Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Sebuah Tamparan untuk Lena


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya sedang duduk di kursi roda seraya memandangi pemandangan kota Jakarta dari atas balkon apartemen. Meskipun mobilitas terganggu disebabkan oleh kelumpuhan pada anggota badan, tak membuat Lena berdiam diri di dalam kamar sambil menangisi nasib buruk yang menimpanya. Perlahan, ia mulai belajar menerima kondisi fisiknya yang sekarang dan berlapang dada atas musibah yang Tuhan berikan kepadanya.


Tatapan mata menerawang jauh, seakan ia tengah terjebak pada sebuah dimensi waktu di masa lampau. Bayangan wajah seorang bayi mungil tampan muncul dalam benaknya. Tangisan serta rengekan berasal dari bibir bayi berjenis kelamin laki-laki kembali hadir di memori ingatannya. Tanpa sadar, air mata jatuh berderai di antara kedua pipi.


"Raihan, anakku," ucapnya lirih. Lena, mantan pelakor yang menjadi sumber kehancuran keluarga kecil Mei Ling sedang dirundung kerinduan teramat besar terhadap darah dagingnya sendiri. Ia sangat merindukan Raihan, buah cintanya bersama Firdaus.


Lena sadar atas apa yang diperbuat olehnya dulu merupakan sebuah kesalahan besar yang tak mungkin dapat dimaafkan. Akibat keegoisan serta ketamakannya membuat Rayyan harus kehilangan Mei Ling untuk selama-lamanya. Kini, di hari tuanya, Lena merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang dicintainya, dan ia merasa separuh jiwanya pergi meninggalkan raga yang mulai senja dimakan usia.


"Mbak Mei Ling, entah harus dengan cara apa lagi aku meminta maaf kepadamu atas semua perbuatan yang kulakukan di masa lalu. Namun, yang pasti, aku sudah merasakan balasan atas kesalahanku di masa lalu. Karma itu mulai menghampiriku secara perlahan-lahan."


"Darah dagingku sendiri secara terang-terangan menghinaku, mencaci maki diriku sendiri. Setelah itu, dia pergi dari rumah, meninggalkan diriku tanpa memberikan kabar apa-apa. Aku terjatuh, dan dinyatakan lumpuh seumur hidup. Namun, tak ada satu orang pun mau membesukku termasuk Rayyan dan Raihan. Bahkan, menantu kesayanganku pun tak datang menemuiku di rumah sakit." Air mata kembali jatuh berlinang, mengingat rentetan kejadian beberapa hari lalu. Menangis sesegukan seorang diri hanya ditemani oleh semilir angin yang bertiup ke arah balkon.


"Entah karma apa lagi yang 'kan datang menghampiriku. Mungkinkah aku akan mengalami nasib yang sama sepertimu sesaat sebelum kamu meninggal? Melihat dengan mata dan kepalaku sendiri tengah berduaan dengan wanita lain." Mengembuskan napas perlahan, kembali teringat bagaimana sorot mata Firdaus saat memandangi Nesa, sang perawat. "Ataukah ajal akan langsung menjemputku agar bisa segera mempertanggung jawabkan kesalahanku di masa lalu?"


Ia sadar, tak ada gunanya menyalahkan diri sendiri karena masa lalu tidak akan bisa diputar kembali. Nasi sudah menjadi bubur. Sejuta kali meminta maaf, tetapi tak dapat mengembalikan Mei Ling kembali ke dunia ini.


Wanita itu terus berbicara sendiri, hingga suara gaduh berasal dari dalam ruang kerja sang suami mengalihkan perhatiannya. Ia cukup terkejut mendengar bunyi pecahan gelas beradu dengan lantai hingga menimbulkan suara nyaring. Ruang kerja Firdaus berada persis di samping balkon. Seandainya ia menggerakan kursi rodanya ke sebelah kiri maka dapat melihat jelas apa yang sedang dilakukan oleh suaminya itu.


Rasa penasaran tiba-tiba menyelinap ke dalam relung hati. Lantas, Lena memutuskan mengecek sendiri apa yang sedang terjadi di dalam sana. Namun, sebelum itu, ia terlebih dulu mengusut bulir air mata yang membasahi pipi menggunakan selimut yang berada di pangkuannya.


Menggerakan dua benda bundar terbuat dari karet menggunakan tangan, melangkah masuk ke dalam unit apartemen yang kini ia tinggali bersama suami serta satu orang ART. Terus bergerak hingga tiba di depan pintu sebuah ruangan yang tidak tertutup rapat.


Ia semakin dibuat penasaran kala sekelebat bayangan suaminya mendekati seorang wanita. Jantung berdegup kencang, wajah berubah pias dan tiba-tiba saja kepingan kejadian sebelum Mei Ling kecelakaan terlinta di benaknya.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, ia mendorong pintu yang tak tertutup rapat menggunakan penyangga kaki kursi roda. Lalu, netra wanita itu disuguhkan oleh pemandangan yang cukup membuat bola matanya melebar sempurna. Di depan sana, Lena melihat Firdaus tengah berpelukan dengan Nesa, seorang wanita yang ditugaskan menjadi perawatnya.


Deru napas memburu bagai seseorang yang baru saja berkeliling lapangan bola sebanyak lima kali putaran. Dada wanita itu kembang kempis disertai wajah merah padam.


Tubuh diselimuti kobaran api cemburu, karena di depan mata kepalanya sendiri melihat suami tercinta sedang berpelukan dengan wanita lain.


"Papa!" seru Lena dengan nada cukup tinggi.


Nesa dan Firdaus tahu suara siapa itu. Seorang wanita paruh baya yang kini duduk manis di atas kursi roda tengah menatap tajam ke arah mereka.


"Mama!" ujar Firdaus dengan posisi Nesa masih dalam dekapan. Aroma harum wanita muda itu masih tercium di indera penghidunya.


"Sedang apa kamu dengan wanita ini, Pa?" tanya Lena seraya menghunuskan tatapan tajam dan membunuh ke arah dua insan manusia di depan sana.


Firdaus terkesiap mendengar pertanyaan sang istri. Lantas, ia melepaskan tubuh Nesa dalam dekapan. Kemudian mundur beberapa langkah ke belakang, memberikan jarak agar tak terlalu dekat dengan Nesa.


Firdaus masih tampak bingung dengan apa yang terjadi. Kejadian tadi terjadi begitu saja tanpa ia sadari. Akan tetapi, suara nyaring Lena sedikit memberikan pria itu pencerahan.


Mendapati wajah sang istri merah padam disertai dada bergerak kembang kempis dan posisi tubuh yang tak terlalu jauh dari Nesa, ia kembali teringat akan kejadian yang baru saja terjadi.


"Jangan sembarangan menuduh. Aku sama sekali tidak berpelukan dengan Nesa. Aku cuma berniat membantunya mengobati luka, tetapi karena tubuhnya tak seimbang maka tanpa sengaja membawa dia dalam dekapanku. Itu saja!" Firdaus mencoba memberikan penjelasan kepada Lena mengapa Nesa bisa ada dalam dekapan.


Firdaus melangkah mendekati Lena yang masih membeku di tempat. Sorot mata wanita itu terus mengarah ke arah Nesa. "Apa yang dilihat barusan, tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku ... sama sekali tak sengaja memeluk Nesa, Ma."

__ADS_1


"Aku memang lumpuh, tetapi mataku tidak buta, Pa. Aku bisa melihat jelas apa yang sedang kalian lakukan tadi!" Lena mengalihkan pandangan ke arah Firdaus. Tatapan tajam, setajam silet ia hunuskan kepada suaminya. "Kamu dan dia berpelukan secara diam-diam di belakangku. Jika aku tidak ada di sini, tidak menutup kemungkinan kalian akan melakukan hal lebih dari sekadar berpelukan. Iya, 'kan?"


"Gila, kamu, Ma!" bentak Firdaus, tidak terima dengan tuduhan istrinya. "Aku berani sumpah, atas nama mendiang nama Mei Ling, kalau tadi itu hanya ketidaksengajaan saja. Aku cuma menolongnya agar tidak jatuh."


"Bohong! Kamu pasti bohong, Pa!" Lena masih tidak percaya dengan penjelasan suaminya. "Kamu itu pernah selingkuh di belakang Mbak Mei Ling. Jadi, tidak menutup kemungkinan kamu berselingkuh lagi di belakangku!"


"Lelaki yang pernah selingkuh sekali maka ia tidak dapat berhenti begitu saja. Dia akan berselingkuh lagi jika ada kesempatan!"


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus yang mulai disinggahi kerutan halus di beberapa area wajah. Tak sanggup membendung kemarahan dalam diri akibat ditunding telah bersingkuh di belakang sang istri. Padahal jelas-jelas ia hanya berniat menolong tanpa terpikirkan mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Ia memang mengagumi Nesa karena memiliki sifat hampir mirip dengan mendiang Mei Ling. Namun, bukan berarti ingin menjadikan wanita itu sebagai istri ketiganya dan menggantikan posisi Lena sebagai ratu di apartemen itu.


"Papa! Kamu ... tega menamparku demi wanita ini!" tanya Lena lirih seraya menyentuh pipi sebelah kanan yang terasa perih.


Firdaus terdiam. Ia memandangi telapak tangan yang digunakan olehnya untuk menampar Lena. Seumur hidup, baru kali ini ia menampar seorang wanita. Bahkan, saat masih berumah tangga dengan Mei Ling, ia pun tidak pernah ringan tangan.


Jika menampar Rayyan ataupun Raihan, memang sudah biasa karena kedua anaknya itu terkadang sering membuat tensinya naik secara mendadak. Akan tetapi, ia tidak pernah bersikap kasar terhadap istri-istrinya.


Maafkan aku, Tuhan, karena telah merusak rumah tangga orang lain. Namun, aku tidak dapat berdiam diri saat melihat seorang pelakor berbahagia di atas penderitaan orang lain. Semoga Engkau memaafkan kesalahanku.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2