
Naila baru saja keluar dari restoran. Ia beserta keempat teman-teman geng sosialitanya sedang berdiri di depan pintu masuk restoran tersebut. Seperti biasanya, akan ada drama baru yang tercipta sebelum emak-emak rempong itu pulang ke rumah masing-masing.
"Jangan lupa, Jeng Naila, luangkan waktu untuk kami agar bisa bercengkrama denganmu lagi membahas trik dan tips untuk mendapatkan menantu hebat seperti Kayla." Wanita berkacamata mengingatkan Naila agar ibu kandung dari Mahesa tidak lupa mengagendakan waktu untuk berbagi tips dan trik agar ia dan teman-temannya menjalin baik hubungan dengan seorang model terkenal di tanah air. Siapa tahu di antara mereka ada yang bernasib baik seperti Naila, mendapatkan menantu seorang model papan atas dengan segudang prestasi di dunia modeling.
"Tenang saja. Saya pasti memberitahu kalian kalau sudah ada waktu luang. Sering-sering buka grup sosialitas ya, Jeng agar tidak ketinggalan info terbaru dari saya," ucap Naila.
"Oke, siap. Ditunggu loh, Jeng," timpal yang lain.
Tak berselang lama, mobil jemputan ketiga ibu-ibu sosialita itu datang. Satu per satu dari mereka meninggalkan restoran tersebut. Kini hanya tersisa Naila dan Lena menunggu para sopir mereka untuk menjemput.
Lena dan Naila duduk di sebuah gazebo yang disediakan khusus bagi para pengunjung restoran.
Menunggu terlalu lama membuat Naila bosan apalagi sejak tadi Lena lebih memilih mengunci rapat bibirnya. Entah mengapa teman arisannya itu cenderung pendiam dibanding yang lain. Setiap kali berkumpul, ibu tiri dari Rayyan begitu irit dalam berbicara.
Saat Naila mulai jengah dengan situasi yang ada, wanita itu mencoba meramaikan suasana dengan cara mengajak ngobrol Lena.
"Jeng Lena, kalau tidak salah, anak tiri kamu itu 'kan seorang dokter dan baru tiba di Indonesia setelah beberapa tahun tinggal di Jepang. Benar 'kan?" tanya Naila untuk memastikan jikalau dugaannya itu benar.
Kendati kedua wanita itu sering menghabiskan waktu bersama, Lena jarang sekali membahas kehidupan pribadi keluarganya apalagi membicarakan putra sulung dari mending istri pertama Firdaus. Menurut wanita itu tidaklah penting menceritakan kehidupan pribadi keluarganya untuk dijadikan konsumsi orang banyak. Kalaupun terpaksa bercerita ia akan menceritakan sekadarnya saja.
"Oh iya, Jeng, benar sekali. Sudah hampir satu bulan putra saya berada di Indonesia. Dia langsung diminta oleh suami saya untuk membantu di rumah sakit yang didirikan oleh Mas Firdaus," jawab Lena ramah. Walau terlihat risih karena Naila membahas kehidupan pribadinya tetapi wanita itu mencoba bersikap biasa saja.
"Enak ya, baru pulang dari Jepang tapi sudah diberikan tanggung jawab untuk membantu rumah sakit. Tidak perlu kerjakeras seperti anak saya dulu," celetuk Naila.
Cuaca panas membuat wanita itu mengeluarkan kipas lipat atau yang biasa dikenal oleh masyarakat Jepang dengan istilah 'sensu'. Kipas tangan dengan motif bunga sakura menjadi barang wajib yang harus dibawa oleh Naila.
"Dulu, anak saya itu tidak langsung diberikan tanggung jawab untuk mengelola usaha Mas Putra. Dia mulai segalanya dari nol. Bahkan untuk masuk ke perusahaan suami saya, dia mengikuti seleksi sama seperti karyawan lain. Ikut antri, tes wawancara, prikotes dan pelatihan segala. Beda sekali ya dengan anak tiri Jeng Lena," ucap Naila seraya melirik sekilas ke arah Lena dengan sinis. Sorot mata wanita itu seolah memancarkan ketidaksukaan akan nasib baik yang datang menghampiri Rayyan.
__ADS_1
Mendengar perkataan Naila, membuat wanita itu merasa tersindir. Semua yang dikatakan oleh Naila memang benar, ia tak menampik itu. Akan tetapi, sebagai seorang ibu alangkah baiknya untuk tidak membanding-bandingkan anak-anak mereka, sebab Naila tidak tahu alasan apa yang membuat Firdaus memutuskan Rayyan untuk membantu di rumah sakit itu.
"Maaf, maksud Jeng Naila berkata seperti itu apa? Jeng Naila 'kan tidak tahu alasan dibalik keputusan Mas Firdaus meminta putra saya bekerja di rumah sakit itu apa. Kenapa Jeng Naila seolah-olah iri ya dengan nasib baik yang datang menghampiri Rayyan, putra saya," skak Lena. Walaupun ia dibuat geram oleh tingkah Naila, Lena berusaha untuk tenang dan tidak terlalu emosi.
Tak terima dibilang iri oleh Lena, membuat Naila terpancing emosi. Wanita itu menaikan satu oktaf nada suaranya. "Siapa yang iri? Jeng Lena jangan asal bicara! Mana mungkin saya iri pada kehidupan keluarga Jeng Lena yang berantakan. Tidak pernah harmonis."
"Saya tahu semua bagaimana hubungan Jeng Lena dengan putra sulung suami Jeng Lena bersama mendiang istri pertama, tidak pernah akur 'kan?" sindir Naila seraya menaikan satu sudut bibirnya ke atas. "Makanya Jeng, kalau punya anak itu diajarkan sopan santun dan tata krama agar tumbuh menjadi anak yang tahu sopan santun saat berbicara dengan orang tua."
"Ini malah anak dibiarkan kuliah di Jepang selama bertahun-tahun tanpa ada pengawasan dari orang tua. Dibiarkan hidup bebas di luar negeri. Akhirnya malah tumbuh menjadi anak pembangkang yang tidak pernah menghargai orang tua."
Kesabaran Lena telah habis, ia sudah tak tahan mendengar sindiran pedas dari mulut 'lemes' teman gengnya itu. Lena menggebrak ruang kosong yang ada di sisinya, bola mata wanita itu melotot seolah ingin meloncat keluar.
"Jeng Naila hati-hati ya kalau bicara. Jangan pernah menjelek-jelekan anak saya. Meskipun dia cuma anak tiri tetapi saya sudah menganggap Rayyan seperti anak kandung sendiri. Saya tidak terima jika ada orang lain menghina dia."
"Untuk urusan mendidik anak, sebaiknya Jeng Naila jangan ikut campur. Saya dan Mas Firdaus punya cara sendiri dalam mendidik kedua putra kami," sungut Lena.
Naila menutup kipas lipat dengan kasar hingga menimbulkan suara berisik di sekitar. Ia menghunus tatapan tajam ke arah Lena.
Lena mendecakan lidahnya pelan. Sungguh sia-sia menghabiskan waktu untuk membalas semua perkataan Naila. Bukannya wanita itu sadar, Naila malah semakin menjadi-jadi.
Tak ingin energinya habis terkuras hanya sekadar meladeni kegilaan Naila, Lena bangkit dari duduk seraya berkata, "Maaf, Jeng, sepertinya saya kebelet. Selagi sopir Pak Imam belum tiba di sini, saya akan ke toilet dulu." Tanpa menunggu jawaban dari Naila, Lena berlalu begitu saja.
"Ck! Dasar sombong. Status hanya istri kedua tapi laganya seperti Nyonya Besar. Aku heran bagaimana suaminya bisa tahan dengan sikap wanita itu."
"Aku yakin, suami Jeng Lena pasti ada main di luaran sana. Kalau dipikir-pikir, mana ada sih suami yang tahan dengan wanita seperti dia. Sombong, belagu, sering pamer. Sungguh bukan tipe istri idaman," sambung Naila yang kesal terhadap Lena.
Tak lama kemudian, sopir yang diminta oleh Naila datang menjemput. Wanita itu masuk ke dalam mobil. Duduk manis di kursi penumpang.
__ADS_1
Ketika mobil yang ditumpangi oleh Naila melaju memecah jalanan ibu kota, telepon genggam wanita itu bergetar. Ia mengeluarkan benda pipih itu dari dalam tas. Alangkah terkejutnya wanita itu saat melihat tiga puluh panggilan telepon tak terjawab serta sepuluh pesan singkat belum teebaca.
Tanpa membuang waktu, Naila segera menggeser tombol hijau kala suami tercinta menghubunginya untuk kesekian kali.
"Halo, Ma! Kamu dari mana saja? Papa sudah meneleponmu puluhan kali tetapi tak pernah kamu angkat!" sembur Putra saat sambungan telepon baru terhubung.
"Kamu itu pergi tidak pernah izin pada Papa. Giliran dihubungi malah menghilang," sambung Putra di seberang sana.
Naila memutar bola mata dengan malas. 'Andaikan saja aku tahu dia meneleponku hanya sekadar ingin memarahiku, sebaiknya tadi tidak usah kuangkat saja panggilan teleponnya,' batinnya. 'Membuang waktuku saja.'
Wanita itu kembali menempelkan telepon genggam itu ke telinga, "Iya, Pa, maaf. Mama buru-buru soalnya. Ada janji bertemu dengan teman-teman sosialita," balas Naila santai. Tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Jadi, sejak tadi Papa telepon, kamu sedang bersama teman-temanmu? Kamu bergosip dan membicarakan hal-hal tak penting, begitu?" bentak Putra.
"Ih ... Papa ini apa-apaan sih! Mama cuma kumpul bareng teman-teman, memangnya tidak boleh?" Kali ini Naila meninggikan nada suaranya. Ia tak kalah emosi dibanding Putra.
"Sudahlah, kalau Papa cuma mau memarahiku, sebaiknya kita akhiri saja sambungan telepon ini!"
Naila kesal karena Putra terus menerus menyudutkan dirinya. Akan tetapi, belum sempat ia menggeser layar ponsel di seberang sana Mahesa berkata, "Datanglah ke rumah sakit Persada International. Telah terjadi sesuatu pada Mahesa dan Kayla. Aku tunggu di sini."
Belum sempat Naila bertanya lebih lanjut, Putra sudah memutuskan sambungan telepon. Seketika wajah wanita itu berubah pucat, kata-kata terakhir suaminya kembali terngiang-ngiang di telinga.
Telah terjadi sesuatu pada Mahesa dan Kayla.
Dengan bibir gemetar, Naila berkata, "Pak, kita ke rumah sakit Persada sekarang!" titah wanita itu pada sang sopir.
.
__ADS_1
.
.