
Rencana pernikahan Rayyan dan Arumi telah menjadi perbincangan hangat dikalangan seluruh pekerja rumah sakit. Mulai dari cleaning service hingga petinggi rumah sakit menjadikan kabar baik itu sebagai bahan obrolan. Pun begitu dengan Firdaus, pria paruh baya itu telah mendengar langsung dari calon menantunya jika tanggal 14 Februari akan menjadi momen bersejarah bagi dua insan manusia itu menyatu dalam ikatan sebuah pernikahan.
Persiapan pernikahan antara dua insan manusia beda jenis kelamin itu bisa dikatakan hampir mencapai seratus persen. Segala kebutuhan yang diperlukan sudah selesai, tinggal menyebar undangan dan mempersiapkan mental bagi kedua calon pengantin.
Hari ini, Arumi dan Rayyan akan menyerahkan surat cuti selama satu minggu kepada Firdaus dan menyebarkan surat undangan kepada rekan sejawat yang dikenal oleh sepasang kekasih itu. Sementara undangan untuk kerabat serta tetangga sudah disebar beberapa hari lalu.
"Kamu jadi pergi ke rumah sakit?" tanya Nyimas kala ia dan Arumi tengah duduk berhadapan di ruang makan. Dua wanita beda generasi itu sedang menikmati nasi kuning yang dibuat oleh Mbak Tini.
Arumi yang saat itu sedang menyendokan satu sendok nasi ke dalam mulut segera menoleh ke arah Nyimas seraya berkata, "Jadi, Ma. Aku dan Rayyan janjian bertemu di rumah sakit pukul sembilan nanti."
"Minta Pak Burhan mengantarkanmu ke rumah sakit. Calon pengantin jangan nekad bawa mobil sendirian. Ingat, hanya tersisa waktu satu minggu lagi kamu akan menikah dengan Rayyan. Biasanya, banyak bisikan setan yang berusaha keras menggoyahkan keimanan seseorang agar ia ragu dengan keputusan yang telah diambil." Nyimas mencoba menasihi putri tercinta agar iman Arumi kuat dan tak mudah termakan oleh bujuk rayu iblis.
Arumi menganggukan kepala. "Iya, Ma. Aku akan meminta Pak Burhan mengantarkanku ke rumah sakit. Mama tenang saja ya."
Suasana kembali hening. Hanya terdengar denting sendok dan denting garpu beradu dengan piring. Arumi dan Nyimas sibuk dengan makanan mereka masing-masing.
"Ma, seandainya aku memberikan undangan pernikahan pada Tante Naila, bagaimana?" cetus Arumi membuka pembicaraan. Sejak semalam, hal inilah yang membuat perasaan wanita itu tak tenang hingga membuatnya tidak dapat tidur nyenyak. Ia dilema antara memberikan surat undangan pernikahan atau tidak kepada mantan mertuanya.
Nyimas menautkan kedua alis. Menatap Arumi dengan tatapan yang sulit diartikan. "Katakan pada Mama, apa alasanmu hingga kepikiran ingin memberikan surat undangan pada mantan mertuamu? Kamu ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk membesuk Mahesa?"
Arumi melambaikan tangan ke depan dengan cepat. "Bukan! Bukan itu maksudku."
Wanita itu meletakan satu set alat makan di atas piring. Menarik napas panjang sambil memejamkan mata sebentar.
"Ma, aku cuma ingin membagi sedikit kabar baik ini dengan mereka. Bagaimanapun, Tante Naila dan Om Putra 'kan dulu pernah menjadi bagian dari masa laluku. Terlepas bagaimana perlakuan mereka dulu terhadapku, Tante Naila dan Om Putra pernah menjadi dua orang yang begitu kusayangi."
Nyimas menghela napas. Lalu, meraih gelas besar yang ada di atas meja makan. Menyesap air putih hingga tersisa setengah.
"Rumi, ini merupakan hal penting yang seharusnya kamu bicarakan dengan Rayyan. Mama tidak mempunyai hak untuk menjawab pertanyaanmu, sebab ini menyangkut masa lalumu. Jika kamu memutuskan memberikan undangan pada mantan mertuamu, itu artinya kamu akan dipaksa mengingat kembali bagaimana perlakuan mereka terhadapamu dulu. Memangnya kamu siap merasakan sakit hati lagi?"
"Seandainya tidak siap, sebaiknya jangan memaksakan kehendak. Lebih baik, kamu tidak usah memberikan undangan itu untuk Naila. Bukannya Mama ingin mengajarkan hal buruk padamu, tapi Mama cuma mau menjaga perasaanmu saja, Nak. Kamu berniat baik ingin membagikan sedikit kebahagiaan kepada mereka, namun belum tentu mantan mertuamu itu legowo. Bisa saja 'kan, dia malah menghinamu karena masih menyimpan dendam di dalam hati. Kita tidak tahu isi hati seseorang seperti apa."
"Jadi, sebaiknya kamu diskusikan dengan Rayyan. Apa pun keputusan calon suamimu itu, kamu harus setuju. Mengerti?"
"Mengerti, Ma."
__ADS_1
Arumi meraih tote bag yang ada di kursi kosong sebelahnya. Ia bersiap pergi ke rumah sakit. Pak Burhan sudah menunggu sang majikan di depan.
"Ma, aku pergi dulu ya. Kalau Mama membutuhkan sesuatu, telepon atau bisa mengirimkan chat padaku. Aku akan segera membalas dengan secepatnya."
"Iya. Sudah sana, lekas berangkat."
Setelah mencium tangan Nyimas, Arumi masuk ke dalam mobil. Kendaraan roda empat itu melaju dengan kecepatan sedang. Meninggalkan kepulan debu di pelataran rumah.
"Ya Tuhan, lindungilah anak dan calon menantuku di mana pun mereka berada," do'a Nyimas lirih, kemudian ia masuk ke dalam rumah.
***
Kini Arumi telah tiba di rumah sakit. Di saat bersamaan, Rayyan pun baru saja tiba di sana. Arumi mengulum senyum kala netranya melihat calon suaminya melangkah masuk mendekati pintu utama rumah sakit.
Melihat calon istrinya berada di belakang, Rayyan berhenti sejenak. Tangan kekar itu terulur ke depan, meraih tote bag yang dibawa oleh Arumi.
"Biar aku saja yang bawa. Kamu pasti lelah membawa puluhan lembar surat undangan ini 'kan?"
Tinggi badan Rayyan sekitar 180 cm, sementara Arumi hanya 170 cm sehingga saat berjalan bersisian, wanita itu harus mendongakan kepala jika ingin menatap wajah sang kekasih.
Sepasang kekasih itu melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Saat di pertengahan jalan, Arumi teringat akan percakapannya dengan Nyimas tadi pagi. Walaupun terasa berat mengutarakan isi hatinya pada Rayyan, tapi ini merupakan kesempatan baik baginya untuk berkata jujur pada pria itu.
"Dokter Rayyan, ada hal penting yang ingin kubicarakan. Bisakah kita berbicara empat mata?" Bola mata Arumi bergerak, memperhatikan lingkungan sekitar yang cukup ramai oleh beberapa pengunjung rumah sakit dan tenaga medis yang hilir mudik.
Rayyan mengikuti arah pandang kekasihnya. Suasana sekitar memang cukup ramai hingga tak memungkinkan mereka berbicara empat mata di lingkungan tersebut.
"Kita bicara di tangga darurat saja." Rayyan meraih tangan Arumi menuju pintu darurat yang ada di ujung lorong rumah sakit. Tanpa protes sama sekali, Arumi mengikuti langkah kaki pria itu.
Arumi terdiam kala ia dan Rayyan sudah ada di tangga darurat. Suasana di sana sepi sehingga membuat mereka jadi leluasa berbicara.
"Ray, agenda kita hari ini adalah mengajukan surat cuti dan menyebarkan undangan pada beberapa rekan sejawat." Arumi berbicara dengan hati-hati.
"Lalu?" Rayyan mengerutkan kening petanda bingung. Kalau melihat ekspresi Arumi yang berubah serius dan berbicara dengan hati-hati, memang ada hal penting yang ingin disampaikan.
Arumi menghela napas dalam. "Seandainya aku memberikan surat undangan ini pada Tante Nyimas dan Om Putra, bagaimana? Jujur, sejak semalam aku dilema tak tahu harus berbuat apa. Aku tidak punya maksud apa-apa, Ray, hanya ingin membagi sedikit kebahagaiaanku saja pada mantan mertuaku. Aku menghormati mereka karena Tante Naila dan Om Putra pernah menjadi bagian dari masa laluku."
__ADS_1
"Terlepas dari sikap buruk mereka selama ini, mereka tetaplah mantan mertuaku." Arumi menjeda kalimatnya. "Namun, demi Tuhan, aku tidak punya niatan lain selain ingin memberikan kabar bahagia ini pada mereka."
"Aku cuma mau mereka turut memberikan do'a restu pada pernikahan kita. Itu saja," ucap Arumi lirih. Menundukan wajah seraya meremaas jemari. Tak berani menatap wajah sang kekasih.
Sungguh, demi apa pun ingin sekali rasanya Rayyan meluapkan kemarahannya kala mendengar ucapan Arumi. Di momen bahagia seperti ini, sang kekasih masih saja mengingat Naila dan Putra--dua orang manusia tak berperasaan yang tega menjerumuskan anak mereka ke dalam lembah perselingkuhan. Namun, ia sadar seburuk apa pun mantan mertuanya mereka tetaplah orang yang pernah ada dalam kehidupan Arumi sebelumnya.
Tangan kekar itu menyentuh bahu Arumi. Satu tangan ia gunakan untuk mengampit ujung dagu sang kekasih. Pria itu menatap lekat manik coklat indah milik calon istrinya.
"Jika memang kamu siap membuka kembali lembaran masa lalumu yang begitu menyakitkan, aku memberikan izin padamu. Namun, dengan catatan, kita berdua menemui mereka bersama-sama. Aku tidak mau mereka menghina apalagi sampai mencelakaimu. Bagaimana?"
"Terima kasih, Honey. Kamu memang calon suamiku yang terbaik di dunia ini." Arumi tersenyum riang. Bola mata berbinar bahagia.
Akan tetapi, kebahagiaan itu tak berlangsung lama kala suara berat Rayyan menginterupsi percakapan mereka.
"Tapi ... aku akan meminta imbalan atas kebaikanku loh. Kamu siap memberikan apa pun yang kuminta?" Rayyan menyeringai seraya menatap tajam ke arah Arumi.
Entah mengapa, Arumi seakan mendapatkan sinyal berbahaya dari senyuman itu. Ia bukanlah gadis lugu yang belum pernah berpengalaman. Lima tahun berumah tangga setidaknya tahu sedikit makna dari sebuah senyuman yang terlukis di sang pria.
Tanpa ragu, Arumi melingkarkan kedua tangan di leher kekasihnya. "Aku akan memberikan service terbaik yang belum pernah kuberikan pada mantan suamiku sebelumnya. Jadi, persiapkan staminamu, sebab kita akan bermain sepanjang malam tanpa jeda sedikit pun." Kerlingan mata ia berikan pada Rayyan.
"Lima ronde?" celetuk Rayyan menahan gelora hasraat di dalam dada. Berada dalam posisi intim membuat imajinasinya sebagai pria normal mulai berkelana ke mana-mana.
Dengan manja, Arumi menjawab, "Boleh. Asal kamu tidak lemas duluan."
.
.
.
"Saya terima nikah dan kawinnya Arumi Salsabila Binti Almarhum Hadikusuma dengan mas kawin seperangkat alat solat, satu unit apartemen dan uang sebanyak Rp. 1.420.000 dibayar tunai."
"Bagaimana saksi, sah?"
"Sah!" ucap para saksi dan beberapa orang yang hadir dalam acara ijab kabul tersebut.
__ADS_1