Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Tidak Layak


__ADS_3

Wanita yang sedang duduk di sisi Arumi memejamkan mata sambil menghela napas panjang. Ia sedang mengumpulkan kekuatan untuk menjawab pertanyaan Arumi.


Setelah dirasa pasokan oksigen dalam paru-paru terpenuhi dan tubuhnya kembali tenang, ia berkata, "Nak ... jika memang rumah tanggamu sudah tak lagi bisa dipertahankan, maka berpisahlah. Demi Tuhan, Mama tidak rela jika kamu terus menderita."


"Mama ingin kamu hidup bahagia dengan pasangan yang benar-benar tulus mencintaimu. Yang tak kan pernah menduakan cintanya hanya karena kamu belum juga memberikan keturunan."


"Kendatipun rasa cintamu pada pria itu seluas samudera jika ia tak lagi setia, untuk apa dipertahankan." Nyimas menghentikan sejenak ucapannya. "Pernikahanmu itu tidak sehat. Jadi, sebaiknya segera diakhiri sebelum kamu semakin terluka."


"Mama ... akan selalu mendukungmu, Rumi," ucap Nyimas.


Kedua tangan Nyimas terbuka lebar. Ia sungguh tak tahan lagi. Melihat mata indah itu berkaca-kaca membuat hatinya sakit.


Arumi menghambur ke pelukan Nyimas. Ia melingkarkan tangan di punggung sang mama. Wanita itu kembali menangis. Bola mata indah bagai bola ping pong itu terus meneteskan air mata membasahi pipi.


Awalnya Arumi menyangka Nyimas akan memintanya untuk terus mempertahankan rumah tangga yang telah dibina bersama Mahesa. Namun, ternyata dugaannya salah. Wanita itu malah memberikan dukungan penuh pada Arumi agar bisa bercerai dari pasangannya.


"Mas Mahes telah berkhianat, Ma. Hubungan mereka telah jauh melangkah bahkan dalam rahim wanita itu telah hadir janin yang seharusnya aku kandung," ujar Arumi disela isak tangis.


"Bayangan Mas Mahes saat bergulum di atas ranjang yang sama dengan wanita itu terekam jelas dalam memori ingatanku. Aku ... a-aku ...." Arumi tak sanggup lagi berucap. Hatinya telah terluka akibat cinta suci yang diberikan pada sang suami telah dikhianati.


Nyimas mencium puncak kepala Arumi. Mengusap lembut punggung putri tercinta. "Tak perlu lagi kamu lanjutkan. Mama sudah dapat menebak siapa wanita yang tega menjadi orang ketiga di antara kamu dan Mahesa."


"Pengkhianatan itu tidak akan terjadi apabila salah satu di antara mereka setia terhadap pasangannya. Meskipun banyak godaan yang datang, kalau dia memiliki keimanan yang kuat maka bencana itu tak akan datang dan menghancurkan rumah tangga seseorang."


"Dari kasus ini, Mama dapat menarik kesimpulan bahwa Mahesa bukanlah jodoh yang tepat untukmu. Kamu ... terlalu berharga untuk Pria brengsek seperti Mahesa," timpal Nyimas.


Tangis Arumi kembali pecah. Ia mengeratkan pelukan hingga wanita itu dapat mendengar deru napas Nyimas yang tersengal-sengal. Andaikan ia mendongakan kepala mungkin saat ini Arumi dapat melihat bagaimana sorot mata sang mama yang memancarkan kebencian serta raut wajah kecewa akibat permata hatinya telah disakiti.


"Sudahlah. Jangan menangis lagi!" ujar Nyimas seraya mengusap air mata Arumi. "Mulai detik ini, kamu tinggal bersama Mama. Mama akan merawatmu lagi sama seperti dulu."

__ADS_1


***


Sementara itu, di sebuah hotel mewah bintang lima, Mahesa sedang termenung. Ia duduk di depan televisi. Namun, tatapannya menerawang jauh. Sekelebat kejadian tadi siang terpatri jelas dalam ingatannya.


Bagaimana kecewanya Arumi saat mendapati suami tercinta tengah memadu kasih bersama wanita lain. Mengerang sambil memanggil nama seorang wanita tetapi bukan nama Arumi yang diucap. Penyesalan kini merasuki relung hatinya yang terdalam.


Sejak tadi, Kayla memperhatikan gerak gerik kekasihnya itu. Melihat Mahesa merenung dengan tatapan mata kosong membuatnya tidak tahan lagi. Ia melangkah dengan langkah panjang. Menghampiri ayah dari bayi yang dikandungnya.


"Mas!" seru Kayla. Gadis itu berdiri di sisi Mahesa, memasang wajah cemberut dengan kedua tangan terlipat di dada. "Sampai kapan kamu akan berdiam diri di sini?"


"Sudah dua jam kamu duduk di depan televisi tetapi tidak ada satu acara pun yang kamu tonton," ucapnya kesal. "Kamu masih memikirkan mantan istrimu itu heh?"


"Seharusnya kamu bahagia sebab kita sudah tak perlu lagi bermain petak umpat setiap kali ingin bertemu. Kita jadi lebih leluasa untuk menghabiskan waktu bersama tanpa harus khawatir dipergoki oleh Arumi maupun mertuamu yang sakit-sakitan itu!"


Kesal, Mahesa bangkit dari kursi. Dengan gerakan cepat kedua tangan pria itu mendarat di leher dan mencekiknya. Perlahan, tetapi cekikan itu semakin erat.


Naila yang baru saja kembali dari minimarket segera berteriak, melihat betapa gilanya Mahesa ketika mencekik calon menantunya.


"Mahesa!" Teriakan wanita paruh baya itu mengembalikan lagi kesadaran Mahesa.


Kedua tangan itu terlepas dari leher Kayla. Setelah gadis itu terlepas dari cengkraman Mahesa, ia memanfaatkannya untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Kamu sudah gila!" pekik Naila sambil melangkah masuk ke dalam ruangan. "Hampir saja kamu membunuh calon istri dan anakmu yang masih dalam kandungan Kayla."


Kemudian Naila berjongkok, membantu Kayla duduk di sofa.


"Setan apa yang sudah merasukimu hingga dengan teganya kamu ingin melenyapkan Kayla dan calon anak yang selama ini kamu dambakan!"


"Bagaimana kalau tadi Mama tidak datang tepat waktu? Mungkin ... saat ini ...." Naila tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Suara wanita itu tercekal seperti ada tanaman kaktus di tenggorokannya.

__ADS_1


Mahesa membeku di tempat. Ia benar-benar kalut saat ini hingga tanpa sadar nyaris melenyapkan gadis yang dicintainya.


Kayla berusaha membuka suara. Meskipun lehernya masih terasa sakit, ia tetap memaksakan diri untuk merapikan posisi duduk. Menatap Mahesa dengan mata merah membara.


"Kamu ingin melenyapkan aku dan darah dagingmu sendiri?" sungut gadis itu. "Kalau iya maka akan aku kabulkan saat ini juga!"


Kayla benar-benar murka. Diambilnya sebilas pisau kecil yang biasa digunakan untuk memotong buah. Kemudian ia dekatkan pisau itu di pergelangan tangan.


"Lihat! Di depan mata-kepalamu sendiri, aku akan meregang nyawa. Membawa anak yang selama ini kamu nantikan. Setelah kami mati, di dalam dirimu hanya akan ada penyesalan."


Kemudian, Kayla mengiris nadi yang ada dipergelangan tangan. Akibat dibakar api cemburu membuatnya hilang akal. Emosi dalam diri gadis itu telah berada di ubun-ubun dan telah meledak saat ini juga.


Dulu ia tak pernah menyangka akan jatuh cinta pada suami dari sahabatnya sendiri. Menurut gadis itu, Mahesa bukan tipe suami yang cocok untuknya. Namun, siapa sangka cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu.


Benar kata pribahasa Jawa yang mengatakan bahwa witing tresno jalaran soko kulino. Terlalu sering menghabiskan waktu bersama, rasa cinta tumbuh dalam hati kedua insan manusia itu.


Melihat darah segar mengalir dari pergelangan tangan, Naila panik. "Kayla!" jerit Naila. Tubuhnya bergetar hebat.


Gadis yang sangat disayangi olehnya melebihi apa pun di dunia ini tengah terkapar di atas lantai. Ia membawa kepala Kayla di atas pangkuan. "Sayang, kenapa kamu nekat melakukan ini?"


Air mata menetes deres. Raut wajah berubah pucat. Ia khawatir terjadi sesuatu hal buruk menimpa Kayla dan juga calon cucunya.


TBC


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2