
Dilamar dengan cara yang manis merupakan impian terbesar bagi kaum wanita di bumi ini, tanpa terkecuali Arumi. Wanita cantik berusia dua puluh tujuh itu pun memiliki impian yang sama seperti wanita di luaran sana, tapi siapa sangka dipernikahannya yang kedua ia akan mendapatkan lamaran manis sama seperti pernikahannya terdahulu. Rayyan, pria dingin yang dulu begitu membenci Arumi telah melabuhkan hatinya pada mantan istri Mahesa.
Usai meminang Arumi di hadapan Nyimas dan disaksikan oleh Rio, Rini serta mama Rio, akhirnya Rayyan berhasil menyematkan cincin berlian di jari manis sang dokter. Tanggal pernikahan pun telah ditentukan.
Dua minggu setelah pertunangan, akad nikah akan diadakan di kediaman mempelai wanita. Sementara resepsi pernikahan, Rayyan sengaja memilih Mandarin Hotel sebagai tempat berlangsungnya acara pesta yang diperkirakan akan mengundang tamu kurang lebih tiga ratus orang. Tidak main-main, Rayyan rela merogoh kocek hampir ratusan juta rupiah demi berlangsungnya pernikahan mewah versi dokter bedah.
Walaupun ini bukanlah pernikahan pertama bagi calon mempelai wanita, tapi Rayyan ingin memberikan yang terbaik untuk kekasih tercinta. Mulai dari seserahan, mahar, gedung dan katering, semua adalah yang terbaik menurut pria berdarah Tionghoa.
"Dokter Rayyan sudah siap?" Arumi melangkah mendekati calon suaminya yang tengah berdiskusi dengan dokter koas dan dua orang perawat wanita. Dalam balutan snelli putih, rambut panjang dicempol ala wanita Korea, ia tampak memesona. Wajah cantik bak boneka Barbie dengan kulit putih mulus tanpa cacat sedikit pun.
Rayyan yang saat itu masih berdiskusi dengan timnya, membahas rencana operasi yang akan dilakukan sebelum hari pernikahan menoleh secara bersamaan ke sumber suara. Wajah dingin tanpa ekspresi seketika berubah menjadi hangat kala melihat calon ibu dari anak-anaknya berjalan anggun mendekatinya.
"Selamat siang, Dokter Arumi," sapa dokter koas dan kedua perawat senior.
Arumi mengulum senyum ke arah mereka seraya menjawab, "Selamat siang juga." Tampak rona kebahagiaan terlukis di wajah wanita itu, sebab dalam waktu dua belas hari ke depan, ia akan dinikahi pria tampan yang menjadi incaran seluruh kaum Hawa di rumah sakit itu.
"Tunggu sebentar. Aku akan menyelesaikannya dalam waktu dua menit."
Terdengar kekehan pelan bersumber dari Arumi. "Nope! Lanjutkanlah. Aku tidak akan mengganggu kalian." Kemudian, wanita itu memilih berbincang dengan perawat yang berjaga di bangsal Bougenville seraya menunggu calon suaminya.
"Baiklah. Saya rasa cukup sampai di sini. Kalian tolong persiapkan semuanya dengan baik. Operasi ini adalah operasi terakhir saya sebelum melangsungkan pernikahan. Jadi, lakukan dengan sebaik mungkin. Mengerti?"
"Mengerti, Dokter!" jawab dokter koas dan dua orang perawat senior hampir bersamaan. Lalu, ketiga tenaga medis itu mengerjakan tugas yang diberikan oleh Rayyan.
"Ayo kita pergi! Rini pasti sudah menunggu kita di butik." Suara berat Rayyan menginterupsi perbincangan Arumi dan perawat yang berjaga.
Arumi menoleh ke arah Rayyan, kemudian berkata, "Aku sudah mengirimkan pesan padanya, kalau kita datang sedikit terlambat." Wanita itu bangkit dari kursi dan berdiri di sisi Rayyan.
__ADS_1
Kedua insan manusia itu saling memandang, melempar senyum satu sama lain. Pemandangan langka itu membuat siapa saja yang melihat pasti merasa iri.
"Ya sudah, sebaiknya kita berangkat sekarang!" Tangan Rayyan menggenggam erat jemari lentik Arumi.
"Sus, saya pergi dulu. Lain kali, kita sambung lagi obrolan yang tadi," ucapnya sebelum meninggalkan bangsal. Perawat wanita yang bekerja di balik meja kerja hanya tersenyum sebagai jawaban.
***
"Selamat siang, Bapak dan Ibu." Pelayan butik berseragam putih dengan tatanan rambut disanggul menyapa sepasang kekasih itu dengan ramah.
"Selamat siang. Saya janji bertemu dengan Dokter Rini, apakah dia sudah ada di dalam?" tanya Arumi memastikan bahwa sahabatnya itu telah datang terlebih dulu di butik milik mantan salah satu klien Rini.
Pelayan butik itu menganggukan kepala sambil berkata, "Sudah. Bahkan di dalam sudah ada Bu Sarah juga tengah berbincang dengan Dokter Rini."
"Baiklah. Kalau begitu, kami masuk dulu. Terima kasih."
"Kalian ini, kenapa baru datang sekarang?" dengus Rini pura-pura kesal. Sejujurnya ia tidak benar-benar marah pada sepasang kekasih yang baru saja tiba di butik.
Menunggu selama hampir dua puluh menit memang membuat Rini bosan, tapi beruntungnya ia bertemu kembali dengan mantan pasiennya dulu sehingga rasa bosan karena menunggu seseorang bisa teralihkan.
"Apakah kalian tidak tahu, waktuku itu sangat berharga hanya sekadar menunggu kedatanganmu dan pria itu." Rini memandangi Arumi, kemudian menunjuk menggunakan ujung dagu ke arah Rayyan.
Arumi tersenyum kaku, karena merasa tidak enak hati membuat sahabatnya itu dan Sarah--pemilik butik menunggu terlalu lama. Sementara Rayyan bersikap cuek, tak tertarik mendengarkan ocehan tidak berfaedah yang keluar dari bibir istri sahabatnya.
"Aduh, maaf ya. Tadi Rayyan harus menyelesaikan pekerjaannya dulu. Masih ada operasi besar yang ditangani oleh calon suamiku sebelum mengambil cuti," tutur Arumi menjelaskan mengapa mereka datang terlambat.
Rini mencebikan bibir. "Alasan! Bilang saja, kalian berdua sengaja membuatku dan Rio menunggu terlalu lama. Iya 'kan?" Mendelik ke arah Arumi dan Rayyan.
__ADS_1
Dengan cepat Arumi melambaikan tangan ke depan. "Tidak! Sungguh, aku tidak bermaksud begitu. Sumpah!"
Rayyan menghela napas dalam. Tiba-tiba pria itu gemas sendiri melihat tingkah Arumi yang mudah dibohongi Rini. Tak heran jika selama ini ia mudah sekali dibohongi oleh mantan sahabat dan mantan suaminya. Sifat wanita itu terlalu percaya pada orang-orang sekitar hingga tak sadar bahwa ia telah diperdaya oleh seseorang.
"Berhentilah membuat Calon Istriku merasa bersalah, Rin. Tidakkah kamu merasa kasihan padanya?" ucap Rayyan dingin. Rayyan memberikan tatapan tajam seperti elang yang siap mencabik-cabik mangsanya.
Rini memutar bola matanya malas. "Aku cuma bercanda, Ray. Kenapa diambil hati."
Rio dan Sarah hanya menggelengkan kepala melihat tingkah ketiga orang dewasa di depan sana. Menyadari waktu semakin siang, Rio bangkit dari sofa mendekati istrinya.
"Sudah hentikan sandiwaramu, Sayang. Sahabatku ini terlalu peka orangnya. Seapik apa pun aktingmu, tetap akan ketahuan juga jika kamu sedang menjaili calon istrinya." Kedua tangan merengkuh bahu Rini seraya membantu wanita itu duduk di kursi.
"Tersisa dua belas hari lagi, kita harus segera menyelesaikan semua persiapan sebelum hari pernikahan itu tiba," timpal Rio mengalihkan suasana.
Semua orang yang ada di sana kembali fokus akan tujuan masing-masing. Sarah dibantu Rini mulai mengajak Arumi berkeliling mencari gaun pengantin yang cocok sesuai selera dan pastinya atas izin dari calon mempelai pria. Sementara Rio, membantu Rayyan memilih baskap untuk ijab kabul dan resepsi pernikahan nanti.
Untuk seragam resepsi pernikahan, rencananya Rini akan mengajak Nyimas, mertuanya serta kedua anak kembarnya ke sebuah butik yang tidak kalah terkenal dari Sarah Boutique. Mengingat waktu pernikahan sebentar lagi, Rini sengaja meminta bantuan kenalannya dulu sewaktu kuliah yang berprofesi sebagai desainer terkenal tanah air agar semua persiapan dapat dikerjakan tepat waktu.
Gedung dan katering, telah diserahkan pada WO, diawasi secara langsung oleh Nyimas dan mertua Rini. Surat undangan, Rio yang bertanggung jawab. Pria itu meminta bantuan asistennya untuk mencetak tiga ratus undangan dalam kurun waktu sesingkat mungkin. Ia tak peduli jika harus membayar lebih karena minta didahulukan dibanding yang lain, asalkan tepat waktu berapa pun harganya akan dibayar.
.
.
.
__ADS_1