Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Awal Penderitaan


__ADS_3

Mahesa sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Satu setelan jas kerja lengkap dengan kemeja dan celana bahan membalut tubuh kekar nan berotot. Ia berdiri di depan cermin seraya merapikan tatanan rambut hitam legam miliknya.


"Selama menikah dengan Kayla, tak sekali pun dia menyiapkan pakaian kerja untukku. Jangannya menyisirkan rambut bahkan untuk memakaikan dasi saja tidak pernah," gumam Mahesa dalam hati.


"Berbeda sekali dengan Arumi. Sekali pun dia sibuk dengan pekerjaan di rumah sakit tetapi wanita itu selalu memperhatikan penampilanku. Mulai dari memilihkan kemeja, celana, dasi bahkan rambutku pun disisir olehnya."


Tanpa disadari, Mahesa telah membanding-bandingkan istri siri yang kini tengah mengandung calon anaknya dengan seorang wanita yang dulu pernah disakiti oleh pria itu.


Netra pria itu menatap pantulan diri seorang wanita muda sedang tertidur di atas ranjang empuk berukuran king size. Terdengar helaan napas berembus dari indera penghidu milik Mahesa.


"Sabar, Mahesa. Mungkin saja ini efek horman ibu hamil sehingga istrimu bermalas-malasan." Ia mengelus dada dengan tangan sebelah kanan.


Mahesa berjalan menuju meja makan tanpa ditemani Kayla. Ketika tiba di ruang makan, pria itu segera duduk di kursi makan.


"Loh, kenapa kamu sendirian. Di mana Kayla?" tanya Naila saat melihat putra kesayangannya duduk seorang diri di kursi makan.


Sebelum menjawab pertanyaan sang mama, Mahesa menghela napas panjang guna mengurai emosi yang bersemayam di dalam diri.


Setelah mampu mengendalikan diri, pria itu berkata, "Menantu kesayangan Mama masih tertidur lelap sambil bergelung di bawah selimut tebal."


Mahesa menatap Naila yang masih sibuk dengan kegiatan memasaknya. Jemari wanita paruh baya yang telah melahirkan dirinya ke dunia ini begitu piawai dalam memainkan peralatan dapur. Meskipun sudah ada ART yang bertugas menyiapkan makanan tetapi ia tetap turun tangan. Untuk memastikan jika makanan yang dikonsumsi oleh suami serta anak tersayang sehat dan bergizi.


Tiba-tiba saja, sekelebat bayangan mantan istri tercinta terlinta di dalam benak Mahesa.


"Mas, kamu mau makan apa?"


"Mas, sini. Aku akan memasangkan dasi di lehermu."

__ADS_1


"Loh, kenapa di sekitar rahangmu telah tumbuh bulu-bulu halus. Ayo sini, aku akan membantumu mencukurnya."


Itulah sepenggal kalimat yang sering terucap di bibir Arumi ketika ia masih berstatuskan istri sah dari Mahesa Putra Adiguna. Semua perkataan wanita itu terekam jelas di indera pendengaran bagaikan sebuah kaset yang terus berputar.


"Wajar saja istrimu begitu. Hormon progresteron dalam tubuh ibu hamil meningkat dibandingkan biasanya sehingga memicu rasa kantuk. Jikalau istrimu masih tertidur jam segini, ya kamu jangan marah sebab semua ibu hamil pernah mengalaminya," tutur Naila.


"Dulu, saat Mama masih mengandungmu pun sama seperti Kayla. Mudah mengantuk di waktu tertentu." Naila mencoba membela Kayla di hadapan putra tercinta. Ia tidak mau jika rumah tangga kedua sang anak hancur hanya karena hal sepele.


"Sudahlah, lebih baik kamu sarapan. Bukankah hari ini kamu ada rapat penting bersama Papa di kantor." Wanita itu mencoba mengalihkan perhatian Mahesa agar putranya itu tidak lagi membahas masalah yang sama.


***


Selepas sarapan, Mahesa diantar Aldo pergi ke kantor. Sang asisten mencuri pandang lewat kaca spion yang ada di depan.


"Pak Mahes ... Pak Mahes ... lihatlah penampilanmu sekarang. Dulu, ketika masih menikah dengan Bu Arumi, penampilanmu begitu rapi. Tak ada bulu halus sedikit pun menempel di wajah tampan itu. Namun, kini tampaknya bulu-bulu halus itu sudah menjadi kawan sejatimu," batin Aldo. "Kalau boleh jujur, kami adalah pria terbodoh yang pernah saya temui di dunia ini. Membuang berlian berharga demi batu kali yang tak memiliki harga sama sekali."


Saat melangkah masuk ke dalam lobi, beberapa pegawai yang berpapasan dengan pria itu menyapa Mahesa.


"Selama pagi, Pak Mahesa," sapa para pegawai itu hampir bersamaan. Seulas senyum terlukis di wajah mereka.


"Selamat pagi," balas Mahesa tanpa melirik mereka sama sekali. Pria itu kembali melangkah menaiki pintu lift yang diperuntukan khusus bagi pemilik serta klien penting Adiguna Properti.


"Kamu lihat tidak barusan. Penampilan Pak Mahesa semenjak berpisah dengan Bu Arumi jadi tidak terurus. Biasanya dia tampil memukau dengan penampilan klimis nan gagah. Eh ... sekarang berbanding 360° dari sebelumnya," ujar salah satu pegawai wanita pada teman di sampingnya. Ia dan rekan kerjanya sedang bergosip di balik meja resepsionis. Membicarakan penampilan Mahesa yang jauh berbeda dari biasanya.


Kabar tentang perceraian Mahesa dengan Arumi telah tersebar hingga seluruh pegawai. Mulai dari sekretaris sampai cleaning service, mereka semua tahu bila pria yang menjabat sebagai atasan di kantor itu telah resmi berpisah dari Arumi. Akan tetapi, mereka semua tidak tahu jika perceraian itu diakibatkan oleh perselingkuhan karena sampai detik ini, status Kayla sebagai nyonya Mahesa yang baru belum terpublikasi.


Wanita berambut pendek yang berdiri di sisi resepsionis itu berkata, "Benar. Dulu aura ketampanan Pak Mahesa mampu membuat jantungku berdetak lebih kencang tetapi kini ... biasa saja tuh."

__ADS_1


"Menurutku, penampilan Pak Aldo lebih gagah dari Pak Mahesa tapi sayang, pria itu sudah menikah," timpal wanita itu lirih. Terdengar nada penuh kekecewaan dari kalimat yang terucap.


"Memangnya kenapa jika Pak Aldo sudah menikah? Jikalau memang kamu mencintai pria itu, kenapa harus mundur. Toh, mencintai seseorang itu merupakan fitrah dari Sang Pencipta," jawab wanita berambut pirang kecoklatan dengan santai.


Refleks, wanita berambut pendek itu menepuk pundak rekan kerjanya sambil berkata, "Bocah Gendeng!" pekik wanita itu. "Aku bukan seorang wanita yang tega merebut suami orang ya! Kendati rasa sukaku pada Pak Aldo cukup besar tetapi aku masih memiliki akal sehat."


"Meskipun kita hanya pegawai biasa dengan gaji tak besar tetapi aku masih memiliki hati nurani sebagai sesama wanita. Aku tidak mau di-cap sebagai seorang pelakor demi egoku sendiri."


Wanita berambut pirang kecoklatan memutar bola mata malas sambil mencebik, "Aku cuma memberikan saran padamu. Kalau mau diterima, silakan. Tidak diterima, ya silakan."


Ruang Wakil Presdir


"Pak Mahes, pukul satu siang nanti akan ada jadwal makan siang bersama Pak Ilham. Memberikan follow up terkait rencana dia membeli salah satu unit rumah yang baru saja dibangun," pesan Aldo. Sebuah iPad berada di tangan. Tangan pria itu sibuk mengeser layar benda pipih berukuran 12. 9 inci.


Mahesa yang saat itu sedang menyandarkan punggung segera memijat pelipis. Kepala pria itu terasa pening akibat beban kerja semakin menumpuk ditambah rasa cemburu yang kini bersemayam dalam diri membuat kepalanya terasa mau pecah.


Pria itu menghela napas panjang seraya memijat pelipis. Ingin rasanya ia mundur dari jabatan itu tetapi Mahesa sadar jika saat ini melepas jabatan itu maka nasib Kayla dan buah cintanya akan menjadi taruhan.


"Baik. Siang nanti tolong kamu ingatkan saya untuk makan siang sekaligus menemui calon pembeli kita."


Aldo hanya menganggukan kepala tanpa berucap apa-apa.


TBC


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2