Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Nothing's Gonna Change My Love For You


__ADS_3

Arumi semakin dibuat penasaran. Begitu pun dengan Nyimas. Tubuh wanita itu menegang, sebab ia khawatir jika mimpi buruknya tadi malam menjadi kenyataan.


Mimpi di mana mantan menantunya datang ke rumah setelah sekian lama tak sadarkan diri akibat insiden kecelakaan beberapa bulan lalu. Awalnya ia beranggapan jika itu hanya bunga tidur, tapi wanita itu tersadar bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini bisa jadi terjadi jika Tuhan berkendak. Oleh sebab itu, saat mendengar Mbak Tini berlari tergopoh-gopoh, jantung Nyimas memompa lebih cepat dari biasanya, wajah pun berubah menjadi pucat pasi bagai mayat.


Tak ingin terus diselimuti rasa penasaran, Nyimas berjalan setengah berlari menuju teras rumah disusul Arumi, mengekori di belakang.


Sepanjang jalan menuju teras rumah, Nyimas mengatur napas. Menyiapkan diri dan juga mental untuk berjaga-jaga seandainya saja mimpinya semalam menjadi kenyataan.


Nyimas duluan sampai di teras rumah dan alangkah terkejutnya ia mendapati seorang pria muda tengah berdiri dengan gagah berani di bawah tangga. Wajah tampan pria itu mengulum senyum kala melihat wanita paruh baya itu berdiri mematung di ambang pintu. Tubuh Nyimas seketika membeku, tak dapat bergerak sama sekali. Yang ia lakukan hanya bergeming sambil menatap ke arah depan.


Hanya tersisa beberapa langkah lagi, Arumi tiba di ambang pintu. Ia mendapati Nyimas membeku di ambang pintu.


Perlahan, Arumi meneruskan langkahnya. Ketukan sandal rumah yang biasa digunakan olehnya jika berada di dalam rumah terdengar berirama dengan deru napas wanita itu yang berembus beraturan.


Saat tiba di ambang pintu, ia langsung mendekati Nyimas tanpa melihat ke depan. Tatapan mata wanita itu fokus menatap sang mama.


"Ma ... apa yang sebenarnya terja--" ucapan dokter cantik itu menggantung di udara, bersamaan dengan suara merdu seorang pria diiringi petikan gitar.


Alunan musik berasal dari salah satu alat musik modis modern memanjakan indera pendengaran Arumi. Instrumen lagu Nothing's Gonna Change My Love For You--milik salah satu musisi terkenal asal Amerika Serikat terdengar begitu merdu. Suara petikan gitar itu mampu menghipnotis wanita yang berprofesi sebagai dokter bedah di salah satu rumah sakit terkenal di Jakarta. Wanita dalam balutan dress berwarna coklat membalikan tubuh. Ia terperangah akan kejutan yang ia dapatkan di pagi hari.


Di bawah sana, seorang pria tampan tersenyum manis ke arah Arumi. Sosok pria yang selama kurang lebih empat bulan berada di sisinya di kala suka maupun duka. Pria itu selalu ada di saat dirinya membutuhkan sandaran untuk melampiaskan kesedihannya akibat perceraian yang dialami oleh wanita itu beberapa bulan lalu. Pria itu telah menghapus segala kesedihan dan menggantinya dengan sebuah kebahagiaan hingga hari-harinya kini tak ada lagi tangisan.


Alunan petikan gitar terhenti. Dan di saat itu, kesadaran Arumi pun kembali. Alis wanita itu tertaut. Dalam hati bertanya, sejak kapan Rayyan mahir memainkan salah satu alat musik modis modern? Apakah ia memang sudah pandai sejak dulu, tapi dirinya tak mengetahui bakat terpendam pria itu? Ataukah ia sengaja berlatih untuk mempersembahkan suatu kejutan di hari ini?


"Selamat pagi, Tante," sapa Rayyan. Wanita pertama yang ia sapa bukanlah Arumi melainkan calon mertuanya. Apakah ini salah satu trik untuk meluluhkan hati Nyimas agar jalan pria itu mulus saat mengutarakan isi hatinya?


Usai menyapa wanita berjilbab putih di atas sana, Rayyan kembali menyapa seorang wanita yang begitu dicintainya.


Tanpa rasa canggung maupun gugup, pria itu berucap, "Selamat pagi, Babe. Apakah kamu menyukai kejutan yang kuberikan pagi ini?" Deretan gigi putih terpampang nyata di depan sana.


Baik Nyimas ataupun Arumi, kedua wanita beda generasi itu terkesiap. Bibir mereka terkunci hingga tak mampu berkata-kata.


"Maafkan saya karena telah membuat keributan di kediaman, Tante. Namun, sungguh, saya tak berniat sedikit pun untuk mengganggu ketenangan kalian semua," tutur Rayyan mencoba meminta maaf sebelum menyampaikan tujuan kedatangannya ke rumah itu.


"Kedatangan saya kali ini, bukan sekadar kunjungan biasa melainkan kunjungan yang sengaja direncanakan. Saya sudah merencanakan kedatangan ke rumah ini jauh-jauh hari."

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, Rio turun dari mobil. Sahabat sejati Rayyan menyerahkan kotak kecil berwarna coklat tua kepada sahabatnya. Setelah menjalankan tugas, ia mundur beberapa langkah ke belakang. Berdiri sambil merapal do'a yang ia bisa.


Di hadapan Arumi dan calon mama mertuanya, Rayyan berlutut dengan membuka kotak kecil berisi cincin berlian yang dibeli khusus untuk meminang calon istrinya itu. Pria itu berucap, "Dengan disaksikan Tante Nyimas, aku menginginkan wanita cantik di hadapanku ini menjadi istriku dan ibu bagi anak-anakku."


"Arumi Salsabila binti Almarhum Hadikusuma, maukah kamu menikah denganku? Menghabiskan sisa hidupmu bersama pria bodoh ini. Pria dingin yang dulu sering membentakmu karena hal sepele." Rayyan sedikit meninggikan suaranya, sebab posisi rumah Arumi berada sekitar dua meter di atas tanah.


Arumi menutup mulutnya dengan telapak tangan. Bola mata indah itu terbelalak dengan sempurna. Tak menyangka Rayyan akan melamarnya dengan cara seperti ini.


Wanita itu terharu, hingga tak kuasa menahan air mata. Ia terisak di antara rasa haru dan bahagia.


"Ray!" ucap Arumi lirih. Butiran kristal masih terus membasahi pipi. Wajah mulus tanpa cacat sedikit pun kini dibasahi oleh air mata.


Wanita cantik dalam balutan dress berwarna coklat, tak lagi mampu berkata-kata. Sungguh, Arumi tak menyangka kekasihnya itu akan melamar dirinya tepat di hari kesepuluh pasca masa iddahnya selesai.


"Kumohon Arumi, jadikan aku sebagai pelabuhan terakhirmu," pinta Rayyan dengan penuh pengharapan.


"Aku tahu, awal pertemuan kita memang tak berkesan sama sekali. Pertemuan pertama, aku sudah membentakmu hanya karena kamu tak sengaja menabrakku. Padahal, kamu sudah meminta maaf tapi aku tetap tak menerima permintaan maaf itu."


"Hingga suatu hari, Tuhan kembali mempertemukan kita berdua pada situasi yang berbeda. Dan ... pada akhirnya, aku tahu jika dirimu bukanlah wanita kuat seperti yang kupikirkan. Kamu rapuh sama seperti mendiang Mama-ku dan sejak itu, aku sadar bahwa aku tlah jatuh cinta padamu."


"Ya ... aku telah jatuh cinta padamu, Arumi. Aku ingin kamu menjadi istri dan Ratu di istanaku. Mari kita bangun rumah tangga yang penuh cinta, kasih sayang dan yang akan kekal abadi selamanya. Aku mau, hanya kamulah satu-satunya wanita yang ada dalam hidupku."


"Apakah, kamu bersedia menikah denganku?" tutur Rayyan. Pria itu telah kehilangan kata-kata, sebab seluruh isi hatinya telah ia ungkapkan di hadapan Arumi--wanita yang begitu dicintai olehnya.


Arumi menarik napas panjang, sebelum akhinya menjawab pertanyaan Rayyan. Wanita itu menatap kekasih tercinta, lalu menoleh ke belakang ke arah Nyimas.


Wanita paruh baya itu tersenyum, seolah memberikan isyarat pada Arumi jikalau ia merestui pernikahan anak tercintanya.


"Tentu. Aku bersedia menikah denganmu, Ray. Aku mau menjadi istri dan jika Tuhan memberikan izin padaku untuk mengandung buah cinta kita, aku bersedia menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kita."


Tanpa diperintah oleh siapa pun, Arumi mengangkat jemari lentik ke depan. "Sematkan cincin itu di jariku, Honey!"


Rayyan tersenyum. Melangkahkan kaki menaiki satu per satu anak tangga, lalu meraih tangan sang kekasih. Menyematkan cincin yang memiliki harga fantastis karena merupakan produk limited edition, hanya ada satu di toko itu dan mereka tidak akan pernah mengeluarkan produk yang sama.


"Dengan tersematkannya cincin ini, aku nyatakan bahwa kamu telah resmi menjadi calon istriku. Tidak akan ada pria lain yang boleh mendekatimu selain aku, termasuk dia." Rayyan menunjuk ke Rio menggunakan ujung dagu seraya menghunuskan tatapan tak bersahabat.

__ADS_1


Tingkah Rayyan membuat Nyimas terkekeh pelan. Sementara Rio mengerutkan kening, bingung mengapa ia dibawa-bawa dalam urusan pribadi sahabatnya itu.


"Kenapa aku dibawa-bawa. Memangnya aku salah apa?" seru Rio.


Alih-alih menjawab pertanyaan Rio, Rayyan kembali menatap sinis ke arah pria itu.


Rini yang sedari tadi berdiam diri di dalam mobil bergegas turun dari mobil bersama si kembar. Kelopak mata wanita itu memerah, melihat pemandangan di depan mata membuatnya tidak tahan. Wanita itu menangis harus, sebab dirinya dapat melihat kembali senyum bahagia terlukis di wajah sahabat tercintanya.


"Sayang, lihatlah. Sahabatku ini tidak tahu diri. Sudah kutolong tapi dia malah menyindirku," rajuk Rio kala melihat Rini berdiri di sisinya.


Rini tersenyum geli melihat tingkah suaminya yang berubah kekanak-kanakan. Wanita itu menyentuh pundak sang suami seraya berkata, "Kamu tenang saja, Ray. Bisa kupastikan, calon istrimu tidak akan berdekatan dengan suamiku. Arumi, hanya akan dekat denganmu seorang."


Indah dan Bagus memandangi kelima orang dewasa di depan sana secara bergantian. Kemudian, si sulung berkata, "Apakah itu artinya Aunty Arumi akan memberikan adik bayi untukku dan Bagus?" tanyanya polos.


Meskipun usia Indah baru berumur lima tahun, tapi ia memiliki kecerdasan di atas rata-rata anak seusianya sehingga gadis kecil itu sedikitnya tahu bila seorang wanita dan pria dewasa menikah maka akan lahir seorang adik bayi yang lucu dan menggemaskan.


Dengan lantang, Rayyan menjawab, "Benar, Sayang. Aunty Rumi dan Uncle Ray akan memberikan adik bayi untuk kalian berdua." Tidak ada sedikit pun keraguan dalam diri pria itu.


Sontak, kedua bocah itu melompat kegirangan. "Hore!" pekik si kembar hampir bersamaan. "Sebentar lagi kita akan punya adik bayi."


"Hei! Hati-hati!" seru Mama Rio mengingatkan. Ia kahwatir kedua cucu kembarnya terjatuh bila terus melompat-lompat seperti anak kelinci.


Akan tetapi, kedua bocah kecil itu tak memedulikan larangan nenek tercinta. Mereka tetap berjoget kegirangan sambil menepuk tangan. Rona kebahagiaan terlukis di wajah mereka.


Setitik air mata bahagia mengalir di antara kedua pipi. Nyimas menangis haru, akhirnya kebahagiaan kembali menghampiri anak tercinta.


'Semoga kali ini pernikahanmu dengan Rayyan kekal abadi selamanya,' harap Nyimas dalam hati.


Kendatipun bayangan masa lalu masih menghantui Nyimas, namun ia mencoba memberikan kesempatan pada Rayyan untuk membuktikan bahwa pria itu pantas menjadi suami bagi anak semata wayangnya.


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2