Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Marah Tak Beralasan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Arumi sudah bermeditasi di atas matras yoga berwarna biru. Udara sejuk di pagi hari serta semilir angin di tepi pantai memberikan ketenangan pada wanita itu. Sejak diberitahu jika ia akan pergi ke Bali mewakili rumah sakit dalam acara seminar nasional yang diadakan oleh Kementrian Kesehatan, ia menyiapkan semua keperluan selama mengikuti acara tersebut. Termasuk menyiapkan alat-alat yang biasa digunakan untuk latihan yoga.


Kepergian Mahesa dari rumah memberikan tekanan tersendiri bagi Arumi. Tuntutan pekerjaan serta desakan mertua untuk segera memiliki keturunan membuatnya stress dan mengalami gangguan tidur. Untung saja Rini, sebagai sahabat yang baik mencegah penyakit itu agar tidak semakin memburuk. Sahabatnya itu juga yang mengajak Arumi untuk mengikuti kelas yoga, berharap bisa menyembuhkan semua masalah kejiwaan dalam diri wanita yang berprofesi sebagai dokter bedah.


"Melakukan gerakan yoga dengan pemandangan pantai dan ditemani semilir angin benar-benar membuat moodku kembali baik. Aku seakan melupakan masalah yang sedang menghantam rumah tanggaku," lirih Arumi setelah ia selesai melaksanakan semua gerakan yoga yang ditonton olehnya lewat aplikasi youtube.


Duduk bersila sambil berjemur di bawah sinar mentari, membuat tubuhnya terasa hangat dan kembali bersemangat untuk menghadapi hari ini.


Di saat ia tengah menikmati pemandangan sekitar, terdengar suara bel pintu berbunyi. "Pasti room service lagi," gumamnya seraya melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Tidak ingin orang di balik pintu itu mengganggu ketenangan vila, ia bergegas bangkit menuju daun pintu.


"Permisi, Bu. Ini sarapannya." Pria berseragam batik itu tersenyum ramah ketika seorang wanita membukakan pintu vila.


Masih mengenakan kaos dan celana yoga berbahan elastis, ia membuka pintu lebar. Menggeser tubuhnya ke sisi sehingga memudahkan pelayan itu masuk ke dalam dengan mendorong troli makanan.


"Semua makanan itu tolong diletakan saja di atas meja makan!" seru Arumi. Pelayan itu menganggukan kepala. Kemudian melakukan semua permintaan pelanggannya dengan patuh.


Setelah pelayan itu pergi, seperti biasa Arumi akan menata kembali semua hidangan yang ada di atas meja makan. Dua piring nasi goreng seafood lengkap dengan buah-buahan, pudding dan juga jus serta susu tersedia di atas meja.


"Ah ... aku jadi teringat saat masih berstatuskan sebagai istri dari Mas Mahes. Setiap kali makan, aku akan selalu menata meja dan menyiapkan makanan untuk suamiku." Matanya berbinar bahagia kala membayangkan betapa harmonisnya dulu rumah tangganya dengan Mahesa. Jauh sebelum pria itu selingkuh. "Namun, kini peranku sudah direbut secara paksa oleh Ja*ang itu!"


"Sudahlah, setidaknya bebanku sebagai istri telah terangkat bersamaan dengan gugatan cerai yang kulayangkan. Semoga proses perceraian kami cepat selesai dan aku bisa memulai hidup baru tanpa ada bayangan keluarga Adiguna."


Ketika Arumi sedang berperang dengan pikirannya, terdengar suara pintu terbuka. Rayyan keluar dari kamar mengenakan kaos casual dan celana pendek selutut. Ia sengaja mengenakan setelan itu sebab hari masih terlalu pagi untuk pergi ke acara seminar.


"Dari mana semua makanan ini berasal? Kamu tidak mencurinya dari pelayan hotel 'kan?" tanya Rayyan sinis. Ia menuang air mineral ke dalam gelas. Mencuri-curi padangan pada wanita yang berpakaian seksi di sisinya.


Tidak ada yang salah pada pakaian wanita itu. Arumi mengenakan celana panjang serta kaos yang biasa digunakan oleh wanita ketika melakukan latihan yoga. Namun, entah mengapa di mata Rayyan, tubuh partner kerjanya itu begitu mengoda. Lekukan serta kemolekan tubuh tercetak jelas di sana.


"Hari ini penampilan Dokter Arumi berbeda dari biasanya," batin Rayyan. Matanya masih memandangi wanita itu. "Tak kusangka ia memiliki postur tubuh yang nyaris mendekati sempurna."

__ADS_1


Arumi mencebik. "Dokter pikir, saya tidak punya pekerjaan lain yang dapat dikerjakan selain membegal pelayan itu agar dia membawakannya ke vila kita!"


Mendadak wanita itu menjadi kesal mendengar ucapan atasannya. Awalnya ia bersemangat menyambut hari baru namun Rayyan malah menghancurkannya.


"Dokter selalu saja memandang saja dari sisi yang jelek. Sesekali nilai saya dari sisi yang lain. Ada banyak hal baik yang ada di dalam diri saya loh, Dok. Jangan diingat yang buruknya terus."


"Baiklah. Sekarang, kamu ceritakan dari mana semua makanan ini berasal?" Rayyan menurunkan egonya agar wanita itu tidak merajuk, layaknya anak kecil yang dilarang oleh sang mama ketika meminta dibelikan permen.


Arumi menatap rekan kerjanya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Melihat pria itu berpakaian casual, membuatnya tiba-tiba saja terpesona oleh keindahan ciptaan Tuhan yang satu ini. Padahal, sejak kemarin partner kerjanya itu telah mengenakan pakaian santai tetapi ia baru menyadarinya sekarang.


"Dokter Rayyan cukup menarik mengenakan pakaian itu. Sangat pas di tubuhnya yang atletis."


Merasa dirinya sedang diperhatikan, Rayyan sengaja mencari celah untuk menggodanya lagi. "Saya tahu Dokter Arumi pasti terpesona 'kan oleh ketampanan saya?" guraunya. Menarik kursi makan lalu mendudukan bokongnya.


Bola mata Arumi terbelalak sempurna. Alis saling tertaut satu sama lain. "Dih, Dokter jangan GR dulu. Memangnya siapa yang memuji ketampanan Anda." Meskipun dalam hati memuji ketampanan pria itu tetapi ia gengsi untuk mengakuinya.


Wanita itu teringat akan pertanyaan Rayyan. "Semua makanan ini dibawakan oleh pihak penginapan. Kita masih mendapatkan jatah makan hingga nanti malam." Arumi mengalihkan pembicaraan.


Anggukan kepala dipilih Arumi sebagai jawaban.


Tatapan tajam menghujam Arumi. Rahang mengeras hingga menonjol keluar. "Dokter Arumi menerima tamu pria dengan pakaian ini?" Rayyan meninggikan suaranya.


Arumi kembali menganggukan kepala. "Benar. Saya baru saja selesai latihan yoga. Kebetulan room service itu datang ke mari. Tidak mungkinlah saya masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Yang ada, dia kembali ke dapur dengan membawa makanan kita. Jika itu terjadi, kita akan sarapan apa?" jawab wanita itu santai.


"Sialan!" maki Rayyan. Tanpa sadar ia membanting gelas kosong yang ada dalam genggamannya.


Mendengar dentingan keras menghantam meja membuat Arumi terlonjak. Refleks ia mundur selangkah ke belakang. Sorot mata Rayyan begitu menyeramkan. Deru napas pria itu terengah-engah.


"Aduh, Dokter Rayyan kenapa lagi sih? Kenapa mood-nya sering berubah-ubah."

__ADS_1


Dengan penuh emosi, pria itu menarik tangan Arumi mendekati sebuah cermin besar yang ada di ruang tamu.


"Lihat dirimu di cermin itu! Apakah pantas seorang wanita berpakaian seksi seperti ini kemudian menerima tamu laki-laki tanpa ditemani orang lain!" sungutnya berapi-api. "Bagaimana jika dia melecehkan Dokter!"


"Zaman sekarang, banyak laki-laki yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk mengambil keuntungan. Dengan dalih khilaf dan tak sengaja, mereka sengaja menuntaskan hasr*tnya pada kaum Hawa."


Sumpah demi apa pun, ingin rasanya Arumi menampar pria yang berdiri di sisinya. Dengan tidak sopannya ia menarik tangannya lalu memarahinya hanya gara-gara menerima tamu laki-laki dengan pakaian yang dikenakan olehnya sekarang. Sungguh, kemarahan yang tak beralasan.


"Dokter, saya ini berpakaian tertutup loh. Tidak ada anggota tubuh yang terekspos. Bagaimana Dokter mengatakan pria itu akan melecahkan saya!" Arumi mencoba membela diri. Ia tidak terima jika atasanya itu memarahinya.


Rayyan mendengus. Ia merasakan seluruh aliran darahnya memanas. Membayangkan pria lain menikmati kemolekan tubuh Arumi membuatnya semakin emosi. Separuh hatinya tidak terima bila ada orang lain masuk ke dalam vila ini lalu memandangi kesempurnaan lekukan tubuh partner kerjanya itu.


"Pokoknya, lain kali tidak boleh menerima tamu dalam keadaan begini. Jika ada tamu pria, biar saya saja yang membuka pintu. Kamu lanjutkan saja aktivitasmu!" keukeuh Rayyan.


TBC


.


.


.


Yuk kak, mampir ke karya milik teman otor. Ceritanya juga seru loh !


Judul : Dokter Misterius VS Mafia Kejam


Nama pena : Anisyah S


Blurb : Kecelakaan pesawat membuat Vitalia mengalami hilang ingatan (amnesia), yang pada akhirnya Ia bertemu dengan keluarga barunya, mereka mengira bahwa Vitalia adalah Putrinya yang telah lama menghilang, karena wajahnya yang mirip dengan Putrinya. Bagaimanakah Vitalia akan menjalani hidup bersama keluarga barunya??, lalu apakah Vitalia bisa berkumpul kembali dengan keluarganya dan bertemu dengan musuhnya semasa kuliah di Oxford University untuk membalaskan dendamnya yang tak berujung??

__ADS_1



__ADS_2