Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Nasihat Putra (S2)


__ADS_3

"Selamat pagi, Pak Raihan," sapa Valerie ketika ia masuk ke dalam ruang dosen. Gadis berwajah oriental dan bermata sipit merupakan salah satu mahasiswa semester akhir yang awalnya dibimbing oleh Abdullah, tetapi karena sakit pria paruh baya itu sakit keras sehingga digantikan oleh Raihan.


Raihan melirik sekilas ke sumber suara, lalu kembali fokus pada tumpukan kertas di atas meja. "Silakan duduk dan segera keluarkan skripsi yang mau tunjukan kepada saya," ucapnya singkat tanpa basa basi.


Tanpa membantah sedikit pun, Valerie bergegas duduk dan mengeluarkan beberapa lembar kertas berwarna putih dari dalam tas yang diperuntukan khusus menyimpan dokumen, terbuat dari plastik disertai gagang dibagian atasnya.


"Ini skripsi yang sudah saya revisi kemarin, Pak. Sesuai permintaan Bapak, tidak ada yang kurang sama sekali," ucap gadis itu dengan suara yang dibuat sesensual mungkin. Jemari lentik mendorong satu bundel skripsi mentah ke hadapan Raihan. Pandangan mata terus menatap tanpa berkedip, mengagumi serta memuja sosok pria tampan di depannya.


Dengan acuh, Raihan menerima bundelan tersebut dan segera memeriksa hasil revisi yang diminta olehnya. Bola mata bergerak saat membaca setiap kalimat di lembaran putih tersebut. Pria itu begitu fokus hingga tak menyadari kalau saat ini tengah diperhatikan sedemikian rupa oleh mahasiswinya.


"Dari bab pertama hingga bab keempat sudah oke, kamu tinggal melengkapi bab lima saja. Setelah itu, persiapkan diri menghadapi sidang untuk menentukan masa depanmu." Raihan merapikan kembali bundelan tersebut, kemudian memberikan kepada Valerie.


Gadis cantik berusia dua puluh satu tahun mengulurkan tangan ke depan, kemudian sesuatu tak terduga terjadi di mana permukaan tangan Valerie menyentuh punggung tangan adik kandung Rayyan. Ia sengaja melakukan itu sebagai langkah awal menaklukan gunung es dalam diri sang dosen.


Merasakan kelembutan dari permukaan kulit lawan jenis, membuat Raihan segera menarik tangannya yang masih memegang skripsi milik Valerie. Air muka pria itu berubah seketika menjadi semakin tidak bersahabat.


"Jadi, skripsi milik saya sudah sesuai dengan keinginan Bapak, begitu? Berarti, pertemuan selanjutnya saya tinggal menunjukan bab lima tanpa perlu revisi?" Kembali bertanya dengan nada suara menggoda.


Alih-alih menikmati suara merdua mahasiswanya, Raihan malah semakin risih dan merasa tak nyaman berada dalam ruangan yang sama dengan lawan jenis. Seumur hidup, baru kali ini ia bertemu dengan mahasiswa genit seperti Valerie.


"Benar. Oleh karena itu, tolong kamu buat bab lima sebagus mungkin agar saat kita bertemu bisa langsung di-acc dan kamu dapat wisuda tahun ini," jawab Raihan singkat.


Valerie tersenyum smirk sambil memasukan kembali skripsi miliknya. "Oh begitu rupanya. Jadi, minggu depan adalah pertemuan terakhir kita ya, Pak? Ehm ... sayang sekali, padahal saya masih ingin bertemu dengan Bapak loh," tuturnya tanpa malu.

__ADS_1


Bola mata bulat semakin melebar sempurna. Tak menyangka akan ada masa di mana seorang lawan jenis secara terang-terangan berkata begitu di hadapannya. Namun, ia dapat dengan mudah menguasai diri. "Kalau tidak ada hal yang ingin disampaikan, kamu boleh keluar biarkan temanmu yang lain masuk ke sini. Berikan kesempatan kepada yang lain untuk berkonsultasi dengan saya "


Akan tetapi, Valerie sama sekali tidak menggubris perkataan Raihan. Gadis itu malah semakin gencar menggoda dosen pembimbingnya. "Masih banyak hal yang ingin saya tanyakan kok kepada Bapak. Seperti ... apakah Bapak bersedia menjadi kekasih saya?"


Habis sudah kesabaran dalam diri Raihan. Ia tidak tahan lagi dengan sikap yang ditunjukan oleh mahasiswanya itu. Suara mendayu seakan dibuat-buat. Desahaan lirih sengaja dibuat guna memancing hasrat dalam diri pria itu. Bukannya tergoda, ia malah illfeel.


"Cukup, Nona Valerie! Sebaiknya keluar sekarang sebelum saya menggunakan kekuasaan untuk menggagalkanmu dalam sidang skripsi tahun ini!" ancam Raihan mantap. Tak ada keraguan sedikit pun terpancar di bola matanya yang indah.


Suara nyaring menggelegar sukses membuat Valerie terhenyak beberapa saat. Tubuh mundur ke belakang saking terkejutnya. Namun, reaksi itu tak berselang lama karena anak dari pebisnis sukses di bidang properti dapat menguasai diri. Merasa ditolak mentah-mentah, membuat gadis itu geram. Meremas jemari tangan dengan keras hingga memperlihatkan buku-buku kuku.


Valerie bangkit dari kursi, lalu menyampirkan tas di antara pundak dan ketiak sambil berkata, "Baik, saya akan pergi sekarang juga! Tapi ingat, urusan kita belum selesai!" Kalimat terakhir tak sempat ia suarakan, sebab Raihan lebih dulu membuka pintu lebar dan memintanya keluar sekarang juga.


Setelah kepergian Valerie dari dalam ruangan, Raihan menghempaskan tubuhnya di atas kursi kebanggannya sambil memijat pelipis yang terasa pening. "Kaum Hawa zaman sekarang seperti tak punya harga diri, berani berkata begitu di hadapan pria asing yang baru dikenal." Jemari tangan memutar pelan di pelipis. "Dunia sudah edan!"


***


Dua buah cangkir terbuat dari keramik berwarna biru dan hijau berada dk atas meja kaca berbentuk persegi panjang. Satu toples berisi kacang goreng serta satu piring tape goreng menjadi teman sejati mereka menghabiskan waktu bersama.


"Pa, bagaimana keadaan Mama, apakah ada perkembangan?" celetuk Mahesa sambil mengunyah kacang goreng buatan sang asisten rumah tangga. Walaupun Putra sudah bukan lagi orang kaya, tetapi ia membutuhkan jasa seorang wanita untuk mengurusi segala keperluan sehari-hari dan juga membersihkan rumah serta memasak.


Melirik tajam ke arah Mahesa kemudian kembali menonton drama series di salah satu stasiun televisi tanah air. "Alhamdillah sehat. Kondisi Mama-mu semakin baik meski kesehatan mentalnya belum kembali seperti dulu."


Terdengar embusan napas kasar bersumber dari Mahesa. Dengan tatapan mata tajam, ia berucap, "Mama memang pantas menerima itu semua!"

__ADS_1


"Mahesa, kenapa berkata begitu terhadap Mama-mu? Kamu lupa, kalau wanita itulah yang telah mengandung dan melahirkanmu ke dunia ini," sergah Putra cepat, mengingatkan Mahesa agar pria itu sadar bahwa Naila adalah wanita paling berjasa dalam hidup sang anak.


"Tapi dia jugalah yang memberikan neraka kepadaku hingga rumah tanggaku bersama Arumi hancur! Andai saja saat itu Mama tidak ikut campur dalam urusan rumah tanggaku mungkin hari ini aku masih berbahagia hidup berumah tangga dengan istri tercinta." Bibir Mahesa gemetar. Untaian kata terdengar begitu menyayat kalbu. Terdapat penyesalan mendalam karena harus kehilangan wanita yang sangat dicintai.


"Mahesa, jaga ucapanmu! Bagaimanapun, wanita itu adalah Mama-mu. Seburuk apa pun dia, kamu harus hormat kepadanya." Menjeda sejenak kalimatnya sambil menatap nanar ke arah Mahesa. "Nak, sudah satu tahun berlalu, apakah kamu memang belum bisa move on dari kejadian yang menimpamu di masa lalu?"


"Apakah selamanya kamu tetap bergerak di jalan yang sama tanpa mau melangkah maju ke depan, sedangkan Arumi telah berbahagia bersama suami dan anak-anaknya? Mau sampai kapan kamu begini, menyia-nyiakan sisa umur hanya dengan meratapi kesedihanmu saja."


"Cobalah menerima semua yang telah terjadi kepadamu. Lupakan semuanya dan kubur dalam-dalam kenangan pahit itu bersama kisah cintamu dengan Arumi. Papa yakin, dengan begitu hidupmu akan terasa lebih tenang dan secara perlahan bisa melupakan mantan istrimu itu," imbuh Putra.


Dengan suara lantang Mahesa berseru, "Selamanya aku tidak akan melupakan Arumi, Pa. Di hatiku hanya akan ada dia seorang!"


"Papa tahu bagaimana perasaanmu kepada Arumi. Namun, rasa cinta itu sudah tak ada lagi di hati dia. Lantas, kamu mau apa? Menunggu hingga Rayyan pergi meninggalkan dunia ini dan menghabiskan sisa hidupmu untuk sesuatu yang sia-sia." Putra menarik napas dalam seraya memejamkan mata, lalu kembali berkata, "Daripada menunggu sesuatu yang tak pasti, lebih baik kamu fokus pada apa yang ada di depanmu. Masih banyak wanita lain di dunia ini yang bisa kamu jadikan pelabuhan terakhir. Seperti ... Nadira. Papa lihat, tampaknya dia menyimpan rasa kepadamu."


Mahesa mendengkus kesal ketika Putra menyebutkan nama Nadira. "Wanita seperti dia tidak sebanding dengan Arumi! Sangat jauh berbeda."


"Benar, tetapi dia tulus mencintaimu. Papa dapat melihat itu semua terpancar di sorot matanya ketika dia sedang merawatmu. Papa rasa tidak ada salahnya bila kamu mencoba membuka sedikit hatimu untuknya," saran Putra memberikan penilaiannya tentang Nadira.


"Lagipula, kalau kamu menikahi wanita itu maka akan mendapatkan bonus berupa seorang anak yang lucu dan menggemaskan. Kamu tahu sendiri, bagaimana vonis dokter yang mengatakan bahwa kemungkinanmu untuk bisa membuahi seoranh wanita hanya 1% saja. Akibat kecelakaan itu, telah membuat organ reproduksimu terganggu. Bila kamu menikahi Nadira maka tidak perlu mencemaskan soal keturunan lagi karena ada anak itu yang bisa menghiburmu." Putra bangkit dari kursi dan menepuk pundak Mahesa dengan lembut. "Tidak perlu dijawab sekarang. Papa memberimu waktu untuk memikirkan semuanya. Namun, bila kamu tetap bersikeras hidup dalam kubangan masa lalu, Papa tak bisa memaksamu."


"Hanya satu hal yang ingin Papa sampaikan kepadamu. Hidup itu cuma satu kali, jadi gunakan waktu yang tersisa untuk melakukan hal-hal positif." Usai mengucapkan kalimat tersebut, Putra meninggalkan ruang keluarga menuju kamar dan membiarkan Mahesa merenungi setiap ucapan yang baru saja dia katakan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2