
"B-bagaimana bisa, Tante Lena menjadi penyebab meninggalnya Mama Mei Ling? Bukankah Mama Mei Ling meninggal karena kecelakaan?" sambung Arumi. Ia masih belum mengerti kenapa Rayyan mengatakan jikalau wanita paruh baya berhati baik dan selalu membelanya menjadi penyebab kematian ibunda dari suami tercinta. Yang ia tahu, Mei Ling meninggal karena kecelakaan.
Rayyan menggendong Ghani yang telah kenyang meny*s*, dan merebahkan kembali tubuh bayi mungil itu ke dalam baby box. Kemudian, ia duduk di samping Arumi.
"Memang benar, Mama-ku meninggal karena kecelakaan. Namun, kecelakaan itu terjadi disebabkan oleh perbuatan Papa dan istri keduanya." Pria itu mencengkeram ujung sofa guna mengurai rasa sakit di dalam dada. Setiap mengingat kecelakaan yang menimpa Mei Ling, mendadak dadanya terasa sesak karena harus mengorek lagi luka lama yang belum kering hingga saat ini. Mencoba melupakan, tetapi bayangan saat mama tercinta tertabrak mobil dan mengembuskan napas terakhir di depan mata membuatnya kembali teringat akan penderitaan yang dialami oleh cinta pertamanya.
"Malam itu, Mama mengajakku pergi ke rumah sakit membawakan nasi goreng kesukaan Papa sebagai menu makan malam. Mama tahu, Papa akan rewel apabila tidak menyantap makanan rumahan alias buatan sendiri. Oleh karena itu, Mama sengaja mengantarkan makanan untuk Papa."
"Sepanjang jalan, Mama terus mengulum senyum. Sesekali mengusap rambutku meski saat itu sedang mengendarai mobil. Mama-ku tipe wanita mandiri, selalu melakukan apa pun sendiri tanpa menyusahkan orang lain. Jadi, ketika mengantarkan makanan, Mama tinggal melajukan sendiri kendaraan yang dihadiahkan khusus oleh Kakek dan Nenek-ku sebagai kado pernikahan."
Tampak Rayyan menghela napas kasar sebelum melanjutkan lagi ceritanya. "Saat kami tiba di rumah sakit, Mama langsung mengajakku menemui Papa. Seulas senyum manjs masih terus terlukis di wajah Mama. Sebuah senyuman yang belum pernah kulihat sebelumnya."
"Kami terus melangkah bersama hingga tiba di depan ruangan Papa. Karena mendengar suara seseorang di dalam ruangan ditambah pintu ruangan tidak tertutup rapat, Mama memutuskan mendorong pintu itu hingga terbuka lebar. Namun, ketika daun pintu terbuka, kami disuguhkan oleh pemandangan yang cukup menjijikan." Tiba-tiba saja tubuh Rayyan merinding, bulu kudu meremang seketika.
Pria itu merasakan sekujur tubuh mulai terasa gatal akibat mengingat kejadian di masa lalu. Kenangan pahit yang membuatnya kehilangan Mei Ling dan awal mula mengalami penyakit aneh yang jarang sekali dialami oleh banyak orang.
Arumi memicingkan mata, mulai tertarik mendengar masa lalu suami tercinta. Selama ini, Rayyan tidak pernah menceritakan secara detail tentang masa lalunya sehingga ibu tiga bayi kembar dibuat penasaran apakah gerangan yang melatarbelakangi suaminya sampai lelaki itu alergi terhadap wanita. Ada misteri apakah yang membuat sang lelaki begitu membenci Firdaus dan Lena, padahal wanita paruh baya itu adalah sosok wanita baik hati? Semua itu masih menjadi misteri dan baru akan dia dapatkan jawabannya sebentar lagi.
"Menjijikan bagaimana, Mas! Memangnya, apa yang kamu dan mendiang Mama lihat saat itu?" tanya Arumi penasaran.
Rayyan terdiam beberapa saat. Ia tampak sedang menarik napas dalam dan mengembuskan secara perlahan. Melakukannya berkali-kali sampai pria itu siap membeberkan semua rahasia yang disimpannya secara rapat selama belasan tahun lamanya.
"Saat itu, aku dan Mama, melihat Papa tengah berada dalam posisi yang sangat intim. Seandainya saja kami tidak datang, mungkin mereka sudah melakukan hubungan yang seharusnya dilakukan oleh pasangan suami istri." Rayyan tertunduk seraya mengeratkan cengkeraman tangan di ujung sofa. Perasaan ayah dari tiga orang anak terasa tercabik-cabik ketika kepingan kejadian itu kembali berputar di dalam benaknya.
Di usianya yang masih remaja harus melihat betapa bejadnya kelakukan sang papa, sosok pria yang seharusnya menjadi panutan tetapi dia memberikan contoh buruk terhadap anak kandungnya. Di depan mata, suami dari Arumi Salsabila melihat tubuh bagian atas papa-nya polosan dengan posisi menindih tubuh wanita lain. Ironis sekali!
Lemas sudah tubuh si dokter cantik ketika mendengar cerita pahit masa lalu sang suami. Tak menduga jikalau selama ini pria itu hidup dalam bayangan masa lalu yang begitu menyeramkan. Pantas saja Rayyan sangat membenci Firdaus dan Lena hingga tak sudi mereka menyentuh tubuh si kembar. Begitu pikir Arumi.
__ADS_1
"Kamu tahu, Babe, bagaimana ekspresi Mama-ku saat melihat dua manusia tidak bermoral itu dalam keadaan setengah tak berbusana?" tanya Rayyan lirih. Iris coklat pria itu mulai berkaca-kaca. "Aku melihat jelas, betapa kecewanya Mama ketika melihat Papa-ku dengan santainya berada di atas tubuh wanita lain yang bukan merupakan pasangannya. Tanpa ada rasa canggung, pria itu berdekatan dengan Pelakor itu."
"Hati Mama remuk redam. Beliau tak kuasa berada terlalu lama dalam ruangan yang sama dengan mereka. Akhirnya Mama pergi dan insiden kecelakaan itu terjadi." Rayyan menghentikan sejenak perkataannya. Ia mendongakan kepala, berusaha menghalau agar air mata tak jatuh membasahi pipi. "Mama dilarikan ke rumah sakit. Namun, nyawanya tak bisa diselamatkan."
"Hatiku terasa seperti disayat oleh pisau tajam. Bumi tempatku berpijak rasanya tak lagi berputar ketika dokter memberitahu jikalau Mama telah meninggal dunia. Rasanya seperti separuh jiwaku pergi bersamaan dengan rohnya yang telah diambil kembali oleh Sang Pencipta."
Bulir air mata tak mampu dibendung lagi. Susah payah Rayyan berusaha menahannya, tetapi usaha pria itu gagal. Tubuh pria itu gemetar, disusul butiran kristal berjatuhan membasahi sofa. Di hadapan Arumi, ia kembali menampilkan sosok pria lemah layaknya seorang anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya. Perih, sakit, hancur dan terluka, itulah yang ia rasakan saat kehilangan Mei Ling.
Tanpa banyak kata, jemari tangan Arumi memeluk tubuh ringkih sang suami. Tubuh kekar yang biasa dijadikan sandaran kini terlihat rapuh bagai kayu berusia puluhan tahun, apabila disentuh maka terpecah berai.
"Apakah aku salah bila membenci mereka berdua, Rumi? Apakah tidak pantas membenci orang yang telah menjadi penyebab kepergian Mama-ku? Katakan padaku, apakah aku salah?" ucap Rayyan disela suara isak tangisnya. Pria itu menangis dalam pelukan istri tercinta, mencurahkan isi hatinya yang dipendam sendiri tanpa ada orang lain tahu betapa terlukanya perasaan dokter tampan itu.
Selama ini, Rayyan memendam rasa sakit akibat pengkhianatan sang papa. Ia ikut terluka saat melihat mama tercinta menangis seorang diri tanpa ada seseorang yang menemani. Bertahun-tahun mengharapkan cinta dan kasih sayang dari suami, namun hingga ajal menjemput Mei Ling tak pernah mendapatkan itu semua dari Firdaus.
Jemari lentik Arumi bergerak di belakang punggung Rayyan. Mengusap lembut tubuh kokoh suaminya dengan penuh cinta. Kini ia tahu mengapa pria itu sangat membenci Lena. Ia tak menyalahkan suaminya itu jikalau sang lelaki tak pernah mengakui Lena sebagai ibu tirinya.
"Aku bisa membayangkan betapa hancurnya hati Mama Mei Ling ketika melihat Papa Firdaus tengah bercumbu dengan wanita lain. Aku pun pernah melihat itu semua dengan mata kepalaku sendiri. Perasaanku hancur berkeping-keping. Merasakan seolah diriku dilemparkan ke dalam dasar jurang yang sangat dalam."
"Seandainya saja aku tahu semua ini sebelumnya, tentu aku tak 'kan memaksamu untuk mengundang Tante Lena dan Papa Firdaus saat resepsi pernikahan dulu. Sungguh, Ray. Namun, akibat keegoisanku, kamu harus menahan diri selama acara berlangsung. Maafkan aku, Honey." Arumi merasa bersalah, terdengar penyesalan besar dari setiap kalimat yang terucap.
Rayyan mengurai pelukan, dan memberi sedikit jarak di antara mereka. "Itulah kenapa aku tidak sudi menganggap wanita itu sebagai ibu tiriku. Meskipun mendiang Mama memintaku untuk menganggap dia sebagai ibuku, tetapi aku tak sudi menerima kehadirannya di tengah keluargaku. Di dunia ini ibuku hanya satu, yaitu Mama Mei Ling. Dia hanya p--"
Rayyan segera menggigit bibirnya sebelum kalimat tak pantas itu diucapkan. Ia tidak mau ketiga anak-anaknya mendengar kata-kata mengandung umpatan, hinaan yang kelak terekam oleh memori ingatan mereka. Itulah sebabnya, pria tampan itu tak lagi menyebut Lena dengan sebutan 'jalaang' karena khawatir si triplet menirunya sejak masih berada dalam kandungan.
Arumi tersenyum samar melihat tingkah menggemaskan suaminya. Pria itu terus berkomitmen untuk tidak mengucapkan kalimat terlarang selama berada di dekat buah cinta mereka. Padahal, ia tahu betul bagaimana tersiksanya Rayyan untuk tidak mengumpat saat pasangan suami istri itu sedang membicarakan Lena.
"Iya, aku tahu. Di dunia ini cuma ada Mama Mei Ling seorang di hatimu. Selamanya, tidak akan ada wanita lain yang dapat menggantikannya." Arumi memberikan senyuman manis yang ia miliki kepada suaminya. Lalu, wanita itu kembali berkata. "Mulai sekarang, aku tak 'kan memaksamu untuk menghubungi, menemui atau membesuk Papa dan Tante Lena. Aku tidak akan ikut campur dalam urusan pribadimu."
__ADS_1
Arumi mengulurkan tangan ke depan, mengusut bulir air mata yang membasahi wajah tampan suaminya. "Sudah ya, jangan diingat-ingat lagi tentang kejadian itu. Terpenting sekarang adalah, kita berdua memikirkan cara mendidik dan membesarkan ketiga anak-anak agar mereka tumbuh menjadi anak yang taat beribadah, sehat, cerdas dan dapat membanggakan kedua orang tuanya."
"Kamu dan aku bersama-sama membesarkan mereka dan berusaha menjadi orang tua yang baik bagi mereka. Menjadikan pengalaman masa lalu sebagai pembelajaran. Kamu ... mau 'kan terus mendampingiku mendidik buah cinta kita hingga mereka dewasa dan menemukan jodoh masing-masing?" tanya Arumi.
Iris coklat Rayyan menatap lekat bola mata indah milik sang istri. Terpancar jelas sorot mata penuh cinta di dalam sana.
Dengan gerakan cepat, Rayyan menarik tubuh Arumi hingga tak ada lagi jarak di antara mereka berdua. "Tentu saja, Babe." Ia mendaratkan ciuman di bibir ranum sang wanita. Melumaatnya dengan rakus seperti seseorang yang sudah puluhan tahun tak bertemu.
"Honey! Aku belum selesai nifas," ucap Arumi lirih saat merasakan lidah pria itu mulai menari indah di dalam rongga mulut. Permainan pria itu semakin lama semakin membuatnya terbang melayang ke angkasa.
"Hanya bermain sebentar." Rayyan semakin rakus mencium bibir Arumi dengan sorot mata yang dipenuhi kabut gair*h. Pria itu menjilati leher, wajah dan pipi istrinya yang masih terlihat chubby.
Namun, saat pria bermata sipit itu semakin gencar melancarkan aksinya, suara rengekan Zahira terdengar hingga membuat pasangan suami istri yang tengah merasakan sekujur tubuhnya memanas akibat permainan itu.
Rayyan mendengus kesal sambil berkata, "Si Bungsu memang suka sekali mengerjai orang tuanya!"
Arumi terkekeh pelan. Ia hendak bangkit dari sofa, tetapi sebuah kecupan singkat didaratkan terlebih dulu ke bibir suaminya.
"Tunggu hingga masa nifasku selesai dan luka jahitanku mulai sembuh, 'kan kuberikan hadiah spesial untukmu, Honey." Mengerlingkan mata nakal sambil melangkah mendekati box bayi.
Mendengar janji manis istrinya, Rayyan menyeringai nakal. "Oke, akan kutagih janjimu!"
.
.
.
__ADS_1