
Tokyo, Jepang
Jepang merupakan salah satu destinasi favorit masyarakat Indonesia. Dikenal akan keindahan bunga sakura dan Gunung Fuji yang masuk dalam daftar sebagai warisan budaya dunia UNESCO pada tahun 2013 lalu.
Selama beberapa tahun menetap di Jepang, Rayyan sudah tidak asing lagi dengan budaya serta kebiasaan masyarakat setempat. Ia pun sudah terbiasa dengan iklim di negara tersebut.
Memasuki bulan Februari, biasanya negara ini memasuki musim dingin. Salju akan turun di beberapa wilayah tertentu, kecuali Tokyo, Fukuoka, dan Osaka. Ketiga wilayah itu sangat jarang dihujani salju. Oleh karena itu, jika para wisatawan ingin menikmati salju harus pergi ke beberapa wilayah menggunakan Shinkansen.
Hari ini, Rayyan sengaja mengajak Arumi pergi untuk menikmati salju di Gala Yuzawa. Memakan waktu tempuh sekitar satu jam lamanya menggunakan kereta cepat Shinkansen dari Tokyo. Gala Yuzawa merupakan resor ski yang menawarkan permainan salju seperti ski dan snowboard. Selain itu, ada jua pemandian air panas sehingga para wisatawan dapat berendam saat wilayah tersebut diguyur salju.
"Semua keperluanmu sudah dimasukan ke dalam tas?" tanya Rayyan kala melihat Arumi tengah sibuk mengikat rambutnya dengan model cempol ala wanita Korea. Pria itu masuk ke dalam kamar, memastikan apakah istrinya sudah siap atau belum.
Arumi tersenyum, seraya memperhatikan pantulan diri Rayyan dalam cermin di depannya. "Sudah, Honey. Kalau kamu mau memasukan barang yang belum terbawa, masukan saja. Tapi ingat, harus ditata kembali seperti semula. Jangan sampai berantakan."
Rayyan menyunggingkan sebuah senyuman. Melangkah perlahan mendekati istrinya, lalu menarik pinggang Arumi hingga tubuh wanita itu menempel di dada.
"Kamu sudah mulai berani mengancamku hem. Awas ya, akan kumakan habis-habisan kamu malam ini." Tangan kanan Rayyan mulai nakal, ia menurunkan sebelah pakaian yang dikenakan oleh Arumi. Lalu menghidu betapa harumnya tubuh wanita itu.
"Aah ... Ray. Jangan diteruskan lagi, nanti kita akan terlambat tiba di lokasi," sergah Arumi cepat kala merasakan tangan Rayyan mulai bermain di salah satu titik sensitif wanita itu. Deru napas pria itu mulai memburu. Embusan napas panas menerpa wajah Arumi membuat dokter cantik itu merasa geli bercampur nikmat karena mendapatkan sentuhan lembut dari suami tercinta.
Akan tetapi, ia masih dapat berpikir dengan jernih sehingga tak terbuai oleh bujuk rayu Rayyan.
Posisi keduanya masih saling menempel. Arumi pun bisa merasakan sesuatu di antara pangkal paha pria itu menekan bagian bemper belakangnya. Sesuatu yang akhir-akhir ini selalu memberikan betapa nikmatnya surga dunia kepadanya.
Rayyan memejamkan mata sejenak seraya mengendalikan hawa napsunya. Setelah itu barulah melepaskan pelukan.
"Kamu benar. Sebaiknya kita bergegas pergi sekarang, sebab lokasi yang akan kita kunjungi hanya buka sampai pukul lima sore saja."
Setelah mengucapkan kalimat terakhir, Arumi dan Rayyan merapikan kembali penampilan mereka yang sempat berantakan. Lalu, memastikan kembali tidak ada barang yang tertinggal.
__ADS_1
***
"Pak, tolong antarkan kami ke The University of Tokyo Hospital," pinta Rayyan pada sopir taxi dalam bahasa Jepang.
Pria paruh baya yang tengah duduk di balik kemudi menganggukan kepala sebagai jawaban. Lalu, ia mulai melajukan kendaraannya menuju lokasi.
Arumi mengerutkan kening. Meskipun ia tidak pandai berbicara bahasa Jepang, tapi kalimat terakhir yang diucapkan oleh suaminya menarik perhatian wanita itu.
"Honey, untuk apa kita ke rumah sakit. Apakah kamu sedang tidak enak badan?" tanya Arumi cemas. Tangan wanita itu terulur ke depan, menyentuh kening suaminya lalu memperhatikan seluruh wajah pria itu.
Rayyan terkekeh pelan. Melihat raut wajah penuh kecemasan terlukis di sana membuat pria itu merasa bahagia karena rupanya Arumi mengkhawatirkannya. Itu artinya, Mahesa sudah tidak ada lagi di dalam hati sang istri.
Ah ... Rayyan benar-benar bodoh. Jikalau memang Arumi masih mencintai Mahesa mana mungkin wanita itu menerima lamaran dan menyerahkan tubuhnya untuk disentuh oleh mantan musuhnya itu. Iya kan? Namun, namanya juga cinta buta orang yang pintar berubah menjadi bodoh dan orang yang dapat melihat dengan baik berubah buta karena cintanya terlalu besar pada pasangannya.
"Nanti juga kamu tahu. Sudah, jangan banyak bertanya. Sebaiknya kamu istirahat saja." Tanpa memberikan kesempatan pada Arumi tuk berbicara, Rayyan telah lebih dulu membawa kepala istrinya dalam dekapan.
Hampir memakan waktu sekitar tiga puluh menit, akhirnya taxi yang ditumpangi oleh Arumi telah tiba di lokasi tujuan. Mobil itu berhenti di depan pintu masuk lobi rumah sakit.
Walaupun sudah lima bulan lamanya Rayyan meninggalkan rumah sakit terbaik yang ada di Jepang bahkan di dunia, tapi hampir sebagian tenaga medis di sana masih mengenali wajah pria berdarah setengah Tionghoa itu. Mungkin karena prestasi yang cukup membanggakan atau mungkin karena faktor lain hingga membuat mereka tak melupakan putra sulung pasangan Firdaus dan Mei Ling.
Ketika tanpa sengaja bertemu dengan mantan rekan kerja Rayyan, tentu saja ia menyapa mereka dan berbincang sebentar untuk melepas rindu. Rayyan pun mengenalkan Arumi pada mantan rekan kerjanya itu.
Usai berbincang sebentar dengan mantan rekan kerja Rayyan, pria itu membawa Arumi ke sebuah poli bernama Sanfujinka atau dalam bahasa Indonesia adalah poli kebidanan dan kandungan.
"Kamu sebenarnya membawaku ke rumah sakit ini untuk apa? Jika hanya ingin mengenalkan pada mantan rekan kerjamu, sebaiknya cari waktu lain jangan bersamaan dengan waktunya kita hendak pergi bermain salju," dengus Arumi kesal. Memasang wajah cemberut seraya membuang muka ke arah lain.
Wanita itu belum menyadari jika saat ini ia tengah berada di poli kandungan, sebab poli tersebut berada dalam satu lantai dengan poli anak.
Rayyan menghela napas dalam, merasa bersalah karena telah menyembunyikan sesuatu dari istri tercinta. Ia sadar jika keputusannya ini diambil secara sepihak.
__ADS_1
Pria itu menatap Arumi dengan tatapan lekat. Memberanikan diri menyentuh tangan istri tercinta.
"Babe, aku sengaja mengajakmu ke sini karena ingin membawamu menemui dokter obgyn. Aku pikir tidak ada salahnya jika kita memeriksakan kondisi kesehatan reproduksimu. Jika memang ada penyakit yang menghambatmu untuk dapat hamil, ayo kita sembuhkan bersama-sama."
"Aku akan mendampingimu hingga kamu sembuh. Kalaupun memang dokter mengatakan peluang untuk memiliki anak sangat kecil atau bahkan harapan itu tidak ada sama sekali, demi Tuhan, aku ikhlas menerima dirimu dalam keadaan apa pun. Namun, tolong berikan aku kesempatan untuk melakukan tugasku sebagai suami yang baik. Yang bisa diandalkan, setia dan siaga 24 jam."
Rayyan terdiam beberapa saja. Memperhatikan air muka Arumi yang berubah-ubah. Ia tahu resiko yang akan dihadapi jika kenyataannya niatan baik ini malah disalah artikan oleh Arumi. Kendati begitu, ia menerima dengan lapang dada seandainya wanita itu marah dan menganggap jika dirinya sama saja seperti Naila dan Putra, yang memaksa Arumi tuk bisa memberikan keturunan pada pasangannya.
"Maafkan aku, Babe." Hanya kalimat itu yang mampu terucap dari bibir Rayyan. Semua yang ingin diucapkan olehnya telah diungkapkan di hadapan istri tercinta.
Menundukan kepala malu karena merasa bersalah telah membohongi Arumi. Tak berani menatap lekat manik coklat indah milik sang istri.
Arumi berusaha menguasai diri, meski sedikit marah akan sikap Rayyan yang telah mengambil keputusan secara sepihak tapi ia mengerti mengapa suaminya melakukan itu semua.
Wanita itu menarik napas dalam, melepaskan beban yang ada dalam dada. Lalu, mencoba tersenyum sambil menangkup wajah suaminya.
"Aku tidak keberatan jika kamu mengajakku periksa. Ya, walaupun aku sedikit marah karena kamu menyembunyikan masalah besar ini dariku, tapi aku tahu maksudmu baik karena ingin membantuku membungkam mulut pedas orang-orang jahat itu 'kan? Oleh karena itu, sejak malam setelah pesta pernikahan, kamu selalu mengempurku tanpa memberiku ampun sedikit pun."
Wanita itu tersenyum geli mengingat kembali pertama kali mereka melakukan penyatuan. Malam itu Rayyan benar-benar seperti orang kelaparan, memakan setiap hidangan yang ada di depan mata.
Seperti anak kecil yang tertangkap basah telah melakukan kesalahan, Rayyan memasang wajah bersalah. Dengan sedikit ragu ia berkata, "Jadi kesimpulannya adalah?"
"Aku bersedia melakukan serangkaian pemeriksaan selama kita bulan madu di sini. Siapa tahu, sepulang dari berbulan madu, aku malah bisa mengandung buah cinta kita," ucap Arumi lembut.
Rayyan tersenyum lebar. Bola mata berbinar bahagia. Lalu, ia membawa tubuh Arumi dalam pelukan. "Aamiin. Semoga do'a kita didengar oleh Tuhan."
Tak lama kemudian, seorang perawat mempersilakan Arumi dan Rayyan masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Rupanya Rayyan telah menyiapkan segala keperluan untuk melakukan serangkaian pemeriksaan. Mulai dari dokter yang akan memeriksa Arumi sampai hasil lab sp*rma Rayyan pun telah ada dalam genggaman pria itu. Arumi hanya bisa pasrah seraya memanjatkan do'a, semoga kali ini usahanya tidak sia-sia.
.
__ADS_1
.
.