
"Hentikan!" seru Kayla seraya berhambur ke arah Alvin. Ia menerobos di antara warga yang tengah fokus memberikan bogem mentah ke wajah rekan kerjanya.
Bola mata Kayla melebar sempurna ketika menyaksikan wajah tampan Alvin babak belur. Terdapat luka lebam hampir menutupi wajah, sudut bibir robek disertai darah segar mengalir dari hidung dan sudut bibir membuat bulir air mata mantan model papan atas mengalir di antara kedua pipi. Sungguh, ia tak tega melihat seseorang harus terluka karenanya.
Kayla berjongkok di sebelah kanan Alvin. Dengan lirih ia berkata, "Saya mohon, hentikan! Jangan kalian pukuli dia lagi!" pintanya penuh permohonan.
"Hentikan katamu! Enak saja!" teriak Reza. Sorot mata anak sulung bu Kokom memerah dengan rahang menonjol ke luar. "Dia yang memulai perkelahian ini jadi jangan salahkan aku bila malam ini kekasihmu mati di tanganku!"
Dengan suara lantang, Reza kembali berseru, "Cepat, habisi dia!" Usai mengucapkan kalimat terakhir, pemuda itu menarik tangan Kayla secara paksa hingga menjauh dari tubuh Alvin. Lalu, para warga melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti.
"Jangan pukuli dia lagi! Kumohon, hentikan!" Kayla berontak, berusaha melepaskan diri dari cekalan sepasang ibu dan anak. Baik Bu Kokom ataupun Reza tak membiarkan mantan model tanah air mendekati tubuh Alvin.
Melihat semua rencana berjalan mulus, seulas senyuman kepuasan terbit di wajah seorang pemuda--yang tak lain adalah ... Reza. Akibat cinta ditolak menyebabkan pemuda itu dendam dan berniat memberi pelajaran kepada Kayla serta lelaki yang diduga menjadi alasan mantan model tanah air menolak dirinya. Bila dia tak bisa memiliki Kayla maka tak ada seorang pria pun boleh mendapatkan wanita itu. Begitu pikir Reza.
Dari dalam rumah, sedari tadi Mona terus mengintip dari balik gorden menyaksikan bagaimana anarkisnya sikap para warga. Ia tidak berani keluar rumah menjadi super hero menghentikan pertikaian yang terjadi. Bungkam dan berdiam diri di dalam rumah itulah sikap Mona saat ini. Bukannya tak peduli terhadap Kayla dan Alvin, saat ini ada Tasya di sampingnya. Bila terjadi hal buruk kepadanya lalu siapa yang menjaga bayi mungil itu?
Bulu kudu Mona berdiri kala mendengar jeritan serta teriakan berasal dari bibir Kayla. Situasi semakin memanas dan tak terkendali.
"Berengsek! Hentikan! Aku bilang hentikan!" hardik Kayla sambil terus meneteskan air mata. Sudah tidak tahan melihat kondisi Alvin yang tak berdaya.
"Aku harus melakukan sesuatu. Jika tidak maka nyawa Alvin bisa melayang," gumam Mona. Detak jantung wanita itu berdetak tak karuan, tubuh terasa gemetar hebat. Di depan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan para warga itu berubah menjadi iblis yang menyeramkan.
Tidak ingin disalahkan oleh pihak manajemen agensi, Mona membulatkan tekad menemui RT setempat, meminta bantuan pak Husni datang ke kediaman Kayla.
__ADS_1
"Apa pun yang terjadi, pokoknya aku harus ke rumah Pak RT. Ya, sebaiknya aku pergi sekarang." Tangan Mona melepaskan gorden warna hijau motif bunga-bunga yang menghiasi ruang tamu sederhana berukuran 3×3 meter. Kemudian ia mengayunkan kaki keluar rumah lewat pintu belakang.
***
"S-selamat malam, Bu Fatimah. P-pak RT ada di rumah, tidak?" ucap Mona terbata-bata. Wanita itu tampak gelisah, ditandai oleh gerakan mata yang tidak fokus pada satu arah. Meremas ujung gendongan milik Tasya dengan sangat erat berusaha mengurai kegelisahan dalam diri. Napas tersengal seperti dikejar oleh setan.
Fatimah, ibu kandung Husni cukup terkesiap beberapa detik kala melihat Mona berdiri dengan menggendong Tasya yang terus menangis dalam pelukan. Wajah pucat pasi disertai penampilan berantakan membuat wanita paruh baya itu keheranan.
"Neng Mona kenapa? Apa telah terjadi hal buruk menimpa Neng Kayla?" tanya Fatimah tanpa basa basi.
Hubungan antara Fatimah dan Kayla terjalin cukup baik. Semua berawal dari seringnya bertemu di majlis taklim dan berlanjut sampai sekarang. Tak jarang, mantan model itu menemani ibu kandung Husni mencari kain batik ataupun pakaian wanita untuk dijual kembali.
"Iya, Bu. Para warga datang ke rumah kami dan mereka mengeroyok Alvin hingga babak belur," ucap Mona setelah ia dapat mengendalikan diri.
Seorang pria berusia tiga puluh tahun berlari dari dalam rumah. "Ada apa, Bu?"
Fatimah membalikan badan hingga posisi keduanya saling berhadapan. "Cepat kamu ke rumah Neng Kayla. Para warga main hakim sendiri, menghajar si .... Aduh, siapa sih ya namanya. Ibu lupa lagi." Wanita paruh baya itu tampak berusaha keras mengingat nama lelaki yang baru saja disebutkan oleh Mona. Namun, karena faktor usia membuat wanita itu tak dapat mengingat dengan baik.
"Alvin, Bu, namanya," sergah Mona, memberitahu Fatimah.
Tanpa banyak bicara, Husni bergegas meraih kunci motor yang terdapat di dalam laci. Ia kembali ke teras dan menyalakan mesin motor.
"Bu Mona, ayo ikut dengan saya." Husni berseru dari jarak tiga meter. "Bu, tolong beritahu Amir agar membawa Pak RW ke rumah Bu Kayla," sambungnya.
__ADS_1
Maka, berangkatlah mereka menumpangi kendaraan roda dua milik Husni. Walaupun kota kecil itu sangat jauh dari hingar bingar kota Jakarta, tetapi pencahayaan serta fasilitas lain di kota itu cukup memadai.
Hanya berjarak tiga meter, Husni sudah mematikan kendaraan roda dua miliknya. Menggelengkan kepala sambil menatap nanar ketika netra pria itu tanpa sengaja bersitatap dengan iris coklat Kayla yang memerah. Hati ayah satu orang anak terasa seperti disayat-sayat dan dada sesak bagai sebuah bongkahan batu besar menghimpit dada.
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini, hah!" seru Husni dengan suara lantang. Menatap geram sambil mengepalkan kedua tangan ke samping badan. "Kalian semua mau jadi jagoan, iya? Main hakim sendiri di kediaman orang lain!"
Sontak, semua warga menghentikan aksinya. Melepaskan tubuh Alvin yang sudah tak berdaya dan membiarkan pria itu tergeletak di tanah. Husni melangkah sembari menghunuskan tatapan tajam kepada para warganya.
Menggunakan sisa tenaga yang dimiliki, Kayla mendekati Alvin kemudian membawa kepala pria itu di atas pangkuan. Air mata wanita itu terus mengalir di kedua sudut mata. "Alvin, bangun!" Menangis sesegukan di samping tubuh Alvin.
"Apa yang mendasari kalian hingga berani menghajar orang sampai babak belur. Memangnya permasalahan kalian tidak dapat diselesaikan baik-baik!" sentak Husni.
"Kami hanya ingin membasmi pelaku dosa di kampung ini agar tidak terkena sial. Betul tidak, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu?" sahut salah satu warga.
"Pelaku dosa? Siapa yang kalian maksud?"
Reza menjawab, "Siapa lagi kalau bukan wanita j*l*ng itu!" Jari telunjuk pria itu diarahkan kepada Kayla.
.
.
.
__ADS_1