
Dua jam berlalu, kini Rayyan telah berhasil melakukan operasi pengangkatan rahim pada pasien bernama Kayla Lestari. Akibat mengalami benturan hebat membuat wanita yang baru saja menyandang status sebagai istri siri dari Mahesa harus kehilangan janin serta rahimnya dalam waktu bersamaan. Apakah Rayyan merasa kasihan? Jawabannya tentu saja iya! Ia memang merasa kasihan tetapi bukan kasihan pada Kayla melainkan pada janin dalam kandungan wanita itu.
Bagaimanapun, janin itu tidak berdosa yang berdosa adalah kedua orang tuanya yang membuat ia hadir ke dunia ini. Ia hadir ke bumi ini sebelum ada ikatan halal yang mengikat kedua orang tuanya. Kehadirannya dinantikan oleh semua orang. Akan tetapi, akibat kehadirannya pula-lah ada wanita lain yang begitu hancur saat melihat suami tercinta bermain api dengan ibu dari si janin tersebut.
Sebejat apa pun perbuatan kedua orang tua, bukankah bayi dalam kandungan Kayla tidak bersalah? Oleh karena itu, Rayyan merasa kasihan akan nasib janin tersebut sebab janin itu belum dapat menikmati betapa indahnya dunia ini. Namun, ia sadar mungkin saja ini adalah jalan terbaik bagi semua orang.
Rayyan melepas sarung tangan yang berlumuran darah ke dalam tong sampah, serta mencuci tangan di bawah air mengalir. Pria itu sengaja meminta dokter lain yang bertugas mendampinginya selama operasi untuk menyampaikan kondisi pasien pada pihak keluarga.
"Baru saja kalian menikmati indahnya berbulan madu, tapi kini kebahagiaan itu harus tergantikan oleh kesedihan serta kemalangan bertubi-tubi," gumam Rayyan seraya membersihkan sela-sela kuku menggunakan cairan sabun antiseptik. "Tuhan benar-benar adil. Dalam waktu sekejap, Dia telah memberikan karma pada sepasang suami istri itu. Apakah mungkin karma masih akan datang menghampiri mantan ibu mertua Arumi?"
Pria itu menghembuskan napas secara kasar sebagai jawaban ketidaktahuaan apa yang akan terjadi hari esok.
"Dua orang manusia yang tega menyakiti hati calon istriku terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Tidak ada lagi keangkuhan, kesombongan pada wajah kalian berdua. Sungguh, ironis sekali nasib kalian berdua." Rayyan masih bergumam sendiri.
Pria itu sengaja keluar dari ruang operasi terlebih dulu dan mengayunkan kaki menuju ruangan khusus yang biasa digunakan oleh para tenaga medis untuk membersihkan diri dari sisa-sisa kotoran pasca melakukan tindakan operasi.
Setelah cukup lama mencuci tangan di bawah air mengalir, ia membuang masker serta melepaskan pakaian yang dikenakan saat operasi tadi dan berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sepi.
Sementara itu, dokter yang diminta oleh Rayyan menyampaikan kondisi terbaru Kayla pada kedua orang tua Mahesa sudah keluar ruang operasi tetapi di luar sana tidak ada mertua Kayla, yang ada hanya asisten pribadi wanita itu bernama Mona.
__ADS_1
"Keluarga Ibu Kayla," seru dokter pria masih dalam balutan pakaian operasi berwarna hijau. Ia melepaskan masker yang menutup hidung serta mulutnya.
"Saya asisten sekaligus teman dekat Ibu Kayla, Dok." Mona berdiri dari kursi dan menghampiri sang dokter dengan tatapan penuh harapan.
Wanita itu segera datang ke rumah sakit setelah Naila memberitahu kabar kecelakaan yang melibatkan sang model serta suami sirinya. Selama operasi berlangsung, Mona tak sedikit pun beranjak dari kursi panjang yang didudukinya. Mulut wanita itu terus merapalkan do'a untuk kesembuhan Kayla.
"Memangnya keluarga pasien di mana? Mengapa mereka tak menunggu di sini?" tanya dokter itu keheranan sebab setahu dia sebelum melakukan tindakan operasi keluarga pasien setuju apabila Kayla dioperasi. Akan tetapi, setelah operasi berjalan lancar, tak ada satu orang pun dari pihak keluarga menunggu di depan ruang operasi.
Biasanya pihak keluarga pasien akan menunggu di depan ruangan hingga pintu ruang operasi terbuka tetapi tidak bagi Kayla. Saat dokter itu membuka pintu hanya ada Mona yang menunggu dengan raut wajah cemas.
"Keluarga pasien sedang dalam perjalanan. Sementara kedua mertuanya sedang menunggu suami dari Ibu Kayla. Kondisinya pun tak kalah memprihatinkan, Dok," jawab Mona sedikit berbohong.
Tanpa menaruh curiga sedikit pun, dokter pria itu menyampaikan langsung kondisi Kayla pasca dilakukan pembedahan pada anggota tubuh wanita itu.
"Pasca operasi, ada beberapa pantangan yang harus dihindari oleh pasien. Misalnya, tidak boleh mengemudi selama masa penyembuhan, mengangkat benda berat atau berhubungan suami istri," papar dokter itu panjang lebar.
Selama dokter pria itu menjelaskan, Mona tampak begitu serius mendengarkan setiap kalimat yang terucap dari bibir dokter tampan itu. Ia menganggukan kepala sebagai respon sesekali wanita itu membuka suara untuk menyankan hal penting yang tak diketahui olehnya mengenai kondisi Kayla.
"Baiklah, kalau tidak ada lagi yang ingin ditanyakan maka saya permisi dulu." Dokter tampan itu melangkah. Namun, baru dua langkah berjalan, ia menoleh ke belakang. Ingat akan suatu hal yang belum disampaikan. "Ketika pasien siuman, tolong hibur dia sebab di dunia ini tidak ada ada satu orang pun yang mau hidup tanpa adanya rahim di dalam tubuh wanita tersebut."
__ADS_1
"Mental Bu Kayla pasti akan terguncang beberapa saat karena harus kehilangan janin dan rahim dalam waktu bersamaan." Kemudian dokter itu kembali berjalan masuk ke dalam ruang operasi.
Dua orang perawat membawa tubuh Kayla menuju ruang perawatan. Mona berjalan di samping brankar yang membawa tubuh sang model dengan perasaan sedih. Wajah cantik Kayla terlihat pucat dari biasanya.
Dalam hati Mona berkata, 'Malang sekali nasibmu, Kay. Baru menikmati indahnya menjadi seorang ibu kini janin yang kamu harapkan akan mengikat Mas Mahesa selama hidupmu telah tiada. Karena cinta butamu, kamu rela menjual keperawanan untuk menjerat suami dari sahabatmu sendiri.'
'Namun, apa yang kamu dapatkan sekarang? Di saat kamu kehilangan sesuatu yang paling berharga bagi seorang wanita, Ibu mertuamu tidak ada di sini. Dia seolah melupakan kehadiranmu sebagai menantu di keluarga itu.'
'Semoga kamu tabah setelah tahu masalah apa yang tengah kamu hadapi saat ini.'
Saat tiba di kamar, Mona segera mengusap rambut Kayla dengan lembut. Ia sadar mungkin musibah yang terjadi dalam hidup Kayla merupakan sebuah teguran bagi majikannya karena tega menyakiti hati seorang istri dari suaminya yang direbut oleh wanita itu. Namun, Mona tak dapat menyalahkan Kayla sepenuhnya sebab temannya itu memiliki alasan tersendiri mengapa tega melakukan perbuatan konyol tersebut.
"Istirahatlah dengan tenang. Aku akan menjagamu di sini sampai kamu benar-benar sadar," ucap Mona lirih. Tanpa sadar air matanya jatuh berderai. Hati wanita itu benar-benar sakit melihat kondisi Kayla saat ini.
TBC
.
.
__ADS_1
.