
Beberapa hari telah berlalu semenjak dokter Samuel mengatakan jika Mahesa akan sadar dari koma apabila Arumi datang menjenguk mantan suaminya itu. Selama itu juga, Putra berusaha membujuk Naila agar bersedia datang menemui mantan menantunya untuk meminta bantuan wanita cantik yang pernah menjadi bagian dari keluarga Adiguna namun usahanya sia-sia. Naila masih tetap dengan pendiriannya, tidak mau menemui Arumi sekalipun Mahesa selamanya tak sadarkan diri. Ia lebih memilih menunggu keajaiban tanpa mau berusaha.
"Bagaimana, sudah kamu dapatkan alamatnya?" tanya Putra pada seseorang di seberang sana.
"Sudah, Pak. Kini, dia tinggal di sebuah apartemen mewah tak jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja. Hanya sesekali saja pulang ke Tangerang menemui ibunya." Seseorang di seberang sana memberikan informasi pada Putra.
"Sudah kamu pastikan jika wanita itu tidak akan pergi ke mana-mana? Ehm ... misal, pergi ke rumah sakit."
Suara berat seorang pria di sana kembali menjawab. "Saya bisa jamin, kalau hari ini wanita itu tidak pergi ke mana-mana. Dari informasi yang saya dapat, hari ini dia ambil cuti sebab kondisi tubuhnya kurang membaik setelah pulang berbulan madu beberapa waktu lalu. Sehingga pria yang kini menjadi suaminya meminta wanita itu untuk libur selama dua hari ke depan."
Dada Putra terasa sesak kala mendengar informasi yang diberikan orang suruhannya. Bagaimana tidak, mendengar mantan menantunya kini telah hidup berbahagia bersama pria lain membuatnya teringat akan kenangan di masa lalu. Kenangan saat dirinya tak berkutik ketika Naila mencetuskan ide untuk mendekatkan Mahesa dengan Kayla sementara status sang anak saat itu masih menjadi suami dari seorang wanita cantik berdarah campuran Sunda-Jawa.
Dengan bodohnya, Putra menuruti semua kemauan Naila padahal ia tahu jika ide itu kelak akan menjerumuskan Mahesa pada sebuah lumpur yang bernama pengkhianatan. Namun, ia seperti kerbau yang dicucuki hidungnya karena tidak membantah kehendak istrinya.
Akibatnya, kini bencana besar datang melanda sehingga membuat semuanya jadi berantakan. Rumah tangga harmoni berakhir di meja persidangan, anak hasil persekingkuhan dengan wanita lain meninggal sebelum dilahirkan ke dunia. Perusahaan nyaris gulung tikar, bila tak secepatnya mendapat klien yang bersedia menanamkan modal usaha untuk kembali membangun perumahan maupun pertokoan di Adiguna Properti.
"Pak ... Pak Putra. Apakah Bapak masih mendengar saya?" tegur seseorang di seberang sana. Sedari tadi, orang suruh Putra terus berbicara tapi ayah dari Mahesa tak merespon sama sekali.
Mendengar suara orang suruhannya, membuat kesadaran Putra kembali. Pria itu berdehem menyingkirkan segerombolan kaktus yang menyangkut di tenggorokan.
"Ya ... saya masih mendengarmu. Ada lagi yang ingin disampaikan?" tanya Putra setelah dapat kembali mengendalikan diri.
"Cukup, Pak. Hanya segitu saja informasi yang ingin saya sampaikan. Setelah alamat lengkap sudah saya kirim."
"Baik. Upahmu akan saya kirimkan secepatnya. Terima kasih." Sambungan telepon terputus. Suasana pun kembali hening.
Terdengar helaan napas kasar keluar dari hidung Putra. Berdiri di taman belakang seraya memandang hijaunya pepohonan serta bunga-bunga bermekaran membuat hatinya sedikit damai. Semilir angin sepoy-sepoy menerpa wajah pria paruh baya itu hingga menerbangkan anak rambut yang menutupi sebagian keningnya.
"Dengan atau tanpa persetujuan darimu, aku tetap menemui Arumi saat ini juga, Ma. Demi kesembuhan Mahesa, aku rela bersimpu di hadapan mantan menantu kita," gumam Putra.
Setelah itu, ia langsung membuka aplikasi m-Banking mentransfer nominal uang untuk orang suruhannya.
["Sudah saya transfer. Bisa kamu cek di rekeningmu sekarang.] Pesan terkirim.
__ADS_1
Tanpa menunggu balasan dari orang di seberang sana, Putra segera memasukan telepon genggamnya ke dalam saku celana dan melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
Naila yang saat itu baru saja turun dari lantai dua, sedikit heran melihat penampilan Putra. Terlihat lebih rapi mengenakan pakaian kasual dibanding biasanya. Tubuh tegap pria itu terbalut kaos berkerah berwarna coklat muda dan celana jeans memungkus kaki.
Walaupun usianya tak lagi muda, tubuh Putra tetap terlihat segar seperti berusia 40 tahun-an. Karena ia pandai berolahraga di sela kesibukannya mengurus perusahaan yang nyaris kolaps.
Kening wanita paruh baya itu mengerut petanda bingung. Sikap Putra terkesan acuh semenjak pertengkaran mereka beberapa hari lalu.
"Pa ... kamu kok mengenakan pakaian kasual, memangnya tidak pergi bekerja?" Naila membuka suara, mencairkan suasana agar lebih hangat.
Rumah tangga yang telah dibina selama kurang lebih hampir tiga puluh tahun mulai terasa dingin, tidak ada lagi tawa, canda serta kebahagiaan. Yang ada hanya ketegangan serta kehampaan sebab satu-satunya sumber kebahagiaan itu kini sedang berada di rumah sakit.
Benar. Sumber kebahagiaan Putra dan Naila adalah Mahesa, anak semata wayang yang dibesarkan penuh cinta oleh kedua orang tuanya. Sebagai satu-satunya anak tunggal dan cucu pertama di keluarga Adiguna, Mahesa mendapatkan limpahan kasih sayang dari orang tua, kakek nenek serta saudara-saudaranya yang ada di Bandung.
Kelahiran Mahesa sangat dinanti, sebab semua saudara kandung Putra mengalami kesulitan untuk dapat hamil sehingga saat mereka tahu Naila mengandung, seluruh anggota keluarga Adiguna menyambut kabar itu dengan suka cita.
Putra melirik sekilas ke arah Naila, lalu kembali memandang lurus ke depan. Menatap sebuah bingkai foto dengan latar belakang Menara Eiffel, terdapat satu keluarga yang tersenyum bahagia ke arah kamera.
"Tidak. Hari ini sengaja memilih meliburkan diri, sebab ada hal penting yang harus kukerjakan." Kembali melangkah menuju ruang makan. Sepatu pantofel yang dipakai terlihat mengkilap, setiap hentakan menimbulkan gema memenuhi ruangan.
"Memangnya Papa mau mengerjakan hal penting apa? Setahu Mama, urusan pekerjaan bukankah lebih penting dibanding urusan lain. Melihat kondisi perusahaan sedang memburuk, lebih baik Papa menyelesaikannya semua ketimbang mengurus hal lain yang tidak menghasilkan uang sama sekali," tutur Naila tanpa memikirkan apakah suasana hati Putra sedang bagus atau tidak. Mengoceh tanpa jeda hingga membuat langkah sang suami berhenti.
Terlalu asyik berbicara, Naila tak menyadari jika Putra menghentikan langkahnya. Sehingga wanita itu menabrak punggung suaminya.
"Aduh! Papa ini kenapa sih! Menghentikan langkah secara tiba-tiba!" gerutu Naila ketika kening wanita itu menabrak punggung Putra. Meskipun tidak terasa sakit, tapi tetap saja ia merasa kesal karena bedak yang menempel di wajah tertinggal di pakaian belakang milik suaminya.
Perlahan, Putra memutar badanya menghadap Naila. Ditatapnya wajah wanita yang selama ini ia nikahi. Lalu, detik berikutnya pria itu tersenyum mengejek ke arah sang istri.
"Jadi, menurutmu ... perusahaanku lebih penting dibanding hal lain. Begitu?" Putra tersenyum smirk seraya menghunuskan tatapan dingin. Memandang intens sosok wanita yang dulu teramat ia cintai.
Pandangan Naila dan Putra bertemu di udara. Kedua insan manusia itu saling memandang satu sama lain.
Jika dulu timbul getaran halus menyelinap dalam hati sang jantan, namun kali ini tidak. Putra sama sekali tak merasakan itu. Jika dulu jantungnya berdegup kencang setiap kali menatap manik coklat milik sang istri, kali ini jantungnya sama sekali berdegup normal. Tidak ada parade sama sekali di dalam sana.
__ADS_1
Entah ke mana gejolak yang pernah Putra rasakan dulu kala menatap wajah cantik Naila. Sosok wanita yang membuatnya tergila-gila, menjadikan pria itu seperti orang bodoh karena rela menggelontorkan uang banyak demi memperistri ibu dari anaknya. Cinta buta telah membuat pria itu menjadi pribadi yang berbeda hingga merubahnya menjadi mertua yang kejam karena tega merusak rumah tangga harmonis yang dibina oleh anak kandungnya bersama Arumi.
Dipandang sedemikian intens, membuat Naila merinding. Sorot mata itu tajam dan menakutkan.
Tanpa sadar, Naila mundur dua langkah ke belakang. Wajah terlihat pucat sambil sesekali meremaas jemari tangan.
Dengan gugup Naila menjawab. "B-benar, Pa. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana cara Papa mengembalikan lagi perusahaan kita agar bangkit seperti sedia kala. Kita masih butuh banyak uang un--"
"Untuk kamu gunakan berfoya-foya bersama teman geng sosialitamu itu 'kan?" tebak Putra tanpa membiarkan Naila menyelesaikan kalimatnya.
Naila pun terdiam beberapa detik, tak mengira jika Putra dapat membaca isi pikirannya saat ini. Tak ingin kena sembur suaminya, wanita itu berubah menjadi sosok wanita yang anggun dalam hitungan detik.
"T-tentu saja tidak," elak Naila dengan terbata-bata. "A-aku tidak terpikirkan ke situ. Kamu jangan berburuk sangka dulu padaku." Memaksakan diri tersenyum kaku, kemudian membalikan tubuh membelakangi Putra.
'Sial! Kenapa sekarang sikap Mas Putra berubah menjadi sangat menyeramkan. Apakah dia masih kesal atas pertengkaran kami beberapa hari lalu?' batin Naila.
"Pa ... tidak baik loh berburuk sangka terus pada istri. Mama 'kan berbicara begitu karena kita masih membutuhkan banyak biaya untuk perawatan Mahesa. Papa mesti mencari uang banyak agar Mahesa lekas sembuh."
Sontak, Putra terkekeh mendengar perkataan Naila. Suara berat pria itu membahana memenuhi ruangan. Namun, bagi Naila suara tawa pria itu bagaikan terompet kematian yang dapat mencabut nyawanya detik ini juga.
"Mama ... Mama ... kamu pikir aku ini bodoh? Yang bisa kamu tipu sesuka hati!" sembur Putra setelah puas tertawa. Menertawakan kebodohan Naila yang tidak pernah peduli sedikit pun akan nasib Mahesa.
"Aku tahu isi kepalamu itu hanya ada uang dan uang. Kamu tidak sedikit pun memikirkan cara untuk menyembuhkan Mahesa. Kamu ... cuma memikirkan cara bagaimana bisa berbelanja, nongkrong dan bergosip membicarakan keburukan mantan menantu kita. Benar 'kan tebakanku?" Menaik turunkan kedua alis sambil menatap sinis ke arah istrinya.
Naila membelalakan mata sempurna. Lagi-lagi Putra dapat membaca isi pikirannya.
Tak ingin disudutkan, Naila membalas tatapan Putra dengan sorot mata tajam. Melipat kedua tangan ke dada seraya berkata. "Tahu dari mana kamu, kalau isi pikiranku cuma ada uang dan uang. Memangnya kamu paranormal yang bisa membaca isu pikiran orang lain?"
"Jadi suami itu, jangan sok tahu! Asal tuduh tanpa ada bukti yang kuat maka jatuhnya fitnah. Kamu tahu heh. Fit--nah!" Naila menegaskan kalimat terakhir.
.
.
__ADS_1
.