Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Sebelum Terlambat (S2)


__ADS_3

Suara cicit burung gereja kembali terdengar, bertengger di dahan pohon. Semilir angin sepoi-sepoi berembus menerpa wajah seorang pria yang sedang duduk di atas kursi roda sambil memandangi keindahan ciptaan Tuhan.


"Pak Mahesa, waktunya minum obat. Ini, saya sudah ambilkan obat berikut air minumnya." Nadira menaruh gelas berisi air putih dan beberapa bungkus obat ke atas meja. Wanita itu mengeluarkan beberapa butir pil dari bungkusnya lalu meletakkannya di sebuah piring kecil.


Tangan kekar Mahesa mengambil satu per satu pil tersebut dan meminumnya bersamaan dengan air putih. "Terima kasih," ucap pria itu datar, tanpa menoleh sama sekali ke arah Nadira.


Sudah tak terhitung lagi berapa kali Mahesa bersikap acuh kepada Nadira. Namun, yang pasti, hati wanita itu hancur berkeping-keping setiap kali mantan suami Arumi memperlakukannya begitu.


Menghela napas panjang seraya mengambil kembali gelas kosong dan beberapa bungkus obat di atas meja. Nadira hendak melangkah, meninggalkan Mahesa. Akan tetapi, suara bariton seorang pria menghentikan langkahnya.


"Tunggu! Jangan pergi dulu! Ada hal penting yang ingin saya bicarakan denganmu," ujar Mahesa. Meminta Nadira untuk tetap berada di tempat yang sama dengannya.


Mendengar permintaan Mahesa, Nadira mengurungkan niatannya. Ia membalikan badan dan menatap punggung pasiennya dari belakang. Otak wanita itu sedang berusaha keras, mencari tahu hal apa yang ingin dibicarakan anak semata wayang Putra Adiguna.

__ADS_1


Merasa sedang diperhatikan dengan sedemikian lekat, membuat Mahesa merasa risih. Meskipun posisi membelakangi wanita berseragam perawat, tetapi ia yakin bahwa saat ini ada sepasang mata tengah memperhatikannya.


"Hanya butuh waktu lima menit saja bagiku untuk berbicara secara empat mata denganmu. Setelah itu, kamu boleh kembali ke belakang melakukan aktivitasmu yang sempat tertunda."


Nadira menghela napas kasar, merasakan hatinya kembali seperti ditusuk oleh sebilah pisau tajam. Sikap acuh dan dingin yang ditunjukan oleh Mahesa membuat dada wanita itu terasa sesak bagai dihimpit oleh sebongkah batu berukuran besar.


Selama satu tahun menjadi perawat pribadi Mahesa, seharusnya dia sudah terbiasa atas sikap pria itu tetapi entah kenapa ia selalu emosional dan ingin rasanya menangis, menumpahkan segala keluh kesah yang dirasakan olehnya selama ini.


"Kalau boleh tahu, hal penting apa yang ingin Bapak katakan kepada saya. Apakah ada hubungannya dengan masalah pekerjaan? Bapak merasa tidak puas atas kinerja saya selama ini?" cecar Nadira setelah dia duduk di sebelah Mahesa.


"Maksud Pak Mahesa, apa?" tanya Nadira penasaran.


Mahesa menghela napas dalam. Mengumpulkan keberanian dalam dada untuk mengatakan suatu hal yang bisa saja membuat hati Nadira sakit. Sebelum terlambat, ia ingin semuanya berakhir saat ini juga.

__ADS_1


"Kamu pasti tahu alasan saya kenapa duduk di kursi roda. Itu semua berkaitan erat dengan kejahatan yang pernah saya perbuat di masa lalu. Terlalu menuruti hawa napsu akhirnya Tuhan memberikan teguran kepada saya. Saya harus kehilangan semuanya termasuk cinta dan kasih sayang dari Arumi."


"Saya dan Arumi telah lama bersama. Kami mulai membangun biduk rumah tangga dari nol hingga sukses bersama. Dia adalah sosok istri setia, penyabar dan tulus mencintai saya. Semua sifat wanita itu membuat saya sulit melupakannya walau kami sudah lama bercerai. Jadi jangan heran kalau sampai detik itu saya tidak bisa melupakan semua kenangan manis yang pernah dilalui bersama dengannya. Butuh waktu puluhan tahun atau mungkin selamanya dia terus bertahta di sanubari yang terdalam. Oleh karena itu, sebelum terlambat, ada baiknya kamu berhenti menyimpan rasa kepada saya, sebab selamanya cintamu tak kan terbalaskan."


Raut wajah Nadira muram dan membendung kesedihan. Mata wanita itu berembun nyaris meneteskan air mata. Suara tercekat seolah sebongkah kaktus menancap di tenggorokan. Penolakan yang diucapkan secara terang-terangan membuat hati wanita itu hancur berkeping-keping. Mahesa lansung menolaknya tanpa memberikan kesempatan untuk membuktikan kalau dia bisa membuat Mahesa melupakan Arumi.


"Meskipun kamu tidak pernah mengatakan isi hatimu kepadaku, tetapi saya tahu bahwa selamanya ini kamu menyimpan rasa kepadaku. Tapi maaf, saya tak kan mungkin membalas cintamu, sebab di hati ini hanya ada nama Arumi seorang. Sampai kapan pun, nama dia tidak pernah hilang dari sini." Tangan Mahesa menunjuk di mana letak posisi hati berada. "Oleh karena itu, sebelum semuanya terlambat sebaiknya diakhiri saja sampai di sini. Saya tidak mau membuatmu menunggu tanpa memberikan kepastian yang jelas kapan nama Arumi menghilang."


Bibir Nadira terbuka, kemudian tertutup dan terbuka kembali. Namun, tak ada satu kata pun yang mampu terucap dari bibir ranum wanita itu. Pikiran ibu satu orang anak kacau, tidak bisa berpikir dengan jernih. Belum siap menerima kenyataan bahwa dirinya telah ditolak mentah-mentah oleh Mahesa.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2