
Kayla tengah menyiapkan wedang jahe khusus untuk suami tercinta. Meskipun hatinya terasa seperti diiris oleh pisau tajam akibat tak sengaja mendengar ucapan pria itu sesaat setelah kepergian Rayyan dari ruang perawatan, ia tetap menjalankan tugasnya menjadi istri yang baik bagi sang suami. Membutakan mata dan menulikan telinga seakan tak pernah mendengar kata-kata yang menyakitkan hati.
"Mbok, tolong kamu siapkan kopi kesukaan Om Putra. Sementara saya akan membuatkan wedang jahe untuk Mas Mahesa," titahnya pada seorang asisten rumah tangga.
"Baik, Mbak Kayla." Lalu, asisten rumah tangga itu menuruti perintah menantu di keluarga itu.
Cukup lama Kayla berada di dapur, kini saatnya ia kembali ke kamar. Kedua tangan membawa nampan berisi dua gelas minuman hangat. Melangkah perlahan menyusuri lorong penghubung menuju kamar tamu.
Kaki jenjang yang dibungkus oleh celana jeans berwarna broken white, telah sampai di depan pintu dengan ukiran indah di bagian. Jemari tangan hendak mendorong pintu yang tidak tertutup rapat. Akan tetapi, ia mendengar keributan kecil yang melibatkan suami serta papa mertuanya.
Dari jarak yang tak terlalu jauh, ia dapat mendengar jelas apa yang dibicarakan oleh Mahesa dan Putra. Dan alangkah terkejutnya wanita itu saat mendengar Mahesa berniat menjatuhkan talak padanya. Sungguh, hati wanita itu bagai disayat oleh pisau tajam. Hancur lebur dan remuk redam karena di depan mata, pria yang begitu dicintainya sudah tak mengharapkan kehadiran dirinya lagi.
Pengorbanan yang dilakukan wanita itu sia-sia. Ketulusan dan kesucian cinta yang dimiliki, seakan tak pernah dianggap oleh Mahesa.
Maka, keputusan Kayla sudah bulat. Ia akan mengakhiri semua saat ini juga. Walaupun masih ada rasa cinta di dalam hati, tetapi ia tidak sanggup bila hidup bersama dengan seseorang yang sudah tak mencintainya lagi.
"Tidak perlu mencari waktu yang tepat. Jika kamu mau, jatuhkan talak saat ini juga kepadaku!" seru Kayla yang tengah berdiri di ambang pintu. Bola mata berkaca-kaca, cuping hidung kembang kempis. Bibir gemetar, menahan isak tangis agar tak menggema memenuhi penjuru ruangan.
Suara cempreng seorang wanita, menginterupsi perdebatan di antara dua pria dewasa. Sontak, semua mata langsung memandang kepada Kayla.
"Kayla?" panggil Putra lirih. Wajah pria itu tampak pucat pasi, tak mau sampai pernikahan anaknya berakhir dengan kata cerai.
Melangkah dengan langkah gontai, masuk ke dalam kamar. Perasaan sedih, kecewa bercampur marah di dalam dada membuat napasnya memburu. Ia marah karena merasa pengorbanannya tak dihargai oleh Mahesa. Kecewa karena lelaki yang diharapkan dapat menuntunnya kembali ke jalan-Nya malah menolaknya secara mentah-mentah. Sedih karena ternyata kisah cinta bersama Mahesa akan berakhir tragis.
"Kamu ingin menceraikan aku 'kan, Mas? Lakukanlah sekarang juga. Sebelum kamu terlalu jauh menyakiti hatiku!"
Mahesa berdecak kesal. Melihat wajah Kayla semakin membuatnya ingin memaki dirinya sendiri karena telah tergoda oleh bujuk rayu sang pelakor.
"Benar. Aku sudah muak dengan pernikahan kita, Kayla. Jika dulu aku bersabar menghadapi sikapmu yang terkadang sangat menyebalkan karena kondisimu tengah berbadan dua. Hari ini, aku sudah tak bisa menahannya lagi. Aku capek, Kayla. Aku lelah terus menerus hidup di bawah bayangan masa lalu yang membuat dadaku terasa dihimpit sebongkahan batu yang sangat besar."
__ADS_1
"Setiap kali bersamamu, aku kembali teringat derai air mata yang membasahi pipi mantan istriku saat ia memergoki kita sedang bertukar peluh di atas ranjang yang sama. Dengan bodohnya aku tergoda oleh rayuanmu hingga tak menyadari jika saat itu kamu dan Mama sedang merencanakan sebuah rencana licik agar Arumi menggugat cerai."
"Aku terperangkap oleh jebakan kalian berdua. Kamu dan Mama benar-benar kejam kepadaku! Kamu dan Mama wanita iblis yang tak punya hati nurani!" teriak Mahesa. Suara lantang pria itu menggelegar memenuhi penjuru ruangan.
Meledak sudah bom waktu dalam diri Mahesa. Selama ini menjadi boneka Naila, menuruti semua keinginan wanita itu hanya karena ingin berbakti kepada sang mama. Namun, rupanya wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini malah memanfaatkan kelemahan pria itu dan memperbudaknya. Dan bodohnya lagi, ia tak menolak sama sekali keinginan Naila saat memintanya berselingkuh di belakang Arumi.
"Kalian berdua berengsek! Kalian telah menipuku! Sialan! Wanita jahat!" Mahesa terus berteriak, meluapkan kekesalannya. Beberapa bantal yang ada di belakang punggung telah berserakan di mana-mana.
Mahesa melemparkan benda apa pun yang ada di dekatnya ke arah Kayla. Sakit. Hati pria itu benar-benar sakit karena kini harus kehilangan wanita baik seperti Arumi. Perjuangan cinta untuk bisa bersama dengan sang pujaan hati berakhir disebabkan oleh kebodohannya sendiri.
Kayla semakin menundukan wajah. Merasa tertampar oleh setiap perkataan yang terucap dari bibir Mahesa. Ia mengakui kalau dirinya memang jahat karena telah menyusun rencana untuk mendapatkan suami dari sahabatnya sendiri dengan cara licik.
"Kini, hidupku telah hancur. Cintaku pergi dan tak 'kan pernah kembali lagi. Selamanya, dia pergi dari hidupku."
"Setelah semuanya terjadi, kamu bersikap seolah semua tak pernah terjadi apa-apa. Apakah kamu bisa bahagia di atas bayangan masa lalu?" tanya Mahesa sinis seraya menghunuskan tatapan tajam kepada Kayla.
"Jika jawabannya adalah iya, maka hatimu telah mati. Kamu sudah bukan manusia lagi, Kayla! Kamu--" Mahesa sudah tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya. Deru napas pria itu memburu, dadanya pun semakin bergerak turun dan naik. Wajah memerah dengan urat tangan menonjol ke luar. Ia lampiaskan kekesalannya di hadapan Kayla, salah satu orang yang turut andil memisahkan dirinya dan Arumi.
"Kalau waktu bisa diputar kembali, aku tak 'kan mau menerima tawaran dari Tante Naila. Lebih baik aku hidup menyendiri daripada merebut suami orang lain." Luruh sudah air mata yang sedari dibendung oleh Kayla. Bulir bening itu membasahi wajahnya yang putih tanpa polesan make up tebal.
"Kamu pikir, selama ini aku hidup bahagia? Tidak, Mas. Aku tidak bahagia sama sekali. Rasa bersalah terus menghantuiku. Di siang dan malam aku tidur berselimutkan rasa penyesalan karena telah menghancurkan rumah tangga Arumi. Merampas semua yang dia miliki demi egoku sendiri."
"Aku berusaha bangkit, di tengah rasa bersalahku kepada mantan istrimu itu. Berharap, ada secercah harapan untuk dapat hidup bahagia bersamamu. Namun, rupanya kamu menolakku dan ingin aku pergi dari hidupmu."
"Aku sadar, pelakor, pezina dan wanita berhati iblis sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kebahagiaan. Oleh karena itu, aku siap jika kamu memang ingin menceraikanku."
Kayla menatap sendu ke arah Mahesa. Wajah lelaki yang sangat ia cintai. Lelaki yang telah menyentuh tubuhnya untuk pertama kali. Lelaki yang pernah menebarkan benih hingga membuatnya menjadi seorang calon ibu dari malaikat kecil yang hadir ke dunia ini sebelum adanya ikatan pernikahan yang sah.
"Aku ikhlas, Mas." Menggigit bibirnya, berharap agar tangis tak semakin pecah. Berusaha tegar meski hati terasa sakit bagai disayat pisau tajam yang baru saja diasah.
__ADS_1
Keheningan menyelimuti ruangan kamar itu. Semua orang yang ada di dalam kamar terdiam sesaat. Begitu pun dengan Putra. Pria paruh baya itu hanya terdiam sambil mengusap wajahnya menggunakan telapak tangan.
Tuhan, kenapa semuanya berakhir seperti ini? Aku tak menduga, akibat ide gila istriku, semua orang terkena dampaknya.
Mahesa menarik napas dalam, lalu mengembuskan secara perlahan. Memejamkan mata, mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan kata keramat yang tak bisa sembarangan diucapkan oleh seorang lelaki dewasa yang sudah menikah. Kata-kata yang kelak menjadikan seorang istri, haram untuk disentuh.
Sedikit demi sedikit, Mahesa membuka kepala matanya dan wajah tampannya menghadap ke arah Kayla. "Kayla Lestari, mulai hari ini aku ... menjatuhkan talak padamu!"
Tubuh Kayla seketika lemas, tungkainya sudah tak lagi mampu menopang tubuhnya. Nampan di tangan wanita itu terjatuh hingga menyebabkan suara benda pecah menyentuh lantai. Ia terduduk lemah di antara pecahan gelas yang berserakan di lantai.
Kini, harapanya untuk hidup bersama Mahesa telah sirna. Seorang bayi kecil yang diharapkan dapat mempererat cinta antara ia dan sang suami telah kembali kehadapan-Nya. Bahkan, harapan untuk bisa mengandung pun pupus sudah.
Hidup wanita itu telah hancur. Satu per satu karma datang menghampiri. Hasil dari kejahatan yang ia lakukan, kini telah dipetik olehnya. Menyesal namun tiada gunanya lagi.
Kembali mengumpulkan keberanian di dalam dada. Mencoba pasrah dengan semua yang terjadi menimpa diri. Perlahan, Kayla bangkit dan mengusut sisa butiran kristal yang menggenang di sudut mata.
"Maafkan aku karena telah merusak rumah tanggamu bersama Arumi. Maafkan aku juga karena belum bisa menjadi istri yang baik selama kita menikah dulu," ucap Kayla dengan suara sengau.
"Kini aku sadar, segara sesuatu yang memang pada dasarnya bukan milik kita, sekeras apa pun berusaha, maka ia akan lenyap dengan sendirinya."
Melangkah maju mendekati ranjang, berdiri di samping Mahesa. "Sebelum aku pergi, bolehkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya? Setelah ini, aku berjanji tidak akan muncul di hadapanmu lagi."
Mahesa mendongakan kepala, menatap iris coklat wanita yang dulu nyaris menjadikannya seorang ayah.
Ia menghela napas kasar. Merentangkan kedua tangan, dan meminta wanita itu untuk mendekat. "Kemarilah!"
Tanpa pikir panjang, Kayla segera membungkukan tubuh. Berhambur dalam pelukan lelaki yang sangat ia cintai. "Maafkan aku, Mantan Suamiku."
.
__ADS_1
.
.