Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Pasangan Serasi


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul sembilan pagi. Sesuai rencana, Nyimas akan pergi ke rumah sakit guna memeriksakan kesehatan pasca melakukan operasi katup jantung beberapa waktu lalu. Ia diminta dokter untuk melakukan check up selama beberapa minggu pasca operasi untuk memantau proses pemulihan.


Nyimas ditemani Arumi sudah ada di dalam mobil. Seperti biasa, Burhan akan bertugas mengantarkan kedua majikannya dengan setia.


Selama di perjalanan, jemari Arumi terus mengetuk-ngetukan telepon genggam berukuran 6 inci di atas pangkuan. Ia tengah berperang dengan perasaannya sendiri.


"Sebaiknya aku memberitahu Rayyan atau tidak jika akan ke rumah sakit. Bagaimana kalau ia benar-benar melakukan hal aneh sesuai dengan ucapannya kemarin?" batin Arumi.


Wanita itu sudah membuka kunci telepon genggam miliknya. Namun, di waktu bersamaan, ia pun kembali mematikannya.


"Loh, kenapa harus takut, 'kan aku ke rumah sakit untuk menemani Mama bukan untuk bekerja apalagi jalan-jalan." Arumi kembali berdialog dengan dirinya sendiri. Ia sedang dilema antara memberitahu Rayyan atau tidak jikalau hendak pergi ke rumah sakit.


Ketika Arumi sedang berperang dengan pikirannya sendiri, Nyimas tanpa sengaja melirik ke arah sang putri. Wanita berambut hitam tergerai itu sedari tadi diam membisu.


"Rumi, kamu sakit? Kenapa sejak tadi diam saja?" Arumi segera tersadar dari lamunan kecilnya. Ia terperanjat hingga nyaris saja benda pipih milik Arumi terjatuh ke bawah.


Nyimas menatap Arumi penuh tanya. Sorot mata mengintimidasi membuat wanita itu kebingungan sebab tak tahu harus menjawab apa.


"Ehm ... aku baik-baik saja, Ma. Tadi aku hanya sedang berpikir setelah pulang dari rumah sakit sebaiknya kita pergi ke mana. Mumpung aku cuti apa tidak sebaiknya kita manfaatkan waktu untuk menghabiskan waktu bersama," kilah Arumi. Meskipun gugup ia mencoba menutupi perasaannya. Tak ingin sang mama tahu isi pikiran wanita itu.


"Oh ... begitu." Nyimas menganggukan kepala tanda mengerti. "Bagaimana kalau kita jemput Indah dan Bagus saja di sekolah? Setelah itu, baru mengantar mereka pulang ke rumah. Kebetulan Mama ada hal yang ingin didiskusikan terkait rencana kunjungan ke panti asuhan."


"Boleh. Nanti aku akan menelepon Rini untuk meminta izin."


Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil yang ditumpangi oleh Arumi telah memasuki pelataran rumah sakit tempatnya bekerja. Biasanya ia datang ke rumah sakit itu untuk mencari rezeki tetapi kali ini berbeda. Wanita itu datang untuk menemani sang mama memeriksakan kondisi tubuh pasca operasi.


"Pak Burhan, kalau Bapak mau pergi ke suatu tempat, silakan gunakan mobil ini. Namun, di saat saya meminta Bapak untuk segera datang, tolong langsung jemput kami," ujar Arumi sebelum turun dari mobil.

__ADS_1


"Iya, Bu," sahut Burhan seraya melirik ke arah kaca spion di depan. "Kalaupun nanti saya pergi ke suatu tempat, maka saya akan mengirimkan pesan pada Ibu."


Pria berambut setengah keperakan itu turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Arumi dan Nyimas. Kemudian ia memarkirkan kendaraan milik Arumi di parkiran khusus pengunjung rumah sakit. Walaupun Arumi merupakan salah satu dokter di rumah sakit itu tapi saat ini status wanita itu sedang cuti sehingga Burhan memilih memarkirkan mobil Alphard milik sang majikan di parkiran bagi para pengunjung rumah sakit.


Arumi dan Nyimas berjalan bersisiran memasuki gedung rumah sakit yang begitu mewah menyerupai hotel bintang lima. Desain interior serta furnitur rumah sakit itu merupakan kualitas nomor satu di kelasnya.


"Selamat pagi, Dokter Arumi," sapa beberapa perawat yang kebetulan berpapasan dengan wanita itu ketika Arumi berjalan menuju poli bedah yang ada di rumah sakit itu.


"Selamat pagi juga, Sus," jawab Arumi ramah dan tak lupa sebuah senyuman hangat terlukis di wajah.


Menjadi dokter muda dengan segudang prestasi membuat Arumi menjadi terkenal. Hampir seluruh pekerja di rumah sakit itu mengenal sosok wanita cantik yang memiliki paras bagai seorang dewi khayangan.


"Kamu sudah seperti seorang artis, selalu ada orang yang menyapamu," celetuk Nyimas saat mereka sudah berada di dalam lift. Benda persegi itu membawa tubuh Nyimas dan Arumi naik ke lantai empat, tempat poli bedah berada.


Suasana rumah sakit yang cukup ramai, membuat tubuh Arumi dan Nyimas berdempetan sehingga dari jarak yang cukup dekat wanita berambut hitam tergerai itu dapat mendengar jelas suara sang mama walau diucapakn dengan lirih.


Arumi mencebik kesal karena lagi-lagi Nyimas menggodanya. "Artis kamar mandi lebih tepatnya, Ma." Bibir mungil wanita itu mengerucut ke depan.


Ting!


Ketika lift berdenting dan terbuka, Arumi bergegas membantu Nyimas keluar dari kotak persegi itu. Kedua wanita beda usia itu berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang cukup ramai. Hingga mereka tiba di poli bedah, tempat Arumi biasa membuka praktek jika tidak mendapatkan shift di bangsal Bougenville.


"Mama tunggu di sini, aku akan memberitahu Suster Elena kalau Mama sudah tiba di sini." Arumi melirik ke arah perawat wanita yang tengah sibuk bekerja di balik meja.


Nyimas menganggukan kepala seraya berkata, "Baik." Kemudian Arumi melangkahkan kaki jenjang itu menuju meja perawat.


"Suster Elena," seru Arumi ketika wanita itu telah berada di depan meja perawat.

__ADS_1


Mendengar namanya dipanggil, refleks perawat wanita itu menoleh ke sumber suara. Ia mengulum senyum kala melihat partner kerjanya berdiri dengan anggun di depan sana.


"Eh ... Dokter Arumi. Sedang apa di sini? Bukankah sedang mengambil cuti?" cecar Elena. Pasalnya perawat itu tahu jika Arumi mengajukan cuti beberapa hari ke depan akibat mengalami luka bakar pada bagian tangannya sehingga partner kerjanya itu mengalami kesulitan saat menangani pasien.


Arumi menggaruk lehernya yang tak terasa gatal. Ia tersenyum kaku karena merasa telah berbuat curang. Di saat semua orang bekerja, bahu membahu memberikan pelayanan pada pasien, wanita itu malah mengajukan cuti hanya karena luka ringan yang akan sembuh dengan sendirinya.


"Iya nih, saya ke sini bareng Mama. Biasa, Sus, check up pasca operasi." Arumi mencoba bersikap biasa saja kendati dalam hati timbul perasaan tidak enak pada rekan kerjanya itu.


"Oh begitu." Elena membulatkan mulut membentuk huruf O. "Saya pikir, Dokter datang ke sini karena merindukan Dokter Rayyan." Kekeh Elena.


Arumi membulatkan mata lalu dengan cepat menggelengkan kepala seraya melambaikan tangan ke depan. "Tidak. Saya datang ke sini karena ingin menemani Mama bukan untuk bertemu Dokter Rayyan."


Ia sedikit malu saat bibir mungil itu mengucapkan nama sang kekasih. Kendati hubungan mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih tetap saja wanita itu merasa malu jikalau memanggil nama mantan musuhnya di hadapan orang lain.


"Kalau memang benar, tidak masalah kok Dok. Kan sama-sama single. Lagipula, saya lihat kalian berdua memang serasi. Sama-sama pintar dan memiliki tampang rupawan. Saya yakin, anak-anak kalian akan menjadi bibit unggul di masa depan," goda Elena hingga membuat wajah Arumi memerah bagai kepiting rebus.


"Suster Elena terlalu memuji." Arumi segera menundukan wajah. Menyembunyikan rona merah muda di pipi.


Sungguh, demi apa pun. Saat ini Arumi ingin sekali menghilang dari hadapan Elena. Ia ingin menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Oh ... andai saja ia memiliki kantong Doraemon, mungkin saat ini ia sudah berada di tempat lain.


Elena melirik sekilas ke arah Arumi. Ia melihat wajah rekan kerjanya itu bersemu merah. Sejujurnya, ia mulai menaruh curiga karena beberapa kali tak sengaja memergoki Arumi tengah bergandengan tangan ketika berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Awalnya ia berpikir mungkin hanya kebetulan saja. Namun, lama kelamaan kejadian itu terus berlangsung hingga membuat ia yakin bahwa kedua dokter itu memiliki hubungan spesial.


"Sudah saya daftarkan ya, Dok. Ibu Nyimas mendapat nomor antrian dua," tukas Elena. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan agar Arumi tak semakin malu akibat aksinya yang menggoda sang dokter.


"Ehm ... baik, Sus. Terima kasih," jawab Arumi gugup.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2