika wanita itu adalah salah satu pegawaimu hah?" sungut Rayyan. Ia masih kesal dengan sikap Rio.
"Jika bukan pegawai sini, lalu siapa?" Rio semakin dibuat penasaran. Bahkan ia beringsut mendekati posisi Rayyan. Kini pria itu duduk di sebelah sahabatnya.
__ADS_1
Pria yang memakai kemeja lengan pendek berwarna navy memutar bola mata dengan malas. Bibirnya sudah terbuka tetapi suara dering ponsel menghentikan kegiatannya.
"Tunggu!" Rio mengangkat tangan ke atas. Memberikan isyarat pada pria di sampingnya untuk diam sejenak.
Ia menggeser layar ponsel lalu menempelkan benda pipih itu di telinga. "Halo!" ucapnya ketika sambungan telepon terhubung.
"Rio, kamu tolong segera urus surat perceraianku dengan Mas Mahesa! Aku ingin segera berpisah dari pria itu."
Suara lembut seseorang di seberang sana membuat Rio bengong beberapa detik. Namun, detik berikutnya ia tersadar.
"Ehm ... kamu yakin kalau Tante Nyimas akan setuju?" tanya Rio untuk memastikan. "Kamu tahu 'kan, aku tidak bisa menerima kasus itu jika orang tuamu tidak setuju. Bisa dikutuk jadi batu kalau sampai Tante Nyimas tahu aku mengambil kasus ini tanpa memberitahunya."
"Aku tak mau durhaka terhadap orang tua meskipun Tante Nyimas bukan Mamaku tetapi aku sudah menganggap beliau seperti orang tuaku sendiri," timpalnya.
Di seberang sana, Arumi mengerucutkan bibir ke depan. Dengan kesal ia menjawab, "Kamu tidak perlu khawatir. Mama sudah tahu masalah yang sedang menimpa rumah tanggaku. Tadi, aku sudah menceritakan semuanya pada Mama dan beliau mendukung bila aku menggugat cerai Mas Mahesa."
"Jadi, tolong segera diproses ya, Rio! Kumohon, percepat perceraian kami," pinta wanita itu dengan bersungguh-sungguh.
"Oke, aku akan segera mengurusnya," jawab Rio sambil berjalan mendekati meja kerjanya. Tangan pria itu menyentuh layar monitor lalu mulai mengetikkan kasus perceraian baru yang akan ditangani.
"Namun, aku tidak memiliki bukti kuat untuk menggugat cerai Mas Mahes. Aku tidak memiliki foto ketika dia tengah berselingkuh."
"Kamu pikir, kejadian tadi siang bukan termasuk bukti konkret yang dapat dijadikan senjata untuk melawan Mahesa! Malah, itu semakin memudahkanku untuk membantumu."
Arumi membeku di tempat. Ia tak tahu jika kejadian tadi siang bisa dijadikan senjata kuat untuk menggugat cerai Mahesa. Ia pikir bukti itu harus berupa foto ataupun video dan juga rekaman saja tetapi adegan pun bisa dikategorikan sebagai bukti.
"Iya, aku pikir buktinya itu harus berupa foto atau sejenisnya," ucap Arumi lirih.
"Meskipun kamu tidak memiliki bukti, selama Tante Nyimas mendukung, aku pasti membantumu."
"Sudahlah. Kamu jangan banyak berpikir. Tugasmu saat ini menenangkan pikiran dan menghibur diri. Persiapakan mental untuk menjalani persidangan," timpal Rio.
"Oke. Aku percayakan semua padamu, Rio. Terima kasih aku ucapkan karena sudah bersedia membantuku."
"Jangan sungkan. Anggap saja ini sebagai imbalan karena dulu kamu bersedia menemani istriku saat ia melewati persalinan ketika aku berada di luar kota."
Kemudian sambungan telepon terputus. Rio meletakan benda pipih itu di atas meja kerja. Ia masih duduk di atas kursi kebanggaannya. Matanya fokus menatap layar monitor.
__ADS_1
"Kamu akan menangani kasus baru?" Suara berat Rayyan mengalihkan perhatian Rio.
Pria yang duduk di depan sana menoleh sambil tersenyum getir. "Benar. Aku mendapatkan lagi kasus perceraian. Klienku kali ini adalah iparku sendiri. Yang tak lain merupakan sahabat dari istriku juga."
"Siang tadi, ia memergoki suaminya sedang memadu kasih di atas ranjang bersama wanita lain. Dan gilanya lagi, wanita itu juga merupakan sahabat klienku sendiri." Rio meneguk air mineral yang ada di atas meja untuk mengisi tenggorokannya yang kering. Sejak tadi ia terus berbicara hingga lupa kapan terakhir kali meminum air mineral dalam bentuk kemasan botol.
"Hanya karena belum hamil, mertua dari sahabat istriku tega meminta suami dan gadis itu untuk berkencan. Hingga akhirnya tujuan wanita paruh baya yang tak lain adalah tanteku sendiri tercapai. Kini, akan ada pewaris bagi keluarga Adiguna," ucap Rio panjang lebar.
TBC
.
.
.
Halo semua, mohon maaf baru sempat update soalnya lagi tanggal merah jadi rada sibuk ngurusin Mas Bojo. ðŸ¤
Oh ya, otor remahan mau promosiin karya teman otor nih. Ceritanya gak kalah seru loh!
Blurb :
Perjuangan Abimanyu untuk mendapatkan kembali cinta Renata, sang istri yang telah berulang kali disakitinya.
Tidak mencintai gadis yang menjadi wasiat terakhir ibunya membuat Abimanyu seringkali menyiksa dan menyakiti hati Renata hingga berkali-kali.
Akankah Bima bisa kembali mendapatkan cinta istrinya? Sementara hati Renata telah mati rasa akibat perbuatan Abimanyu yang telah menyebabkan buah hati dan ibunya meninggal dunia.
"Mas Bima-"
"Panggil aku Tuan seperti biasanya, karena kau hanyalah seorang pembantu di sini!"
"Ta-tapi Mas, kata Nyonya-"
"Ibuku sudah meninggal. Aku menikahimu karena keinginan ibuku, Jai kau jangan berharap dan bermimpi kalau aku akan menuruti keinginan ibuku untuk menjagamu!"
"I-iya, Tu-Tuan ...."
__ADS_1