Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Menghasut Mertua


__ADS_3

Selama acara berlangsung, Rayyan yang duduk di kursi depan selalu mencuri pandang ke arah Arumi. Merasa diperhatikan oleh seseorang membuat wanita itu salah tingkah.


Kedua netra saling menatap satu sama lain tanpa disadari, seulas senyum terlukis di wajah dua insan manusia itu. Mereka seperti anak ABG yang sedang dimabuk cinta.


"Beruntungnya aku diberikan kesempatan oleh Arumi untuk bisa mendekati wanita itu," batin Rayyan. "Jika bertemu Mahesa lagi maka aku harus mengucapkan banyak terima kasih pada pria brengsek itu. Karena dia, aku bisa mendapatkan wanita sebaik Arumi."


***


Di saat Arumi dan Rayyan tengah berbunga-bunga, beda halnya dengan Mahesa dan Kayla. Sepasang suami istri itu terlihat tengah memendam rasa kesal di dalam hati.


Sepanjang perjalanan menuju rumah utama, dua insan manusia yang dulu pernah mengoreskan luka di hati Arumi tak sedikit pun membuka suara. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Sial! Kenapa sekarang Arumi malah bahagia. Seharusnya dia menderita karena telah bercerai dari Mas Mahesa," batin Kayla. "Aku harus mencari cara untuk membuat hubungan mereka renggang. Atau kalau perlu putus sekalian biar wanita itu tahu bagaimana rasanya hidup seorang diri tanpa adanya cinta dari orang terkasih."


"Ini tidak mungkin terjadi. Bagaimana Arumi bisa semudah itu berpaling dariku. Padahal dulu ia begitu mencintaiku bahkan rela meninggalkan semua fasilitas yang diberikan orang tuanya demi hidup menderita bersamaku," batin Mahesa.


Memasuki halaman rumah luas super megah, sang sopir yang bekerja di balik kemudi memelankan laju kendaraan. Ia menginjak pedal rem saat kendaraan roda empat itu tepat berada di depan pintu masuk.


"Silakan, Pak Mahes!" Sopir itu membukakan pintu untuk sang majikan. Kemudian berjalan mengelilingi kendaraan itu lalu membukakan pintu untuk Kayla.


Kendatipun kesal atas kejadian di mall tadi, Mahesa tetap membantu istri tercinta. Menaiki satu per satu anak tangga hingga mencapai puncak anak tangga paling atas.


Naila yang saat itu tengah duduk manis di ruang keluarga segera bangkit dari kursi ketika netranya melihat menantu kesayangan pulang dari mall.


Ia menyambut kedatangan Kayla dengan sebuah pelukan yang sangat erat. "Sayang, kok wajahmu cemberut sih. Memangnya tadi kamu tidak jadi berbelanja? Atau Mahesa membuat mood-mu hancur?"


"Mama apa-apaan sih!" sungut Mahesa tidak terima jika ia disalahkan. "Aku tidak berbuat salah kenapa menuduhku!"

__ADS_1


"Loh, Mama 'kan hanya bertanya. Karena seingat Mama, sebelum Kayla pergi ke mall memenuhi janjinya untuk makan siang bersamamu, wajah menantu kesayanganku ini berseri-seri. Akan tetapi, setelah pulang dari mall kenapa berubah murung."


Mahesa menaikan kedua bahu lalu berkata, "Ya mana kutahu. Tanyakan saja pada Kayla." Berjalan dengan langkah panjang, menaiki anak tangga yang membawanya menuju lantai dua.


Merasa ada sesuatu yang salah, Naila membantu menantu kesayangannya duduk di sofa. "Sayang, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu cemberut dan sikap Mahesa berubah? Apakah kalian bertengkar?" tanya Naila penuh selidik.


"Ini semua karena Arumi, Ma. Seandainya saja dia tidak ada di mall itu mungkin mood-ku dan sikap Mas Mahesa akan biasa-biasa saja," keluh Kayla sambil memijat kakinya yang terasa pegal.


Berjalan menggunakan high heels dalam keadaan tengah berbadan dua membuat kakinya pegal. Meskipun tinggi heels tersebut hanya dua centimeter tetapi tetap saja membuat Kayla kelelahan.


Bola mata Naila membulat sempurna. Naila memicingkan mata ke arah Kayla. "Kenapa kalian bisa bertemu wanita pembawa sial itu? Aduh ... jangan sampai dia membawa bencana lagi bagi keluarga ini." Naila terlihat gusar ketika mendengar nama Arumi disebut di rumah itu.


"Aku heran, kenapa wanita itu terus menerus menjadi kabut hitam di keluarga Adiguna. Sudah bagus Mahesa cerai dari wanita itu. Namun, kini aku harus kembali mendengar nama mantan istri anak kesayanganku." Naila merebahkan punggung di sandaran sofa. Mengatur deru napas yang memburu akibat terbawa emosi.


"Katakan pada Mama, dia berbuat apa padamu?" ucap Naila setelah mampu menguasai diri.


"Mantan menantu Mama yang super genius itu mendorongku karena dia marah kedapatan olehku jalan berdua dengan seorang pria. Mereka bermesraan di tempat umum seraya bergandengan tangan. Raut wajah wanita itu terlihat bahagia. Sama sekali tidak terlukis kesedihan terpancar di bola mata Arumi," jelas Kayla. Ia sengaja menambahkan sedikit bumbu penyedap di setiap kalimat yang terucap. Berharap agar Naila tetap membenci mantan menantunya itu.


"Dasar wanita murahan! Baru satu hari menjanda, dia sudah berani jalan berdua dengan pria asing. Sungguh sangat memalukan. Untung saja putraku telah bercerai dari wanita itu. Jika tidak, mungkin nama baik keluarga Adiguna akan tercoreng oleh perbuatan tidak bermoral yang dilakukan oleh Arumi."


Kayla tersenyum menyeringai. "Bagus. Akhirnya Mama Naila termakan juga oleh tipu muslihatku. Kalau begini 'kan, aku tidak perlu takut akan kehilangan kasih sayang serta perhatian dari mertuaku sebab ia akan selalu membelaku."


Kayla beringsut mendekati kursi sang mertua. "Ma ... aku rasa sepertinya Arumi itu selingkuh saat masih bersama Ma Mahes. Buktinya saja, mereka bersikap seolah-olah sudah lama saling mengenal lama. Tingkah laku keduanya pun layaknya sepasang kekasih yang tengah dimabuk cinta."


Suasana ruangan itu cukup panas. Bukan karena pendingin ruangan yang rusak melainkan hati Naila yang terbakar oleh api kebencian di dalam diri.


"Benar-benar wanita murahan! Berani-beraninya dia main serong di belakang anakku," sungut Naila berapi-api. "Selama ini Mahesa telah memperlakukan wanita itu dengan baik. Eh ... dia malah ada affair di belakang Mahesa."

__ADS_1


Percikan api itu telah menjalar ke seluruh tubuh, membuat wanita paruh baya itu kegerahan. Ia meraih segelas jus mangga di atas meja lalu meminumnya menggunakan sedotan.


"Pura-pura polos ternyata hatinya busuk!" timpal Naila setelah menghabiskan setengah gelas jus tersebut.


***


Acara penerimaan mahasiswa magang di Persada International Hospital telah usai. Firdaus menerima delapan mahasiswa keperawatan itu dengan tangan terbuka. Berharap, akan banyak ilmu yang diserap oleh mereka saat praktek nanti di rumah sakit yang dibangun atas kerjakeras dan usaha ia dan mendiang istri pertamanya-Mei Ling.


"Saya harap, kalian semua dapat bekerjasama di rumah sakit ini. Memberikan ilmu baru bagi kami. Jangan sungkan untuk bertanya, mengemukakan pendapat di hadapan kami semua," nasihat Firdaus sebelum menutup acara tersebut.


"Baik, Pak!" seru delapan orang mahasiswa itu hampir bersamaan.


Firdaus melangkah keluar ruangan. Rayyan serta Arumi mengekori dari belakang.


"Dokter Rayyan, selama mereka magang di sini, tolong bantu para kepala suster untuk mengawasi delapan orang mahasiswa itu. Jangan sampai mereka membuat kesalahan selama praktek di rumah sakit ini."


"Dokter Firdaus tenang saja. Saya tidak mungkin membiarkan orang lain merusak citra yang dibangun susah payah oleh mendiang Mama saya."


"Rumah sakit ini dibangun atas kerjakeras, peluh serta air mata Mama Mei Ling. Jadi, tidak mungkin saya membiarkan orang lain merusaknya begitu saja." Rayyan menekan setiap kalimat yang terucap di bibir.


Firdaus menghentikan langkah. Ia menoleh ke belakang, menatap Rayyan dengan ekspresi yang rumit kemudian mendesaah panjang. "Aku pun turut andil membangun rumah sakit ini hingga berdiri kokoh dan dikenal oleh banyak orang."


Rayyan tersenyum smirk. Kemudia berucap, "Memang benar, Dokter Firdaus juga ikut terlibat dalam pembangunan. Akan tetapi, mendiang perawat Mei Ling-lah lebih berjasa sebab ia mengorbankan air mata demi terwujudnya rumah sakit ini."


TBC


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2