
Kayla pulang ke kediaman Adiguna. Ia tiba di rumah mewah itu tepat saat jarum panjang pada jam dinding menunjukan pukul satu siang. Suasana rumah pada siang hari begitu sepi hanya terdengar kicauan burung gereja yang bertengger di dahan pohon besar di halaman depan.
Tatkala wanita itu tiba di kediaman Adiguna, ia tak menemukan Naila ataupun Putra di rumah. Hanya ada para asisten rumah tangga yang menyambut kedatangan Kayla.
"Mbok, Mama ke mana?" tanya Kayla pada salah satu ART yang berusia sekitar empat puluh tujuh tahun.
"Nyonya sedang ada arisan di rumah Pak RT, Mbak. Sejak tadi pagi sudah berangkat. Mungkin sebentar lagi akan pulang. Kalau Pak Putra, sedang ada urusan di luar," jawab wanita paruh baya itu sopan.
Wanita paruh baya itu membantu Mona memapah Kayla menuju ruang keluarga. Sementara ART yang lain bertugas menarik koper sang majikan.
Kayla mengedarkan pandangan ke setiap sudut rumah ketika sudah tiba di ruang keluarga. Tidak ada yang berubah sedikit pun. Hampir semuanya sama seperti terakhir kali ia meninggalkan rumah itu.
Perjalanan cukup jauh dan terjebak macet beberapa kali membuat tubuh Kayla terasa lelah dan ingin istirahat.
"Mon, antarkan aku ke kamar. Aku ingin istirahat." Mona mengangguk cepat. Ia memapah Kayla menuju kamar yang biasa digunakan untuk beristirahat bersama Mahesa.
Gerakan langkah wanita itu terhenti. Ia membalikan tubuh ke belakang, melirik sekilas ke arah salah satu ART yang usainya lebih muda dari pengasuh Mahesa.
"Kamu, bawakan koper saya ke kamar! Tapi ingat, jangan sampai terjatuh karena banyak produk kecantikan di dalamnya dan harganya cukup mahal. Gajimu saja selama satu bulan belum tentu cukup untuk menggantinya," titah Kayla pada salah satu ART yang bekerja di kediaman Adiguna.
Meskipun kesal akan tingkah Kayla, tetapi salah satu ART itu mengangguk kepala lalu menjalankan perintah yang diberikan oleh menantu sang majikan. Bagaimanapun, status Kayla saat ini masih nyonya muda di keluarga Adiguna sehingga para pekerja di rumah itu wajib menurutinya.
"Kenapa tidak minta ART itu menyiapkan kamar di lantai bawah saja sih, Kay. Kalau begini, bagaimana kamu akan leluasa turun naik tangga dengan keadaan tubuhmu masih lemah," celetuk Mona. Wanita itu merangkul tubuh Kayla, sementara satu tangan berpeganggan erat pada railing tangga atau biasa disebut juga dengan peganggan tangga. Dengan sangat hati-hati membantu temannya itu menaiki satu per satu anak tangga.
"Lagi pula, aku heran sama kamu. Kenapa tidak pulang ke apartemenmu saja sih! Di sana kamu tidak akan repot turun naik tangga. Jarak antara kamar dan dapur pun dekat. Kalau di sini, kamu harus turun tangga jika ingin makan. Jika ingin tidur, harus naik tangga," keluh Mona.
"Tubuhku sudah membaik, Mon. Istirahat sehari atau dua hari akan kembali fit seperti semula," sanggah Kayla cepat. "Untuk urusan makan dan minum, aku 'kan bisa meminta para ART itu mengantarkan makanan dan minuman ke kamar tanpa harus susah-susah turun ke lantai bawah."
__ADS_1
Mona menarik napas dalam. Jika Kayla sudah keukeh dengan pendiriannya maka ia pun tak lagi mampu membujuk wanita itu.
"Ya sudah, terserah kamu saja. Tapi, kalau kamu merasa tidak nyaman berada di rumah ini segera telepon aku. Aku akan langsung menjemputmu. Mengerti?"
Kayla terkekeh di tempat. Mendengar perkataan Mona membuat perutnya terasa geli. "Mona ... Mona ... bagaimana mungkin aku tidak betah tinggal di rumah suamiku sendiri. Di rumah inilah aku membina rumah tangga bersama Mas Mahes. Walaupun saat ini suamiku masih koma, aku akan tetap berada di rumah ini."
"Jadi, sampai kapan pun aku akan berada di sini, di rumah ini hingga Mas Mahes sadar kembali," tutur Kayla mengakhiri percakapan mereka siang hari itu.
***
Beberapa jam kemudian, akhirnya Naila pun tiba di rumah yang selama dua puluh delapan tahun ia ditinggali bersama suami dan anak tercinta. Sebuah rumah mewah peninggalan dari mertuanya kini telah diwariskan kepada sang suami karena Putra merupakan anak pertama dan anak laki satu-satunya di keluarga itu. Sehingga Putra memiliki hak penuh atas sebagian harta warisan mendiang kedua orang tuanya.
Wanita itu berjalan tergesa-gesa setelah satpam di rumah itu memberitahu jika Kayla sudah pulang dari rumah sakit. Bagai tersulut api, seluruh tubuh Naila memanas. Ia tak terima jika penyebab kecelakaan anak tercinta bisa istirahat dengan tenang sementara Mahesa masih belum sadarkan diri hingga detik ini.
Dengan langkah panjang, Naila mengayunkan kaki menuju bangunan dua lantai itu.
"Di mana, Kayla?" tanya Naila saat netra wanita itu melihat salah satu ART tengah membersihkan pigura foto keluarga Putra.
Tangan wanita itu terulur ke depan. Ia mengusap lembut dadanya menggunakan telapak tangan sambil berkata, "Mbak Kayla, ada di kamarnya, Nyonya."
Tanpa membuang waktu, Naila bergegas naik ke lantai dua. Ia mempercepat langkahnya menuju kamar Kayla. Wajah Naila mulai terlihat memerah karena menahan emosi.
Saat tiba di depan kamar Kayla, Naila membuka kasar pintu kamar menantunya itu. Beruntungnya saat itu pintu kamar tidak dalam keadaan terkunci sehingga Naila dengan mudah masuk ke dalam kamar.
Untuk beberapa saat, Kayla tidak menyadari kehadiran Naila karena di waktu bersamaan ia tengah duduk di sofa kecil menghadap taman belakang sambil membaca majalah. Satu set headset menancap di telingga hingga ia tak mendengar derap langkah seseorang masuk ke dalam kamar.
"Kayla!" teriak Naila seraya melangkah maju mendekati menantunya. Namun, Kayla tidak merespon sama sekali. Ia masih fokus membaca dan mendengarkan lagu kesukaannya.
__ADS_1
Kemarahan Naila semakin meledak-ledak kala melihat headset terpasang di saluran telinga. Karena kesal akhirnya wanita itu menarik benda kecil itu membuat Kayla tersentak.
"Mama ...." Raut wajah wanita muda itu begitu terkejut. Ia tak menyangka Naila akan berbuat kasar padanya.
"Enak banget ya, kamu! Pulang dari rumah sakit langsung bisa santai. Sementara anak saya terbaring di ranjang rumah sakit," sungut Naila. Wanita itu bertolak pinggang di depan Kayla. "Seharusnya kamu itu mati dalam kecelakaan bukan malah anak saya yang koma."
Bola mata Kayla terbelalak sempurna. Wanita muda itu termangu. Sungguh tak menyangka Naila akan berkata kasar seperti itu.
"Kamu sadar tidak sih akibat kecemburuanmu itu nyaris saja merenggut putra semata wayang saya! Akibat kebodohanmu, Mahesa hampir saja meninggal," sembur Naila. "Kamu itu istri pembawa sial, sama seperti Arumi!"
Dari informasi yang disampaikan oleh Aldo--asisten Mahesa, Naila mengetahui jikalau di antara anak dan menantunya itu terjadi adu mulut karena didasari rasa cemburu berlebih menyebabkan kecelakaan naas itu terjadi. Meski Aldo tak menjelaskan secara terperinci tetapi wanita itu yakin, Kayla telah berbuat hal konyol hingga membuat Mahesa kini dirawat di rumah sakit.
"Mama!" bentak Kayla. Wanita muda itu menatap tajam ke arah Naila. Untuk pertama kalinya ia berani membentak wanita paruh baya yang telah dianggapnya seperti ibu kandungnya sendiri. "Aku bukan istri pembawa sial. Aku--"
Naila tidak terima jika dirinya dibentak oleh orang lain apalagi menantunya sendiri. Wanita itu langsung melakukan pembalasan saat itu juga. Ia menjambak rambut hitam indah tergerai milik Kayla lalu mencengkramnya dengan sangat erat hingga membuat wanita muda itu meringis kesakitan.
"Aku apa heh?" sergah Naila cepat. "Jika kamu memang bukan pembawa sial, lantas mengapa kecelakaan itu terjadi? Kamu mau bilang kalau tabrakan itu murni karena sebuah kecelakaan?"
"Ma, lepaskan aku! Ini sakit sekali!" Kayla meringis kesakitan. Wanita itu mencekal tangan Naila berusaha melepaskan tangan sang mertua dari rambutnya. Alih-alih melonggarkan genggaman, Naila semakin erat menarik rambut Kayla.
Sudut bibir Naila terangkat sebelah. Ia menatap sinis ke arah Kayla. "Kamu pikir saya orang bodoh, yang mudah kamu bohongi?"
"Saya memang belum tahu apa penyebab kecelakaan itu terjadi. Namun, saya yakin saat itu kondisi Mahesa tidak dalam keadaan mengantuk apalagi mabuk karena dia bukan tipe pengendara yang nekad melajukan kendaraannya di saat kesadarannya hanya beberapa persen saja."
"Jadi, kecelakaan kemarin pasti ada peran kamu di dalamnya!" Naila kembali menarik rambut Kayla hingga membuat wajah wanita muda itu mendongak ke atas.
.
__ADS_1
.
.