Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Tiga Minggu Pasca Akad Nikah


__ADS_3

Sementara itu, di kota yang sama tapi tempat berbeda, Arumi menikmati perannya sebagai seorang istri dari pria tampan yang berprofesi sebagai dokter bedah terbaik di rumah sakit Persada International Hospital. Walaupun posisinya sebagai dokter terbaik di rumah sakit tersebut telah tergantikan oleh sang suami, namun Arumi tidak iri sama sekali. Wanita itu malah bahagia karena kini Rayyan dapat membuktikan pada semua orang jika pria itu memang mempunyai skill di bidang kesehatan meski tak jarang beberapa tenaga medis lain meragukan kemampuan putra sulung Firdaus ketika mengobati pasien dengan kondisi penyakit aneh yang dideritanya.


Kehidupan rumah tangga Arumi bersama suami barunya tampak bahagia. Rayyan memperlakukan sang istri layaknya seorang ratu di apartemen itu. Kendati begitu, pemilik nama asli Arumi Salsabila tetap menjalankan tugasnya sebagai istri yang baik. Melayani suaminya dengan penuh keikhlasan.


"Bu Arumi, ini jus mangga pesanan Anda." Mbak Tini memberikan jus mangga dengan gula sedikit pada majikannya. Sebelum mandi, Arumi memang meminta ART-nya membuatkan jus buah untuk dikonsumsinya sebelum sarapan.


Arumi sedang duduk di sofa seraya menselonjorkan kedua kaki di ruang kosong di sebelahnya. Akhir-akhir ini ia merasakan badannya terasa pegal dan mudah walau baru beberapa langkah berjalan. Untuk itulah Rayyan meminta sang istri agar beristirahat lagi di rumah hingga wanita itu benar-benar pulih.


"Terima kasih, Mbak." Arumi menerima gelas bening dengan bagian sisi terdapat gagang. Lalu, ia menyesapnya secara perlahan. "Aaah ... segar sekali. Kamu memang hebat, Mbak. Pandai membuatkan minuman segar untukku."


Tini merasa tersanjung atas pujian yang diberikan oleh Arumi. Sifat inilah yang membuat wanita setengah baya itu betah bekerja bersama Arumi tanpa ada niatan untuk meninggalkan sang majikan meski dokter cantik itu dalam keadaan terpuruk sekali pun. Ia tetap ingin berada di sisi Arumi selamanya.


"Bu Arumi bisa saja. Saya hanya membuatkan minuman sesuai instruksi Ibu saja kok," jawab Tini malu-malu.


Arumi menggelengkan kepala melihat sikap malu-malu yang ditunjukan oleh asistennya tersebut. "Oh ya, Mas Rayyan di mana?"


Setelah menikah selama hampir satu bulan lamanya, Arumi memutuskan memanggil Rayyan dengan sebutan "mas" agar terdengar lebih sopan. Apabila hanya memanggil nama saja, wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu merasa risih sendiri seakan sedang berkomunikasi dengan teman sebayanya padahal status mereka adalah suami istri.


"Pak Rayyan, tadi saya lihat beliau--"


"Aku di sini, Babe!" Rayyan menginterupsi percakapan Arumi dan Tini.


"Selamat pagi, Pak Rayyan." Tini menundukan kepala ketika Rayyan telah berada di sisi sofa. Lalu, ia meminta izin untuk melanjutkan kembali pekerjaannya.


Arumi tersenyum melihat kedatangan Rayyan. Lantas, wanita itu meletakkan gelas berisi jus mangga ke atas meja.


"Honey, kamu dari mana saja sih? Aku bangun tidur kok kamu tidak ada di kamar." Jemari lentik Arumi melingkar di pinggang sang suami, meletakkan kepala di bagian perut sixpack pria itu.


Tampak air muka penuh kekecewaan terlukis di wajah Arumi. Kecewa karena saat bangun tidur, ia tak menemukan Rayyan di kamar utama. Ia ditinggal sendirian di kamar dengan suasana berantakan akibat pergumulan panas semalam.


Merasa iba melihat raut wajah istrinya, membuat Rayyan merasa bersalah. Tangan pria itu terulur ke depan, mengusap lembut rambut panjang hitam tergerai. "Iya, maafkan aku ya, Babe. Tadi aku buru-buru pergi ke ruang kerja untuk memeriksa materi yang akan kubawakan dalam acara seminar kesehatan nanti."


"Waktunya mepet sehingga aku harus membaca semua materi yang sekiranya akan disampaikan saat seminar." Rayyan mengurai pelukan, menundukan wajah lalu ******* bibir ranum sang istri. "Please, forgive me, Babe."


Mendapat morning kiss dari suami tercinta, membuat mood Arumi berubah seketika. Senyum merekah layaknya bunga bermekaran di taman hijau. Ia kembali membenamkan wajahnya di perut Rayyan.


"Iya, aku sudah memaafkanmu. Tapi, jangan diulangi lagi ya?"


Rayyan menganggukan kepala. "He'um. Ini pertama dan terakhir kalinya aku melakukan kesalahan. Kedepannya, aku akan lapor padamu. Kemana pun pergi, kamu menjadi orang pertama yang tahu. Bagaimana?"

__ADS_1


Masih dalam posisi berpelukan, Arumi menjawab. "Oke, aku setuju."


Setelah puas berpelukan, saling mencumbu dan menunjukan rasa kasih sayang terhadap masing-masing, Arumi dan Rayyan duduk di meja makan. Di atas meja telah tersedia hidangan sarapan yang dapat dikonsumsi oleh pasangan suami istri itu.


Hari ini, Arumi meminta Tini membuatkan sandwich roti gandum dan oatmeal dengan buah-buahan. Ratu di istana Rayyan sengaja memilih menu sarapan sehat khusus untuk suami tercinta.


"Semua hidangan ini, kamu yang meminta Mbak Tini membuatnya?" tanya Rayyan seraya menyuapkan sandwich roti gandum ke dalam mulut.


Arumi menganggukan kepala. "Iya, benar. Sejak kemarin kita sarapan menggunakan makanan berat terus. Tidak baik jika kebanyakan karbo. Oleh karena itu, aku meminta Mbak Tini membuatkan sandwich dan oatmeal untuk kita sarapan."


Wanita cantik dalam balutan kaos berwarna peach dengan celana jeans di bawah lutut membungkus kaki jenjang terlihat begitu lahap menyantap oatmeal buah-buahan. Bibir mungil itu terus mengunyal buah-buahan segar yang masuk ke dalam mulut.


"Kenapa, tidak suka?" tanya Arumi kala melihat tatapan Rayyan tajam ke arahnya.


Seketika Rayyan menjadi gelagapan. Melihat tatapan tajam dihunuskan kepadanya. Baru kali ini Arumi bersikap begitu padanya hingga membuat pria itu sedikit ketakutan, sebab bola mata indah milik sang istri seakan nyaris menggelinding ke arahnya.


'Benar-benar menakutkan,' batin Rayyan.


Dengan cepat pria itu melambaikan tangan ke udara. "No ... No ... aku suka dengan menu sarapan kita kali ini. Sering-seringlah meminta Mbak Tini membuat hidangan seperti ini."


"Kamu memang harus menyukainya, Mas. Ini makanan sehat dan bergizi loh. Sangat bermanfaatkan untuk tubuh kita," tutur Arumi. Kemudian, ia menyuapkan kembali oatmeal ke dalam mulutnya.


"Aku berangkat kerja dulu. Kamu di rumah saja selama dua hari ini. Jangan memaksakan diri untuk pergi bekerja. Mengerti?" ucap Rayyan sebelum pergi meninggalkan apartemen yang secara khusus dibeli olehnya untuk dijadikan mahar pernikahan.


Arumi mencebikkan bibir. "Ini sudah berapa kalinya kamu mengucapkan kata-kata yang sama padaku, Mas. Sampai telingaku terasa panas mendengar kalimat sama terucap dari bibirmu."


Gemas melihat sikap Arumi, Rayyan menarik ujung hidung sang istri. "Dasar nakal! Suamimu ini sayang makanya tidak mau terjadi hal buruk menimpamu. Kamu malah memasang ekspresi begitu." Pria itu pura-pura marah, padahal dalam hati ia sadar jika dirinya over protective menjaga Arumi.


"Ish ... sakit tauk!" desis Arumi seraya memegang hidunya yang terasa sedikit sakit. "Kamu itu kebiasaan deh selalu menarik hidungku. Lama-lama, hidungku panjang loh mirip Pinocchio."


Rayyan terkekeh melihat bibir Arumi yang mencebik. Itu benar-benar sangat menggemaskan di matanya. Pria itu menyentuh ujung dagu sang istri, kemudian menggigit bibir istrinya hingga Arumi kembali meringis kesakitan.


"Sakit, Mas!" Arumi mendengus kesal.


"Jika tak mau aku gigit seperti tadi, jangan pernah memasang ekspresi menggemaskan seperti itu." Rayyan menjawab santai, tanpa merasa berdosa sedikit pun.


"Dasar binatang buas! Hobinya menyiksa kaum lemah." gerutu Arumi.


Rayyan terkekeh, lalu ia memberikan kecupan di bibir untuk mengurangi rasa sakit di bibir wanita itu.

__ADS_1


"Sudah, jangan cemberut terus. Nanti cantiknya hilang loh."


"Bawel! Ya sudah, sana berangkat! Nanti terlambat loh!" Walaupun sedikit kesal atas perbuatan Rayyan yang hobi sekali menjailinya, Arumi tetap melayani pria itu dengan baik.


Wanita itu menyerahkan snelli putih yang kemarin dicuci oleh Tini kepada suaminya. Kemudian mencium punggung tangan sang suami.


"Hati-hati di jalan, Mas. Jangan ngebut-ngebut."


Rayyan merasa tersentuh atas sikap yang ditunjukan oleh sang istri. Merasa beruntung dapat mempersunting wanita baik seperti Arumi. Sosok istri baik hati, lemah lembut, perhatian dan pandai melayani suami dalam urusan apa pun termasuk urusan peranjangan.


"Iya. Doakan aku selamat sampai tujuan. Memberikan nafkah halal, yang kelak berkah bagi kehidupan kita bersama." Mengecup kening Arumi dengan penuh cinta. "I love you, Babe."


Arumi menjawab. "Aamiin. Semoga Tuhan selalu melindungimu di mana pun kamu berada. I love you more, Honey."


Suasana pagi itu berubah mengharu biru. Baik Arumi maupun Rayyan sama-sama berat meninggalkan pasangan mereka. Walaupun jarak antara dari apartemen ke rumah sakit tidaklah jauh, tapi tetap saja kedua insan manusia itu merasa rindu apabila berada jauh dari pasangan masing-masing.


Rayyan masuk ke dalam mobil yang terparkir di basement. Ia meletakkan snelli beserta tas jinjing dan beberapa buku yang ada di dalam tote bag ke kursi belakang. Sebelum menyalakan menyalakan mesin mobil, ia merabai seluruh saku celana dan menobrak abrik isi tas miliknya, mencari keberadaan telepon genggam miliknya.


"Astaga. Kenapa bisa kelupaan begini sih!" Rayyan menepuk kening menggunakan tangan. Melupakan telepon genggamnya yang masih tergeletak di atas nakas. "Sebaiknya aku naik lagi ke atas. Khawatir pihak panitia menghubungiku terkait masalah seminar nanti."


Lantas, pria itu turun dari mobil. Melangkahkan kaki dengan langkah panjang menyusuri basement yang cukup sepi. Ia menekan tombol, lantai di mana apartemennya berada.


Saat pintu lift berdenting dan terbuka, Rayyan bergegas masuk ke dalam kotak persegi yang membawa tubuhnya naik ke lantai atas.


Sementara itu, Arumi tengah duduk santai sambil menonton televisi. Sedangkan Tini sedang sibuk mencuci di laundry room.


Tatkala wanita itu tengah asyik menonton acara yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi tanah air, tiba-tiba saja bel pintu apartemen itu berbunyi. Berhubung Tini sedang sibuk mencuci, mau tidak mau Arumi-lah yang membukakan pintu.


"Iya, tunggu sebentar!" seru Arumi.


Melangkah perlahan mendekati daun pintu. Tanpa mengintip dari door view, Arumi langsung meraih gagang pintu hingga pintu berwarna coklat tua itu terbuka lebar.


Bola mata Arumi melebar sempurna kala melihat seseorang berdiri di ambang pintu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2