
Di saat Mahesa sedang memberikan kejelasan tentang hubungan di antara dia dengan wanita yang berprofesi sebagai perawat home care, di sebuah kota berbeda tetapi masih di Pulau Jawa, tampak seorang pria tengah sibuk memberikan materi perkuliahan bagi mahasiswa S1 Keperawatan. Pria itu mengajar mata kuliah keperawatan bedah sama seperti profesi yang ditempuh oleh sang kakak--Rayyan.
"Dari semua materi yang saya jelaskan, apakah ada pertanyaan? Jika ada, bisa kalian tanyakan saat ini juga sebelum minggu depan kita menghadapi ujian semester," ujar Raihan di hadapan empat puluh mahasiswa keperawatan.
Dalam satu ruang kelas terdiri dari tiga puluh lima mahasiswa berjenis kelamin perempuan dan sisanya lagi adalah laki-laki. Untuk jurusan keperawatan memang tidak banyak peminat bagi para kaum Adam, hanya segelintir orang saja yang tertarik dan memutuskan mengambil jurusan tersebut. Entah karena apa sebabnya, author pun tidak tahu.
"Untuk kisi-kisi soal, materi mana yang sekiranya muncul dalam pertanyaan saat menghadapi ujian semesteran nanti." Salah seorang mahasiswa laki-laki mengajukan pertanyaan, mewakili isi hati semua teman-teman sekelasnya.
Raihan meletakkan kacamata baca di atas buku agenda yang sering ia bawa saat sedang mengajar. Buku itu merupakan pemberian Firdaus saat dirinya berusia tujuh belas tahun. Walaupun sudah terlihat usang, tetapi pria itu tetap menjaganya dengan baik layaknya sebuah benda berliat berharga ratusan juta.
Alih-alih menjawab, Raihan malah balik bertanya, "Kisi-kisi?" Pria itu menjeda kalimatnya, lalu berkata, "Semua materi yang saya sampaikan, merupakan kisi-kisi untuk soal nanti. Jadi, bisa kalian baca sendiri di rumah."
Suasana ruang kelas awalnya sunyi seketika berubah jadi riuh setelah mendengar jawaban Raihan. Bagaimana tidak, dosen tampan itu bukannya memberikan bocoran soal tetapi malah meminta seluruh mahasiswa kelas C/KP mempelajari kembali materi keperawatan bedah yang pernah disampaikan oleh dosen sebelumnya. Hal itu membuat mereka kecewa setengah mati karena tak berhasil mendapatkan apa yang diinginkan.
"Itu sama aja boong! Bukan kisi-kisi namanya, Pak!" celetuk salah satu mahasiswi yang duduk di deretan kedua dari depan.
"Memangnya kisi-kisi yang kalian minta seperti apa? Memberikan bab dari soal yang saya serahkan ke pihak kampus, begitu?" tanya Raihan sambil memasang serius.
Bukankah memang setiap hari wajah adik kandung Rayyan selalu serius. Tak pernah sekali pun melihat senyuman manis menghiasi wajahnya yang rupawan saat berhadapan depan orang lain. Sikap pria itu sama persis seperti sang kakak.
__ADS_1
"Tentu saja. Kisi-kisi soal memang seharusnya seperti itu, Pak. Memudahkan kami dalam belajar," timpal yang lain ikut membela temannya.
"Bukan memudahkan kalian malah membuat kalian semakin malas belajar karena hanya fokus pada satu materi saja tanpa mau susah payah membaca materi yang lain," jawab Raihan. Masih teguh dengan pendirian, tak bersedia membocorkan materi apa yang akan keluar saat ujian nanti.
Raihan merapikan beberapa buku yang tergeletak di atas meja dan menumpuknya menjadi satu. "Pokoknya, kalian baca saja semua materi yang telah disampaikan oleh dosen. Mulai dari sebelum saya mengajar hingga materi terakhir, pasti ada beberapa yang saya munculkan dalam soal. Baiklah, kalau tidak ada pertanyaan lagi saya cukupkan sampai di sini. Terima kasih atas waktu kalian dan ... selamat menempuh ujian semester." Raihan bangkit dari kursi kebanggaannya dan berlenggang meninggalkan ruang kelas.
"Dasar pelit! Tinggal memberitahu materi mana yang akan keluar, dia tidak mau membocorkannya." Satu dari empat puluh orang mahasiswa masih geram atas sikap yang ditunjukan oleh Raihan.
Selain terkenal dingin, cuek dan tak mudah tersenyum, rupanya Raihan juga terkenal pelit akan nilai sehingga nilai yang diraih adalah murni dari hasil kerjakeras mahasiswa itu sendiri. Selama mengajar, sudah dua kali mengadakan tes evaluasi setiap akhir pekan. Bertujuan ingin mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman para mahasiswa saat menyerap materi yang disampaikan olehnya.
"Betul sekali. Kupikir, Pak Raihan bisa diajak komproni. Eh ... malah lebih susah daripada Pak Bambang. Orangnya dingin, pelit lagi!"
Di saat mahasiswa tengah membicarakan Raihan atas sikapnya yang dinilai terlalu keras dan tak bersahabat dengan para mahasiswa kampus, anak bungsu mendiang Firdaus menyagunkan kaki menuju ruangan dosen yang diperuntukan khusus bagi seluruh tenaga pengajar di kampus tersebut. Melangkah dengan gagah berani tanpa membalas tatapan orang-orang yang memandanginya dengan tatapan mendamba.
Hanya tersisa beberapa langkah lagi tiba di depan pintu ruangan, salah satu mahasiswa semester akhir berdiri di hadapan Raihan dengan kedua tangan terlentang di samping kanan kiri.
"Bapak harus bertanggung jawab!" ucap gadis itu secara lantang. Nada suara tinggi hingga membuat semua orang yang ada di sekitar memandang ke arah mereka. Seketika, Raihan dan gadis itu yang tak lain adalah Valerie menjadi bahan tontonan para penghuni kampus.
Kening berkerut sesaat mendengar ucapan Valerie. "Maksudmu bertanggung jawab apa? Memangnya saya telah melakukan apa kepadamu sehingga harus bertanggung jawab segala."
__ADS_1
"Bapak telah melakukan tindakan asusila kepada saya," jawab Valerie.
Sontak, seluruh orang yang ada di sekitar mereka mulai berbisik-bisik bahkan ada sebagian orang secara terang-terangan berucap keras hingga kalimat yang terucap mengganggu telinga sang dosen sedangkan bola mata Raihan membulat dengan sempurna.
"Jangan sembarangan bicara! Mana mungkin saya melakukan perbuatan itu!" sembur Raihan sambil mengertakan gigi. Seumur hidup, ia baru satu kali menyentuh seorang wanita dan orang itu adalah Naura. Jadi, mana mungkin ia berbuat senonoh terhadap mahasiswanya sendiri.
Valerie menaikan sudut bibirnya sebelah dan melangkah maju mendekati Raihan. "Emang ya kalau lelaki sudah mendapatkan apa yang diminta pasti ujung-ujungnya lupa atas apa yang diperbuat. Lalu, kaum Hawa menjadi korban akibat keegoisan para kaum Adam. Cih, benar-benar menjijikan!"
Tangan mengepal di samping tubuh dengan rahang menonjol keluar. Suara gemelutuk gigi terdengar samar disertai dada bergerak kembang kempis. Raihan mencoba mengurai emosi dalam diri ketika difitnah oleh seseorang yang tak lain adalah mahasiswa bimbingannya.
"Hati-hati kalau bicara. Jangan sampai ucapanmu menimbulkan fitnah!" sahut Raihan dengan napas tersengal. Walaupun seluruh tubuh terasa panas, tetapi berusaha mengendalikan diri agar tak terpancing emosi.
"Fitnah?" liriknya memicingkan mata. "Jadi, Bapak pikir saya cuma menebarkan fitnah agar semua orang membenci Anda, begitu?"
Valerie melipat tangan ke depan dada, menatap tajam pada sosok dosen tampan di hadapannya. "Kalau saya punya bukti, apakah Bapak masih akan menyangkal atas tuduhan yang sampai layangkan kepada Anda?" tanyanya sambil menaik turunkan kedua alis.
.
.
__ADS_1
.