
Tanpa terasa hanya tinggal menghitung hari, sepasang suami istri yang tengah menikmati waktu bulan madu akan segera kembali ke tanah air. Selama sepuluh hari, kedua insan manusia itu telah mengunjungi dua negara berbeda. Jepang dan Cina--negara asal nenek moyang dari mendiang Mei Ling.
Sebenarnya, Rayyan dan Arumi hanya akan berbulan madu ke Jepang dan Malaysia saja. Akan tetapi, Firdaus sengaja memberikan tiket pesawat dari Jepang ke Cina serta penginapan selama anak dan menantunya berada di negeri tirai bambu.
Awalnya Rayyan hendak membuang kado pernikahan yang diberikan oleh Firdaus, tapi melihat isi surat yang diselipkan di dalam amplop putih berisi tiket pesawat membuat hatinya sedikit luluh. Oleh karena itu, ia setuju melanjutkan acara bulan madu mereka ke Cina setelah itu barulah ke Malaysia. Beruntungnya tiket yang dipesan dapat di-reschedule sehingga tidak hangus.
Flashback on
Beberapa jam sebelum Rayyan dan Arumi berangkat ke bandara, putra sulung dari Firdaus melihat sebuah amplop putih tergeletak di atas meja ruang tamu kamar presidential suite yang dipesan oleh pria itu untuk menghabiskan malam pertamaa bersama sang istri. Saat itu, ia baru saja selesai membersihkan diri dari pergumulan panas yang dilakukan bersama istri tercinta.
Masih mengenakan jubah mandi, Rayyan melangkahkan kaki menuju meja tamu yang ada di ruangan tersebut. Mengernyitkan kening petanda bingung, sebab ia sama sekali tidak merasa ada tamu yang memberikan amplop tersebut kepadanya.
Tangan Rayyan terulur, mengangkat amplop itu ke udara, lalu membolak balikannya. "Dari manakah amplop ini berasal? Perasaan, semalam semua kado yang diberikan oleh para tamu sudah dibawa ke apartemen, lantas mengapa amplop ini ada di sini? Mungkinkah ada tamu yang memberikannya pada Arumi?" gumam pria itu.
Tatkala Rayyan tengah kebingungan, Arumi datang menghampiri. Dengan langkah anggun, ia melangkahkan kaki jenjang itu mendekati suaminya.
"Kamu sedang apa di situ, Honey?" tanya Arumi. Posisi tubuh Rayyan membelakangi wanita itu sehingga dokter cantik bertubuh bak gitar Spanyol tidak melihat jika sebuah amplop berada dalam genggam suaminya.
Rayyan sedikit terkejut akan kehadiran istri tercinta. Membalikan tubuh secara perlahan, lalu mengangkat amplop putih tersebut.
"Aku sedang berpikir, amplop ini pemberian dari siapa, sebab seingatku seluruh kado pemberian dari para tamu sudah dibawa ke apartemen kita." Rayyan mencoba menjelaskan alasannya mengapa pria itu kebingungan.
Arumi memicingkan mata, memperhatikan benda panjang berwarna putih di tangan suaminya. Seketika ingatannya kembali akan kejadian tadi malam. Terlalu lelah melayani hasrat suami tercinta membuat wanita itu lupa memberitahu jika Firdaus memberikan kado pernikahan pada mereka berdua.
Sadar jika telah melakukan kesalahan, Arumi meringis seraya mengusap tengkuknya yang terasa dingin.
"Ehm ... sebenarnya amplop itu diberikan oleh Papa Firdaus sebagai kado pernikahan kita. Di dalam amplop itu berisi tiket pesawat dan voucher penginapan selama berbulan madu."
Bola mata sipit Rayyan melebar sempurna, cukup terkejut akan ucapan istrinya. Menghembuskan napas kasar seraya melemparkan amplop itu ke atas sofa.
"Untuk apa pria itu memberikan kado pernikahan pada kita! Bukankah dia tidak merestui pernikahan kita sebelumnya, lalu mengapa sekarang malah memberikan kado segala!" dengus Rayyan kesal. Gigi gemelutuk, dan dada kembang kempis menahan emosi dalam diri.
Arumi menghela napas dalam. Ia sadar telah melakukan kesalahan karena tidak memberitahu suaminya perihal kado pernikahan yang diberikan oleh Firdaus. Sebenarnya ia bisa saja menolak pemberian papa mertuanya, namun bukankah itu akan membuat citra Arumi di mata Firdaus buruk? Dengan terpaksa wanita cantik itu menerima kado pernikahan dari papa mertuanya.
Niat hati memberitahu Rayyan sebelum mereka berlayar ke pulau mimpi, tapi rupanya jejaka tampan itu menggempur Arumi tanpa henti hingga membuat bidadari cantik tak bersayap kelelahan. Bahkan untuk membuka mata pun tidak sanggup.
__ADS_1
"Ray, maafkan aku karena tidak memberitahumu sebelumnya. Namun, sungguh, tadi malam aku sudah berniat memberitahumu soal ini tapi tenagaku terkuras habis akibat permainan kita semalam." Berjalan perlahan mendekati Rayyan, lalu meraih tangan yang sedang mengepal. "Aku tidak bermaksud membohongimu. Sungguh."
"Aku tidak enak hati bila harus menolak pemberian Papa-mu, Ray. Apalagi beliau sempat menolakku karena statusku adalah seorang janda dan tidak bisa memberikan keturunan. Jika aku nekad melakukan itu maka citraku sebagai seorang menantu buruk di mata orang tuamu. Papa-mu akan semakin membenciku."
Tak sanggup menatap bola mata suaminya, Arumi menundukan mata seraya meremaas jemarinya. Mata wanita itu nyaris berkaca-kaca karena menyaksikan lagi bagaimana meluapnya emosi dalam diri pria itu.
Rayyan terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Arumi. Pria itu menatap lekat sang istri. Menyadari jika telah berbuat kasar terhadap istrinya, pria itu menarik napas dalam.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Jangan dipikirkan lagi. Aku juga minta maaf karena terlalu keras kepadamu." Menyentuh bahu Arumi dengan kedua tangan, lalu tangan itu beralih menyentuh ujung dagu istrinya. "Kumohon, maafkan aku."
Arumi menganggukan kepala merespon ucapan Rayyan. Lantas, detik berikutnya sepasang suami istri itu duduk di sofa. Penasaran dengan isi amplop tersebut, pria bermata sipit itu membukanya.
Hal pertama yang dilihat olehnya adalah dua buah tiket pesawat dari Jepang ke Cina dan voucher menginap selama lima hari di sebuah penginapan yang ada di Hongkong.
"Ck! Sok perhatian. Padahal kemarin sempat menentang pernikahanku dengan Arumi!" berdecak kesal jika mengingat beberapa hari sebelum pernikahan, Firdaus sempat menolak Arumi sebagai menantu di keluarga Wijaya Kusuma.
Tangan pria itu sibuk mengeluarkan satu demi satu isi amplop tersebut. Saat lembaran terakhir dikeluarkan, secarik kertas yang dilipat terselip di antara tiket pesawat dan voucher menginapan.
Dear Anakku ...
Papa tahu, selama ini Papa tidak bisa menjadi orang tua yang baik bagimu. Tidak pula baik menjadi seorang suami. Banyak kesalahan yang telah Papa perbuat selama membina biduk rumah tangga bersama Mama-mu. Papa terlalu buta hingga tidak dapat melihat begitu tulus dan besarnya cinta Mama-mu pada Papa.
Tanpa sadar, Papa telah melukai hati seorang istri yang tulus menyayangi dan mencintai Papa. Sungguh, Papa sangat menyesal. Seandainya saja waktu dapat diputar kembali dan Tuhan memberikan kesempatan kedua kepada Papa untuk memperbaiki kesalahan yang pernah terjadi di masa lalu, Papa ingin memperlakukan Mama-mu layaknya memperlakukan seorang istri pada umumnya. Akan tetapi, semua tidak dapat diputar kembali.
Kini, Papa telah menuai balasan yang telah diperbuat di masa lalu. Selamanya Papa hidup dalam sebuah penyesalan yang tiada berujung, selalu dihantui rasa bersalah karena telah menyia-nyiakan wanita baik seperti Mama-mu.
Oleh karena itu, Papa ingin kamu belajar dari kesalahan Papa di masa lalu. Jangan pernah kamu menyakiti apalagi melukai hati Arumi, sebab dia adalah wanita baik yang Tuhan ciptakan dari tulang rusukmu. Papa memang salah karena sempat menentang pernikahanmu dengan wanita itu, namun kini Papa sadar hanya dia-lah satu-satunya wanita terbaik yang mampu mendampingimu.
Untuk itu, tolong izinkan Papa memberikan hadiah kecil sebagai permintaan maaf karena sempat menolak kehadiran Arumi di keluarga kita, walau Papa tahu hadiah ini tidak sebanding dengan rasa sakit hati yang dialami oleh menantuku itu. Namun, setidaknya dapat mengurangi rasa bersalah dalam diri atas penolakan Papa tempo hari.
Papa telah memesankan tiket pesawat dan penginapanmu selama lima hari di Hongkong, Cina--kota asal nenek moyangmu dari pihak Mama. Pergilah ke beberapa tempat yang ada di sana, habiskan waktumu berdua bersama Arumi. Sambil berbulan madu, kamu pun dapat mempelajari budaya leluhurmu secara langsung.
Terakhir kali, Papa ingin ucapkan, selamat menempuh hidup baru ... anaku tersayang, Muhammad Rayyan Firdaus Wijaya Kusuma.
Usai membaca surat yang diberikan oleh Firdaus, hati Raihan sedikit terharu tak mengira jika Papa-nya telah menyiapkan kado spesial khusus bagi ada Arumi. Walaupun rasa dendam dan benci masih ada dalam hati Rayyan, tapi melihat ketulusan hati Firdaus ketika memberikan kado tersebut membuatnya tidak tega. Apalagi negeri tirai bambu itu adalah negara asal nenek moyang pria itu dari pihak Mei Ling, maka ia mencoba menerima kado pernikahan yang diberikan oleh sang papa.
__ADS_1
"Ray ... jika memang kamu tidak mau pergi ke Cina, tidak apa-apa. Kita bisa langsung pergi ke Malaysia, menghabiskan sisa waktu liburan di sana. Untuk kali ini, aku tidak mau memaksamu menerima pemberian Papa. Aku akan menuruti semua keinginanmu tanpa membantah sama sekali."
"Tidak, Rumi!" sergah Rayyan cepat. "Kita langsung pergi ke Cina setelah lima hari berada di Jepang. Semakin banyak tempat yang dikunjungi semakin banyak waktu kita untuk memadu kasih."
Pria itu terkekeh setengah berkelakar. "Siapa tahu, Rayyan Junior tercipta saat kita berada di negeri leluhurku."
Akhirnya, kedua insan manusia itu tersenyum dan sepakat pergi ke Cina setelah dari Jepang, kemudian barulah pergi ke Malaysia menemui teman kuliah Arumi.
Flashback off
***
Tepat di hari ke sebelas, Rayyan dan Arumi berada di Malaysia. Mereka sengaja menyempatkan diri berkunjung ke negeri itu untuk menemani istri tercinta bertemu dengan temannya semasa kuliah dulu. Tidak ingin mengecawakan istrinya, pria itu setuju apabila mereka menginap beberapa hari di sana sebab ia pun secara pribadi belum pernah liburan di negeri yang bersebelahan dengan pulau Kalimantan.
Hari ini, Arumi akan bertemu dengan teman kuliahnya tepat pukul sebelas siang di depan Menara Petronas. Wanita itu berencana makan siang bersama temannya sekaligus bernostalgia, mengenang masa-masa kuliah dulu.
"Babe, apakah kamu sudah siap?" Rayyan melangkah masuk ke dalam kamar setelah lama menunggu istrinya di ruang tamu.
Arumi yang saat itu tengah memoleskan lipstick di bibir menoleh ke sumber suara, lalu kembali fokus pada pantulan diri di depan cermin. "Sebentar lagi. Kamu duduk dulu di sana." Menunjuk dengan tangan ke arah ranjang.
Melihat istrinya masih berdandan padahal sudah hampir satu jam lamanya ia menunggu, rupanya ritual Arumi belum juga selesai. Walaupun merasa bosan karena terlalu lama menunggu, pria itu tetap berusaha tersenyum meski di dalam hati dongkol.
Duduk di tepian ranjang seraya memperhatikan penampilan Arumi. Wanita itu semakin hari semakin cantik hingga tak membuat mata Rayyan tidak berkedip sedikit pun.
"Ayo berangkat! Aku sudah selesai," seru Arumi seraya menyampirkan tas di pundak.
Rayyan terkesiap beberapa saat. Terlalu asyik memandangi kecantikan Arumi hingga tanpa sadar pikiran pria itu sempat menerawang. Ia mencoba mengembalikan kembali kesadarannya.
Menarik napas dalam, lalu menjawab. "Ayo!" Bangkit perlahan dari tepian ranjang. Melangkah menghampiri Arumi dan seperti biasa, menggenggam jemari lentik itu dengan erat.
.
.
.
__ADS_1