
Arumi dan Rayyan mengganti sandal dan mengenakan jubah berwarna hijau yang dikhususkan untuk masuk ke ruang ICU. Setelah semuanya siap, barulah mereka masuk ke dalam ruangan. Dokter Samuel sebagai dokter penanggung jawab, dan satu orang perawat mengekori di belakang.
Saat pintu ruangan terbuka, kesunyian menyambut kedatangan Arumi. Udara dingin bersumber dari pendingin ruangan (AC) langsung mengembus, menerpa tengkuk wanita itu menusuk hingga menembus tulang sumsum yang terdalam.
Suara monitor begitu jelas terdengar bagai alunan musik relaksasi yang sering Arumi dengarkan saat ia melakukan meditasi di atas karpet yoga. Berbagai selang menempel di tubuh Mahesa, seperti alat bantu pernapasan, selang makanan yang dimasukan melalui hidung, selang kateter dan tak selang infus yang menancap di punggung tangan.
Langkah kaki terhenti kala melihat pemandangan di depan sana. Hati Arumi mencelos begitu saja. Tubuh kekar nan atletis dengan otot liat di mana-mana kini tak terlihat lagi. Bobot tubuh Mahesa turun drastis, hanya menyisakan tulang yang dibalut daging seadanya. Ia bagai mayat hidup, mati tak segan, hidup pun apalagi.
Rayyan menyaksikan setiap perubahan air muka sang istri. Walaupun wanita di sampingnya tak mengucapkan apa-apa, ia tahu bahwa Arumi sedang shock melihat kondisi mantan suaminya. Sorot mata itu memancarkan arti yang tak bisa diartikan.
Entah mengapa, tiba-tiba saja tubuh Rayyan terasa panas. Pendingin ruangan tak mampu memadamkan kobaran api cemburu dalam diri pria itu. Rupanya ia tengah cemburu kala menyaksikan bagaimana cara Arumi memandangi Mahesa.
'Sialan! Kenapa aku bisa cemburu di saat seperti ini!' rutuk Rayyan dalam hati. 'Seharusnya tidak boleh cemburu. Istrimu itu hanya berniat membantu saja, tak ada niatan untuk rujuk kembali dengan pria itu.' Rayyan mencoba menyakinkan diri kalau Arumi tidak mungkin menjalin hubungan lagi dengan Mahesa.
Tidak ingin rumah tangganya hancur karena cemburu buta, Rayyan mengenyahkan pikiran negatif itu dari dalam otaknya. Menggelengkan kepala agar dapat berpikir jernih kembali.
"Segera temui mantan suamimu. Bantu dia agar segera sadar dari koma." Berucap lirih di telinga Arumi. Walaupun rasa cemburu masih bergelayut manja di hati, tetapi ia mencoba bersikap profesional.
Arumi yang sempat termanggu beberapa saat, kembali tersadar ketika mendengar suara magnetis itu. Ia mendongakan kepala, menatap wajah tampan pria yang teramat dicintainya.
"Baik, Honey. Do'akan aku, semoga usaha kita tidak sia-sia." Rayyan menganggukan kepala sebagai jawaban.
Arumi menghampiri ranjang tempat Mahesa terbaring. Wajah tampan mantan suaminya itu terlihat lebih pucat bagai mayat hidup. Luka jahitan bekas membekas di bagian pelipis.
Perasaan Arumi benar-benar kacau, menyaksikan dengan mata dan kepalanya sendiri bagaimana balasan dari Tuhan kepada pria yang dulu pernah berselingkuh sedangkan di antara mereka masih terjalin ikatan pernikahan yang sah di mata agama dan negara.
Rayyan menarik kursi bundar, lalu membantu Arumi duduk di samping ranjang. Arumi patuh dan mendudukan bokongnya di kursi empuk tersebut.
Setelah memastikan sang istri duduk dengan nyaman, pria itu mundur beberapa langkah ke belakang, memberikan ruang kepada istrinya untuk berbicara apa saja di hadapan mantan suaminya itu.
Sebelum membuka suara, Arumi menarik napas dalam dan mengembuskan secara perlahan seraya memejamkan mata sejenak. Mengumpulkan keberanian untuk dapat berbincang kembali setelah hampir sepuluh bulan tak bersua.
"Selamat pagi, Mas Mahes." Kalimat pertama yang terucap dari bibir Arumi menggema memenuhi penjuru ruang ICU. Terdengar lembut nan merdu hingga membuat siapa saja terpikat walau hanya mendengar suara tersebut. "Bagaimana kabarmu hari ini? Kapan kamu akan bangun dari tidurmu ini? Apakah tidak bosan terus menerus terbaring di ranjang rumah sakit?"
__ADS_1
"Ini sudah sepuluh bulan lebih kamu terbaring di sini. Ehm ... tidakkah kamu merindukan kedua orang tuamu? Mereka ... sangat merindukanmu, Mas. Terlebih Tante Naila, Mama-mu itu tampak begitu merindukan anak kesayangannya yang kini masih tak sadarkan diri. Apakah, kamu tidak mau memeluk tubuh beliau?"
Arumi sengaja menyebutkan nama Naila di sela-sela percakapannya, sebab hubungan antara Mahesa dengan sang mama begitu dekat. Saking dekatnya, Mahesa sampai bersedia menerima tawaran wanita paruh baya itu untuk berselingkuh dengan Kayla. Mahesa menunjukan betapa besarnya bakti pria itu kepada Naila, namun sayangnya ia berbakti dalam hal yang tidak dianjurkan oleh agama manapun.
"Kamu tahu, beberapa bulan lalu aku bertemu dengan Alex, teman kuliahmu dulu. Tanpa sengaja, aku bertemu dengannya saat berbelanja di supermarket di mall dekat kampus kita. Dia bersama istri dan anaknya tampak begitu bahagia."
"Kini, temanmu itu memilih menetap di Sydney setelah berhasil mempersunting salah satu warga setempat. Aku diberikan alamat rumahnya di sana. Ehm ... dia meminta kita mengunjunginya kalau ada waktu luang."
Jleb!
Bagai ditusuk sembilu, hati Rayyan terasa sakit saat sang istri mengucapkan kalimat terakhir. Walaupun ia telah memberikan izin pada wanita itu dan mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi seperti ini, tetapi tetap saja ada rasa sakit di dalam sana. Dada pria itu kembang kempis, kedua tangan mengepal di samping. Merasakan tubuhnya semakin memanas oleh api cemburu.
"Kendalikan emosi Anda, Dokter Rayyan." Dokter Samuel menepuk pundak rekan sejawatnya. Ia tahu betul bagaimana rasanya melihat orang yang dicintai berdekatan dengan seorang pria lain sedangkan di antara mereka pernah terjalin sebuah hubungan pernikahan. Di mana keduanya pernah saling menyayangi, mengasihi dan saling mencintai. Berbagi dalam segala hal, baik suka ataupun duka.
Perlahan, kepalan tangan Rayyan mengendur dan dada pun sudah tak lagi kembang kempis. Lantas, ia memalingkan wajah ke arah lain guna menetralkan kembali perasaannya.
"Alex secara langsung meminta kita datang, apakah kamu tidak berminat memenuhi permintaan salah satu teman terbaikmu itu?" Arumi terus berucap meski tidak ada respon dari Mahesa. "Aku yakin, jika kalian bertemu kembali suasana akan kembali ramai sama seperti saat kita kuliah dulu."
***
Saat itu, mata dokter cantik itu kelilipan. Melihat Arumi terus mengucek mata, membuat Mahesa tidak tahan. Ia berinisiatif meniup bola mata wanita itu, namun siapa sangka tingkah posisi yang terlalu intim dan di tempat yang sepi membuat salah satu dosen di kampus itu menuduh pasangan itu tengah berbuat asusila.
"Hei, apa yang kalian lakukan!" seru salah satu dosen berbadan tambun. Pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun tanpa sengaja memergoki Arumi dan Mahesa yang tengah mojok berduaan di tempat sepi.
Mahesa mencondongkan wajah ke depan wajah Arumi hingga tak ada jarak di antara mereka. Posisi duduk membelakangi dosen pria sehingga dari belakang tampak sepasang kekasih itu tengah berciuman. Padahal sebetulnya dua sejoli yang sedang dimabuk cinta tak melakukan perbuatan asusila di depan umum.
Refleks, Arumi dan Mahesa menoleh ke belakang. Dua muda-mudi itu tampak terkejut melihat dosen berbadan tambun sedang berdiri seraya menghunuskan tatapan tajam kepada mereka.
"P-pak Suryo!" ucap Mahesa gugup. Dosen pria berusia tiga puluh lima tahun itu merupakan dosen di fakultas tempat Mahesa menimba ilmu.
Sama seperti Mahesa, pak Suryo pun semakin dibuat terkejut saat mengetahui bahwa salah satu mahasiswa kesayangannya tengah berduaan dengan mahasiswa kedokteran di kampus tersebut.
"Kalian! Sedang apa di sini?" Pak Suryo menaikan nada bicaranya dengan bola mata melotot seolah hendak copot dari tempatnya. Tak menyangka jika mahasiswa yang ada di hadapannya merupakan satu dari sekian banyak mahasiswa kesayangannya di fakultas bisnis ekonomi.
__ADS_1
"K-kami hanya sedang berbincang saja, Pak," jawab Mahesa seraya bangkit dari bangku panjang terbuat dari kayu.
"Berbincang atau kalian sedang berbuat asusila di tempat sepi!" Pak Suryo menatap Mahesa dan Arumi secara bergantian. Sorot mata tajam mampu membuat nyali Arumi remaja menciut.
Dengan gerakan cepat, Mahesa melambaikan tangan ke depan. "Bapak salah sangka. Kami tidak melakukan apa pun. Sungguh!"
Akan tetapi, pak Suryo tak percaya dengan penuturan Mahesa hingga akhirnya dua sejoli itu diminta datang ke ruangan untuk diintrogasi. Kedua orang tua dari pihak Arumi dan Mahesa dipanggil ke kampus. Sejak saat itu, imaje Arumi di mata Naila semakin buruk karena dianggap sebagai gadis nakal yang tak tahu diri.
Namun, kenangan itu malah menjadi kisah menggelikan yang selalu dikenang oleh Mahesa dan Arumi. Terlebih saat mereka tanpa sengaja bertemu dengan pak Suryo, perut terasa menggelitik jika ingat kejadian itu.
***
"Bangunlah, Mas. Semua orang di dekatmu sangat merindukanmu. Mereka menunggu dengan penuh pengharapan." Arumi menghela napas kasar, untuk kesekian kali pria di hadapannya sama sekali tak memberikan respon apa pun hingga membuat wanita itu lelah karena emosinya teroyak kembali.
Hingga akhirnya Arumi memutuskan bangkit dari kursi dan tubuhnya sudah tak sanggup lagi berada di ruangan itu. Rayyan dengan sigap melangkah perlahan mendekati sang istri.
"Aku lelah, Mas. Tubuhku ingin istirahat," ucap Arumi seraya mengusut sisa cairan yang mengambang di sudut mata.
Dokter Samuel dan satu orang perawat tak bisa memaksa jikalau Arumi ingin mengakhiri sesi terapi kali ini. Terlebih kondisi wanita itu tengah hamil, akan sangat egois bila memaksanya untuk tetap berada di ruangan tersebut.
"Baiklah, sesi kali ini cukup sampai di sini. Kita agendakan lagi pertemuan selanjutnya." Lantas, Rayyan dan Arumi melangkah menuju pintu untuk menganti pakaian sebelum menemui Firdaus.
Saat Rayyan hendak meraih handle pintu, terdengar suara lirih terdengar menggema memenuhi ruangan.
"Arumi." Satu kalimat itu mampu membuat semua orang yang ada dalam ruangan, refleks menoleh ke sumber suara. Gerakan tangan halus terlihat di depan sana.
"Dokter, pasien sudah sadarkan diri!"
.
.
.
__ADS_1