
"Suamiku adalah ... Mahesa Putra Adiguna," ucap Kayla lirih. Suara wanita cantik itu bagaikan desau dedaunan yang tertimpa hujan lebat. Walaupun lirih, tetapi Naura dapat mendengar jelas suara temannya itu, sebab suasana lorong rumah sakit saat itu sedang sepi.
Jawaban Kayla membuat bola mata Naura terbelalak sempurna. Rahangnya pun terbuka lebar. Dokter cantik dalam balutan snelli putih memandangi temannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Mahesa ... suaminya Dokter Arumi?" tanya Naura untuk memastikan jika pria yang dimaksud oleh Kayla adalah suami dari salah satu rekan sejawatnya yang bekerja di rumah tempatnya bekerja.
Sang model terdiam. Napas wanita itu terasa berat. Selama kurang lebih lima tahun, Mahesa memang dikenal oleh sebagian tenaga medis di rumah sakit itu sebagai suami dari Arumi Salsabila. Sehingga tak heran jika Naura melibatkan nama wanita yang begitu dibenci olehnya selama ini.
Melihat raut wajah kebingungan terlukis di wajah Naura, Kayla merasa bersalah terhadap temannya itu karena telah menyembunyikan identitasnya selama beberapa bulan terakhir.
Kayla menghela napas panjang, ia berpikir mungkin saat ini adalah waktu yang tepat baginya berkata jujur pada teman sekolahnya itu. Meskipun tahu akan ada harga yang dibayar apabila Naura tahu siapa dirinya yang sebenarnya.
Wanita itu memejamkan mata sejenak, lalu menatap kembali ke arah Naura. "Benar. Mahesa, mantan suaminya Arumi." Kayla sengaja menekankan kata 'mantan suami' di akhir kalimat.
"Aku telah menikah secara siri dengan Mas Mahesa sekitar empat bulan lalu. Dan aku pun sempat mengandung buah cinta kami sebelum pernikahan itu terjadi."
Naura lebih tercengang lagi ketika mendengar bahwa Kayla telah mengandung sebelum ada ikatan pernikahan di antara temannya dan mantan suami Arumi.
Seluruh tubuh Naura rasanya lemas seketika. Tungkai wanita itu tak lagi sanggup menopang berat tubuhnya. Ia berpegangan pada dinding sekitar menuju kursi yang terbuat dari stainless steel, lalu menghempaskan bokongnya di atas kursi panjang.
"K-kamu ... tidak mungkin melakukan itu 'kan, Kay." Naura menggelengkan kepala, ia masih tidak percaya jika Kayla adalah seorang pelakor yang tega menghancurkan rumah tangga sahabatnya sendiri.
Naura begitu frustasi. Menutup wajah menggunakan telapak tangan. "Bukankah Arumi itu adalah sahabat terbaikmu? Hubungan di antara kalian tetap terjalin meski dia telah diangkat oleh pasangan suami-istri yang tak lain adalah donatur yayasan panti asuhan tempatmu tinggal, lalu kenapa kamu malah merebut suami dari sahabatmu sendiri?"
__ADS_1
Kayla tersenyum samar seraya menatap lurus ke depan. "Benar, dia adalah sahabatku. Hubungan kami terjalin sangat baik. Bahkan, dia sudah menganggapku sebagai adiknya sendiri, tapi tidak bagiku!"
Wanita bertubuh langsing bak gitar Spanyol bangkit dari kursi panjang dan melangkah maju dua langkah ke depan. Sorot mata memancarkan kemarahan, kedua tangan mengepal di samping.
"Bagiku, dia hanya seorang wanita pembawa sial yang telah merebut apa yang seharusnya kumiliki. Oleh karena itu, dia pantas menerima pembalasan atas semua perbuatan yang pernah diperbuatnya selama ini."
Bola mata indah wanita itu mulai berkaca-kaca. Hatinya terasa sakit bila mengingat kejadian di masa lalu. Dadanya terasa sesak, seperti ada bongkahan batu besar menimpanya. Rasa sakit dan kecewa melebur menjadi satu, berubah menjadi satu kata bernama 'dendam'.
Naura terdiam mendengar perkataan Kayla. Wanita itu menatap iba kepada temannya. Tak mengira jika selama ini Kayla menyimpan rasa denda pada sahabatnya sendiri, padahal hubungan mereka tampak baik-baik saja. Namun, siapa sangka di balik itu semua tersimpan rasa benci dan dendam berselimut di dalam hati Kayla.
Kini Naura mengerti mengapa sikap Rayyan terhadap Arumi berubah 180°. Rupanya pria itu melihat sosok Mei Ling dalam diri Arumi. Kedua wanita itu sama-sama pernah disakiti oleh suami tercinta akibat sebuah perselingkuhan.
Dulu, saat Naura masih remaja tanpa sengaja pernah mendengar sang ayah tengah berbincang dengan rekan sejawatnya membahas perihal pernikahan kedua Firdaus yang hingga detik itu tak kunjung tercatat di catatan sipil. Akibat kesalahan masa lalu membuat pria yang menjabat sebagai direktur rumah sakit banyak mendapatkan masalah, salah satunya adalah ketidakpastiaan status Raihan di keluarga Wijaya Kusuma. Putra bungsu Firdaus dan Lena tak legalitas hukum di negara ini.
Tiba-tiba saja sebuah palu besar menghantam kepalanya. Naura mulai menyadari sesuatu yang membuat matanya nyaris berembun.
"Pantas saja Rayyan menolakku. Rupanya pria itu benar-benar serius terhadap Arumi."
Mendengar nama Arumi disebut, Kayla menoleh ke belakang. Kening mengerut dengan kedua alis saling tertaut.
Dengan terburu-buru ia mengayunkan kaki mendekati kursi panjang, duduk di sebelah Naura. "Maksudmu, serius bagaimana, Ra?" tanya Kayla penasaran.
Naura menghela napas pelan seraya meremas jemari lentik yang biasa digunakan untuk mengobati pasien. Wanita itu menatap ke arah Kayla lalu berkata, "Beberapa kali aku tak sengaja melihat Arumi jalan berdua dengan Rayyan. Hubungan mereka begitu dekat layaknya sepasang kekasih. Kupikir, mereka berdua hanya sebatas atasan dan bawahan, tapi rupanya dugaanku salah. Arumi dan Rayyan tengah menjalin kasih."
__ADS_1
Hancur sudah benteng pertahanan yang dibangun susah payah oleh Naura. Air mata wanita itu jatuh membasahi pipi. Penolakan Rayyan memberikan luka di dalam hatinya. Pria pujaan hati yang teramat dicintai telah melabuhkan hati pada seorang wanita, tapi orang itu bukanlah dia melainkan seorang janda yang memiliki paras cantik bak Dewi Aprodite.
Kayla menatap bola mata Naura yang memerah, dan wajahnya yang dibasih air mata. Ia melihat jelas ada raut kesedihan terlukis di sana.
"Ra ... jawab pertanyaanku dengan jujur, apakah ... kamu menyukai pria aneh itu?" tanya Kayla hati-hati.
Naura kembali meremaas jemari lentiknya. Wajah menunduk ke bawah, tak berani menatap manik coklat milik Kayla.
Kayla menghembuskan napas panjang, melihat sikap teman sekolahnya itu. Walaupun Naura tak mengucapkan sepatah kata pun, tapi ia yakin jika wanita yang berprofesi sebagai dokter IGD di Persada International Hospital sedang jatuh cinta pada pria aneh yang pernah ditemuinya beberapa kali.
"Tanpa kamu jawab, aku pun sudah tahu jawabannya apa."
Detik berikutnya sudut bibir wanita itu tertarik ke atas. Ia tersenyum smirk seraya membenarkan posisi duduknya.
"Jika kamu memang mencintai pria itu, kenapa tidak mengejarnya?" cetus Kayla.
Wanita itu menyentuh tangan Naura dengan lembut. "Ra, kamu itu memiliki paras cantik. Bahkan lebih cantik dari Arumi. Seharusnya kamu itu berusaha untuk merebut hati Rayyan. Gunakan kepintaran dan kecantikanmu untuk memikat Rayyan agar pria itu meninggalkan Arumi. Aku jamin, jika kamu terus mendekati Rayyan, suatu saat hati pria itu akan luluh dan mau menerimamu."
"Atau ... kalau kamu mau, aku bisa membantumu. Bagaimana?"
.
.
__ADS_1
.