Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Rasakan Kamu, Emang Enak Aku Jailin!


__ADS_3

Setelah melakukan visit pada pasien yang ada di bangsal Bougenville, Arumi bergegas menemui Rayyan di ruangan kepala bangsal. Tadi malam, suaminya itu segera pergi ke rumah sakit lagi tepat saat tengah malam. Mendadak, Rayyan diminta melakukan operasi pada pasien yang membutuhkan penanganan segera mungkin. Sebagai seorang dokter profesional, mau tidak mau Rayyan harus menerima panggilan itu dan rela meninggalkan Arumi di apartemen. Beruntungnya saat itu ada Nyimas sehingga dirinya tidak perlu mencemaskan keselamatan sang istri.


"Suster, untuk hasil pemeriksaan tadi tolong kamu simpan dulu. Saya hendak ke ruangan Dokter Rayyan," kata Arumi pada salah satu perawat yang ikut mendampingi wanita itu saat melakukan visit pada pasien di bangsal tersebut.


"Baik, Dokter Arumi," jawab perawat itu singkat.


"Kalau tidak ada yang ingin didiskusikan lagi, saya tinggal dulu. Kalian bisa lanjutkan pekerjaan yang tertunda. Sekali lagi, terima kasih sudah menemani saya keliling." Memberikan senyuman manis kepada dua orang perawat wanita berseragam putih.


Arumi membuka pintu ruangan Rayyan. Mencari keberadaan saklar lampu, lalu mematikannya. Melihat sang suami masih tertidur di atas ranjang dengan satu tangan menjuntai ke bawah, ia sangat yakin semalam merupakan malam terberat bagi pria itu.


Seluruh tubuh Rayyan dipenuhi oleh ruam merah serta noda bekas alergi yang dialami olehnya kemarin siang. Belum lagi kejadian kemarin siang yang membuatnya harus berurusan dengan Naila dan kepolisian setempat ditambah urusannya dengan Firdaus karena meninggalkan ruangan rapat begitu saja, semakin memberikan beban tersendiri bagi dokter tampan itu.


Tiba-tiba saja hati Arumi terenyuh melihat wajah kelelahan sang suami. Sudut mata wanita itu mulai mengenang. Merasa haru akan perjuangan pria itu saat melindungi dirinya dari kejahatan Naila.


"Terima kasih karena kamu sudah bersedia menjadi perisaiku dan ketiga anak-anak kita, Mas. Aku yakin, kelak mereka akan bangga karena memiliki Ayah sepertimu."


Sebelum melangkah mendekati ranjang single yang biasa digunakan olehnya ataupun Rayyan untuk beristirahat, ia mengusut sisa cairan bening menggunakan jari telunjuk. Kemudian duduk di tepian ranjang, sambil mengusap lembut wajah pria itu menggunakan punggung tangan.


"Mas, bangun yuk! Ini sudah pagi." Akan tetapi, Rayyan sama sekali tak menunjukan tanda-tanda bahwa ia akan terbangun dari tidurnya.


Karena tak kunjung terbangun, akhirnya Arumi memberanikan diri mendekatkan wajahnya ke wajah Rayyan. Hanya tersisa setengah jengkal lagi, sebuah tangan kekar mendorong tengkuk Arumi hingga bibir kenyal itu menempel di bibir sang lelaki.


Sontak, bola mata Arumi membulat sempurna kala merasakan hangatnya bibir Rayyan menyentuh permukaan bibir miliknya. Tidak hanya di situ saja, lidah pria itu pun berusaha menerobos masuk ke dalam mulut Arumi.


"Eugh, Mas!" Lengkuhan Arumi terdengar di sela aktivitas ciuman mereka. Ciuman itu semakin lama semakin menuntut hingga membuat keduanya menggap-menggap seperti seekor ikan kehabisan oksigen. Suara decapan berasal dari ciuman mereka memenuhi penjuru ruangan.


Sadar jikalau pasokan oksigen dalam paru mulai berkurang, Rayyan melepaskan pangutan ciuman. Mengusap sisa saliva miliknya yang tertinggal di sudut bibir Arumi. "Selamat pagi, Babe!" ucapnya disertai seringai penuh makna. "Bibirmu selalu terasa manis bagaikan madu."


Seketika wajah Arumi merah merona, disusul suara gemuruh di dalam dada. Jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya.

__ADS_1


Rayyan tertawa dalam hati mendapati semburat merah muda terlukis di kedua pipi Arumi karena berhasil mengerjai wanita itu. Bagi Rayyan, Arumi terlihat begitu menggemaskan, ditambah sikap yang tampak malu-malu seperti seorang gadis yang baru pertama kali bertemu pujaan hati.


Tidak mau membuat Arumi semakin malu, Rayyan bangun dan menyandarkan punggungnya di dinding. "Pukul berapa sekarang?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


Dengan terbata-bata Arumi menjawab. "P-pukul sembilan tiga puluh menit." Wanita itu menundukan pandangan, tak berani bersitatap dengan lelaki yang baru saja memberikan morning kiss untuk dirinya.


Rayyan menarik napas dalam. "Ehm ... rupanya aku tertidur lelap sekali hingga tak menyadari bahwa sinar matahari sudah kembali menampakkan pesonanya."


Walaupun rona merah muda masih terlukis jelas di wajah, Arumi mencoba bersikap sewajarnya. Seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka barusan.


"Memangnya, selesai operasi jam berapa?"


"Jam lima pagi. Selepas azan subuh," jawab Rayyan singkat. Pria itu sedang melakukan streching ringan guna meregangkan otot yang terasa kaku.


"Kamu pasti belum sarapan, 'kan?" tanya Arumi penuh selidik. Memicingkan mata, menatap tajam ke arah suaminya.


Jika biasanya Rayyan yang memberikan tatapan mengerikan itu pada Arumi, kali ini berbeda. Sang wanita-nyalah yang melakukan ekspresi cukup menyeramkan kepada si lelaki.


"Kamu ini, ya! Sudah tahu habis melakukan tindakan operasi selama lima jam lamanya, kenapa tidak segera mengisi perutmu dengan camilan. Lihat, di atas mejamu terdapat satu topless biskuit yang sengaja aku siapkan, tapi mengapa tidak kamu makan?" mendengkus kesal karena hari ini Rayyan melewatkan sarapannya.


Bagi Arumi, sarapan sebelum pukul sembilan pagi sangat penting bagi kesehatan. Selain itu, dapat menunjang aktivitas sepanjang hari. Sesibuk apa pun, diusahakan tubuh menikmati sarapan pagi agar memiliki energi untuk dapat meningkatkan kekuatan dalam beraktivitas.


Apalagi tugas dan tanggung jawab Rayyan sebagai dokter, kepala bangsal dan calon direktur rumah sakit cukup besar, sehingga sarapan itu menjadi aktivitas wajib sebelum melakukan rutinitas sehari-hari. Jadi, sangat wajar jikalau saat ini Arumi sedikit geram karena tingkah suaminya itu. Padahal ia sering mewanti-wanti Rayyan agar tak lupa sarapan.


Dengan kepala menunduk, mata tertutup, kedua telapak tangan saling mencengkram satu sama lain. Sadar bahwa ia telah kelakukan sebuah kesalahan hingga membuat sang macan betina terbangun dari tidurnya yang nyenyak.


"Maafkan, aku, Babe. Aku mengaku salah."


Menarik napas panjang. Tersadar kalau ini bukan sepenuhnya salah pria itu. "Ya sudah, tidak apa-apa. Sebaiknya kamu cuci muka dan sikat gigi dulu. Setelah itu kita turun ke lantai bawah, mencari roti untuk kamu sarapan."

__ADS_1


Lalu, Rayyan mendongakan kepala dengan sangat perlahan. Selama mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga bersama Arumi, baru kali ini ia tak bisa berkutik di hadapan wanita itu. Sorot mata ibu hamil itu lebih menyeramkan dibandingkan sebelum mengandung.


Dan, anehnya lagi, pria itu secara refleks bertekuk lutut serta tak berani membantah seperti seorang anak kecil yang tertangkap basah telah melakukan kesalahan besar.


The power of ibu hamil, lebih strong dibanding apa pun.


Setelah menuruti perintah Arumi, Rayyan mengganti kemeja yang ia kenakan. Beruntungnya semalam sang istri telah menyiapkan baju salin untuk suami tercinta.


"Ayo, kita jalan sekarang!" seru Rayyan. Wajah pria itu terlihat lebih fresh dan tubuhnya pun tercium lebih harum meski belum mandi.


Rayyan menggenggam tangan Arumi, sambil sesekali menciumi punggung tangan wanita itu. Terus menatap dengan sorot mata memuja akan keindahan ciptaan Tuhan yang ada di sebelahnya.


"Babe, kamu benar-benar cantik. Aku sangat mencintaimu." Mencuri ciuman di saat mereka tengah menunggu lift yang akan membawa tubuh keduanya ke lantai satu.


"Mas Rayyan!" Rahang Arumi terbuka lebar karena lagi dan lagi Rayyan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Namun, entah mengapa hatinya malah berbunga-bunga karena pria itu terus memujanya hampir setiap hari. Seakan tak pernah merasa bosan untuk mengucapkan kata-kata cinta.


"Kenapa? Kamu itu sudah sah menjadi istriku. Jadi, kalau aku mau menciummu tidak akan ada yang melarang. Bahkan, melakukan sesuatu selain ciuman, boleh-boleh saja loh." Kemudian pandangan mata Rayyan turun ke bagian perut. Mengusap permukaan yang semakin menonjol ke depan dengan sangat lembut. "Benar, 'kan, Triplet?"


"Kita masih di lingkungan rumah sakit, Mas. A-aku malu kalau ada yang melihatnya," jawab Arumi menahan debaran di dadanya.


Rayyan mendekatkan tubuh mereka hingga tak ada jarak tersisa. Menarik pinggang sang istri, lalu berbisik. "Kalau di dalam ruanganku, apakah boleh kita membahas hal seperti ini?" Lalu, tanpa rasa malu sedikit pun, Rayyan mendaratkan sebuah ciuman di pipi sang istri.


Rasakan kamu, emang enak aku jailin! batin Rayyan sambil melirik ke arah samping pada sosok pria yang sedang duduk di kursi roda. Pria itu tengah menatap ke arah mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.


Arumi itu hanya milikku, selamanya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2