
Tangan pria itu begitu lincah bergerak ketika menyuapkan makanan ke dalam mulut menggunakan sumpit. Rayyan begitu lahap menyantap semua camilan yang dimasakan oleh Arumi.
Duduk termangu dengan tangan kiri menopang dagu, sementara tangan lain berada di atas meja. Diam-diam Arumi mengagumi ketampanan sang kekasih. Alis tebal melengkung di atas kelopak mata sipit. Hidung mancung serta rahang tegas dan satu hal yang membuatnya terpesona saat ia sedang tersenyum maka pesonanya semakin meningkat berkali lipat.
"Kebaikan apa yang telah kuperbuat di masa lalu sehingga Tuhan menggantikan sosok Mas Mahesa dengan pria baik seperti Rayyan. Sungguh beruntung sekali aku bisa dicintai oleh pria ini."
"Wajahku lebih rupawan dari sahabatku itu 'kan?" ucap Rayyan ketika tanpa sengaja ia melihat Arumi tengah melamun seraya memandangi wajahnya.
Suara berat itu seolah mengembalikan lagi kesadarannya yang sempat melayang. Arumi mengedipkan mata berkali-kali. Ia menjadi salah tingkah karena tertangkap basah sedang mengagumi ketampanan sang kekasih.
"Katakan saja padaku, jika kamu ingin terus memandangiku. Aku bersedia duduk manis di sini sampai kamu puas menatap wajah calon suamimu ini," lanjut Rayyan.
Arumi mencibir dan memutar bola matanya dengan malas. Tak menyangka jika pria itu memiliki sikap narsis dan rasa kepercayaan diri yang berlebih.
Rayyan tersenyum bangga karena merasa telah mengalahkan Rio dari segi ketampanan. Buktinya, Arumi lebih lama memandangi wajahnya daripada wajah Rio. Itulah yang dipikirkan oleh pria itu saat ini.
"Setelah menikah nanti, kamu boleh memandangiku kapan pun dan di mana pun kamu mau, aku dengan ikhlas menuruti keinginanmu itu."
"Dasar narsis!" celetuk Arumi dengan memasang wajah cemberut.
Rayyan tersenyum semakin lebar ketika melihat bibir ranum itu mengerucut ke depan. Ingin rasanya ia mencicipi sekali saja manisnya madu yang ada di dalam sana. Akan tetapi, ia teringat akan prinsipnya yaitu tidak akan pernah melakukam kontak fisik berlebih sebelum Arumi benar-benar halal baginya. Kendati hasrat dalam diri bergejolak dan naluri kejantanannya bangkit saat di dekat kekasih tercinta namun ia berusaha untuk meredam hingga hari bahagia itu tiba.
Kini, Rayyan hanya dapat memandangi bibir ranum itu dari jarak jauh. Tak bisa menggapai apalagi mencicipinya. Memang sakit karena harus bergelut dengan hawa napsu yang sering muncul secara tiba-tiba namun ia berusaha untuk menahan diri untuk tidak terbuai oleh kenikmatan sesaat.
"Masakanmu enak sekali. Namun, kenapa rasanya mirip seperti masakan Mamaku. Apakah kamu mencuri resep masakan Mama?" tanya Rayyan setelah ia menghabiskan lima butir pangsit serta dua potong bakwan jagung di dalam wadah.
"Hah?" Arumi menautkan kedua alis ketika Rayyan mengatakan masakannya mirip dengan mendiang Mei Ling. "Kamu menuduhku telah mencuri resep orang lain?"
Rayyan menghunus tatapan tajam kala mendengar Arumi mengatakan bahwa Mei Ling adalah orang lain bagi wanita itu. Ia tidak suka apabila wanita yang dicintainya menganggap sang mama adalah orang lain.
Dua netra saling bersitatap, membuat Arumi menelan saliva sudah payah. Sadar jika telah melakukan kesalahan, wanita itu meralat perkataannya.
__ADS_1
"Ehm ... maksudku adalah mencuri resep Mama Mei Ling." Arumi menegaskan kata 'mama' di depan nama Mei Ling. "Ya ... Mama Mei Ling."
Senyuman di wajah Rayyan mengembang. Ia tersenyum puas karena berhasil memaksa Arumi memanggil Mei Ling dengan sebutan 'mama'.
"Aku hanya menebak saja. Siapa tahu kamu pernah bertemu dengan Mamaku, kemudian meminta resep rahasia untuk dapat membuat pangsit dan bakwan jagung lezat untuk calon suamimu ini." Rayyan menaikan kedua alis secara bergantian.
Oh astaga. Ingin sekali rasanya Arumi muntah karena lagi dan lagi, Rayyan memuji dirinya sendiri. Wanita itu berpikir, apa mungkin semalam kekasihnya itu tak sengaja membentur dinding kamar mandi hingga membuat posisi otaknya sedikit bergeser.
"Jangan ngaco! Bagaimana mungkin aku bertemu dengan mendiang Mama Mei Ling, melihat fotonya saja belum pernah." Arumi beringsut duduk di sofa panjang yang ada di dekat rak buku. Ia melipat kedua tangan di dada, posisi tangan kanan ada di bagian atas.
Rayyan terkekeh pelan. Pria itu bangkit dari kursi lalu mendekati kekasihnya. "Siapa tahu kamu bertemu dengan Mamaku di dalam mimpi, lalu beliau memberitahu resep membuat bakwan dan pangsit enak padamu. Oleh sebab itu, masakanmu hari ini begitu lezat dan aku sangat menyukainya."
"Kamu ... benar-benar calon istri idaman."
Arumi tersipu malu. Wajahnya memerah bagaikan tomat segar yang siap dipetik di perkebunan. "Kamu menyukainya, Honey?"
"Suka ... sangat suka. Sudah lama sekali aku tidak makan camilan seenak ini. Terakhir kali sebelum mendiang Mama meninggal dan itu berarti sudah--" Kalimat itu menggantung kala suara lembut Arumi menginterupsi sang kekasih.
"Apabila kamu menyukai masakanku ke depannya aku akan sering membuatkan camilan khusus untukmu." Arumi tersenyum tulus di hadapan Rayyan.
Entah mendapatkan dorongan dari mana, Arumi beringsut mendekati Rayyan. Kini, tidak ada lagi jarak di antara mereka. Dengan sedikit malu, wanita itu merebahkan kepala di pundak sang kekasih.
"Kalau kamu mau, aku pun bersedia memasakan sarapan, makan siang dan makan malam hanya untukmu," ucap Arumi lembut.
"Kekasihku tercinta," timpal Arumi lirih.
Walaupun kalimat terakhir diucapkan sangat lirih tetapi indera pendengaran Rayyan bisa mendengar dengan baik apa yang dikatakan oleh Arumi.
"Terima kasih, Babe. Aku sungguh beruntung telah memiliki hatimu." Rayyan mengecup puncak kepala Arumi dengan penuh cinta.
Dua insan manusia itu larut dalam suasana. Menikmati setiap detik kebersamaan tanpa pernah berpikir untuk berpaling.
__ADS_1
Di saat Rayyan dan Arumi tengah menikmati waktu berdua, pandangan pria itu refleks mengarah pada bagian tangan sang kekasih yang dibalut kain kassa.
"Ada apa dengan tangamu, Babe? Bagaimana tangamu bisa diperban? Apakah kamu sudah memeriksakannya ke dokter? Apakah kamu sudah minum obat yang dokter berikan padamu?" cecar Rayyan jeda.
Seketika kepala Arumi rasanya mau pecah mendengar beberapa pertanyaan yang diucapkan oleh kekasih tercinta.
Ia menarik napas panjang, kemudian menghembuskan secara perlahan. Menghadapi pria posesif dan pecemburu seperti Rayyan, wanita itu harus memiliki persediaan kesabaran yang banyak.
Arumi menangkup wajah Rayyan menggunakan satu tangan. Mengusap rahang yang ditumbuhi bulu-bulu halus di sekitar.
"Honey, ini hanya luka kecil yang kudapat ketika membuat camilan kesukaanmu. Terasa perih namun tidak sebanding dengan kebahagiaan yang tengah kurasakan saat ini. Saat kamu memuji masakanku. Saat kamu begitu lahap memakan semua camilan yang kubuat khusus untukmu."
"Semua jerih payahku terbalas dengan kalimat-kalimat manis yang terucap dari bibirmu. Aku ikhlas melakukan ini, Honey," ucap Arumi dengan mata berkaca-kaca.
Sungguh, rasanya seperti bumi ini berhenti berputar. Alunan lembut suara merdu Arumi laksana kicauan burung di pagi hari. Begitu menenangkan serta menentramkan jiwa, membuat Rayyan terpaku beberapa saat.
Suasana hening tercipta. Hanya terdengar embusan napas menderu, seirama detak jantung yang berdegup beraturan. Kedua netra saling bertemu. Detik berikutnya dua insan manusia itu tersenyum.
"Sekalipun seluruh tanganku terkena luka bakar akibat terlalu fokus membuatkan makanan untukmu, aku rela, Ray. Asalkan kamu menikmati setiap makanan yang masuk ke dalam perutmu, itu sudah lebih dari cukup bagiku untuk merasakan betapa berartinya diriku di hatimu." Wanita cantik itu menundukan wajah, tak mampu menatap terlalu lama bola mata sang kekasih.
Dengan gerakan cepat, Rayyan menarik tubuh Arumi dalam pelukan. Memeluk erat tubuh langsing bak gitar Spanyol seolah takut wanita itu akan kabur, meninggalkannya sendirian di dunia ini.
"Terima kasih, Babe." Sebuah ciuman penuh cinta mendarat di kening Arumi.
TBC
.
.
.
__ADS_1