Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Disitu Waras, Pak?


__ADS_3

"Jadi, Arumi ... benar-benar hamil? D-dia ... tidak ...." Mahesa tidak sanggup lagi melanjutkan ucapannya. Ia shock hingga kehabisan kata. Mulutnya membuka, dan menutup kembali tanpa mampu mengucap apa-apa. Tubuhnya yang lemah, semakin tak mampu untuk digerakan.


Bagaimana kabar jantung Mahesa setelah mendengar kabar kehamilan Arumi yang mengandung tiga anak kembar? Tentu saja berdegup tak beraturan bahkan nyaris merosot dari tempatnya. Beruntungnya ia memiliki jantung yang sehat sehingga tak terkena stroke dan harus dirawat kembali di rumah sakit.


"Arumi memang betulan hamil. Mantan istrimu itu tidak mandul, Pak Mahesa. Dia wanita sehat yang bisa mengandung sama seperti selingkuhanmu itu." Rayyan sengaja menekankan kata 'selingkuhan' di akhir kalimat. Ia ingin agar Mahesa mengingat kembali bagaimana perbuatan pria itu di masa lalu.


Dengan santainya, Rayyan duduk di atas sofa kulit tanpa dipersilakan terlebih dulu oleh si empunya kamar. Merebahkan punggung ke sandaran sofa, lalu merentangkan kedua tangan ke samping kanan dan kiri.


"Anda tahu, kenapa selama hampir lima tahun menikah denganmu dia belum juga hamil? Itu karena kalian semua selalu menekannya untuk segera memberikan keturunan pada keluarga Adiguna. Seharusnya Pak Mahesa beserta keluarga mendukung Arumi, membuat suasana hati wanita itu selalu bahagia. Bukan malah memberikan tekanan dan mencarikan wanita lain agar bersedia memberikan penerus tanpa adanya ikatan pernikahan terlebih dulu."


"Pak Mahesa tahu, karena ulah kalian sendiri hingga membuat Arumi stres dan sukar hamil. Seandainya saja kalian tidak terus menerus menginterogasinya untuk segera memberikan momongan, sudah dipastikan dalam jangka waktu satu atau dua tahun sudah ada cikal bakal penerus Adiguna yang baru. Namun, sayangnya kalian malah mengambil jalan pintas dan lebih memilih mencari wanita lain untuk dijadikan alat pembuat anak."


Dada Rayyan terasa sesak, kala membayangkan penderitaan Arumi dulu. Mengingat sikap Firdaus yang semena-mena terhadap sang mama sudah membuat pria itu darah tinggi, apalagi membayangkan wanita baik seperti Arumi harus dikhianati secara beramai-ramai oleh suami, sahabat serta kedua mertuanya semakin darahnya berdesir hebat sampai ke ubun-ubun.


Seandainya ia tahu kalau jodohnya ada di Indonesia, mungkin sudah sejak lama pria itu kembali dan mengabdikan diri untuk rumah sakit yang didirikan oleh Mei Ling. Agar ia dapat bertemu Arumi dan melepaskan wanita itu dari kekejaman para penjahat itu.

__ADS_1


Menghela napas kasar, lalu menatap ke arah Mahesa. "Pak Mahesa selalu bilang sangat mencintai Arumi, tapi kenapa Anda malah menyakiti hati wanita sebaik dia? Berselingkuh di belakang Arumi dengan sahabatnya sendiri. Perbuatan Anda tidak pantas untuk dimaafkan."


"Setelah sepuluh bulan baru bangun dari koma, Pak Mahesa tiba-tiba saja datang dan ingin menemui Arumi serta meminta wanita itu untuk rujuk kembali. Di situ waras, Pak?" tanyanya sinis. "Saya tahu, meskipun kepala Anda mengalami cidera akibat kecelakaan tapi bukan berarti urat malu dalam diri Bapak ikutan putus 'kan?"


"Kalau saya jadi Pak Mahesa, lebih baik menghilang dari muka bumi ini selamanya daripada hidup dengan muka tembok yang tak mempunyai rasa malu dan sadar akan kesalahannya. Seharusnya, Anda introspeksi diri bukan malah mengejar sesuatu yang sudah dibuang sebelumnya. Memangnya, Bapak tidak takut kalau ternyata Arumi menolak ajakan Anda?" skak Rayyan. Pria itu terus mencecar Mahesa dengan berbagai perkataan yang membuat mantan suami Arumi bungkam.


"Pak, kita hidup di dunia hanya sekali. Anda diberikan kesempatan kedua oleh Tuhan untuk bisa merasakan kembali nikmatnya bernapas tanpa menggunakan selang oksigen, bisa menikmati makanan lezat secara langsung melalui mulut. Itu semua merupakan kenikmatan yang Tuhan berikan kepada Bapak. Jadi, sebaiknya digunakan dengan baik. Jangan sampai Tuhan merebut kembali apa yang Dia punya."


Suasana kembali hening. Rayyan tengah mendengalikan diri agar emosinya tidak semakin meledak. Sedangkan Mahesa, pria itu merasa tertampar oleh kalimat yang terucap dari bibir dokter tampan itu.


Rayyan menarik napas dalam, lalu mengembuskan secara perlahan. Memejamkan mata guna mengurai emosi dalam diri. "Sekarang Pak Mahesa sudah tahu jika saat ini Arumi telah hidup berbahagia, terlebih kini ia tengah mengandung tiga buah cinta kami. Jadi, saya minta agar Anda tidak lagi menemui Arumi dan kembali mengingatkan wanita itu akan rasa sakit yang pernah dirasakan olehnya di masa lalu."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Rayyan membalikan badan dan melangkah mendekati daun pintu. Akan tetapi, saat tangan itu hendak meraih handle pintu, ia menghentikan langkahnya. "Terima kasih karena Anda telah membuang Arumi sehingga saya mendapatkan istri berhati malaikat sepertinya."


Rayyan melangkah menyusuri lorong rumah sakit dengan perasaan puas karena ia berhasil membalas sedikit rasa sakit yang Arumi rasakan. Walaupun membalas dendam itu tidak baik, tetapi ia hanya ingin menunjukan pada pria itu bahwa di dunia ini masih ada orang yang peduli, menyayangi dan mencintai wanita itu sehingga orang-orang yang berniat jahat berpikir dua kali untuk menyakiti hati sang pujaan hati.

__ADS_1


Setelah kepergian Rayyan, Mahesa termenung seorang diri. Ia merasakan separuh jiwanya terbang saat mendengar Arumi kini telah dimiliki pria lain. Sekebelat bayangan saat mantan istrinya menangis kala melihat dirinya berada di atas tempat tidur yang sama dengan Kayla dan dalam keadaan tak berbusana, membuat jantungnya benar-benar terasa sakit bagai ditusuk sebilah pisau yang begitu tajam. Berkali-kali pisau itu terus menusuk hingga ia tak lagi mampu merasakan aliran darah yang mengalir ke seluruh tubuh.


Tanpa sadar, butiran air mata mulai mengalir di antara kedua pipi. Kesakitan yang dirasakan oleh Arumi dapat ia rasakan. Bagimana sakitnya melihat seseorang yang dicintai bermesraan dengan orang lain.


Andai saja saat ini ia tidak sedang lumpuh, sudah dipastikan wajah mulus Rayyan berubah lebam akibat terkena kepalan tangan yang dilayangkan oleh Mahesa. Namun, semesta seperti tak mengizinkan dirinya memberi pelajaran pada dokter tampan itu karena telah lancang menyentuh Arumi.


"Arumi ... Sayang, maafkan aku," ucapnya lirih seraya menatap langit-langit rumah sakit. "Aku menyesal karena telah mengkhianatimu." Kembali terisak dan merasakan dadanya terasa sesak bagai ditimbun sebongkah batu besar mengenai paru-parunya.


"Seandainya saja waktu bisa diputar, aku pasti lebih memilih setia daripada harus berselingkuh dengan wanita berengsek seperti sahabatmu itu."


Tanpa disadari oleh Mahesa, rupanya sedari tadi ada seseorang yang menguping ucapan pria itu di balik pintu yang tidak tertutup rapat.


Mengulurkan tangan, menyentuh jantungnya yang terasa sakit. "Mungkinkah ini saatnya aku harus memilih?" bisik wanita itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2