Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Dia Lagi


__ADS_3

Arumi semakin dibuat penasaran oleh sikap Rio. Tak tahan menunggu kelanjutan ucapan pria itu, ia mencodongkan badan ke depan sambil berkata, “Kalau sampai kamu tidak memberitahuku dengan segera maka jangan salahkan aku jika Rini memintamu tidur di teras!” Ancam wanita itu. “Kamu pasti tahu, Istrimu itu sangat menyayangiku. Jadi, bersiaplah tidur di luar hanya ditemani bintang dan berselimutkan angin.”


Rio menghela napas dengan kasar. Ia tak menyangkan Arumi akan mengancamnya dengan menggunakan titik kelemahan pria itu. Arumi menggunakan Rini sebagai senjata untuk mengancamnya.


“Aku tak habis pikir, kamu akan menggunakan Rini sebagai senjata untuk mengancamku. Jangan-jangan, setelah ini kamu juga akan menggunakan kedua anakku untuk dijadikan senjata untuk mengancamku lagi!” sindir pria itu.


Kemudian ia bangkit dari sofa, lalu berjalan ke arah jendela yang berukuran setinggi tiga meter. Pria itu menatap pemandangan di luar sambil mencari cara untuk menyampaikan hal yang mengganjal pikirannya.


Pria itu memejamkan mata, menarik napas panjang kemudian menghembusan secara perlahan. Mengumpulkan keberanian untuk memberitahu Arumi langkah pertama yang harus dilakukan oleh wanita itu.


Ia membalikkan tubuh, menatap Arumi dengan intens. “Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah … memberitahu Tante Nyimas tentang keretakan rumah tanggamu ini. Bagaimanapun juga, beliau berhak tahu tentang permasalahan yang sedang kalian hadapi saat ini.”


“Dengan kondisi jantung yang kurang sehat akan sangat beresiko bila kamu tiba-tiba saja mengutarakan niat untuk bercerai dengan Mahesa. Jadi, carilah cara untuk menyampaikan keinginanmu pada Tante Nyimas tanpa membuatnya terkejut.”


Arumi menelan ludah dengan susah payah ketika mendengarkan penjelasan Rio. Semua yang dikatakan oleh pria itu benar adanya. Selain dirinya, akan ada wanita lain yang terluka bila ia melayangkan surat gugatan cerai ke pengadilan agama.

__ADS_1


“Kamu benar. Aku tidak bisa gegabah dalam mengambil keputusan.” Wanita itu meraih tisu yang ada di atas meja, kemudian menghapus sisa air mata yang tersisa di wajah. “Aku akan datang lagi ke sini. Do’akan aku semoga Mama bisa menerima keputusanku.”


Arumi berjalan dengan langkah gontai dan berhenti ketika di depan ambang pintu. “Terima kasih karena kamu sudah mau membantuku keluar dari jeratan keluarga Adiguna. Sungguh, Rini sangat beruntung memiliki suami sepertimu,” ucapnya tulus.


Jemari lentik itu menggenggam handle pintu, lalu ia melangkah ke luar ruangan. Sepanjang jalan, ia terdiam. Tatapan matanya menerawang jauh, seolah jiwanya tersesat di sebuah dimensi lain.


Hanya tersisa beberapa meter lagi Arumi mencapai pintu lift. Ia berjalan perlahan menuju pintu itu. Namun, langkah kaki Arumi seketika terhenti. Ia tampak terkejut kala melihat Rayyan berjalan ke arahnya. Sementara itu, di seberang sana, Rayyan pun tampak terkejut dengan kehadiran partner kerjanya itu.


‘Sedang apa wanita itu di sini? Apakah dia sengaja mengikutiku?’ batin Rayyan.


Akhirnya ia melanjutkan langkahnya tanpa memedulikan tatapan sinis dari pria itu. Kini posisi Arumi dan Rayyan saling berhadapan.


“Sedang apa kamu di sini? Kamu sengaja membuntuti saya agar luluh dan mengizinkan kamu bekerja lagi di rumah sakit?” tanya Rayyan ketus. Ia menghunuskan tatapan tajam seolah ingin menelan Arumi hidup-hidup.


Arumi mengerutkan kening. “Dih, Dokter Rayyan GR sekali! Memangnya ini kantor milik Anda sehingga saya dilarang datang berkunjung ke sini!” balas Arumi tak kalah sinis.

__ADS_1


“Asal Dokter tahu, saya bukan tipe wanita penggoda, yang bersedia merayu lawan jenis untuk mendapatkan apa yang saya inginkan. Terlebih lagi laki-laki itu adalah Dokter!” sungutnya.


Kemudian Arumi berlalu begitu saja, meninggalkan Rayyan yang masih membeku di tempat.


Bola mata sipit Rayyan membulat sempurna setelah mendengar ucapan Arumi. “Ada apa dengan wanita itu? Kenapa dia jadi sensitif begini!” gumam pria itu. Akhirnya ia pun berjalan perlahan menuju sebuah ruangan.


“Dasar, Dokter Psikopat! Dokter aneh! Dokter sok ke-pede-an! Cih! Dia pikir aku datang ke kantor itu untuk menemuinya!” sungut Arumi berapi-api.


“Kalau bukan karena ingin bertemu Rio, aku pun malas bertemu pria aneh itu!”


“Argh!” pekik Arumi sambil mengacak-acak rambutnya. Rambut panjang hitam tergerai itu semakin berantakan seperti tidak pernah disisir oleh sang empunya.


Arumi kesal sebab hari ini harus bersitatap lagi dengan pria yang sudah mengancurkan karirnya sebagai seorang dokter.


Dengan perasaan campur aduk, Arumi menyalakan mesin mobil lalu melajukan kendaraan itu keluar dari gedung bangunan berlantai sebelas menuju kediaman Nyimas yang ada di kawasan Tangerang Selatan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2