Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Cinta Tak Harus Memiliki (S2)


__ADS_3

Lima Bulan Kemudian


"Tak kusangka, ternyata Kayla benar-benar sudah move on dari Mahesa. Dulu, aku pikir dia akan terus berjuang untuk bisa merebut kembali cinta dan kasih sayang dari lelaki itu tetapi ternyata dugaanku salah. Mantan sahabat kita lebih memilih mengubur semua kenangan dan mencoba membuka hati untuk pria lain," ucap Rini.


Arumi yang duduk di sebelah sang sahabat tersenyum tipis sambil terus memperhatikan si kembar. Ia, Rini serta anak-anak mereka sedang berada di taman bermain khusus anak-anak di rumah sakit milik mendiang Mei Ling. Empat bayi kecil tampak sedang asyik bermain bersama dengan teman-teman seusianya.


Hari ini, usia Triplet telah menginjak tiga belas bulan. Namun, tumbuh kembang mereka seperti anak usia dua tahun. Jadi jangan heran bila saat ini buah cinta Arumi bersama suami tercinta sudah dapat berjalan, berlarian ke sana kemari sambil sesekali melambaikan tangan ke arah sang bunda.


Shaka--putra bungsu dari pasangan Rini dan Rio pun mengalami hal yang sama. Bayi laki-laki yang pagi ini mengenakan celana panjang sebatas mata kaki dan kaos navy bergambar sepeda ikut berlarian menyusul Triplet. Sesekali terdengar suara celotehan dari bibir mungil mereka.


"Yeah, kamu benar. Saat pertama kali mendengar dia akan menikah, aku cukup terkejut karena tidak menyangka bisa secepat itu move on dari Mas Mahes. Kupikir, dia membutuhkan waktu yang sangat lama hingga benar-benar dapat melupakan mantan suaminya ," jawab Arumi ikut membenarkan perkataan Rini. "Namun, ketika menghadiri akad nikah dan resepsi pernikahan Kayla, aku bisa tahu alasan apa yang membuatnya begitu yakin menerima Husni menjadi suaminya."


Jawaban Arumi membuat Rini semakin penasaran. Tatkala dia menghadiri moment sakral penyatuan dua insan manusia yang berlangsung tiga hari lalu, istri cantik dari pengacara kondang sama sekali tak memperhatikan situasi sekitar. Ia terlalu sibuk mengurusi Indah dan Bagus yang selalu bertengkar hanya karena hal sepele. Belum lagi si bungsu Shaka selalu minta digendong dan tak mau lepas dari sang mama.


Rini membenarkan posisi duduk hingga mereka saling berhadapan. Memicingkan mata, menatap lekat iris coklat milik sang sahabat. "Katakan padaku, apa yang membuat Kayla mau menerima Husni padahal mereka baru beberapa bulan melakukan masa penjajakan."


"Karena ini, Rin," ucap Arumi sambil mengangkat tangannya ke atas dan menyentuh posisi hatinya berada. "Hati yang dimiliki Husni begitu bersih sehingga ia mau menerima Kayla apa adanya. Selain itu, aku pun dapat melihat ketulusan cinta tersirat dari sorot mata ketika Husni menatap mantan sahabat kita. Bola mata pria itu berpendar bahagia setiap kali melihat istrinya mengulum senyum di wajah."


"Benar katamu. Kalau Husni tak mempunyai hati yang lapang mana mungkin mau menerima seseorang yang mempunyai masa lalu kelam. Selain itu, Kayla pun selamanya tak kan pernah bisa memberikan keturunan. Lalu apa yang bisa diharapkan dari wanita seperti Kayla? Nama baiknya jelek di dunia modeling, karir hancur, di mana-mana selalu dihujat dan difitnah ditambah dia juga infertil karena rahim telah diangkat. Hanya lelaki sejati saja yang bersedia menerima wanita tak sempurna seperti mantan sahabat kita."


"Itulah kenapa aku bilang kalau hati Husni bersih, karena dia bersedia menerima Kayla apa pun kondisinya. Tak peduli apakah Kayla bisa memberikan keturunan atau tidak yang penting dapat hidup bersama dan hidup bahagia bersamanya."


"Seperti kamu dan Rayyan?" tebak Rini, lalu tertawa pelan mendapati senyum simpul di wajah Arumi.


Arumi menganggukan kepala, lalu menjawab, "Benar."


Kemudian, tatapan Arumi menerawang jauh, seolah jiwanya tersesat pada kejadian di masa lampau. Bayangan wajah seorang pria berwajah oriental dengan mata sipit dan hidung mancur melintas dalam benaknya. Pertemuan pertama yang tak berkesan terus menari indah di pelupuk mata. Tak disangka, pertemuan itulah yang akhirnya membawa mereka melangkah bersama menuju pelaminan.


Berkat ketulusan hati serta besarnya cinta yang diberi, Arumi luluh dan mencoba meyakinkan kembali bahwa cinta suci itu masih ada bersemayam dalam diri. Meskipun pria itu bukan Mahesa tetapi ia menaruh harapan besar kepada Rayyan bahwa pria yang tak lain merupakan atasannya saat masih bekerja dulu bisa memberikan kebahagiaan yang pernah diberi sang mantan suami. Terbukti, pernikahan mereka kini berakhir bahagia dan Tuhan juga memberikan anak-anak yang lucu dan menggemaskan.


"Bunda!" Zahira berteriak dengan logat khas anak kecil berusia satu tahun sambil berhambur mendekati sang bunda. Mbak Tini tampak begitu sigap menangkap tubuh si bungsu bila sewaktu-waktu keseimbangan tubuhnya hilang.

__ADS_1


Suara teriakan itu mengembalikan kembali kesadaran Arumi. Lantas, dia pun bangkit dan meletakkan lutut di lantai kemudian merentangkan kedua tangan ke samping. "Kalau jalan hati-hati dong, Sayang. Jangan sampai terjatuh."


Zahira kecil tertawa lebar hingga memperlihatkan deretan gigi putih. Wajah polos tanpa dosa tersenyum manis hingga membuat kedua mata sipit semakin tak terlihat. "Mimik susu, Bunda! Adik mau susu!"


Arumi membenarkan poni Zahira yang menutupi matanya yang sipit. "Adik mau Mimik, ya?" Si cantik mengangguk cepat. "Ya sudah, ayo ikut Bunda." Lantas, wanita itu membawa Zahira dalam gendongan.


"Rini, aku tinggal sebentar ya mau memberikan ASI terlebih dulu," kata Arumi kepada sang sahabat. Kemudian dia beralih menatap mbak Tini. "Mbak, titip anak-anak dulu. Kalau mereka haus dan aku belum kembali, tolong bawa mereka ke nursery room (ruang ibu dan anak)."


"Baik, Bu Rumi," jawab Mbak Tini singkat.


Sepanjang jalan menuju ruang ibu dan anak, Zahira terus berceloteh terkadang menyanyikan lagu kesukaannya yang sering diputar oleh sang ayah. Anak bungsu Arumi begitu bahagia dalam gendongan. Begitu pun dengan si ibu, dia terus mengulum senyum tatkala menyaksikan anak-anaknya tumbuh sehat, kuat dan cerdas.


Akan tetapi, senyuman itu segera sirna kala tanpa sengaja berpapasan dengan Mahesa--mantan suaminya terdahulu.


"Arumi?" panggil Mahesa lirih. Pria itu mendongakan kepala dan seketika itu juga dunianya berhenti berputar.


Begitu pula wanita yang ada di hadapannya. Ia lebih terkejut karena tak menduga akan bertemu kembali dengan Mahesa setelah sekian lama. "Mas ... Mahes?" ucap Arumi terbata.


"Bunda, mimik! Haus!" Perkataan Zahira memecah keheningan. Baik Arumi, Mahesa dan Putra hampir bersamaan menoleh ke sumber suara.


"Apakah ... ini anakmu dengan pria itu?" tanya Mahesa, tertegun beberapa saat melihat betapa lucu dan menggemaskannya Zahira.


"Iya. Namanya Zahira." Arumi mengalihkan pandangan ke arah Zahira dan mengusap kedua pipi anaknya. "Sebentar ya, Sayang."


Mahesa membuka mulutnya dan bersiap mengucapkan sesuatu. Namun, suara seseorang terpaksa mengurungkan niatannya.


"Babe, sedang apa kamu di sini?" Tangan kekar itu melingkar posesif di pinggang sang istri.


Arumi memalingkan wajah dari Mahesa dan menatap penuh cinta ke arah suaminya. "Aku hendak membawa Zahira ke ruang ibu dan anak."


"Ayah!" pekik histeris Zahira ketika melihat ayah tercinta berada di dekatnya. "Ayah, gendong!" rengek Zahira seraya menaikan tangan ke udara.

__ADS_1


"Tidak disangka, akhirnya kita bertemu lagi di sini," ucap Rayyan sambil membawa kepala Zahira ke dadanya yang bidang. Sebelah tangan masih melingkar di pinggang Arumi. Semakin mengeratkan genggaman seakan ingin menunjukan bahwa wanita cantik di sebelahnya hanya milik dia seorang.


"Halo, Dokter Rayyan. Benar sekali, tidak disangka bisa bertemu Anda lagi di sini," sergah Putra cepat sedangkan Nadira hanya membeku sambil menatap wajah Arumi yang terlihat begitu bersinar meski menggunakan riasan make up tipis.


Diam-diam, wanita berseragam perawat mengagumi kecantikan alami mantan suami Mahesa. 'Pantas saja Pak Mahesa begitu tergila-gila. Lah wong wajah Bu Arumi serta penampilannya cukup berkelas. Jika dibandingkan dengannya, aku tidak ada arti apa-apa,' batinnya.


"Apakah Pak Putra datang ke sini ingin mengontrol kesehatan putera Bapak?" tanya Rayyan basa basi. Walaupun percikan api cemburu mulai menjalar ke seluruh tubuh, tetapi ia berusaha menyembunyikan itu semua.


Putra tersenyum canggung. Perasaan bersalah menyelusup ke relung hati karena merasa gagal mencegah Mahesa bertemu kembali dengan Arumi. Namun, sungguh, ini semua di luar kuasanya. Kedatangan mereka ke rumah sakit hanya ingin melakukan fisioterapi dan memastikan kondisi kesehatan Mahesa. Itu saja, tidak lebih!


"Benar, Dokter. Baru saja kami menemui dokter. Alhamdulillah, keadaan anak saya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya."


"Oh begitu. Syukurlah. Saya ikut senang mendengarnya." Lantas, Rayyan menatap istri dan anak bungsunya dan kembali menatap Putra serta Mahesa. "Ya sudah, kalau begitu kami permisi dulu. Saya harus menemani Arumi ke nursery room."


"Mari, Pak Putra, Pak Mahesa," sambung Rayyan seraya membawa anak istrinya menjauhi Mahesa. Sebelah tangan menggendong Zahira dan sebelah lagi melingkar di pinggang sang istri.


Lambat laun, tubuh mereka menghilang bersamaan dengan tertutupnya pintu lift. Mahesa masih menatap mantan istrinya dengan tatapan nanar. Ia menahan sesak di dada. Hati terasa sakit bagai ditikam sebilah pisau. Begitu sakit tetapi tak berdarah.


Mengerti bagaimana perasaan anaknya saat ini, Putra menepuk pundak Mahesa pelan. "Ikhlaskan semuanya, Nak. Jangan lagi mengharapkan sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain. Biarkan dia bahagia bersama keluarga kecilnya."


Menarik napas dalam, kemudian mengembuskan napas secara perlahan sambil memejamkan mata. "Papa benar, tidak seharusnya aku terus mengharapkan wanita itu kembali menjadi milikku setelah apa yang terjadi di masa lalu. Kini aku sadar bahwa cinta tak harus memiliki."


Nadira mendorong kursi roda milik Mahesa meninggalkan bangunan megah layaknya hotel bintang lima.


Saat roda terbuat dari karet berputar di lantai, di saat itu juga Mahesa mencoba mengubur semua kenangan masa lalu saat masih bersama Arumi. 'Maafkan aku, Arumi, karena pernah menyakitimu. Sekarang aku tahu bahwa kamu memang sangat berarti dalam hidupku. Namun, aku tak bisa memaksamu untuk berada di sisiku lagi. Melihatmu tertawa bersama pria itu, aku tersadar kalau cintamu sudah bukan untukku lagi. Selamat tinggal Arumi, semoga hidupmu bahagia selalu.'


'Mungkin ini adalah jalannya, kita harus berpisah. Kamu hidup bahagia bersama suami dan anak-anakmu sedangkan aku harus hidup menyendiri sampai dapat melupakanmu serta kenangan indab saat kita bersama.'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2