
Tanggal 14 Februari akan selalu dikenang menjadi hari bersejarah bagi Arumi Salsabila dan Muhammad Rayyan Firdaus, sebab di tanggal tersebut sepasang kekasih itu akan mengesahkan hubungan mereka di hadapan penghulu, saksi dan beberapa tamu undangan yang hadir.
Setelah menjalani masa penjajakan, akhirnya dua insan manusia yang pernah mengalami trauma akibat sebuah perselingkuhan kini disatukan dalam ikatan suci sebuah pernikahan. Walaupun Rayyan menikahi Arumi yang notabene adalah mantan istri dari Mahesa Putra Adiguna, ia tak keberatan sama sekali. Pria itu tak peduli dengan anggapan orang lain yang mengatakan bahwa ia bodoh karena menikahi seorang janda, apalagi wanita itu tak kunjung memberikan keturunan pada sang suami.
Bagi pria bermata sipit, lebih baik menikahi seorang janda daripada menikahi gadis tapi membuatnya tersiksa karena setiap bersentuhan dengan sang istri sekujur tubuhnya ruam dan gatal-gatal. Lagi pula, tidak ada aturan yang melarang seorang jejaka menikahi janda 'kan? Oleh karena itu, Rayyan telah membulatkan tekad akan mempersunting Arumi meski banyak yang menentang.
Kini, di kediaman Arumi telah hadir pak penghulu yang bertugas menikahkan sepasang calon pengantin itu. Para saksi serta beberapa tamu undangan yang bersedia hadir menyaksikan prosesi ijab kabul telah duduk manis menanti momen sakral itu berlangsung.
Rio didapuk menjadi saksi dari pihak Rayyan, sementara saksi dari pihak Arumi adalah pak Soleh--dosen sewaktu zaman kuliah dulu. Berhubung Arumi adalah yatim piatu dan ayah angkatnya pun telah meninggal dunia, maka wali nikah diserahkan kepada wali hakim.
Tepat pukul delapan pagi, pak penghulu sudah bersiap menjalankan tugasnya. Ia berdiri di hadapan calon mempelai pria, sementara calon mempelai wanita menunggu di ruangan terpisah.
Rayyan tampak cemas menghadapi detik-detik mendekati prosesi ijab kabul.
"Rileks, Bro! Jangan terlalu tegang. Ingat, harus lantang dan tegas dalam mengucapkan ijab kabul nanti," ujar Rio berbisik di telinga Rayyan.
Maka, prosesi ijab kabulkan berlangsung.
"Saya terima nikah dan kawinnya Arumi Salsabila Binti Almarhum Hadikusuma dengan mas kawin seperangkat alat solat, satu unit apartemen dan uang sebanyak Rp. 1.420.000 dibayar tunai."
"Bagaimana saksi, sah?"
"Sah!" ucap para saksi dan beberapa orang yang hadir dalam acara ijab kabul tersebut.
Di ruangan berbeda, tampak Arumi tak kuasa menahan air mata yang sedari tadi dibendung. Butiran kristal itu jatuh membasahi pipi kala mendengar suara tegas dan lantang Rayyan saat mengucapkan ijab kabul di hadapan semua orang.
"Semoga pernikahanmu kali ini langgeng sampai maut memisahkan ya, Nak." Wanita paruh baya itu ikut meneteskan air mata. Ia memeluk erat tubuh Arumi dengan penuh cinta.
Rini pun ikut meneteskan air mata melihat momen mengharukan di depan sana. Kedua kalinya ia menjadi saksi dalam pernikahan Arumi. Namun, ia berharap semoga kali ini jodoh Arumi dan Rayyan panjang sampai ke surga-Nya.
***
Usai melakukan prosesi ijab kabul, pasangan pengantin beserta keluarga dari dua belah pihak bergegas menuju hotel tempat diselenggarakannya resepsi pernikahan. Bahkan, Firdaus, Lena serta Raihan pun turut hadir dalam acara sakral tersebut. Arumi berhasil membujuk Rayyan agar bersedia mengundang kedua orang tua serta adik tirinya hadir saat ijab kabul dan resepsi berlangsung. Meskipun hadir, tetapi sikap Rayyan terhadap mereka biasa-biasa saja. Pria itu sama sekali tak menganggap mereka ada.
__ADS_1
"Woah, Aunty Rumi cantik sekali!" puji Indah kala ia melihat Arumi digandeng Rayyan naik ke atas pelaminan.
Sepasang suami istri itu tampak serasi dalam balutan tuxedo dan gaun pengantin berwarna broken white. Gaun pengantin model ball gown dengan bagian dada dibuat lebih tertutup sesuai permintaan Rayyan membuat mempelai wanita begitu cantik bagai seorang putri raja. Dipadu make up flawless dan headpiece tiara buatan desainer terkenal membuat Arumi tampak memesona.
Rini yang duduk di sebelah Indah melirik ke arah putri sulungnya. "Pakaian, riasan dan tatanan rambut, Mama sendiri loh yang memilihnya. Bagaimana, Mama hebat tidak?" Mencari pujian kepada orang lain atas keberhasilannya karena telah membuat seluruh mata tertuju pada pengantin wanita.
Indah menganggukan kepala cepat. "Hebat! Mama hebat sekali!" serunya seraya mengangkat dua ibu jari ke udara. "Kalau Indah sudah besar, mau dirias seperti Aunty Rumi, Ma. Boleh 'kan?"
Senyum mengembang di bibir merah ranum. "Tentu saja. Mama akan membuat Indah tampak lebih cantik dari siapa pun."
"Ck! Mana bisa cantik. Indah 'kan ompong dan pipinya tembem seperti bakpao!" celetuk Bagus. Bocah kecil itu selalu mengejek kakaknya hingga tak jarang perkelahian terjadi di antara si kembar.
"Bagus!" pekik Indah, tak terima bila dirinya disamakan dengan makanan kesukaannya. Bola mata gadis kecil itu mulai berkaca-kaca.
"Sst! Bagus tidak boleh mengejek Indah. Ingat, mengejek ataupun menghina orang bukanlah merupakan perbuatan terpuji. Orang lain bisa sakit hati jika Bagus berkata seperti itu." Rio mencoba menasihati putra sulungnya secara lembut, sebab ia cemas jika kebiasaan buruk Bagus akan terbawa hingga dewasa.
Bagus menundukan kepala. Mendengarkan semua nasihat yang terucap dari bibir sang papa.
Satu per satu tamu undangan masuk ke dalam ruangan. Ballroom hotel yang mampu menampung peserta kurang lebih tiga ratus orang mulai dipadati oleh para tamu undangan. Mengusung konsep pernikahan ala fairytale, ruangan super luas itu disulap menjadi sebuah mini garden yang dipenuhi oleh bunga-bunga, pepohonan dan warna-warni lampu menciptakan suasana layaknya seperti dunia dongeng.
Senyum mengembang di bibir sepasang pengantin yang duduk di pelaminan. Arumi merasa terharu, tak menyangka ia akan menikah kembali tuk kedua kali. Tak pernah sedikit pun terbayangkan dalam benaknya jika hari bahagia itu akan menghampirinya secepat ini.
"Kamu menyukai konsep pernikahan ini, Babe?" tanya Rayyan seraya menggenggam erat jemari lentik sang istri.
"Tentu saja, Honey. Jujur, aku tak menyangka konsep pernikahan ala fairytale yang kuinginkan akan semegah ini. Lihat, dekorasi itu begitu cantik. Aku benar-benar merasa seperti Cinderella dalam dunia nyata."
Rayyan terkekeh pelan mendengar celotehan istrinya. Tampak rona kebahagiaan terlukis di wajah cantik wanita itu.
"Ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan betapa pentingnya dirimu dalam hidupku. Kamu satu-satunya wanita istimewa yang Tuhan kirimkan tuk menjadi pasanganku."
"Hanya di dekatmu, akalku tak berfungsi dengan baik. Jantungku memompa lebih kencang dari biasanya dan penyakit aneh ini tak pernah kambuh jika bersentuhan denganmu. Seolah kamu memang tercipta hanya untukmu, Babe."
Arumi menggigit bibirnya, kemudian menundukan wajah. Pipi wanita itu merah merona. Dadanya pun berdebar lembut kala mendengar kalimat manis mengandung sejuta makna.
__ADS_1
"Terima kasih, Ray, karena kamu bersedia menerima semua kekuranganku. Aku tak tahu harus berkata apa lagi tuk mengungkapkan isi hatiku di depanmu. Aku--" Tak terasa butiran kristal meluncur begitu saja di sudut mata wanita itu.
Tangan pria itu terulur ke depan. Bergerak lembut mengusut sudut mata Arumi yang berair. "Sst! Jangan pernah katakan itu lagi. Seharusnya aku yang berterima kasih padamu karena kamu sudah memberikan kesempatan padaku tuk membuktikan bahwa aku memang layak menjadi kekasih dan pendamping hidupmu."
Lagi-lagi, air mata meluncur membasahi pipi. Kalimat Rayyan membuat Arumi terbawa suasana. Alunan instrumen lagu A Thousand Years milik Cristina Perri menggema membuat suasana mengharu biru.
Tidak tahan melihat sang istri meneteskan air mata, Rayyan menarik tubuh Arumi dalam pelukan. Mengusap lembut punggung wanita itu dengan lembut.
"Jangan menangis lagi. Bagaimana jika Rio melihat ke arah kita, lalu memukuliku? Memangnya kamu mau malam pertama kita gagal gara-gara wajahku babak belur?" goda Rayyan. Sudut bibir pria itu tertarik sebelah. Jika sudah begini, ia yakin air mata Arumi akan berhenti mengalir.
Arumi mengurai pelukan. Menatap lekat manik coklat pria itu. "Mulutmu semakin pandai berucap. Bisa-bisanya berkata mesum di tempat ramai seperti ini!" dengusnya sambil mengerucutkan bibir.
Rayyan tertawa, membalas dengan kelakar. "Wajahmu saat sedang marah sangat menggemaskan. Aku ingin segera mengakhiri resepsi pernikahan ini, lalu membawamu ke kamar pengantin dan kita melakukan ritual panas yang selama ini sudah sangat kunantikan."
"Dasar mesum! Tidak tahu malu!" Bola mata wanita itu melotot. Ingin rasanya ia memukul lengan pria itu, tapi tak tega. Entah mengapa membayangkan Rayyan akan kesakitan membuat hatinya tak tega. Akhirnya ia hanya bisa diam tanpa mampu berkata-mata.
Sinar matahari semakin merangkak naik ke atas awan. Sang Surya dengan penuh percaya diri memancarkan sinarnya ke seluruh bumi. Para tamu undangan secara bergantian naik ke atas pelaminan, memberikan ucapan selamat kepada kedua pengantin baru.
Seperti biasa, pengantin pria akan menghindari bersalaman atau bersentuhan dengan lawan jenis untuk menghindari kejadian yang tak terduga. Beruntungnya sebagian tamu undangan memaklumi keadaan Rayyan sehingga mereka tak lagi tercengang akan penyakit yang diderita oleh pria itu.
Seluruh tamu undangan turut berbahagia dalam resepsi pernikahan yang digelar bertepatan dengan hari valentine. Rayyan dan Arumi memang sengaja memilih tanggal 14 Februari sebagai hari bersejarah bagi mereka, karena pasangan suami istri itu mengantisipasi jika di masa tua nanti di saat memori ingatan mulai menurun, dua insan manusia beda jenis kelamin itu selalu ingat bahwa bertepatan dengan hari kasih sayang, di saat itu anniversary mereka berlangsung.
Di antara lautan manusia yang hadir turut memberikan do'a restu, seseorang duduk di kursi sambil menatap nanar ke arah pelaminan. Memperhatikan betapa bahagianya sepasang suami istri di depan sana, membuat hatinya terasa sakit. Akan tetapi, inilah kenyataan yang harus diterima olehnya.
"Ikhlaskan semuanya, maka hatimu akan lapang," ucapnya lirih, ia menyesap air minum di dalam gelas hingga tersisa setengahnya. Tubuhnya terasa panas melihat pemandangan di depan sana. Kendati begitu, ia tetap memanjatkan do'a terbaik bagi pasangan pengantin itu.
.
.
.
__ADS_1