
Beberapa Hari Kemudian
Rayyan turun dari taxi yang dipesan olehnya. Pria keturunan Tionghoa itu berjalan di antara ratusan orang yang memiliki tujuan berbeda. Sesekali ia mengedarkan pandangan ke sekitar. Banyak pengunjung yang datang dengan pasangan, keluarga. Bahkan yang hanya seorang diri pun ada, sama seperti dirinya.
Tubuh kekar Rayyan hanya dibalut kaos berwarna navy model V-neck dan dilapisi jaket kulit berwarna putih. Ia mengenakan celana jeans berwarna krem. Penampilan pria itu begitu stylish daripada biasanya.
Di hari kerja, ia akan mengenakan kemeja formal, celana bahan dan tidak lupa jas dokter berwarna putih, yang menjadi ciri khas seorang dokter. Jadi, ketika berada di luar lingkup rumah sakit, penampilannya sedikit berbeda hingga tak jarang membuat para kaum Hawa melirik dengan tatapan memuja.
"Tidak bisakah mereka mengkondisikan tatapan mata yang menjijikan itu!" gerutunya dalam hati. "Membuatku mual dan ingin mengeluarkan isi perutku saat ini juga."
Menghindari kejadian yang tak diinginkan, ia bergegas masuk ke dalam lounge first class sebuah maskapai penerbangan. Pria itu memilih duduk di antara beberapa penumpang yang sedang menunggu hingga diperbolehkan masuk ke dalam pesawat terbang.
Rayyan melirik ke arah arloji yang melingkar di lengan sebelah kiri. "Wanita itu selalu saja terlambat. Baik di rumah sakit maupun di luar, kebiasaannya tidak pernah berubah!" sungutnya.
Sambil menunggu partner kerjanya datang, Rayyan menyeruput secangkir kopi hangat yang disediakan oleh seorang pelayan.
Di sisi lain, Arumi yang baru saja tiba di bandara segera berlari ketika kaki jenjang itu menapaki lantai bandara Soekarno Hatta.
"Permisi!" seru wanita itu seraya meliukan tubuhnya saat ada penumpang yang hendak menabraknya.
Wanita itu terus berlari sambil melirik arloji. "Aduh, jangan sampai Dokter Rayyan marah lagi padaku cuma karena telat." Kemudian wanita itu memasuki gate pemeriksaan tiket.
"Bu, bisa tunjukan kartu identitas dan bukti pembelian tiket!" ujar salah satu petugas bandara. Wanita berambut pendek sebahu berkata ramah pada Arumi.
Ia mengeluarkan kartu tanda penduduk (KTP) serta bukti pembelian tiket yang dikirimkan oleh pihak rumah sakit. "Ini kartu pengenal saya dan juga bukti pembelian tiket."
Petugas wanita itu mencocokan wajah Arumi dengan foto yang ada di dalam kartu identitas sang empunya.
"Silakan, Bu. Anda bisa langsung masuk ke dalam!"
Sebuah alat detektor memberikan tanda berwarna hijau yang artinya Arumi serta barang bawaannya tidak dicurigai telah melanggar aturan bandara.
"Terima kasih," jawab Arumi singkat.
Ketika tiba di dalam gedung, ia celingukan. Mencari keberadaan Rayyan di antara ratusan penumpang yang hendak pergi ke suatu tempat.
"Pria itu di mana sih?" tanya Arumi sambil terus menyapu seisi ruangan. Berharap sosok pria jangkung berwajah oriental ada di antara mereka.
Ketika sedang sibuk mencari Rayyan, tiba-tiba ponselnya berdering. Jemari lentik itu meraih benda pipih berukuran 6.5 inci dari dalam tas.
"Halo, ini siapa?" tanya Arumi saat mendengar sambungan telepon itu terhubung.
__ADS_1
"Kamu pikir siapa yang akan meneleponmu, heh?" Alih-alih menjawab pertanyaan Arumi, pria di seberang sana malah meninggikan suara. Mungkin saja bila rekan kerjanya itu ada di hadapan Rayyan, wanita itu sudah dibentak olehnya.
Suara menggelegar bagai petir di siang bolong, memekikan gendang telinga. Refleks, Arumi menjauhkan benda pipih itu dari telinga sebab suara teriakan Rayyan terdengar jelas di indera pendengarannya.
"M-maaf, Dok. Saya pikir orang asing. Sebab nomor Anda tidak tersimpan di buku telepon," ucapnya lirih.
Di seberang sana, kesabaran Rayyan sudah hampir habis. Terdengar deru napas yang tak beraturan dari hidung pria itu. Tangannya mengepal dan wajahnya merah padam.
"Segera datang ke lounge first class sekarang! Saya tidak akan menunggumu jika sampai dalam waktu lima menit batang hidungmu tidak terlihat!"
Tanpa mengucapkan salam atau pun say good bye, Rayyan langsung mematikan sambungan telepon. Lalu memasukan benda pipih itu ke dalam saku celana.
"Hu ... dasar aneh!" gerutu Arumi. "Kenapa sih dia selalu meninggikan intonasi suaranya bila di dekatku? Salah aku apa coba hingga diperlakukan kasar olehnya."
Wanita itu mengelus dadanya sambil menghirup napas panjang. "Sabar, Rumi. Mungkin saja dia sedang PMS sehingga tensinya selalu tingga saat bertemu denganmu."
Tak ingin ditinggalkan oleh Rayyan, Arumi melangkah masuk ke dalam lounge first class. Hanya dalam sekali tatap, ia bisa mengenali pria galak yang duduk di kursi paling pojok dekat jendela yang menghadap ke luar.
"Pantas saja kamu jomblo terus, Dok. Lihat, di sekitarmu banyak wanita cantik tetapi pandanganmu malah terlalu fokus pada buku tebal di atas pangkuanmu," gumam Arumi.
"Jangan sampai kamu jadi Bujang Lapuk karena selalu pacaran dengan buku!"
Membayangkan Rayyan menghabiskan waktu seorang diri tanpa adanya penamping, membuat wanita itu tertawa. Arumi menutup mulutnya dengan telapak tangan. Mencoba agar suara tawanya tidak didengar oleh orang lain.
Hanya tersisa dua langkah lagi, Arumi membuka suara. Ia sengaja melakukannya agar Rayyan tahu jika wanita itu berada di dekatnya.
"Dokter Rayyan, sebaiknya saya duduk di mana?" Ruang tunggu yang dikhususkan bagi penumpang kelas pertama cukup ramai sebab bertepatan dengan tanggal merah sehingga dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk berlibur.
Rayyan hanya melirik tetapi tidak menjawab pertanyaan Arumi. Pria tampan itu kesal karena harus menunggu seseorang. Ini pertama kalinya ia menunggu seseorang dan orang itu adalah kamu Hawa yang tercipta dari tulang rusuk kaum Adam.
"Ya sudah kalau begitu, saya duduk di sini saja ya, Dok. Semua kursi di ruangan ini sudah terisi penuh. Kaki saya juga pegal karena sejak tadi berlari tanpa tahu arah," keluh Arumi seraya duduk di kursi di seberang Rayyan.
Duduk berhadapan dengan pria yang galak dan selalu bertindak kasar padanya, membuat Arumi jadi salah tingkah. Entah mengapa, detak jantung wanita itu berdetak tak beraturan. Organ terpenting bagi manusia seolah mau copot karena berparade ria di dalam sana.
"Aduh, jantung ini kenapa berdegup kencang sekali. Tidak biasanya dia begini. Terakhir kali aku merasakan debaran tak menentu ini di saat ...."
Sadar dengan apa yang diucapkan oleh bibirnya itu adalah sebuah kesalahan, ia menggelengkan kepala. Mengenyahkan pikiran kotor yang merasuki pikirannya.
"Tidak mungkin itu terjadi! Aku tidak mungkin jatuh cinta pada pria ini!" batin Arumi. "Masih terlalu dini untuk mencintai seorang pria!"
Di saat Arumi sedang bertarung dengan pikirannya, diam-diam Rayyan mencuri pandang pada wanita cantik di hadapannya. "Apakah wanita ini tertarik padaku? Sejak tadi terus memandangiku tanpa berkedip sedikit pun."
__ADS_1
Tanpa sadar, sudut bibirnya tertarik ke atas. "Resiko memiliki paras rupawan, selalu dipuja oleh para wanita di mana pun berada," batin Rayyan dengan penuh percaya diri.
Tak berselang lama, para penumpang dengan rute penerbangan Jakarta ke Bali sudah dipersilakan naik ke pesawat. Semua penumpang yang ada di lounge first class segera melangkah masuk ke dalam pesawat.
Mereka berjalan di lorong penghubung antara pintu pesawat dengan terminal (bargarata). Satu persatu penumpang naik ke dalam pesawat.
Meskipun Rayyan tidak menyukai sikap Arumi yang terkesan ceroboh dan sering membuat masalah, akan tetapi ia tetap bersikap layaknya seorang pria tulen. Ia membiarkan partner kerjanya itu berjalan di depannya, sementara pria itu mengekori di belakang.
Dari arah belakang, seorang pria bertubuh tambun berlari dengan kencang. Benda pipih menempel di telinganya. Akibat terlalu fokus dengan orang di seberang sana, pria itu tanpa sengaja menyenggol Arumi hingga tubuh wanita itu nyaris terjerembab ke belakang. Beruntung Rayyan dengan cepat menangkap Arumi.
"Hati-hati kalau berjalan!" bentak Rayyan dengan penuh emosi. "Nyaris saja kamu mencelakai orang lain!"
Paham pria bertubuh tambun itu sudah melakukan kesalahan, dia berhenti lalu menoleh ke arah Arumi dan Rayyan. "Maaf, Pak. Saya tidak sengaja. Tadi saya--"
Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Rayyan sudah menyela. "Sepenting apa pun pekerjaanmu, bila membahayakan orang lain tetap saja itu salah! Lain kali, jangan sampai terulang lagi!" sungut Rayyan berapi-api.
Setelah mengucapkan permintaan maaf dengan penuh penyesalan, pria itu mengambil langkah seribu sebab melihat emosi Rayyan meletup-letup membuatnya merasa ketakutan. Walaupun tubuhnya lebih besar dari Rayyan tetapi nyalinya menciut seketika kala menatap sorot mata tajam bagaikan seekor elang.
Lengan kekar Rayyan melingkar di pinggang Arumi. Posisi keduanya begitu intim. Wajah mereka saling berhadapan. Dari jarak sedekat ini, dua insan manusia itu bisa menghirup aroma parfum masing-masing yang menggelitik indera penciuman.
Tanpa sadar, sejak tadi tangan Arumi berpegangan erat di pundak Rayyan. Embusan napas pria itu menerpa wajah cantik sang wanita.
"Sangat cantik," gumam Rayyan tanpa disadari oleh pemiliknya.
TBC
.
.
.
Halo semua, otor balik lagi nih dengan sesi promosi karya milik teman otor.
Judul : Mr. Arogant
Nama Pena : Rahayu Ningtiyas Bunga Kinanti
Blurb : Kisah seorang gadis yang terjebak dengan perjanjian bos-nya... Ia sudah janji kepada diri sendiri agar tidak jatuh kepada sang bos namun sayang ia mengingkari janji-nya sendiri dan jatuh kepada sang bos-nya.
Bagaimana kisah mereka? Apakah cinta Nesa terbalas?
__ADS_1
Yuk langsung baca aja