Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Aksi Protes Zahira


__ADS_3

Akhirnya, Arumi beserta ketiga bayi kembarnya sudah diperbolehkan pulang ke apartemen. Wanita itu sama sekali tak mendengar musibah yang menimpa Lena, sebab Rayyan meminta seluruh tenaga medis yang tertugas di ruang VVIP tidak membahas soal itu saat tengah bertugas. Pria yang pernah mengenyam pendidikan di negeri Sakura, tidak mau jikalau kabar tentang Lena mengganggu kebahagiaannya bersama istri dan anak-anaknya.


Beruntungnya saat Lena menjerit histeris karena belum bisa menerima kenyataan buruk telah menimpa dirinya, Arumi tengah terlelap bersama si cantik, Zahira.


"Hati-hati, Babe!" seru Rayyan ketika melihat Arumi sedikit kesusahan ketika hendak menidurkan Zahira di atas ranjang. Pria itu dibantu Nyimas sedang merebahkan tubuh mungil Ghani dan Zavier ke atas box bayi yang ada di sebelah kamar utama.


Bayi mungil berjenis kelamin perempuan yang wajahnya begitu mirip dengan sang ayah sejak semalam enggan lepas dari gendongan bundanya. Dia begitu manja dibanding Ghani dan Zavier. Oleh karena itu, untuk sementara waktu si bungsu akan tidur di kamar utama sedangkan kedua kakak Zahira tidur di kamar bayi.


Setelah memastikan Zahira tertidur pulas, barulah Arumi duduk di atas ranjang. Rayyan menumpuk beberapa bantal di belakang punggung sang istri dan menarik selimut hingga menutupi bagian pinggang ke bawah.


"Aku sengaja meminta Pak Burhan membuat pintu penghubung antara kamar utama dengan kamar bayi agar memudahkan kita saat Triplet menangis. Jadi, tak perlu berjalan keluar kamar hanya untuk memberikan ASI ataupun mengganti popok mereka," ujar Rayyan. Memberikan penjelasan kepada Arumi, sebelum wanita itu bertanya.


Arumi tersenyum kecil, lalu menangkup kedua rahang Rayyan yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus. Wanita itu begitu menyukai penampilan suaminya yang sekarang. Bagi dokter cantik itu, Rayyan terlihat lebih macho dan terkesan seksi.


"Terima kasih, Honey, karena kamu selalu mengerti aku."


Rayyan membawa kedua tangan Arumi, menggenggamnya dengan erat lalu mengecup lembut punggung tangan wanita itu. "Itulah gunanya pasangan, harus saling mengerti dan menerima kekurangan serta kelebihan pasangan masing-masing. Sudahlah, lebih baik kamu istirahat selagi Zahira tidur. Biarkan Ghani dan Zavier, aku dan Mama yang menjaga."


Tanpa membantah, Arumi menuruti perintah Rayyan. Membaringkan tubuh di sisi Zahira yang tampak tertidur pulas dalam balutan kain bedongan berwarna merah jambu.


"Kalau butuh apa-apa, panggil saja aku atau Mbak Tini. Jangan memaksakan diri keluar kamar. Luka jahitanmu masih belum sembuh total. Aku khawatir terjadi hal buruk menimpamu kalau terlalu banyak melakukan aktivitas berat."


Terkekeh pelan mendengar perkataan Rayyan. "Ayah tenang saja, Bunda akan baik-baik saja. Bunda tidak mungkin melakukan tindakan ceroboh yang malah merugikan diri sendiri."

__ADS_1


"Baguslah kalau kamu sadar. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa. Lebih baik aku mati saja kalau hal buruk menimpamu." Memasang wajah sendu dengan bola mata mulai berkaca-kaca. Tampak jelas raut kecemasan di manik coklat pria itu.


Jemari lentik yang biasa digunakan untuk menolong pasien terulur ke depan, mengusap kembali rahang suaminya. "Iya ... aku mengerti. Tapi ... sekarang 'kan, aku baik-baik saja. Pikiranmu terlalu banyak travelling ke mana-mana, jadi ngelantur."


Rayyan mencebikkan bibir, sambil berkata. "Aku bersungguh-sungguh, Rumi. Kamu tidak tahu sih bagaimana cemasnya diriku saat Dokter Renata tak juga keluar dari pintu operasi. Saat itu, aku merutuki kebodohanku mengapa tidak menemanimu ketika melahirkan ketiga buah cinta kita. Aku merasa menjadi seorang pengecut karena tak bisa bertanggung jawab atas apa yang telah kuperbuat kepadamu."


"Kamu dan aku bekerjasama menghadirkan si kembar ke dunia ini. Seharusnya, saat kamu melahirkan, aku pun ada di sisimu bukan malah menunggu di luar seperti orang bodoh." Terdengar penyesalan mendalam dari setiap kalimat yang terucap di bibir Rayyan. "Beruntungnya Mama Nyimas datang, jadi aku dapat mengendalikan diri selama sisa waktu operasi berlangsung."


Arumi bisa membayangkan ekspresi wajah Rayyan ketika sedang cemas. Dan ia pun dapat memaklumi mengapa sekarang pria itu begitu mengkhawatirkannya. Itu semua semata-mata karena rasa cinta yang mendalam membuat pria tampan itu menjadi bucin, posesif dan over protective. Terlebih saat ini telah hadir tiga malaikat kecil terlahir ke dunia, maka Rayyan akan menjaga ketat istri kesayangannya.


Kembali tersenyum manis kepada suaminya. Dengan lemah lembut Arumi berkata. "Sudah ah, jangan dibahas lagi. Yang penting saat ini aku dan anak-anak sehat. Dan ... kita dapat membesarkan mereka bersama agar tumbuh menjadi anak-anak baik, berbakti dan dapat membanggakan keluarganya."


Rayyan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Arumi. Memandangi keindahan ciptaan Tuhan dalam sosok seorang wanita cantik yang kini resmi menjadikannya seorang ayah dari tiga bayi kembar lucu dan menggemaskan. Pria itu mengecup kening sang istri, lalu beralih ke hidung dan bibir ranum berwarna merah jambu. Bibir itu masih terasa manis meski sudah berkali-kali sang kumbang menghisap madu yang ada di dalamnya.


"Sekalipun aku menyerahkan seluruh harta yang kupunya, membawakan bintang dan bulan di atas awan belum tentu dapat membayar semua pengorbananmu itu. Aku ... hanya bisa berjanji untuk tetap setia kepadamu selamanya. Menjaga kesucian cinta hingga akhir hayat. Cuma itu yang dapat kuberikan padamu."


"Aku ...." Rayyan tak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya. Bibir pria itu gemetar disusul bulir air mata membasahi wajahnya yang tampan. Untuk pertama kalinya, ia menangis di hadapan wanita yang dicintainya.


Menangis bukan berarti sedih, melainkan merasa terharu karena setelah sekian lama hidup dalam penderitaan akibat kehilangan Mei Ling, akhirnya Rayyan dapat mengecap kembali manisnya sebuah kebahagiaan. Tuhan telah menggantikan kesedihan dalam diri pria itu dengan kehadiran sosok wanita yang begitu dicintainya. Ketiga buah cintanya bersama Arumi, semakin melengkapi kebahagiaan mereka.


Kini, Rayyan tahu betapa besarnya pengorbanan seorang ibu terhadap anak-anaknya. Ia pun sadar mengapa dulu Mei Ling tetap bertahan meski jelas-jelas cintanya Firdaus bukanlah untuk wanita cantik itu. Semua itu demi kebahagiaannya.


Andai saja Mei Ling tahu, jikalau anaknya itu pun mengetahui bagaimana perasaan sang papa terhadap mamanya, akankah wanita itu terus bersikap seolah semuanya baik-baik saja? Ataukah Mei Ling pergi dari rumah dan hidup berdua saja dengan Rayyan?

__ADS_1


Arumi membalas tatapan Rayyan dengan sendu. Hati wanita itu terenyuh mendengar ucapan suaminya. Memang benar, ia telah mengorbankan semuanya demi pria itu. Namun, ia ikhlas melakukan itu semua, demi lelaki yamg dicintainya.


Meskipun Arumi sempat meragukan Rayyan, sebab ketulusan cinta yang diberikan kepada Mahesa telah dinodai, tetapi pria bermata sipit itu membuktikan jikalau sang direktur rumah sakit memang layak 'tuk diberikan kesempatan. Layak mendapatkan cinta, kasih sayang dan juga kesetiaan yang dimiliki oleh Arumi.


"Kamu tidak perlu membalas atas semua pengorbanan yang telah kuberikan padamu. Cukup menjadi suami dan ayah yang baik bagi Triplet, aku sudah bahagia. Kamu, aku dan ketiga anak-anak menjalani kehidupan ini bersama-sama," balas Arumi. Tak banyak kata yang diucapkan oleh Rayyan. Ia kembali memberikan kecupan di bibir istrinya.


"Ululu ... anak Bunda menangis. Kamu pasti lapar ya kepingin mimik, Nak?" ucap Arumi saat mendengar lenguhan Zahira. Bayi cantik itu merengek sesaat setelah benda kenyal milik ayahnya mendarat mulus di bibir sang bunda.


Rayyan mendengkus, pura-pura kesal karena kebersamaan dengan Arumi terganggu akibat ulah jail si bungsu. "Bukan mau mimik, tetapi sengaja mengganggu Ayah Bunda-nya agar tidak khilaf dan menjadikan dia kakak sebelum waktunya."


Arumi terkekeh seraya bangkit dari tidurnya. Duduk di sandaran ranjang, sementara Rayyan membantunya membawa Zahira dalam dekapan bunda-nya.


"Cup-cup-cup. Sudah ya, Anak Cantik. Jangan menangis lagi. Bunda dan Ayah belum akan memberimu adik sebelum kalian berusia lima tahun." Ajaibnya, setelah mengucapkan kalimat itu, Zahira kembali terdiam sambil meminum ASI langsung dari pabriknya.


"Ck! Aku yakin, kelak setelah besar dia akan mengganggu kita saat bermesraan," keluh Rayyan. Namun, Arumi tak memedulikan ucapan suaminya. Wanita itu hanya tersenyum sambil mengusap lembut pipi Zahira.


Namun, Ayah tetap sayang kamu dan kedua kakak-mu, Nak.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2