
Asisten rumah tangga Rini menelan salivanya susah payah, sadar bahwa dia telah mengganggu majikannya di saat mereka hendak makan malam. Akan tetapi, dia pun tak punya pilihan lain selain menyampaikan kedatangan tamu yang tak diundang di rumah itu.
"Maafkan saya, Pak, Bu. Di luar ada Pak Putra dan juga Bu Kayla. Katanya ingin bertemu Bu Rini dan Pak Rio."
Sontak, semua orang yang ada di dalam ruang makan saling menatap satu sama lain. Tak terkecuali Rini. Wanita itu tidak menduga jika mantan sahabatnya kini berani menemuinya lagi setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh sang model kepada Arumi.
"Mau apa mereka kemari?" tanya Rio sedikit meninggikan suara. Dia geram karena kedua manusia tak tahu malu itu datang mengganggu kegiatan mereka.
Masih dalam posisi menundukan kepala, pelayan itu meremaas kedua jemari tangan karena merasa ketakutan melihat sikap Rio yang mulai tak bersahabat.
"Kalau itu saya kurang tahu, Pak, sebab Pak Putra maupun Bu Kayla tidak menyampaikan maksud dan tujuan mereka datang kesini."
"Sialan! Mau apa lagi sih mereka! Bukankah kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan kedua orang itu!" sungut Rio berapi-api.
Rini mengembuskan napas kasar. Tak bisa menyalahkan suaminya kenapa Rio tampak kesal akan kedatangan Mahesa dan Kayla di rumah itu. "Suruh mereka masuk dan minta menunggu kami di ruang tamu. Oh ya satu lagi, tolong buatkan minuman dan cemilan juga."
"Baby! Kenapa menyuruh mereka masuk? Aku tidak mau punya urusan apa-apa lagi dengan kedua manusia tak tahu malu itu!" Rio masih dalam mode geram, terlihat dari wajah yang memerah menahan amarah. Seandainya saja tidak ada Indah dan Bagus di ruangan itu, sudah banyak sumpah serapah dia ucapkan ditujukan kepada Putra dan Kayla.
"Rio, tidak baik bicara begitu terhadap Om-mu!" tegur Mama Rio terhadap putranya. "Bagaimanapun, dia adalah saudara angkat mendiang Papa-mu, Nak. Kamu berkewajiban untuk menghormatinya. Meskipun kamu membencinya, tapi kamu harus tetap menghormati Om Putra."
Rio berdecih kala mendengar sang mama malah menegurnya. "Tapi dia sendiri yang memutuskan hubungan persaudaraan dengan kita, Ma. Mama tidak ingat bagaimana perlakuan mereka terhadap kita dulu?"
Dada Rio terasa sesak kala membayangkan bagaimana sikap Naila dulu terhadap keluarganya, padahal Putra dan mendiang sang papa dibesarkan oleh dua orang yang sama dan dengan cinta serta kasih sayang dari orang yang sama pula.
__ADS_1
Melihat respon Rio, wanita paruh baya itu hanya dapat mengelus dada seraya menarik napas dalam. Sejujurnya, dia pun masih sakit hati bila mengingat kejadian di saat Naila dengan angkuhnya menghina suami dan dirinya di hadapan orang banyak. Putra, sebagai kakak tertua tak dapat berkutik sedikit pun hingga membiarkan Naila dengan leluasa mencaci dan memaki kedua orang tua Rio. Sungguh ironi sekali.
"Sudahlah, kita bahas lagi nanti. Yang penting, tanyakan dulu maksud kedatangan mereka apa," ujar Mama Rio bijak. Kemudian dia mengalihkan pandangan pada sang asisten. "Minta mereka menunggu di ruang tamu." Lantas, asisten itu pun undur diri dari hadapan ketiga majikannya.
"Kalian berdua temui Om Putra dan juga Kayla. Indah dan Bagus, biarkan Mama yang menemani mereka."
***
Kini, Rini dan Rio telah berada di ruang tamu. Kedua manik coklat pria yang berprofesi sebagai pengacara di salah satu firma hukum terkenal di Jakarta menatap sosok pria paruh baya dan seorang wanita yang dulu menjadi model papan atas terkenal di tanah air dan international.
Rini, sebagai tuan rumah tentu saja harus bersikap ramah terhadap tamu meski salah satu dari tamu itu adalah penyebab rusaknya rumah tangga Arumi dan Mahesa.
Dengan senyum yang dipaksakan, wanita itu berkata. "Silakan duduk, Om Putra, Kayla." Maka, kedua tamu tak diundang itu pun duduk di sofa.
"Mas Rio, kendalikan emosimu. Jangan turuti bisikan setan." Rini mencoba menjadi penengah walau sejujurnya dia pun ingin sekali berteriak pada Kayla karena model cantik itu telah mengkhianati persahabatan yang telah dibina selama puluhan tahun lamanya.
Akan tetapi, saat ini bukanlah waktu yang tepat baginya untuk memaki Kayla karena kondisi wanita itu tengah berbadan dua. Dia tidak mau terjadi hal buruk menimpa janin dalam kandungannya.
"Tumben sekali Om Putra dan Kayla datang kesini. Kalau boleh tahu, apa yang menyebabkan kalian berdua memutuskan menemui kami?" tanya Rini seraya tersenyum hangat ke arah dua tamu yang duduk dengan perasaan campur aduk.
Putra, sebagai orang yang dituakan membuka perbincangan malam hari itu. Pria paruh baya itu membenarkan posisi duduk, lalu berkata. "Sebenarnya, kedatangan Om dan Kayla ingin meminta tolong pada kalian berdua untuk membujuk Arumi agar bersedia membesuk Mahesa di rumah sakit."
"Om sudah mencoba menemui Arumi, tetapi hasilnya nihil. Om ... diusir oleh Dokter Rayyan," ucap Putra lirih.
__ADS_1
"Ternyata karma itu benar-benar ada ya? Dulu, keluarga Om Putra mengusirku dari rumah yang kalian tempati. Padahal kedatangan kami hanya ingin menjalin silaturahmi saja, tetapi istri Om yang jutek, angkuh dan bermulut pedas malah menuduh Mama dan Papa-ku berniat merampas harta warisan Kakek Adi. Dan sekarang, malah Om Putra diusir oleh sahabatku," ucap Rio diiringi tawa terbahak.
"Makanya, jadi orang itu jangan terlalu sombong dan angkuh. Selalu menatap ke atas tanpa melihat apakah di bawah sana ada batu ataupun lumpur yang dapat menyebabkan kita terjatuh."
Tawa Rio berhenti ketika melihat Rini mendelik ke arahnya dengan sorot mata tajam. 'Buset dah! Bini gue kenapa berubah jadi menyeramkan begini sih! Kayak kerasukan jin penunggu rumah sakit.'
"Kenapa Om bersikeras meminta Arumi datang membesuk Mahesa? Bukankah kalian sekeluarga sangat membenci Arumi?" tanya Rini hati-hati.
Putra dan Kayla menghela napas kasar hampir bersamaan. Sadar jika dulu mereka begiru membenci Arumi bahkan rela menyusun rencana mendepak wanita tak berdosa itu agar menjauh dari Mahesa selamanya. Namun, kini mereka sendiri yang meminta Arumi untuk hadir kembali setelah wanita itu meninggalkan Mahesa dan melepaskan statusnya sebagai nyonya muda Adiguna.
"Itu karena hanya Arumi-lah satu-satunya orang yang mampu membangunkan Mas Mahesa dari komanya, Rini." Kini giliran Kayla bersuara. Wanita itu turut membantu Putra menjelaskan alasannya mengapa mereka meminta bantuan Rini dan Rio untuk membujuk Arumi agar sudi kiranya membesuk Mahesa di rumah sakit.
Lagi-lagi Rio tertawa mendengar ucapan konyol Kayla. "Kenapa tidak kamu saja yang berusaha membangunkan sepupuku itu. Bukankah kamu adalah istrinya hem? Lantas, mengapa sekarang malah meminta bantuan orang lain." Pria itu menatap sinis ke arah Kayla. "Apakah ... karena rasa cinta Mahesa kepadamu tidak sebesar rasa cinta pria itu terhadap Arumi?"
Rio menyenderkan punggungnya di sandaran sofa, merentangkan kedua tangan di belakang punggung istrinya. "Lucu ya kalian ini. Dulu susah payah mencari cara mengusir Arumi agar tidak menjauh dari keluarga Adiguna. Eh ... sekarang malah meminta bantuan kami untuk membujuk wanita itu. Benar-benar konyol!"
Ingin sekali rasanya Kayla mengumpat dan melayangkan tamparan keras di pipi Rio karena tidak terima atas semua perkataan yang diucapkan oleh pria itu. Namun, dia sadar bahwa semua yang dikatakan oleh suami dari mantan sahabatnya itu benar adanya. Oleh karena itu, mantan model cantik itu hanya dapat menundukan wajah seraya meremaas ujung pakaian guna mengurai emosi dalam diri.
.
.
.
__ADS_1