
"Apa-apaan ini!" pekik Kayla histeris kala merasakan kepalanya terasa hangat.
Refleks, Kayla bangkit dari kursi yang terbuat dari plastik berwarna merah. Ia hendak menoleh ke belakang, melihat siapa gerangan yang berani menuangkan teh manis hangat ke rambutnya. Akan tetapi, tangan wanita itu lebih gesit daripada gerakan Kayla. Tiba-tiba saja suara teriakan memekakan gendang telinga.
Suasana kedai bubur semakin ramai tatkala beberapa pembeli dan orang-orang yang kebetulan lewat berkerumun mendekati sumber keributan.
"Aw! Sakit!" teriak Kayla saat tangan wanita asing itu menjambak rambut sang model. Akibat perbuatan wanita itu, kepala Kayla mendongak ke atas. "Lepaskan aku!"
"Akan kulepaskan jika aku sudah puas bermain denganmu!" bentak wanita asing itu. "Anggap saja ini sebagai balasan setimpal bagi seorang pelakor sepertimu!" Wanita asing itu semakin mengeratkan genggaman sehingga membuat Kayla meringis kesakitan.
Wajah Kayla memerah, butiran kristal pun hampir membasahi pipi. Jemari tangan lentik itu berusaha mencekal lengan wanita asing, tapi usahanya sia-sia sebab sebelah tangannya dicekal oleh wanita asing lain.
Mona yang duduk di sebelah Kayla ikut terkejut dengan insiden yang terjadi. Tak menyangka jika temannya mendapat serangan dadakan dari geng emak-emak berdaster. Terlihat dari semua anggota serempak mengenakan pakaian langsungan dengan corak dan warna yang berbeda. Mona hendak bangkit dari kursi, tapi dua orang emak-emak berdaster melangkah mendekati asisten Kayla.
Dua orang wanita itu membusungkan dada ke depan dengan dagu terangkat ke atas, lalu berkata. "Sebaiknya, Mbak tidak usah ikut campur. Biarkan kami para Emak-Emak berdaster melampiaskan kemarahan pada Pelakor itu!" sembur wanita bertubuh semok. Wanita itu melirik sekilas ke arah Kayla dengan tatapan sinis.
"Jika Mbak tetap memaksa, maka jangan salahkan kami melakukan perbuatan sama padamu!" sahut wanita berdaster yang berdiri di sisi wanita bertubuh semok.
Mendapat ancaman dari kedua emak-emak berdaster, Mona terdiam. Bola mata itu bergerak memperhatikan keadaan sekitar, rupanya kedai itu telah disabotase oleh geng Front Pembela Istri Sah atau yang lebih dikenal dengan singkatan FPIS. Bahkan, penjual bubur ayam dan kedua pelayannya tak bisa berkutik. Mereka hanya membeku memperhatikan Kayla diserang oleh anggota geng.
'Sialan! Seharusnya aku langsung membawa Kayla pergi dari sini setelah melihat ada sesuatu yang janggal bukan malah luluh dan membiarkan dia duduk manis sambil menyesap teh hangat,' batin Mona. Raut penyesalan terlihat jelas di wajah.
Seandainya saja hanya ada dua orang emak berdaster di dalam kedai itu, mungkin Mona bisa membantu melepaskan Kayla dari jeratan tangan sang ketua geng tapi sayang para wanita yang tergabung dalam geng FPIS telah menguasai seisi ruangan itu. Akhirnya, Mona cuma bisa pasrah melihat keganasan ketua geng saat menarik mahkota hitam milik temannya.
"Dasar pelakor! Tidak tahu diri. Suami sahabat sendiri diembat. Memangnya disitu sudah tidak laku lagi sehingga nekad merampas milik orang lain!"
"Mempunyai wajah cantik, fisik sempurna malah jadi pelakor. Memangnya kamu tidak malu digunjingkan sana sini dan disebut seorang pelakor!" timpal yang lain.
"Kupikir, tampaknya model satu ini urat malunya sudah putus sehingga tidak sadar jika perbuatannya itu sudah membuat hati wanita lain terluka!" sahut temannya yang lain.
__ADS_1
"Kalian benar. Jika dia masih memiliki urat malu dan hati nurani sebagai seorang wanita maka tidak mungkin tega merebut suami orang. Betul tidak teman-teman?" ujar ketua geng.
Ketua geng itu begitu murka karena Kayla telah merebut suami dari Arumi yang tak lain merupakan sahabat dari sang model. Tindakan yang dilakukan oleh emak berdaster itu memang tak patut untuk dicontoh karena telah berbuat kekerasan. Namun, ia dan temang gengnya tidak tahan lagi saat melihat wajah sang pelakor begitu bersinar bahagia setelah merampas sesuatu yang berharga dari tangan sahabatnya sendiri.
"Betul!" seru beberapa anggota geng yang lain.
"Heh, siapa kamu? Beraninya berbuat anarkis seperti ini di tempat umum! Aku bisa melaporkan kalian pada pihak berwajib!" sembur Kayla tak kalah emosi. Wanita itu mendelik sambil menatap lekat wajah sang ketua geng.
Ketua geng berdaster menyeringai, tersenyum mengejek ke arah Kayla. Mendengar nama polisi disebut, nyalinya sedikit menciut. Akan tetapi, ia berusaha bersikap tenang agar Kayla tak berada di atas angin.
Dengan kasar ketua geng berdaster melepaskan cengkraman tangan dari rambut panjang milik sang model. Walaupun hanya sebentar, setidaknya cukup membuat wanita asing itu melampiaskan kekesalannya karena sikap jahat Kayla yang tega merebut suami Arumi.
Kesempatan ini digunakan Kayla untuk menjauhkan diri dari wanita asing itu. Merangkak mendekati tembok berharap para anggota geng berdaster itu tak melakukan perbuatan gila lainnya.
"Dasar sinting! Gila! Bodoh! Seenaknya saja menjambak rambutku. Kalau tidak tahu kalau--"
Byur!
"Argh!" Kayla berteriak histeris kala mencium aroma bau khas telur busuk jatuh di kepalanya. Aroma wangi buah strawberi yang menguar dari rambut Kayla kini tergantikan oleh bau khas telur busuk, membuat wanita itu mual dan ingin muntah.
"Itu balasan dari kami atas perbuatanmu yang tega merebut suami orang. Tidak laku di pasaran malah nekad merampas milik orang lain. Dasar tidak tahu malu!"
"Dasar pelakor!" seru para anggota geng hampir bersamaan.
"Hu ... tidak tahu malu!" teriak mereka seraya mengangkat ibu jari ke bawah.
Sebagian dari mereka ada yang mencemooh, menghina bahkan menyeringai sinis ke arah Kayla. Para wanita itu melampiaskan kekesalannya pada Kayla dengan berbagai macam cara.
Dipermalukan di depan umum dengan cara diolok-olok membuat Kayla tidak tahan. Ia terduduk di lantai dengan kedua lutut menyentuh perut, kepala tertunduk dan kedua tangan menutupi telinga. Bayangan kejadian di masa lalu kembali melintas di pelupuk mata.
__ADS_1
Kejadian di mana teman-temannya di panti asuhan membully Kayla dan menghina wanita itu terekam kembali dalam ingatannya. Tubuh wanita itu gemetar hebat dan air mata pun jatuh membasahi pipi.
"Tidak. Aku bukan anak haram!" racau Kayla lirih. "Aku punya orang tua lengkap. Aku bukan anak haram." Kembali terisak seraya menggelengkan kepala, menyingkirkan ingatan buruk di masa lalu.
Mata Mona terbelalak sempurna, tak mengira kedatangan mereka ke kedai bubur akan berubah menjadi insiden yang tak mengenakan. Netranya melihat ke sekeliling tampak senyuman penuh arti terlukis di wajah orang-orang itu. Pandangan Mona beralih pada Kayla yang tengah terduduk di tengah ruangan dalam keadaan memprihatinkan.
"Kayla!" jerit Mona seraya berlari, lalu berjongkok di sisi temannya. "Kayla, kamu tidak apa-apa?"
"Hei ... jawab aku, Kay!" Mona menyentuh bahu wanita itu.
Sadar bahwa trauma masa lalu kembali di alami Kayla, Mona membawa tubuh temannya dalam dekapan. Mengusap lembut punggung model cantik itu seraya berkata, "Tenanglah, semua akan baik-baik saja."
Kayla sedikit lebih tenang. Wanita itu mulai dapat menguasai diri dan tubuhnya pun sudah tidak terlalu gemetar dari sebelumnya.
"Kita pergi dari sini ya!" ucap Mona lembut.
Perlahan, Mona berusaha untuk bangkit berdiri. Tangan wanita itu tetap memeluk Kayla. Ia memapah Kayla melewati kerumunan orang banyak.
Saat melewati orang-orang itu, satu di antara mereka berkata. "Awas ya, jangan pernah datang lagi ke sini. Kami tidak sudi melihat seorang pelakor berkeliaran di wilayah ini!"
Mona tak memedulikan ucapan wanita itu. Ia terus mengayunkan kaki keluar dari kedai bubur itu. Tatapan mata fokus ke depan, tidak mau menoleh ke kanan ataupun ke kiri, apalagi ke belakang.
Saat tiba di dalam mobil, Mona membantu Kayla memasangkan sabuk pengaman di tubuh temannya. Setelah memastikan wanita itu duduk aman di kursi penumpang, barulah ia masuk ke dalam mobil.
"Kamu tenang ya, kita akan pulang ke apartemen sekarang." Mona mulai menyalakan mesin mobil, lalu menginjak pedal gas meninggalkan parkiran. Beruntungnya jarak antara kedai bubur itu tidak terlalu jauh dari apartemen.
.
.
__ADS_1
.