
Sementara itu di kota yang sama, tetapi tempat yang berbeda. Seorang wanita dengan postur tubuh tinggi semampai tengah duduk di kursi bundar di sebuah ruang ICU. Di tepian ranjang rumah sakit, ia sedang menatap lekat wajah pria yang begitu dicintai. Jemarinya menggenggam erat tangan suami tercinta.
"Mas, sampai kapan kamu akan tertidur begini? Apakah kamu tidak bosan terus menerus terbaring di ranjang rumah sakit ini?" ucap Kayla lirih. Tatapan mata tak sedikit pun teralihkan dari sosok suami tercinta.
Selama kurang lebih empat bulan ini, Kayla terus menemui Mahesa di rumah sakit secara diam-diam. Meskipun kedua mantan mertuanya melarang wanita itu datang menemui Mahesa, ia tetap datang ke rumah sakit. Model cantik itu rela membongkar sebagian tabungannya agar dapat membungkam mulut seluruh petugas medis yang berjaga di ruang ICU terkecuali dokter jaga. Beruntungnya Naila maupun Putra jarang datang ke rumah sakit sehingga Kayla dibantu para suster yang bertugas dapat keluar masuk ruang ICU dengan mudah.
Putra terlalu sibuk mengurus pekerjaan di perusahaan properti miliknya. Semenjak Mahesa masuk rumah sakit, segala urusan pekerjaan tak dapat ditangani sepenuhnya oleh Aldo--asisten Mahesa. Banyak masalah yang melanda Adiguna Properti bahkan kondisi perekonomian perusahaan berada di ujung tanduk.
Sementara Naila masih sibuk dengan teman-teman geng sosialita. Meskipun perusahaan nyaris gulung tikar akibat kejadian memalukan yang dilakukan oleh mantan menantu kesayangannya, wanita paruh baya itu tetap berpenampilan glamor dan bersikap sombong di hadapan Lena CS.
Oleh karena kesibukan masing-masing, sepasang suami istri yang usianya hampir mendekati kepala lima jarang menemani Mahesa di rumah sakit. Melihat ada peluang besar, Kayla memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Model cantik itu tak peduli jika suatu saat nanti kepergok tengan berada di ruang ICU, asalkan berada dekat suami tercinta, ia rela melakukan apa pun demi Mahesa.
"Apakah kamu tidak merindukan masa-masa kita bersama, duduk berdua sambil memandangi cahaya rembulan di atas langit? Menghitung bintang yang bersinar di malam hari." Wanita itu terus berbicara meski tahu Mahesa tak dapat merespon semua perkataannya.
Seorang dokter pria masuk ke dalam ruang ICU, memeriksa kondisi Mahesa lewat monitor yang ada di atas meja samping ranjang pasien. Di sisi dokter itu ada perawat berseragam putih menemani partner kerjanya.
"Dokter, kenapa sampai detik ini suami saya belum juga sadar? Padahal saya sudah merangsaangnya dengan cara mengajak berbicara, menceritakan kembali kenangan indah saat kami bersama. Namun, kenapa Mas Mahesa tidak juga bangun?" keluh Kayla di hadapan sang dokter.
Wanita yang berprofesi sebagai model itu tampak begitu frustasi, melihat kondisi Mahesa selama empat bulan tidak menunjukan perubahan signifikan. Seandainya saja ia tidak benar-benar tulus mencintai mantan suami Arumi yang kini resmi menjadi suaminya meski pernikahan mereka tidak tercatat di catatan sipil, mungkin sudah sejak dulu Kayla meninggalkan Mahesa dan membiarkan pria itu terbaring sendirian di rumah sakit tanpa ditemani oleh siapa pun. Namun, karena cinta buta yang begitu luas melebihi luasnya Samudera Hindia, ia masih setia menemai suaminya itu.
Dokter yang bertanggung jawab terhadap kesehatan Mahesa tidak dapat berkata apa-apa, sebab semua treatment dan obat-obata sudah diberi namun tak membuahkan hasil sama sekali.
Pria dalam balutan snelli putih terdengar menghela napas kasar. Melirik Kayla dengan tatapan iba.
"Sejujurnya, saya pun tidak tahu harus memberikan perawatan apa lagi untuk Pak Mahesa, Bu, sebab semua obat-obatan dan cara telah dilakukan," tutur dokter itu.
"Ini merupakan kejadian langka selama saya bekerja sebagai dokter. Biasanya pasien hanya akan koma selama tiga atau paling lama satu minggu, tidak pernah lebih dari segitu. Oleh karena itu, saat menemukan kasus ini, saya dan juga tim sedikit kebingungan."
Akhirnya dokter pria itu berterus terang di hadapan Kayla. Ia tak mau dianggap memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Kendati ia memang menerima uang tambahan dari Kayla sebagai uang tutup mulut karena sudah memberikan akses bagi sang model agar dapat keluar masuk ruang ICU dengan mudah.
Awalnya ia menolak uang abu-abu yang diberikan Kayla padanya, namun setelah istri siri Mahesa menjelaskan duduk permasalahan yang menimpa wanita itu, pria paruh baya dalam balutan snelli putih luluh dan bersedia membantu Kayla dengan menerima segepok uang tutup mulut.
"Tapi ... bukankah Dokter sendiri pernah bilang kalau kita terus mengajaknya berbicara dan membaca buku maka dapat membantu proses pemulihan. Namun, mengapa sekarang Dokter berkata seperti itu? Apakah Dokter berencana memeras saya?" tanya Kayla penuh selidik.
__ADS_1
Wanita itu merubah posisi duduk, lalu mendongakan kepala, menatap pria yang berdiri di sebelah kanannya.
"Bu Kayla, benar. Saya memang meminta Ibu untuk sering datang ke rumah sakit dan memberikan saran agar Ibu membacakan buku atau mengajak Pak Mahesa berbicara. Namun, hingga detik ini hal yang saya anjurkan pada Ibu, tidak bisa dibuktikan secara medis."
"Jika berbicara sesuai pengalaman saya selama bertugas di ruang ICU, saran yang saya berikan terbukti ampuh dapat membantu proses pemulihan pasien. Banyak pasien sadar dari koma setelah pasangan atau orang terdekat menjalankan saran yang diberikan oleh saya. Namun, untuk kasus Pak Mahesa, saya benar-benar tak bisa menjawab." Terlihat raut wajah penuh kekecewaan dalam diri dokter itu. Kecewa karena ia gagal memberikan perawatan terbaik bagi pasiennya.
"Mungkin, sebaiknya mulai sekarang Bu Kayla belajar mengikhlaskan Pak Mahesa, sebab jika dalam jangka waktu satu tahun kondisi pasien tak ada perubahan maka kami akan angkat tangan."
Kayla mendelik. Masih dengan posisi duduk, ia menghunuskan tatapan tajam ke arah dokter itu. Rahang wanita itu mengeras, telapak tangan pun terlihat mencengkram ujung ranjang rumah sakit dengan keras.
"Jadi, maksud Dokter, Mas Mahesa sudah tidak memiliki lagi harapan hidup. Begitu?" Istri siri Mahesa menyipitkan mata dan menatap sinis ke arah dokter tersebut.
"Demi apa pun, saya tidak akan pernah menyerah begitu saja, Dok. Saya yakin, suatu saat nanti suami saya akan tersadar dari koma dan dapat beraktivitas seperti sedia kala!" sungut Kayla berapi-api.
Kobaran api dalam diri model cantik itu terus membara kala dokter yang dipercayai olehnya malah mengatakan suatu hal yang tak ingin didengar olehnya. Mengikhkaskan Mahesa, itu sama saja seperti Kayla harus hidup sendirian di dunia ini tanpa adanya pria yang begitu dicintainya.
Berbagai cara ia lakukan agar Mahesa bertekuk lutut di hadapannya, hingga ia rela mengorbankan keperawanannya demi pria itu namun dengan entengnya sang dokter meminta dirinya mengikhlaskan Mahesa untuk pergi dari dunia ini selama-lamanya. Sungguh, Kayla tidak sanggup kalau sampai kehilangan suaminya itu.
"Maafkan saya, Bu. Bukan maksud saya mematahkan semangat Ibu dalam proses membantu pemulihan kesadaran Pak Mahes. Akan tetapi, saya hanya menyampaikan kemungkinan terburuk yang harus dihadapi oleh keluarga pasien.
Setelah mengatakan itu, dokter paruh baya itu berbalik dan melangkahkan pergi meninggalkan Kayla yang masih mencengram ujung ranjang demi mengurai emosi dalam diri.
"Aku akan terus berusaha membantu Mas Mahesa agar terbangun dari tidurnya yang panjang." Tekad Kayla.
***
Usai ditolak oleh Rayyan, Naura mencoba menjalani kehidupannya seperti biasa. Bekerja di rumah sakit menjadi prioritas utama, meski setiap kali memasuki bangunan layaknya hotel mewah bintang lima sekelebat wajah Rayyan menari indah dalam benaknya, ia berusaha tetap fokus dengan pekerjaan.
Di saat Rayyan tengah berbunga-bunga karena sukses meminang pujaan hati, Naura malah sibuk bekerja. Gadis berdarah Timur Tengah itu baru saja mengantarkan berkas yang diminta oleh dokter senior ke bangsal Melati. Saat di pertengahan jalan, ia tak sengaja menabrak seseorang.
Brugh!
Gadis cantik dalam balutan jas dokter memekik keras. "Aduh! Kalau jalan hati-hati dong!" sungut Naura sambil mengusap pundaknya. Iblis dalam diri gadis itu berbisik agar Naura terus memaki orang yang menabraknya.
__ADS_1
Naura nyaris terjatuh akibat bersitubruk dengan tubuh wanita di seberang sana. Andai saja tak bergegas berpegangan pada tiang yang ada di lorong rumah sakit, pasti ia akan terjerambab ke lantai.
Alih-alih meminta maaf, wanita yang menabrak Naura berlalu begitu saja. Rambut panjang tergerai menutupi hampir setengah wajah wanita itu.
Dengan berjalan sedikit berlari, Naura menghampiri wanita itu. Hanya tersisa beberapa langkah, ia terpaksa menarik pundak wanita itu.
"Kayla!" Tampak raut keterkejutan terlukis di wajah Naura kala melihat wanita yang menabraknya adalah teman sekolahnya dulu.
Naura memperhatikan penampilan Kayla yang sedikit berantakan. Mata temannya itu pun memerah seperti habis menangis. Raut wajahnya memancarkan keterkejutan dan kebingungan bersatu menjadi satu.
"Loh, Kay. Kamu kenapa? Tumben datang ke rumah sakit. Siapa yang sakit?" tanya Naura ramah, seulas senyum terlukis di wajah. Kemarahannya yang berada di ubun-ubun telah tergantikan oleh rasa penasaran.
Kayla mendongakan kepala, menatap wajah ke arah Naura. Akibat terlalu memikirkan masalah Mahesa, membuat pikiran wanita itu menerawang jauh hingga tanpa sadar telah menabrak teman sekolahnya semasa SMA dulu.
Ia berusaha tersenyum getir seraya menguatkan diri jika semua kan baik-baik saja. "Hai, Ra. Maaf tadi aku sedikit melamun dan tak sadar jika orang yang kutabrak adalah kamu."
Naura tersenyum. Masih menatap bingung ke arah Kayla. "Tidak masalah. Oh ya, kamu ada keperluan apa ke rumah sakit? Bukankah kata Dokter keadaanmu baik-baik saja operasi beberapa bulan lalu?"
Kayla terdiam sejenak. Tak heran jika Naura kebingungan, sebab hingga detik ini teman sekolahnya itu belum mengetahui jika status dirinya telah berubah dari kekasih menjadi istri siri Mahesa. Ia yakin pasti Naura terkejut melihatnya berkeliaran di rumah sakit.
"Ehm ... Dokter memang mengatakan kondisi tubuhku dalam keadaan membaik, hanya saja suamiku tidak dalam keadaan baik-baik saja," ucap Kayla lirih. Pandangan wanita itu menunduk ke bawah.
Bola mata Naura terbelalak sempurna dan rahang pun terbuka lebar. "S-suami? Siapa suamimu?" tanyanya terbata-bata.
"Suamiku adalah--"
.
.
.
__ADS_1