
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat dengan sempurna di pipi mulus Naila. Saking kerasnya hingga meninggalkan jejak kelima jari Putra tercetak sempurna di sana, menyisakan rasa sakit yang begitu nyeri hingga ke ulu hati.
Selama menikah, Putra baru kali ini melakukan tindakan kekerasan pada Naila. Semarah-marahnya dia, tak pernah sedikit pun melukai fisik istrinya bahkan untuk meninggikan nada suara di hadapan wanita itu pun tidak berani. Bagi ayah satu anak, Naila bagaikan sebuah barang antik yang sangat berharga hingga tak boleh lecet apalagi terluka sedikit pun.
Namun, kali ini kesabaran Putra sudah habis. Ia sudah tak dapat meredam amarahnya saat mendengar Naila bersikap tidak sopan dan seakan menantangnya. Oleh karena itu, ia memberikan pelajaran pada Naila agar lebih dapat menjaga lisan saat berbicara dengan suami.
Mata Naila terbelalak sempurna, tak menyangka jika Putra berani menamparnya dengan sangat keras.
"Mas, beraninya kamu menamparku!" pekik Naila seraya menyentuh pipinya yang terasa sakit. Wajahnya terasa panas akibat tamparan keras itu.
"Kesabaranku sudah habis Naila! Jika dulu aku diam saja saat kamu menghinaku, tapi kali ini tidak! Aku akan menamparmu jika kamu terus bersikap tak hormat kepadaku!" sembur Putra dengan sorot mata berapi-api. Kilatan emosi terlukis jelas di bola mata pria itu.
Putra benar-benar emosi karena Naila tak pernah sedikit pun menghargainya sebagai seorang suami. Ia selalu memberikan yang terbaik untuk wanita itu namun sang istri tak pernah menghargainya. Meskipun Naila melayaninya dengan baik tapi wanita itu tak pernah menghormati Putra sebagai kepala rumah tangga, selalu ingin menang sendiri dan egois.
Naila masih menyentuh pipinya baru saja ditampar oleh Putra. Menatap sinis ke arah pria itu. "K-kamu, tega melakukan KDRT kepadaku?" Seakan tak percaya dengan semua kata-kata yang keluar dari mulut sang suami.
Tanpa ada keraguan sama sekali, Putra menganggukan kepala. "Benar. Jika mulutmu tak bisa dijaga dengan baik, aku tidak segan-segan menamparmu untuk kedua kali. Sama seperti tadi!"
"Bahkan, aku bisa saja membungkam mulutmu itu hingga kamu tak dapat berbicara sama sekali!"
Seketika Naila membeku di tempat saat mendengar nada suara yang menurut wanita itu terdengar seperti sebuah ancaman.
Hari ini, Putra benar-benar telah berubah menjadi sosok pria yang menyeramkan. Bukan lagi Putra yang dulu. Seorang pria penurut yang dijadikan layaknya sebuah boneka bagi Naila. Mematuhi apa yang dikatakan oleh sang istri, mengerjakan apa yang diucapkan dan selalu bersabar walau tak jarang wanita paruh baya itu terkesan menginjak harga dirinya sebagai seorang suami.
Tanpa sadar, air mata Naila luruh. Mata memerah dan hidung terasa masam. Kejadian hari ini membuat Naila sedikit terkejut atas perubahan sikap Putra yang terkesan lebih tegas dan tak segan berbuat kasaar padanya.
"Jangan memasang wajah memelas di hadapaku, Ma, sebab selamanya aku tidak akan pernah lagi termakan oleh bujuk rayumu. Sudah cukup bagiku selama ini menjadi boneka bagimu. Kini, saatnya aku bersikap tegas terhadapmu. Melakukan tugasku sebagai seorang suami yang selalu menegurmu saat tengah melakukan kesalahan."
__ADS_1
Sejujurnya, melihat air mata Naila yang meluncur membasahi pipi membuat hati terasa sakit bagai ditusuk oleh ratusan jarum. Namun, bila teringat bagaimana congkaknya sikap wanita itu serta perlakuan sang istri yang tak patut dicontoh oleh istri mana pun, membuat ia mengenyahkan rasa sakit dalam dirinya. Ia bertekad menjadi sosok suami tegas yang tak mudah ditindas oleh istrinya.
Putra pun sadar melakukan kekerasan dalam rumah tangga bukanlah jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah. Akan tetapi, sikap Naila sudah keterlaluan. Selama ini ia bisa bersabar, berharap sang istri sadar jika yang wanita itu lakukan adalah sebuah kesalahan. Namun, rupanya Naila tidak pernah sadar dan terpaksa Putra menampar istrinya untuk pertama kali.
"Kamu berubah, Mas. Bukan lagi suami yang lemah lembut dan sangat mencintaiku. Kamu berubah menjadi suami yang jahat, selalu menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah," seru Naila lirih. Berjalan perlahan mendekati sofa.
Putra mendesaah panjang. "Seharusnya aku melakukan ini dari dulu agar kamu sadar dan bisa lebih menghargaiku sebagai seorang suami. Seandainya kamu lebih menghormatiku dan menjaga tutur katamu, aku tidak mungkin mendaratkan sebuah tamparan di pipi."
"Lagi pula, sikapku berubah karena kamu tidak pernah menyadari kesalahanmu selama ini. Selalu menghinaku, menginjak harga diriku seakan semua yang kulakukan kepadamu tidak ada arti apa-apa." Putra berujar dengan nada kesal seraya merapikan pakaiannya.
"Sudahlah, masalah kita sampai di sini. Kedepannya, jika kamu tidak mau mendapatkan pelajaran seperti tadi, jaga lisan dan tingkah lakumu di hadapanku." Putra meraih kunci mobil yang ada di dalam wadah dekat kabinet televisi. Pria itu berlalu begitu saja tanpa berpamitan pada Naila.
"Mas, kamu mau pergi kemana?" sergah Naila kala melihat Putra melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.
Seketika langkah kaki Putra terhenti, ia membeku di tempat. Pria itu memejamkan mata, mengumpulkan keberanian untuk berkata sejujurnya. Ia yakin, Naila pasti marah jika mendengar bahwa dirinya akan pergi menemui Arumi.
"Mas ... jawab aku. Kamu mau pergi kemana pagi-pagi sekali?" Naila terus menanyakan pertanyaan yang sama pada suaminya. Rasa cemas berbalut kekepoan yang hakiki membuat wanita itu tidak sabar ingin mendengar jawaban pria yang telah hidup bersamanya selama hampir tiga puluh tahun.
Sontak, Naila terperanjat dari kursi. Dengan gerakan cepat ia berlari menghampiri Putra, berdiri di hadapan pria itu seraya merentangkan kedua tangan.
"Tidak! Aku tidak mengizinkanmu menemui wanita itu!" imbuh Naila dengan nada tinggi. "Sudah kukatakan, jangan pernah menemui si Mandul itu tapi kenapa kamu bersikeras menemuinya!"
"Wanita itu hanya memberikan kesialan pada keluarga kita, jadi untuk apa membawanya kembali. Kamu mau, keluarga kita semakin kesusahan karena kehadiran dia lagi?" Naila kembali berujar dengan suara tinggi tak peduli seandainya dia ditampar lagi oleh Putra. Wanita itu hanya ingin menunjukan aksi protesnya pada sang suami.
"Aku tidak membutuhkan izinmu, karena akulah kepala keluarga di rumah ini," jawab Putra ketus.
"Tapi aku adalah ibunya Mahesa, berhak menentukan pilihan bagi anakku sendiri." Naila masih berdalih dan teguh dengan pendiriannya.
"Memang benar, kamu adalah ibunya Mahesa. Semua orang mengakui itu. Namun, kamu bukanlah ibu yang baik bagi anakmu sendiri!" sembur Putra seraya menatap sinis ke arah Naila.
__ADS_1
"Kalau kamu memang ibu yang baik tentu bersedia menemui Arumi, meminta bantuan mantan menantu kita untuk bertemu dengan Mahesa. Bukan malah membiarkan Mahesa terus terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit."
"Tidak! Pokoknya aku tidak setuju!" teriak Naila histeris. "Kamu tidak boleh menemui Arumi!" Naila memukul dada bidang Putra seperti orang kehilangan akal. Terus meracau tak jelas.
Putra tak tinggal diam, tangan pria itu mencekal dua tangan yang semakin liar memukul dadanya. "Berhentilah bersikap bodoh, Ma. Aku melakukan ini demi kebaikan Mahesa."
"Tidak! Aku tidak mau wanita itu hadir lagi dalam hidup kita!" seru Naila dengan nada cukup tinggi.
"Terserah kamu saja! Mau setuju ataupun tidak, aku tetap pergi menemui Arumi!" Lalu, Putra mendorong tubuh Naila hingga nyaris terjerembab ke belakang. Beruntungnya salah seorang ART menahan tubuh sang majikan hingga tak jatuh ke lantai.
"Mas ... Mas Putra! Berhenti, Mas!" Naila menepis tangan salah satu ART-nya. Ia berlari menyusul Putra. Akan tetapi, Putra tak mengindahkan ucapan Naila.
"Mas, buka pintunya! Kumohon, jangan temui Arumi!" Naila mengetuk jendela mobil dengan keras.
Namun, tekad Putra sudah bulat. Ingin menemui Arumi sekaligus meminta maaf pada mantan menantunya itu. Tak mau hidup dalam penyesalan yang tiada berujung.
Sang sopir masih membeku di tempat. Cukup terkejut menyaksikan drama rumah tangga antara kedua majikannya.
"Jalan, Pak!" titah Putra pada pria yang duduk di balik kemudi.
"Tapi, Pak ... Nyonya Naila, bagaimana?" Sopir itu tampak ragu, sebab Naila masih berada di sisi mobil.
"Tidak usah pedulikan dia! Cepat jalan!" ujar Putra tegas. Maka, sopir itu pun langsung menjalankan perintah majikannya.
Sopir itu menyalakan mesin mobil, menginjak pedal gas. Perlahan, mobil mewah milik Putra meninggalkan pekarangan kediaman Adiguna.
"Mas Putra! Dasar suami gila! Suami durhaka! Berengsek!" jerit Naila histeris kala mobil milik suaminya meninggalkan rumah mewah yang ditempatinya selama berpuluh-puluh tahun. Wanita itu terus meraung meski kendaraan roda empat yang ditumpangi sang suami telah menghilang bersamaan dengan tertutupnya pintu pagar yang menjulang tinggi ke atas.
.
__ADS_1
.
.