Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Kedatangan Raihan dan Lena ke Persada International Hospital


__ADS_3

Setelah mendapatkan jadwal shift kerja Rayyan atas bantuan Puspa, akhirnya Raihan membawa Lena menuju rumah sakit yang dulu pernah dikelola oleh Firdaus. Ia sengaja mengajak serta Lena menemui anak sulung sang papa untuk meminta izin bertemu dengan Triplet sebelum mereka pergi dari kota Jakarta.


Sebenarnya Raihan bisa saja langsung datang ke apartemen Rayyan tanpa harus meminta izin terlebih dulu. Namun, ia tidak mau menimbulkan konflik baru di saat sang kakak sudah memaafkan dirinya atas kesalahan yang pernah diperbuat olehnya di masa lalu. Untuk itulah, ia memberanikan diri mengunjungi Rayyan, berharap kakaknya bersedia mengabulkan keinginan Lena.


"Puspa, kamu tidak perlu ikut dengan kami ke dalam. Cukup tunggu saja di sini. Namun, bila kamu ingin menemui teman-temanmu, silakan. Asalkan saat saya menghubungimu maka kamu sudah ada di sini," pesan Raihan sebelum meninggalkan parkiran. Panas terik dan cuaca gerah tak menyurutkan niatan Raihan bertemu dengan Rayyan.


Puspa menganggukan kepala. Mengulum senyum lebar karena merasa bahagia akhirnya ia diberikan kesempatan bertemu kembali dengan rekan sesama perawat di rumah sakit Persada International Hospital sebelum ikut majikannya pergi ke kota Yogyakarta.


Dengan antusias Puspa menjawab, "Baik, Pak Raihan. Saya janji akan langsung berlari ke sini saat mendapat panggilan ataupun pesan singkat dari Bapak."


Setelah memberikan amanat kepada perawat pribadi Lena, Raihan mendorong kursi roda mamanya, memasuki gedung rumah sakit yang dulu pernah menjadi saksi bisu betapa bejadnya kelakukan kedua orang tua dosen tampan itu hingga ia terlahir ke dunia ini.


Sepanjang jalan, banyak mata memandang ke arah Lena dengan tatapan jijik. Bahkan tak jarang sebagian dari pegawai rumah sakit menatap sinis, sebab gosip yang mengatakan bahwa istri kedua Firdaus adalah seorang pelakor telah lama berembus di kalangan seluruh keluarga besar Persada International Hospital.


"Lihat, bukankah itu anak haram mendiang Dokter Firdaus dengan istri keduanya," bisik salah satu perawat yang berjaga di balik meja resepsionis.


Sontak, rekan kerjanya yang berdiri di samping wanita berkacamata mengikuti ke mana arah pandang teman seprofesinya. Dari jarak lima meter, terlihat seorang pemuda tampan tengah mendorong kursi roda. Di atas kursi tersebut seorang wanita mengenakan selendang menutupi kepala dan sebagian wajah yang terkenal luka bakar.


"Hush! Tidak baik memanggil pria itu dengan sebutan anak haram. Kalau Bu Lena mendengarnya, bagaimana? Memangnya kamu mau dipecat dari sini?" tegur wanita berseragam batik warna hijau daun.

__ADS_1


Wanita berkacamata mencebikkan bibir. "Biarkan saja. Malah bagus kalau Bu Lena dengar. Biar dia sadar atas apa yang diperbuatnya di masa lalu merupakan sebuah kesalahan hingga menyebabkan mendiang ibu kandung Dokter Rayyan meninggal dunia."


"Kalau sampai Bu Lena mendengar kita bisik-bisik, lalu dia tersinggung dan marah, memang wanita itu mau merajuk kepada siapa. Dokter Rayyan?" Wanita berkacamata tertawa sinis sambil terus memandangi Lena. "Mustahil Hubungan antara Direktur rumah sakit kita dengan Bu Lena bagai air dan api, tak pernah akur. Jadi, mana mungkin Dokter Rayyan akan membela wanita itu. Yang ada, wanita itu diusir dari dari hadapan Dokter Rayyan karena telah merusak mood-nya."


"Astaga, ucapanmu benar-benar tidak disaring terlebih dahulu loh! Jangan begitu, kasihan Bu Lena kalau dia benar-benar tahu jikalau tengah menjadi bahan omongan kita berdua," sergah wanita berseragam batin. Merasa tidak enak hati kalau Lena mendengar setiap perkataan mereka berdua.


"Bodo amat! Aku tidak peduli! Malah aku bahagia kalau dia mendengar perkataanku!" ujar wanita berkacamata sambil meninggikan nada suaranya kala Raihan melintas di depan meja resepsionis. "Seharusnya dia mati saat kebakaran itu terjadi. Bukan malah hidup dan menyusahkan orang lain!"


Kalimat tajam sengaja diucapkan di hadapan Lena. Wanita berkacamata sudah tak tahan lagi memendam kekesalan terhadap istri kedua Firdaus. Walaupun status ibu kandung Raihan adalah istri siri mantan direktur rumah sakit tempatnya bekerja, ia tak peduli selama bisa mengemukakan apa yang ada di dalam hati itu sudah lebih daripada cukup. Perkara dipecat atau tidak, urusan belakangan.


Mendengar suara bernada sindiran pedas, lantas Raihan menghentikan kursi roda milik Lena tak jauh dari meja resepsionis. Perkataan itu terdengar jelas di indera pendengaran mereka.


Tak ingin terjadi hal buruk menimpa Raihan, Lena mengusap punggung sang anak dengan lembut. "Biarkan saja mereka berbicara begitu. Tidak perlu dihiraukan. Ada hal lebih penting selain menegur kedua perawat itu."


Rahang Raihan mengeras, deru napas memburu. Ia cengkeram pegangan kursi roda dengan sangat erat. Sungguh, ia tidak terima jika mama tercinta dihina orang lain. "Tapi aku tidak bisa diam saja, Ma. Jika dibiarkan mereka akan semakin menjadi-jadi."


Lena menarik napas panjang dan dalam, kemudian mengembuskannya secara perlahan. "Anggap saja perkataan mereka adalah suara angin yang berembus, memberikan kesegaran kepada kita berdua." Wanita itu mencoba menenangkan emosi Raihan. "Ayo, jalan lagi! Kita masih harus bertemu Raihan di ruangannya sebelum dia pulang ke rumah."


Akan tetapi, Raihan masih bergeming di tempat. Gejolak emosi dalam diri pria itu masih mendidih bagaikan air mendidih di atas kompor.

__ADS_1


"Jika kamu tidak mau mengantarkan Mama menemui Rayyan, biarkan Mama sendiri yang pergi. Mama bisa pergi tanpa ditemani oleh siapa pun!" ancam Lena. Berharap Raihan tak lagi mempermasalahkan kedua wanita tersebut.


Di saat Lena telah bersiap menggerakan roda di samping kanan dan kirinya. Dengan refleks, Raihan menahan kursi roda itu agar tak bergerak.


Terdengar helaan napas kasar bersumber dari Raihan, lalu pria itu berkata, "Baiklah, aku tidak akan menegur mereka. Aku anggap ucapan kedua wanita itu hanya bunyi desauan angin saja."


Sementara itu, wanita berseragam batik segera membungkam mulut rekan kerjanya kala netra wanita itu melihat Raihan menghentika kursi roda milik Lena. Insting wanita itu menangkap sinyal berbahaya jika ia tak segera menghentikan rekan kerjanya.


"Hei, Utami! Apa yang kamu lakukan terhadapku! Lepaskan tanganmu dari mulutku!" Wanita berkacamata berusaha menepis telapak tangan rekan kerjanya.


Dengan lirih perawat wanita berseragam hijau daun berbisik, "Diam, Tsa! Sebaiknya kamu tutup mulut daripada kita berdua kena tegur atasan. Aku tidak mau jadi pengangguran gara-gara ulahmu ini."


"Tami, sialan kamu! Lepaskan tanganmu ini!" Tsamara masih terus berontak. Mulut dibekap, tubuh dikunci erat hingga membuat wanita itu tak bisa bergerak.


"Terserah apa katamu! Pokoknya aku akan membawamu pergi untuk sementara waktu sampai mulutmu yang ember ini berhenti!" Utami membawa tubuh Tsamara menjauh dari meja resepsionis. Wanita berseragam batik meminta perawat lain menggantikannya sementara waktu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2